Archive for the Fasal 08 Category

Syarat-syarat Zikir

Posted in Fasal 08 with tags , , , , , on April 2, 2012 by isepmalik

Zikir yang sempurna harus dilakukan dalam keadaan wudhu yang sempurna; dan berzikir dengan arah yang tepat dan suara yang kuat, sehingga berhasil menimbulkan cahaya zikir di dalam batin orang-orang yang berzikir; dan hatinya menjadi hidup dengan cahaya kehidupan yang abadi. Firman Allah dalam Surah Ad-Dukhan ayat 56:

“Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya, kecuali mati yang pertama”.

Sabda Nabi:

“Orang-orang yang mukmin yang beriman dengan iman yang sempurna tidak akan mati, tetapi mereka hanya berpindah sahaja dari negeri fana, yakni dunia ke negeri kekal, yaitu akhirat”.

(Pengertian tidak akan mati—bukan tidak akan mati tetapi kematian manusia Ahli Qurbah tidak seperti kematian manusia biasa).

Nabi bersabda:

“Para Nabi dan para wali melakukan shalat di kubur mereka seperti halnya mereka shalat di rumah mereka”.

Yakni setelah meninggal pun mereka tetap bermunajat kepada Allah. Yang dimaksudkan shalat di dalam kuburnya, bukan shalat secara lahiriyah yang memakai berdiri, ruku’ dan sujud, tetapi maksudnya munajat. Munajat dari pihak hamba Allah dan hadiah ma’rifat dari sisi Allah. Maka seorang arif menjadi mahramnya Allah, karena meningkatnya munajat hati yang telah hidup. Oleh karena itu, orang yang hatinya sudah hidup tidak bisa disebut mati.

Sabda Nabi:

“Orang yang mati dalam keadaan mencari llmu, maka di dalam kuburnya Allah mengutus dua malaikat yang mendidiknya dengan ilmu ma’rifat sampai hari kiamat; dan dia akan bangun dari kuburnya menjadi seorang yang alim dan arif”.

Yang dimaksud dengan dua malaikat tadi ialah ruhaniyyah Nabi s.a.w. dan ruhaniyyah wali Rahimahullahu Ta’ala; dan sesungguhnya malaikat tidak akan mampu masuk ke alam ma’rifat.

Nabi bersabda:

“Banyak orang yang mati dalam keadaan bodoh, akan tetapi bangun dari kuburnya menjadi seorang arif. Sebaliknya, banyak orang yang mati dalam keadaan alim, akan tetapi bangun pada hari kiamat termasuk kelompok bodoh dan fasik, bahkan muflis (bangkrut)”.

Firman Allah dalam surah Al-Ahqaf ayat 20:

“Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (sahaja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya, maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan”.

Sabda Nabi:

“Diterimanya amal manusia tergantung pada niatnya”.

Amalan hati (niat) seseorang yang lebih tinggi nilainya daripada amal lahiriyahnya. Begitu pula apa yang ada dalam hati seorang fasik lebih buruk dari apa yang dilakukannya, karena kandungan hati adalah tempat dasarnya amal. Nabi bersabda:

“Bangunan yang benar harus di atas yang benar. Membangun kebenaran di atas kebenaran akan benar. Membangun kerusakan di atas kerusakan akan rusak”.

Allah berfirman Asy-Syura ayat 20:

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat”.

Maka yang wajib bagi semua manusia adalah mencari upaya menghidupkan hati di dunia ini sebelum mati dengan mengambilnya dari ahli talqin, karena dunia merupakan kebun bagi akhirat. Orang yang tidak mau bertanam, maka dia tidak akan menuai. Yang dimaksud dengan menuai adalah hamparan wujud nafsani yang afaqi, yakni hamparan ruhaniyah.

Iklan