Archive for the Kimia Dasar Category

Teori Arrhenius

Posted in Larutan dan Sifat-sifatnya on Juni 6, 2016 by isepmalik

Pada tahun 1680, Robert Boyle mengemukakan bahwa asam (1) melarutkan berbagai zat, (2) mengubah warna beberapa pewarna (indikator) alami, dan (3) kehilangan sifat karakteristiknya ketika dicampurkan dengan alkali (basa). Pada tahun 1814, Gay-Lussac menyimpulkan bahwa asam menetralkan basa dan dua kelompok zat didefinisikan berdasarkan reaksinya satu sama lain.

Pada tahun 1884, Svante Arrhenius (1859-1927) menyampaikan teorinya mengenai disosiasi elektrolit yang dihasilkan dalam reaksi asam-basa teori Arrhenius. Dalam pandangannya,

asam merupakan zat yang mengandung hidrogen dan menghasilkan H+ dalam larutan. Basa merupakan zat yang mengandung gugus OH (hidroksil) dan menghasilkan ion hidroksida (OH) dalam larutan.

Netralisasi didefinisikan sebagai penggabungan ion H+ dengan ion OH membentuk molekul H2O.

H+(aq) + OH(aq) → H2O(l)     (netralisasi)

Teori perilaku asam-basa Arrhenius mampu menjelaskan reaksi protonasi asam dengan hidroksida logam (hidroksi basa). Ia berkontribusi signifikan pada pemikiran kimia dan teorinya berkembang pada abad sembilanbelas. Model asam dan basa Arrhenius (meskipun terbatas) mengalami perkembangan menjadi teori asam-basa lebih umum. Hal tersebut akan dibahas dalam subbab berikutnya.

(Sumber: Whitten, et.al., General Chemistry Seventh Edition, ‘Reactions in Aqueous Solution I: Acids, Bases, and Salts’).

Iklan

Sifat Larutan Asam dan Basa

Posted in Larutan dan Sifat-sifatnya on Juni 6, 2016 by isepmalik

Larutan asam berprotonasi (larutan tersebut mengandung atom hidrogen asam) memperlihatkan sifat tertentu yang merupakan sifat ion hidrogen terhidrasi dalam larutan.

  1. Memiliki rasa masam. Acar biasanya disajikan dalam asam cuka, suatu larutan asam asetat 5%. Berbagai bumbu acar mengandung gula sehingga rasa asam asetat tertutupi rasa manis dari gula. Lemon mengandung asam sitrat yang menghasilkan karakteristik rasa masam.
  2. Mengubah warna indikator. Asam membirukan lakmus merah dan menyebabkan bromtimol biru berubah dari biru ke kuning.
  3. Asam-asam nonoksidasi bereaksi dengan logam di atas hidrogen dalam deret aktivitas (Subbab 4-8, bagian 2) dengan membebaskan gas hidrogen, H2. (HNO3, suatu asam pengoksidasi, bereaksi dengan logam menghasilkan nitrogen oksida, bukan H2).
  4. Bereaksi dengan (menetralkan) oksida logam dan hidroksida logam membentuk garam dan air (Subbab 4-9, bagian 1).
  5. Bereaksi dengan garam dari asam lemah membentuk asam lemah dan garam baru.

Larutan asam menghantarkan arus listrik karena terionisasi sempurna atau sebagian.
Larutan basa juga memperlihatkan sifat tertentu yang disebabkan keberadaan ion hidroksida terhidrasi dalam larutan basa.

  1. Memiliki rasa kecut.
  2. Terasa licin. Sabun merupakan contohnya; ia merupakan basa lunak. Larutan pemutih terasa sangat licin karena sangat basa.
  3. Mengubah warna indikator: lakmus berubah dari merah ke biru, dan bromtimol biru berubah dari kuning ke biru dalam basa.
  4. Bereaksi dengan (menetralkan) asam membentuk garam dan air (dalam sebagian besar kasus).
  5. Larutannya menghantarkan arus listrik karena terionisasi atau terdisosiasi

(Sumber: Whitten, et.al., General Chemistry Seventh Edition, ‘Reactions in Aqueous Solution I: Acids, Bases, and Salts’).

