Archive for the “Aku” Category

Kesadaran “Aku”

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Juli 26, 2012 by isepmalik

Jika seseorang merasa dirinya telah melakukan peran yang menonjol, strategis dan mengarah dalam jalannya sesuatu proyek, ia mungkin memperoleh perasaan yang memberikan kepadanya keseimbangan dan arti kehidupan. Untuk dapat merasakan itu, ia perlu selalu ingat tentang keistimewaan aku atau pribadi. Penafsiran kehidupan sekadar obyek psiko-kimia (psysicochemical), mekanisme fisiologi (physiology) atau seekor binatang yang tidak mempunyai kesadaran “aku”, paling jauh hanya merupakan kebenaran yang hanya sebagian. Memang benar bahwa manusia mempunyai watak fisik dan kimia, bahwa ia didorong oleh kekuatan elektronik dan sel-sel dan bahwa ia dapat hidup secara binatang. Akan tetapi terdapat suatu aku, atau kesadaran aku yang mengatasi suatu keadaan alamiah yang tanpa fikiran. Suatu interpretasi manusia yang dimaksudkan bersifat menyeluruh (comprehensive) akan tetapi melupakan atau menganggap sepi kesadaran akunya, kemampuannya untuk berfikir abstrak, kemampuannya untuk menentukan hal-hal yang bersangkutan dengan etika atau apresiasi keindahan, keperluannya untuk menyembah Tuhan dan mempunyai teman, akan merupakan interpretasi yang tidak sempurna. Sebagai orang, manusia, sampai batas tertentu, manusia itu bebas dari batasan-batasan yang berlaku bagi kehidupan inorganik atau kehidupan organik tetapi tidak sampai derajat kesadaran aku. Manusia adalah suatu makhluk yang dapat menempatkan keinginannya dan adat istiadatnya di bawah kontrol suatu tujuan yang dipilihnya secara sadar.

Para pembaca perlu ingat bahwa dengan fasal ini, interpretasi kita tentang manusia belum selesai. Kita masih akan membicarakan secara panjang lebar tentang manusia dan kesadaran akunya, dalam fasal-fasal yang akan datang, yaitu pada waktu kita membicarakan watak akal, kebebasan kemauan, nilai-nilai, persoalan pengetahuan, pandangan tentang manusia, agama dan sebagainya.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).

Iklan

Pengingkaran Akan Wujudnya “Aku”

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Juli 25, 2012 by isepmalik

Jika konsep aku itu sangat penting, mengapa ada filosof yang mengingkari wujudnya? Kita dapat menjawab pertanyaan ini sebaik-baiknya dengan berusaha untuk memahami sejarah pengingkaran tersebut.

 

Budhisme

Di Timur, kira-kira lima ratus tahun sebelum Nabi Isa lahir, Sidharta Gautama, atau Budha, mendirikan tradisi Budha. Ia dinamakan “yang mendapat cahaya” (the Enlightened One) ketika ia pindah dari menjalankan hidup zuhud (ascetism) yang tak memberi faidah kepada meditasi yang memberikan kepadanya pandangan keagamaan dan filsafat yang khusus. Ia mengajar pengikut-pengikutnya doktrin tentang “jalan tengah” (Middle Way) dan mengatakan bahwa jika mengikuti jalan itu mereka akan mendapat cahaya juga. Sebagai yang sudah kita lihat dalam pembicaraan tentang watak manusia, Budhisme berpendirian bahwa dalam hidup sekarang tak ada yang tetap (permanent). Sebagai ganti jiwa manusia atau aku, seorang pengikut Budha mempercayai suatu an-atta (tak ada aku), di mana lima aliran yang bersifat sementara (skandhas) berkumpul dan menjadi wujud (being). Lima aliran tersebut adalah “rasa badaniah, perasaan (feeling), persepsi, konsepsi mental dan kesadaran (consciousness)”. Pengaruh negatif dari pandangan tersebut dapat dijelaskan dengan contoh kereta (chariot). Kereta tak lain adalah kumpulan dari roda, poros, tempat duduk, kendali dan hal-hal yang serupa. Apa yang kita anggap sebagai esensi kereta, tak lain adalah benda-benda yang dibuat orang menjadi kereta. Mengenai jiwa kita hanya dapat menunjuk kepada aliran yang terdiri atas rasa badaniah, perasaan dan kesadaran.[1]