Soal 13-17

Posted in Bank Soal, Soal dan Jawab on Maret 27, 2014 by isepmalik

13.  Tembaga merupakan logam yang sudah dikenal sejak jaman klasik, ia digunakan diantaranya dalam kabel listrik dan mata uang. Massa atom dua isotop stabil 6329Cu (69.09 persen) dan 6529Cu (30.91 persen) masing-masing 62.93 sma dan 64.9278 sma. Hitung massa rata-rata atom tembaga. Kelimpahan relatifnya diberikan dalam tanda kurung.
Strategi: Setiap isotop berkontribusi terhadap massa rata-rata atom berdasarkan kelimpahan relatifnya. Dengan mengalikan massa setiap isotop terhadap pecahan kelimpahannya (bukan persen) akan diperoleh massa rata-rata atom masing-masing isotop.
Solusi: Pertama, persen diubah ke pecahan: 69.09 persen menjadi 69.09/100 atau 0.6909 dan 30.91 persen menjadi 30.91/100 atau 0.3091. Kita mendapatkan massa rata-rata atom tiap isotop, kemudian menambahkan kontribusi kedua isotop sehingga diperoleh massa rata-rata atom.
(0.6909)(62.93 sma) + (0.3091)(64.9278 sma) = 63.55 sma
Periksa: Massa rata-rata atom berada di antara dua massa atom; oleh karena itu jawaban masuk akal. Perhatikan bahwa karena isotop 6329Cu lebih besar daripada isotop 6529Cu, massa rata-rata atom lebih mendekati kepada 62.93 sma daripada 64.9278 sma.

 

14.  Seng (Zn) merupakan logam berwarna keperak-perakan yang digunakan dalam pembuatan kuningan (dengan tembaga) dan melapisi besi untuk mencegah korosi. Berapa mol Zn dalam 45,9 g Zn?
Strategi: Kita mencoba memecahkan untuk mol Zn. Faktor konversi apa yang kita gunakan untuk mengubah antara gram dan mol? Susun faktor konversi yang sesuai sehingga satuan gram dapat dihilangkan dan satuan mol diperoleh sebagai jawabannya.
Solusi: Faktor konversi yang diperlukan untuk mengubah antara gram dan mol adalah massa molar. Dalam tabel periodik (lihat bagian dalam cover depan) kita melihat bahwa massa molar Zn adalah 65.39 g. Ini dapat dinyatakan sebagai:

1 mol Zn = 65.39 g Zn

Dari persamaan ini, kita dapat menulis dua faktor konversi:

(1 mol Zn)/(65.39 g Zn) dan (65.39 g Zn)/(1 mol Zn)

Faktor konversi bagian kiri adalah yang tepat. Gram akan hilang, menyisakan satuan mol untuk jawabannya. Jumlah mol Zn:

45.9 g Zn× (1 mol Zn)/(65.39 g Zn)=0.702 mol Zn

Jadi, terdapat 0.702 mol Zn dalam 45.9 g Zn.

 

15.  Sulfur (S) merupakan unsur non-logam yang berada dalam batubara. Ketika batubara dibakar, sulfur diubah menjadi sulfur dioksida dan akhirnya menjadi asam sulfat yang memunculkan fenomena hujan asam. Berapa banyak atom dalam 25.1 g S?
Strategi: Pertanyaan menugaskan mencari jumlah atom sulfur. Kita tidak dapat mengubah secara langsung dari gram ke jumlah atom sulfur. Satuan apakah yang kita butuhkan untuk mengkonversi gram sulfur kepada jumlah atom? Apakah bilangan Avogadro mewakili?
Solusi: Kita memerlukan dua kali konversi: pertama dari gram ke mol dan kemudian dari mol ke jumlah partikel (atom). Langkah pertama mirip dengan Contoh 14. Karena
1 mol S = 32.07 g S
faktor konversinya adalah
(1 mol)/(32.07 g S)

bilangan Avogadro merupakan kunci untuk langkah kedua. Kita memiliki
1 mol = 6.022 x 1023 partikel (atom)

dan faktor konversinya adalah

(6.022×〖10〗^23 atom S)/(1 mol S) dan (1 mol S)/(6.022×〖10〗^23 atom S)