Karena pemikiran tersebut kita menemukan cendekiawan Budhisme mengatakan bahwa “tujuan usaha seorang pengikut Budha adalah untuk memusnahkan aku”.[2] Dalam Budhisme, tugas yang tertinggi dari seorang Bodhisattwa (seorang yang menginginkan mendapat cahaya, menjadi Budha) adalah untuk menghilangkan identitas pribadi. Yang memisahkan manusia pada umumnya dari martabat Budha adalah kepercayaan bahwa kita ini pribadi-pribadi yang terpisah yang hanya memikirkan aku. Manusia harus dapat mencapai pengertian tentang tidak adanya aku sebelum sampai kepada martabat cahaya.

Pengertian an-atta (tidak ada aku) nampaknya mempunyai persamaan dengan sikap David Hume yang mengingkari aku. Marilah kita pelajari apa yang ditolak David Hume, dan membandingkan penolakan Hume dengan sikap pengikut-pengikut Budha.

 

David Hume

Semenjak abad ke-17 di Barat, ketika para filosof membicarakan soal pengetahuan (knowledge), telah terdapat pengingkaran-pengingkaran secara terang-terangan tentang adanya aku. Umpamanya, John Locke (1632-1704) menggambarkan bahwa jiwa atau akal adalah papan yang kosong, dan tindakannya terjadi karena pengaruh dunia luar melalui rasa. David Hume mendorong pengingkaran John Locke lebih lanjut. Ia tak dapat menemukan substansi yang tetap tak berubah, dan karena itu lebih suka berbicara tentang rentetan keadaan dan kejadian-kejadian yang tidak tetap. Hume menulis “tentang diriku, jika aku masuk ke dalam apa yang aku namakan ‘diriku’, aku selalu terbentur kepada sesuatu persepsi atau hal lain tentang panas atau dingin, cahaya atau tempat yang teduh, cinta atau benci, sakit atau sehat. Aku tak pernah dapat menangkap ‘diriku’ tanpa sesuatu persepsi dan tak pernah dapat menyimpan sesuatu kecuali persepsi”.[3] Tentu saja persepsi-persepsi tersebut berlalu dan bersifat sementara. Introspeksi hanya dapat menunjukkan “aku empiris”. Isi akal adalah kesan-kesan dan ide-ide yang kedua-duanya merupakan bentuk-bentuk dari persepsi. Hume menekankan bahwa aku kita tak lain hanya suatu kumpulan dari bermacam-macam persepsi, yang dipersatukan oleh hubungan-hubungan tertentu. Hume kemudian mengatakan bahwa yang ada hanyalah rentetan ide, tak ada aku yang permanen dalam diri kita dan kita tidak memerlukan subyek untuk menggabungkan ide kita. Akal hanya merupakan satu tempat berkumpul bagi isinya.

Walaupun terada ada hal-hal yang mirip antara pandangan Hume dan doktrin Budhisme, namun terdapat suatu perbedaan yang esensial. Hume memperkecil aku sampai menjadi sederajat dengan sub-personal, tetapi doktrin Budha tentang an-atta mengajak kita untuk mencapai super personal. Pokok dari doktrin Budhis adalah “oleh karena segala sesuatu dalam aku empiris itu tidak kekal, tidak memuaskan dan lain-lain, hal itu berarti merupakan aku yang palsu, yang tak dapat menjadi akunya aku. Aku harus melihat lebih jauh daripada skandhas untuk mendapatkan aku-ku yang transendental, benar dan tetap”.[4] Walaupun seorang Budhis sering didakwa menghilangkan aku-nya, sesungguhnya David Hume adalah nihilis tentang aku.

 

Behaviorisme

Beberapa ahli ilmu sosial kontemporer mengikuti jejak Hume dalam mengingkari adanya aku, umpamanya B. F. Skinner, seorang ahli pasikologi aliran perilaku (behaviorisme), berpendapat bahwa konsep aku tidak perlu untuk menganalisa perilaku, bahwa kejadian-kejadian mental atau psikologis tidak memiliki dimensi ilmu, dan bahwa manusia di alam bebas yang dianggap bertanggung jawab tentang tingkah laku organisme biologi luar hanya merupakan pengganti pra ilmiah (prescientific) untuk bermacam-macam sebab yang ditemukan dalam analisa ilmiah. Semua alternatif ini berada di luar individual. Skinner mengusulkan pengganti bagi konsep aku. “Aku hanya merupakan sarana untuk menunjukkan sistem respons yang dipersatukan fungsinya”.[5] Respons itu dapat dilihat. Pembahasan yang sempurna tentang “inti aku” (inner self) biasanya tidak terbatas pada tingkah laku yang dapat dilihat. Prof. Skinner berpendapat bahwa oleh karena motif (pendorong), ide dan perasaan tidak merupakan kejadian yang dapat diamati secara obyektif, maka semuanya itu tak dapat ikut dalam menentukan atau menerangkan tingkah laku. Sains tak dapat ikut serta dalam hal tersebut.

Prof. Brand Blanshard menentang Skinner dan pendapatnya bahwa tingkah laku mental itu sama dengan tingkah laku fisik. Blanshard mempertahankan fakta bahwa kesadaran itu berbeda dari tingkah laku yang dapat diamati. Dengan memberikan suatu contoh sederhana Blanshard menjelaskan mengapa ia menganggap bahwa pengingkaran Skinner terhadap adanya kesadaran adalah tidak masuk akal.

“Gambarkanlah seorang behavioris yang merasa kepalanya pusing dan minum aspirin. Menurut alirannya, pusing berarti kepala itu kerinyut atau terkait dan hal tersebut dapat dilihat orang lain. Dan karena pusing kepala adalah hal tersebut, maka ia ingin menghilangkan juga hal tersebut. tetapi tidak masuk akal kalau sesuatu perubahan badan tidak disukai, kecuali jika perubahan badan tersebut disertai dengan rasa sakit. Mungkin ia menyamakan rasa sakit kepalanya dengan kerinyut dan gerakan luar, jika begitu, yang harus ia kerjakan untuk menghilangkan rasa sakit itu adalah menghentikan gerakan tersebut dan bertindak seperti biasa. Tetapi ia tahu bahwa cara begitu tidak cukup; oleh karena itulah ia minum aspirin. Dengan ringkas perilakunya menunjukkan bahwa ia tidak percaya kepada teorinya sendiri”.[6]

Beberapa psikolog mengatakan bahwa mereka tidak suka menggunakan konsep dan istilah seperti aku (self), akal (mind) dan kesadaran aku (self consciousness), karena mereka tidak suka terhela oleh hantu. Karena mereka ingin bersikap obyektif dan empiris, para psikolog tersebut, begitu juga para filosof yang setuju dengan pandangan mereka, menghilangkan segala isyarat kepada aku, atau mengatakan bahwa mereka dapat menghadapi aku tersebut hanya jika aku itu menunjukkan diri secara obyektif dalam perilaku. Mereka itu, sebagai gantinya, membicarakan tentang stimulus (dorongan), respons (jawaban) dan behavioral biografi. Dengan begitu maka metoda yang dipakai untuk mempelajari benda-benda inorganik, binatang dan mesin dipakai untuk mempelajari manusia.