Faktor konversi sebelah kiri yang kita butuhkan karena terdapat jumlah atom S dalam pembilangnya. Kita dapat memecahkan masalah dengan pertama-tama menghitung jumlah mol yang dikandung dalam 25.1 g S dan kemudian menghitung jumlah atom S dari jumlah mol S:

gram S → mol S→ jumlah atom S

Kita dapat menggabungkan konversi ini dalam satu langkah berikut:

25.1 g S× (1 mol S)/(32.07 g S)×(6.022×〖10〗^23 atom S)/(1 mol S)=4.71×〖10〗^23 atom S

Jadi, terdapat 4.71 x 1023 atom S dalam 25.1 g S.
Periksa: Apakah sudah seharusnya 25.1 g S mengandung jumlah atom lebih kecil daripada bilangan Avogadro? Apakah massa S mengandung bilangan Avogadro dari atomnya?

 

16.  Perak (Ag) merupakan logam berharga yang digunakan terutama dalam perhiasan. Berapa massa (dalam gram) satu atom Ag?
Strategi: Pertanyaan mengenai massa satu atom Ag. Berapa banyak atom Ag dalam 1 mol Ag dan berapa massa molar Ag?
Solusi: Karena 1 mol atom Ag mengandung 6.022 x 1023 atom Ag dan massanya 107.9 g, kita dapat menghitung massa satu atom Ag sebagai berikut:

1 atom Ag× (1 mol Ag)/(6.022×〖10〗^23 atom Ag)×(107.9 g)/(1 mol Ag)=1.792×〖10〗^(-22) g

Periksa: Karena 6.022 x 1023 atom Ag bermassa 107.9 g, maka satu atom Ag bermassa sangat kecil.

 

17.  Hitung massa molekul (dalam sma) senyawa berikut: (a) sulfur dioksida (SO2) dan (b) kafein (C8H10N4O2).
Strategi: Bagaimana massa atom dari unsur berbeda bergabung menjadi massa molekul suatu senyawa?
Solusi: Untuk menghitung massa molekul, kita membutuhkan jumlah keseluruhan massa atom dalam molekul. Untuk setiap unsur, kita mengalikan massa atom dari unsur dengan jumlah atom dari unsur di dalam molekul. Kita menemukan massa atom dalam tabel periodik (bagian dalam cover depan).
(a) Terdapat dua atom O dan satu atom S dalam SO2, jadi
Massa molekul SO2 = 32.07 sma + 2(16.00 sma) = 64.07 sma
(b) Terdapat delapan atom C, sepuluh atom H, empat atom N, dan dua atom O dalam kafein, jadi massa molekul C8H10N4O2 adalah
8(12.01 sma) + 10(1.008 sma) + 4(14.01 sma) + 2(16.00 sma) = 194.20 sma.

Soal 1-5

Posted in Bank Soal on Maret 27, 2014 by isepmalik

1.  Tentukan jumlah proton, neutron, dan elektron untuk tiap jenis atom berikut:
(a) 19579Au, (b) 19779Au, (c) 18F, (d) carbon-13
Strategi: Ingat kembali bahwa superskrip menandakan nomor massa (A) dan subskrip menandakan nomor atom (Z). Nomor massa selalu lebih besar daripada nomor atom. (Pengecualian hanya untuk 11H, di mana nomor massa sama dengan nomor atom). Dalam beberapa hal diperlihatkan penulisan tanpa subskrip sebagaimana pada (c) dan (d), nomor atom dapat dihilangkan dari simbol atau nama unsur. Untuk menentukan jumlah elektron, ingat kembali bahwa karena atom-atom netral secara listrik maka jumlah elektron sama dengan jumlah proton.
Solusi:
(a) Nomor atom Au (emas) 79, jadi terdapat 79 proton. Nomor massanya 195, jadi jumlah neutron adalah 195 – 79 = 116. Jumlah elektron sama dengan jumlah proton; yaitu 79.
(b) Di sini jumlah proton sama seperti (a), yaitu 79. Nomor massa 197, jadi jumlah neutronnya 197 – 79 = 118. Jumlah elektron juga sama seperti pada (a), yaitu 79. Jenis (a) dan (b) merupakan isotop-isotop emas.
(c) Nomor atom F (fluor) 9, jadi terdapat 9 proton. Nomor massanya 18, jadi jumlah neutronnya 18 – 9 = 9. Jumlah elektron sama dengan jumlah proton; yaitu 9.
(d) Karbon-13 dapat dituliskan sebagai 13C. Nomor atom karbon 6, jadi terdapat 13 – 6 = 7 neutron. Jumlah elektronnya 6.