“Kita menghadapkan seekor burung dara kepada suatu tanda yang hitam atau putih atau merah, dan dari tanda yang putih ia dapat mematuk makanan. Kita perhatikan berapa kali ia melakukan kesalahan sebelum ia mengerti bila ia harus mematuk tanda yang putih. Di sini kita mempelajari hubungan antara dorongan yang dapat dilihat serta jawaban yang dapat dilihat. Itulah caranya kita mempelajari perilaku manusia.”[7]

Walaupun begitu banyak filosof modern yang berpendapat bahwa metoda penyelidikan tentang binatang tak dapat diterapkan kepada manusia. Seandainya engkau menyediakan tanda-tanda tersebut kepada seorang manusia, ia mungkin melakukan sesuatu di antara seratus gerakan karena ia memiliki kekuatan berfikir, sedang burung dara tak memilikinya. Manusia dapat melihat, berfikir dan merencanakan sesuatu dengan cara yang tidak dilihat orang. Metoda ilmiah dan postulat telah menunjukkan faidahnya dalam bidang fenomena yang obyektif. Dengan mencapai sukses dalam bidangnya sehingga seperti ilmu alam (natural science), ilmu perilaku (behavioral) menghilangkan persoalan arti, nilai dan aku. Padahal persoalan-persoalan itulah yang semenjak ribuan tahun dianggap esensial dalam pemikiran filsafat. Pengingkaran terhadap aku dan akal yang berpendirian bahwa konsep-konsep tersebut hanya merupakan alamat-alamat untuk menunjukkan proses fisik dan psikologis, nampaknya disebabkan oleh keinginan beberapa ahli sains untuk menggunakan metoda obyektif dalam ilmu agar mencakup segala wujud. Kalau keinginan itu dapat terlaksana, semua persoalan akan dapat dijawab dengan baik; dunia dan manusia akan diperkecil menjadi suatu rentetan usaha-usaha yang logis dan mudah dimanipulasikan. Apakah pengingkaran aku itu antara lain disebabkan oleh interpretasi yang mengatakan bahwa manusia itu adalah hasil lingkungannya? Kita setuju bahwa kita tidak membicarakan “hantu” (spook), akan tetapi terdapat unsur-unsur pengalaman manusia yang kita tak dapat menganggap sepi hanya oleh karena satu metda yang berhasil untuk suatu macam penyelidikan. Apa yang tak dapat diterangkan dalam bahasa aliran psikologi perilaku mungkin merupakan bagian yang sangat penting dari kehidupan manusia. Kita tidak akan menentang metoda-metoda ilmiah apa pun jika metoda tersebut diakui dan difaham sebagaimana adanya, dan jika hasilnya tidak dianggap, baik secara sadar atau tidak sadar, sebagai penafsiran yang sempurna dan final. Akan tetapi jika hasil dari metoda perilaku dianggap sebagai tafsiran yang total, segala aspek kehidupan manusia menjadi nampak dalam bidang-bidang yang tidak sesuai sama sekali.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] H. D. Lewis dan Robert Lawson Slater, World Religions (London: C. A. Watts, 1966), hal. 62.

[2] Edward Conze, Thirty Years of Buddhist Studies (Oxford: Bruno Cassirer, 1967), hal. 75.

[3] David Hume, A Treatise on Human Nature, T. H. Green (ed.) (London: Longmans, Green, 1874), vol. I, hal. 534.

[4] Conze, Thirty Years of Buddhist Studies, hal. 241.

[5] B. F. Skinner, Science and Human Behavior (New York: Free Press, 1965), hal. 30-31, 285, 447-448.

[6] “The Limits of Naturalism”, John E. Smith (ed.), Contemporary American Philosophy (London: Allen dan Unwin, 1970), hal. 34.

[7] Ibid, hal. 30. Profesor Blanshard menyajikan suatu percobaan dengan memakai metoda Skinner untuk mempelajari hubungan antara stimulus dan tanggapan (response).

“Aku” sebagai Subyek, Martin Buber

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Juli 23, 2012 by isepmalik

Dalam karangannya I and Thou, Martin Buber (1878-1965), seorang cendekiawan Yahudi, membentangkan pendapatnya tentang aku dan hubungan antara orang dan orang serta antara orang dan barang. Ia menamakan pandangannya itu sebagai: pendekatan dialogis (dialogic approach).[1] Menurut Buber, pengetahuan itu ada dua macam yang sangat berbeda. Sebagai akibatnya terdapatlah dua sikap yang berbeda terhadap pengalaman, dua pendekatan terhadap aku dan dua macam hubungan terhadap lingkungan; dua hubungan tersebut tidak dapat ditukar, satu dengan lainnya. Pertama, aku mungkin mengetahui aku lain dengan cara saling mengenal. Di sini hubungan pokok adalah antara subyek kepada subyek, atau aku dan aku. Contoh pertama tentang ini adalah hubungan antara bayi dan ibunya. Dari kesadaran yang belum terang ini, timbullah perbedaan antara aku dan engkau, antara aku dan aku lainnya. Aku mengenal seorang lain sebagai Thou. Ini adalah hubungan I dan Thou. Aku mengenal seorang lain (aku lain) dalam kedudukannya dan aku menghendaki suatu tanggapan. Ini adalah hubungan timbal balik di mana persatuan itu mungkin. Hubungan IThou, atau hubungan orang dengan orang mengandung pertemuan yang murni, yang berarti bahwa tiap fihak mencurahkan isi wujudnya kepada fihal lain. Buber berkata “semua kehidupan yang nyata adalah pertemuan”.

Kedua, aku mengetahui sesuatu sebagai it (itu) sebagai suatu obyek di luar. Obyek tersebut adalah satu dari beberapa obyek yang berada di ruang atau waktu, dapat diukur dan tunduk kepada peraturan sebab musabab (causal laws). Hubungan I-It adalah hubungan antara seseorang dengan benda atau subyek dengan obyek. Maksud dari pengetahuan atau hubungan I-It biasanya adalah untuk dapat mengontrol hal yang diketahui. Yang mengetahui terpisah dari yang diketahui dan hubungan itu pokoknya adalah hubungan manipulasi. Hubungan semacam itu dapat diberikan contoh oleh sains. Dalam sains aku melakukan kontrol terpisah dari eksperimen. Karena terpisahnya subyek dan karena konsentrasi terhadap obyek, maka dalam sains terdapat kecenderungan untuk mengingkari aku.

Sikap I-Thou dan I-It keduanya penting bagi watak manusia. Kata I-Thou hanya dapat dipakai dengan segala wujud orang yang mengatakan. Kata I-It adalah sebaliknya. Jika aku menghadapi seseorang sebagai Thou, dan mengadakan dialog I-Thou dengannya, orang itu bukannya benda dan tidak terdiri dari benda-benda. Saya juga dapat bertemu dengan seseorang dan menganggapnya sebagai aku dan menjadikan aku tersebut sebagai obyek atau It untuk keperluan saya. Manusia dapat diperlakukan sebagai benda, dikondisikan, dimanipulasikan dan dicuci-otakkan (brainswash). Manusia tak dapat hidup tanpa It. Akan tetapi orang yang hanya hidup dengan It saja, ia bukan manusia. Jika seseorang tunduk kepada It, maka dunia It yang selalu membesar akan mengalahkannya, dan mencabut realitas I-nya darinya.[2]

Kita dilahirkan sebagai pribadi-pribadi yang berlainan satu dengan lainnya. Kita menjadi aku yang benar-benar jika kita mempunyai hubungan yang erat dengan orang-orang lain. Melewati Thou seseorang menjadi I. Aku itu bersifat sosial dan interpersonal, dan seseorang yang real adalah orang yang hidup antara orang dan orang. Hubungan I-Thou mempunyai ciri-ciri timbal balik, langsung dan kesungguhan (intensity). Dalam hubungan yang semacam itulah suatu dialog atau pengetahuan dapat terlaksana. Dialog tersebut mungkin dengan perkataan atau secara diam-diam. Bahkan dialog tersebut terjadi dengan sekadar pandangan yang spontan dan tanpa gaya akan tetapi mengandung pemahaman dan perhatian yang timbal balik.