 

2.  Tuliskan rumus molekul metanol (suatu pelarut organik dan anti-beku).
Solusi: Molekul tersebut mengandung empat atom H, satu atom C, dan satu atom O. Oleh karena itu, rumus molekulnya CH4O. Standar penulisan rumus molekul metanol CH3OH karena ia memperlihatkan bagaimana atom-atom bergabung dalam molekul.

 

3.  Tuliskan rumus empiris molekul-molekul berikut ini: (a) asetilena (C2H2) yang digunakan untuk pengelasan; (b) glukosa (C6H12O6) zat yang diketahui sebagai gula darah; dan (c) dinitrogen oksida (N2O) yang digunakan sebagai gas anestetik (“gas tertawa”).
Strategi: Ingat kembali cara menuliskan rumus empiris, subskrip dalam rumus molekul harus diubah menjadi angka terkecil dan bilangan bulat paling sederhana.
Solusi:
(a) Terdapat dua atom karbon dan dua atom hidrogen dalam asetilena. Subskrip dibagi dengan angka 2, kita memperoleh rumus empirisnya CH.
(b) Dalam glukosa terdapat 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Subskrip dibagi dengan 6, kita memperoleh rumus empirisnya CH2O. Perhatikan bahwa jika membagi subskrip dengan angka 3 akan diperoleh rumus C2H4O2. Meskipun perbandingan karbon : hidrogen : oksigen dalam C2H4O2 sama sebagaimana C6H12O6 (1:2:1), tetapi C2H4O2 bukan rumus paling sederhana karena subskripnya bukan perbandingan jumlah yang terkecil.
(c) Karena subskrip dalam N2O merupakan angka yang paling sederhana maka rumus empiris untuk dinitrogen oksida sama seperti rumus molekulnya.

 

4.  Berikan nama senyawa-senyawa berikut: (a) Fe(NO3)2, (b) Na2HPO4, dan (c) (NH4)2SO3
Strategi: Tabel 2.3 merupakan referensi nama-nama kation dan anion. Harus diingat bahwa jika sebuah logam dapat membentuk kation dengan muatan berbeda, kita perlu menggunakan sistem Stok.
Solusi:
(a) Ion nitrat (NO3-) membawa satu muatan negatif, jadi ion besi harus memiliki muatan positif dua. Karena besi dapat membentuk ion Fe2+ dan ion Fe3+, kita perlu menggunakan sistem Stok dan menamai senyawa besi(II) nitrat.
(b) Kationnya adalah Na+ dan anionnya HPO42- (hidrogen fosfat). Karena natrium hanya membentuk satu tipe ion (Na+), di sini tidak perlu menggunakan natrium(I) untuk namanya. Senyawanya adalah natrium hidrogen fosfat.
(c) Kationnya adalah NH4+ (ion amonium) dan anionnya adalah SO32- (ion sulfit). Senyawanya adalah amonium sulfit.

 

5.  Tuliskan rumus kimia untuk senyawa-senyawa: (a) raksa(I) nitrat, (b) sesium oksida, dan (c) stronsium nitrida.
Strategi: Kita merujuk Tabel 2.3 untuk rumus kation dan anion. Ingat kembali bahwa angka Romawi dalam sistem Stok menyediakan informasi mengenai muatan kation.
Solusi:
(a) Angka Romawi memperlihatkan bahwa ion raksa membawa muatan +1. Berdasarkan Tabel 2.3, ion raksa(I) adalah diatom (yaitu, Hg22+) dan ion nitrat adalah NO3-. Oleh karena itu, rumusnya adalah Hg2(NO3)2.
(b) Setiap ion oksida membawa muatan negatif dua, dan setiap ion sesium membawa muatan positif satu (sesium berada dalam Golongan IA, sebagaimana natrium). Oleh karena itu rumusnya adalah Cs2O.
(c) Setiap ion stronsium (Sr2+) membawa muatan dua positif dan setiap ion nitrida (N3-) membawa muatan tiga negatif. Supaya jumlah muatan sama dengan nol, kita harus menyesuaikan jumlah kation dan anion:
3(+2) + 2(-3) = 0
Jadi, rumusnya adalah Sr3N2.