Buber protes terhadap “pembendaan” serta kecenderungan depersonalisasi, karena kedua hal tersebut akan berakibat mengingkari aku dan menghalangi ekspresinya. Suatu jemaat yang sejati akan timbul dari I-Thou. Beberapa orang hanya dapat hidup dalam hubungan yang timbal balik jika mereka dapat berkata Thou seorang kepada yang lain yang baik itu adalah persatuan jiwa dengan kehidupan, sedang yang jahat adalah pemisahan jiwa dari kehidupan. Suatu jemaat yang organik itu didasarkan atas kerjasama dan pengakuan pribadi sebagai pribadi (person) serta pengakuan akusebagai subyek.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Bacalah The Writing of Martin Buber, dipilih dan diedit serta diperkenalkan oleh Will Herberg (New York: Meridian Books, 1956), hal. 11.

[2] Martin Buber, I and Thou, diterjemahkan oleh Ronald Gregor Smith (Edinburg T. and T. Clarck, 1937), hal. 3, 8, 34, 46.

“Aku” sebagai Hal yang Khusus

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Mei 20, 2012 by isepmalik

Di samping sifat permanence dan transendence, aku mempunyai sifat khusus (private), yakni sifat yang tidak melekat kepada badan. Kita mempunyai pengetahuan yang langsung tentang aku kita yang bersifat pribadi yang tidak dapat dilukiskan secara sempurna dengan istilah-istilah yang obyektif. Aku dapat memberikan sebuah mataku atau ginjalku atau sebagian dari darahku kepada orang lain, aku tak dapat mengganti isi kesadaran orang lain dengan kesadaranku. Kita tak dapat mengetahui secara sempurna apa yang dipikirkan oleh orang lain. Aku tak dapat memasuki alam orang lain, aku tak dapat merasakan rasa kesakitan orang lain, walaupun dengan perantaraan bentuk komunikasi yang bermacam-macam kita dapat merasa simpati, mengerti atau menunjukkan perasaan mendalam (empathy). Membicarakan “mati” secara abstrak tidak sama dengan menghadapi kematiannya sendiri. Sartre menulis suatu cerita pendek “The Wall” (Tembok). Cerita itu melukiskan tentang tiga orang yang dihukum mati. Salah seorang dari mereka, “Tom”, mengalami mimpi buruk. Tetapi ada sesuatu yang penting. Aku melihat mayatku; itu tidak sukar, tetapi aku sendiri melihatnya, dengan kedua mataku. Aku berfikir, bahwa aku tak akan melihat apa-apa lagi, dan dunia akan berjalan terus bagi orang-orang lain.[1]

Lebih jauh lagi, fakta bahwa aku itu bersifat khusus (private) berarti bahwa tak ada aku yang merasakan pengalaman aku lainnya. Kehadiran aku tak dapat diperiksa secara obyektif seperti seseorang dapat memeriksa adanya sepotong batu atau sebuah pohon; manusia tak dapat menemukan sesuatu aku di antara persepsinya, karena aku bukan obyek. Watak dari aku yang khusus itu menjadikannya suatu kesatuan yang takkan menerima penyelidikan obyektif. Itulah sebabnya maka banyak filosof beralhiran ketimuran yang mengatakan bahwa aku itu tak ada dan mereka dapat menyelidikinya dalam manifestasinya yang obyektif dalam tingkah laku.

Aku tak dapat ditemukan baik dalam tingkatan anorganik atau dalam tingkatan organik semata-mata. Aku terdapat di mana ada kesadaran pribadi, pemikiran, pertimbangan etika atau estetika, apresiasi dan lain-lainnya. Sebagaimana puisi itu lebih dari sekadar badan dalam ruang; dan “lebih dari” inilah yang dinamakan aku oleh para filosof.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafa


[1] Walter Kaufmann (ed.), Existentialism from Dostoevsky to Sartre (New York: World Publishing, 1956), h. 231.