Soal 1-5

Posted in Bank Soal on Maret 27, 2014 by isepmalik

1.  Emas merupakan logam berharga yang tidak reaktif secara kimia. Ia digunakan utamanya sebagai perhiasan, kedokteran gigi, dan peralatan elektronik. Sepotong emas dengan massa 257 g memiliki volume 13.3 cm3. Hitung kerapatan emas.

Solusi: Diketahui massa, volume dan diminta untuk menghitung kerapatan. Oleh karena itu, berdasarkan Persamaan (1.1) kita menuliskan

d=m/V=(257 g)/(13.3 cm^3 )=19.3 g⁄cm^3.

 

2.  (a) Solder merupakan paduan yang terbuat dari timah dan timbal yang digunakan dalam sirkuit listrik. Solder tertentu memiliki titik leleh 2240C. Berapakah titik leleh dalam derajat Fahrenheit? (b) Helium memiliki titik didih paling rendah pada -4520C dari semua unsur. Ubah suhu ini ke derajat Celsius. (c) Merkuri—hanya logam ini yang eksis sebagai cairan pada suhu kamar—meleleh pada -38.90C. Ubah titik lelehnya ke kelvin.
Solusi Ketiga bagian tersebut memerlukan konversi suhu, jadi kita memerlukan Persamaan (1.2), (1.3), dan (1.4). Harap diingat bahwa suhu paling rendah pada skala Kelvin adalah nol (0 K); oleh karena itu tidak pernah negatif.
(a) Konversinya dengan menuliskan

(9^0 F)/(5^0 C)×〖(224〗^0 C)+〖32〗^0 F=〖435〗^0 F
(b) Di sini kita memiliki

〖(-452〗^0 F-〖32〗^0 F)× (5^0 C)/(9^0 F)=〖-269〗^0 C

(c) Titik leleh merkuri dalam kelvin diberikan oleh

〖(-38.9〗^0 C+〖273.15〗^0 C) (1 K)/(1^0 C)=234.3 K

 

3.  Tentukan jumlah angka signifikan dalam pengukuran berikut: (a) 394 cm, (b) 5.03 g, (c) 0.724 m, (d) 0.052 kg, (e) 2.720  1022 atom, (f) 3000 mL.
Solusi: (a) Tiga, karena setiap angka adalah angka bukan nol, (b) Tiga, karena angka nol diantara angka bukan nol adalah signifikan, (c) Tiga, karena nol ke kiri dari angka pertama bukan nol tidak dihitung sebagai angka signifikan. (d) Dua, alasan yang sama seperti dalam (c), (e) Empat, karena bilangan lebih besar dari 1, semua nol dituliskan ke kanan dari titik desimal dihitung sebagai angka signifikan, (f) Ini merupakan kasus ambigu. Bilangan angka signifikan mungkin empat (3.000  103), tiga (3.00  103), dua (3.0  103), atau satu (3  103). Contoh-contoh ini mengilustrasikan mengapa notasi ilmiah harus digunakan untuk memperlihatkan jumlah utama angka signifikan.

 

4.  Rata-rata per hari seseorang mengkonsumsi glukosa (bentuk dari gula) 0.0833 pond (lb). Berapakah massanya dalam miligram (mg)? (1 lb = 453.6 g).
Strategi: Soal dapat dinyatakan sebagai

? mg = 0.0833 lb

Hubungan antara pond dan gram diberikan dalam soal. Hubungan ini menggunakan konversi dari pond ke gram. Konversi metrik diperlukan untuk mengubah gram ke miligram (1mg = 1  10-3 g). Susun faktor konversi yang sesuai sehingga pond dan gram saling menghilangkan dan satuan miligram diperoleh dalam jawaban Anda.
Solusi: Urutan konversi adalah

Pond  gram  miligram

Dengan menggunakan faktor konversi berikut:

(453.6 g)/(1 lb) dan (1 mg)/(1×〖10〗^(-3) g)

kita memperoleh jawaban dalam satu tahap:
?mg=0.0833 lb×(453.6 g)/(1 lb)×(1 mg)/(1×〖10〗^(-3) g)=3.78×〖10〗^4 mg

Periksa: Sebagaimana estimasi, kita mencatat bahwa 1 lb kira-kira 500 g dan 1 g = 1000 mg. Oleh karena itu, 1 lb kira-kira 5  105 mg. Pembulatan 0.0833 lb menjadi 0.1 lb, kita memperoleh 5  104 mg yang mendekati kepada besaran sebelumnya.

 

5.  Cairan helium disimpan dalam tanki yang bervolume 275 L. Berapakah volume dalam m3?
Strategi: Soal dapat dinyatakan sebagai

? m3 = 275 L

Berapa faktor konversi yang diperlukan untuk soal ini? Ingat kembali bahwa 1 L = 1000 cm3 dan 1 cm = 1  10-2 m.
Solusi Kita memerlukan dua faktor konversi di sini: satu mengubah liter ke cm3 dan satu mengubah sentimeter ke meter:

(1000 cm^3)/(1 L) dan (1×〖10〗^(-2) m)/(1 cm)

Karena konversi kedua berhubungan dengan panjang (cm dan m) dan kita menginginkan volume di sini, oleh karena itu ia harus menjadi kubik untuk memberikan

(1×〖10〗^(-2) m)/(1 cm)×(1×〖10〗^(-2) m)/(1 cm)×(1×〖10〗^(-2) m)/(1 cm)=((1×〖10〗^(-2) m)/(1 cm))^3

Ini berarti bahwa 1 cm3 = 1  10-6 m3. Sekarang kita dapat menuliskan

?m^3=275 L×(1000 cm^3)/(1 L)×((1×〖10〗^(-2) m)/(1 cm))^3=0.275 m^3

Periksa Berdasarkan faktor konversi sebelumnya Anda dapat melihat bahwa 1 L = 1  10-3 m3. Oleh karena itu, 275 L tanki penyimpan sama dengan 275  10-3 m3 atau 0.275 m3, yang manapun adalah jawabannya.

Gaya Antarmolekul (Ringkasan)

Posted in Ikatan Antarmolekul with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on Maret 26, 2014 by isepmalik

Semua zat eksis dalam satu dari tiga keadaan: gas, cair, atau padat. Perbedaan utama antara keadaan terkondensasi dan keadaan gas adalah jarak pemisahan antara molekul.
Gaya antarmolekul bertindak antara molekul dan molekul atau antara molekul dan ion. Secara umum, gaya ini lebih lemah daripada gaya ikatan. Gaya dipol-dipol dan gaya ion-dipol menarik molekul dengan momen dipol kepada molekul polar atau ion lainnya. Gaya dispersi merupakan hasil dari momen dipol terinduksi temporer dalam molekul nonpolar biasa. Perluasan momen dipol terinduksi dalam molekul ditentukan oleh polarizabilitasnya. Istilah “gaya van der Waals” merujuk kepada gaya dipol-dipol, gaya dipol-dipol terinduksi, dan gaya dispersi.

Ikatan hidrogen merupakan kekuatan relatif gaya dipol-dipol yang bertindak antara ikatan polar yang mengandung atom hidrogen dan berikatan dengan atom-atom elektronegatif N, O, atau F. Ikatan hidrogen antara molekul-molekul air secara khusus lebih kuat.

Cairan cenderung diasumsikan sebuah geometri dengan luas permukaan minimum. Tegangan permukaan merupakan energi yang diperlukan untuk mengembangkan luas permukaan cairan; gaya antarmolekul yang kuat mengarah kepada tegangan permukaan lebih besar. Viskositas merupakan ukuran resistensi cairan untuk mengalir; ia menurun dengan peningkatan suhu.

Molekul air dalam keadaan padat membentuk jaringan tiga-dimensi di mana setiap atom oksigen berikatan secara kovalen dengan dua atom hidrogen dan berikatan hidrogen dengan dua atom hidrogen. Struktur khas ini diperhitungkan untuk fakta bahwa es kurang rapat daripada cairan air. Air juga ideal sesuai dengan peran ekologinya yang memiliki kalor spesifik tinggi, sifat lainnya berdasarkan kekuatan ikatan hidrogennya. Air dalam jumlah besar dapat menurunkan iklim dengan melepaskan dan menyerap sejumlah kalor di mana suhunya hanya mengalami perubahan kecil.

Semua padatan baik kristal (dengan struktur atom, ion, atau molekul reguler) atau amorf (bukan struktur reguler). Basis satuan struktur kristal padat adalah satuan sel di mana pengulangannya membentuk kisi kristal tiga-dimensi.

Empat tipe kristal dan gaya yang mencengkeram partikel bersama-sama: kristal ion dicengkeram bersama-sama oleh ikatan ion; kristal molekul oleh gaya van der Waals dan/atau ikatan hidrogen; kristal kovalen oleh ikatan kovalen; dan kristal logam oleh ikatan logam.

Cairan dalam wadah tertutup ditetapkan sebagai kesetimbangan dinamis antara penguapan dan kondensasi. Tekanan uap di atas cairan di bawah kondisi ini merupakan kesetimbangan tekanan uap, di mana sering dirujuk secara sederhana sebagai tekanan uap. Pada titik didih, tekanan uap cairan sama dengan tekanan luar. Kalor molar penguapan cairan merupakan energi yang diperlukan untuk menguapkan 1 mol cairan. Ia dapat ditentukan oleh pengukuran tekanan uap cairan sebagai fungsi suhu dan menggunakan Persamaan (12.1). Kalor molar peleburan padatan merupakan energi yang diperlukan untuk mencairkan 1 mol padatan.

Setiap zat memiliki suhu, disebut suhu kritis, di atas suhu ini bentuk gas zat tidak dapat dibuat menjadi cair.

Hubungan di antara tiga fasa dari zat tunggal direpresentasikan diagram fasa, di mana setiap daerah merepresentasikan fasa murni dan batas-batas antara daerah memperlihatkan suhu dan tekanan di mana kedua fasa berada dalam kesetimbangan. Pada titik tripel, ketiga fasa berada dalam kesetimbangan.

Kimia Organik: Pendahuluan (Ringkasan)

Posted in Senyawa Karbon dan Polimer with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on Maret 24, 2014 by isepmalik

Karena atom karbon dapat berikatan dengan atom karbon lainnya dalam rantai lurus dan bercabang, karbon dapat membentuk lebih banyak senyawa daripada unsur-unsur lainnya.

Alkana dan sikloalkana merupakan hidrokarbon jenuh. Metana, CH4, merupakan alkana paling sederhana, kelompok hidrokarbon dengan rumus umum CnH2n+2. Sikloalkana merupakan subkelompok alkana di mana atom karbon bergabung dalam cincin. Etilena, CH2=CH2, merupakan alkena paling sederhana, kelompok hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap karbon-karbon dan memiliki rumus umum CnH2n. Alkena nonsimetri dapat eksis sebagai isomer cis dan trans. Asetilena, CHºCH, merupakan alkuna paling sederhana, di mana senyawanya memiliki rumus umum CnH2n-2 dan mengandung ikatan rangkap tiga karbon-karbon. Senyawa yang mengandung satu atau lebih cincin benzena disebut hidrokarbon aromatik. Kestabilan molekul benzena dihasilkan dari delokalisasi elektron.

Gugus fungsi menentukan reaktivitas kimia dari molekul. Kelompok senyawa dikarakterisasi oleh gugus fungsinya yang meliputi alkohol, eter, aldehid dan keton, asam karboksilat dan ester, dan amina.

Kiralitas merujuk kepada molekul yang gambar cerminnya tidak dapat bertumpang-tindih. Sebagian besar molekul kiral mengandung satu atau lebih atom karbon asimetri. Molekul kiral tersebar luas dalam sistem biologis dan sangat penting dalam desain obat-obatan.