“Aku” sebagai Yang Mengatasi

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Mei 18, 2012 by isepmalik

Semua pengalaman menunjukkan adanya aku (self) atau subyek yang bebas dan tidak tenggelam dalam proses atau kejadian-kejadian yang melingkunginya. Oleh karena kekuatannya untuk mengintegrasikan sesuatu atau mengadakan perpaduan, maka aku mengatasi (trancends) proses di mana ia terlibat. Manusia mempunyai pengalaman tentang dunia sebagai “suatu dunia yang penuh dengan obyek yang terbuka untuk pengamatan”. Manusia mengalami dirinya sendiri sebagai “kesadaran dalam (inner awareness) bahwa ia hidup”. Orang yang ri mengingkari adanya aku (selfhood) sebagai sesuatu yang terpisah dari tingkah laku yang obyektif dan dapat dilihat, ia akan tetap mengatakan bahwa ide-idenya adalah benar. Tetapi bukankah pengingkaran terhadap aku itu malahan menjadi pengakuan terhadapnya? Jika yang dinamakan kebenaran atau kebohongan ada, niscara berpikir tidak hanya berarti rentetan perasaan yang datang bertubi-tubi tetapi tidak mengenai pusat identitas yang memberikan sifat kesatuan kepadanya. Kebenaran dan kebohongan, pengenalan dan pengetahuan harus didasari dengan adanya aku atau sesuatu yang memikir. Bagaimana kita dapat membandingkan benda-benda tanpa memikirkan pembanding yang berada di luar benda-benda yang dibandingkan? Kontinuitas pikiran yang memungkinkan manusia mengadakan argumen yang panjang atau menulis buku menunjukkan adanya aku yang melangsungkan atau subyek yang mengetahui.

Seorang psikolog berkata: Aku adalah fungsi yang mengorganisir yang ada dalam seseorang. Aku ada sebelum kita memperoleh sains dan bukan obyek sains tersebut.[1] Aku yang mengetahui dan menentukan tak dapat kita pahami jika kita hanya menggunakan metode obyektif dari sains. Karl Heim berkata: “Hal yang mengherankan mengenai ego yang menjadikan alam sebagai obyek persepsi dan kehendaknya adalah walaupun ego tersebut paling dekat dan sangat terkenal kepada kita, dan walaupun kita masing-masing sadar akan adanya, namun adalah mustahil bagi kita untuk menggambarkannya secara obyektif sebagaimana kita melukiskan suatu kristal atau bunga atau rumah.[2]

Hubungan aku dengan proses waktu adalah satu dari problema yang sangat mendalam dari kehidupan manusia. Manusia adalah suatu makhluk yang sangat terbatas, dengan kehidupan yang terbatas dengan waktu; tetapi ia mengatasi (transcends) dan berada di atas rangkaian waktu, dalam arti bahwa aku itudifahami dan dialami dalam saat “sekarang”; aku adalah titik subyektif antara masa lalu dan masa mendatang. Manusia mempunyai kemampuan untuk membicarakan masa lampau yang dapat disimpan dalam ingatan. Manusia juga memiliki daya melihat ke depan, kemampuan untuk merencanakan, menebak yang belum terjadi dengan sedikit atau banyak kepastian, mengadakan rencana, dan sampai batas tertentu membentuk hari esok. Walaupun begitu, aku-ku secara tak dapat dimengerti, terikat dengan waktu sekarang, walaupun dalam ingatanku aku dapat bergerak ke masa lalu dan dalam imajinasi aku dapat meloncat ke hari esok. Aku terikat dan tak terpisahkan dari “sekarang” yang berbeda dalam kualitasnya dari renteten titik-titik. Akuku menjadi pusat waktu, dan hari kemarin dan hari esok dapat dilihat oleh akusekarang.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Rollo May, Man’s Search for Himself (New York: Norton, 1953), h. 21.

[2] Christian, Faith and Natural Science (New York: Harper, 1957), h. 36.

“Aku” sebagai Pusat Identitas Pribadi

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Mei 17, 2012 by isepmalik

Istilah Aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan “subyek” atau sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah dari kehidupan seseorang. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi, konsepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Jika aku itu merupakan substansi atau benda (banyak filosof modern menolak pandangan ini) maka akal itu adalah substansi yang istimewa sekali. Suatu substansi tidak harus bersifat “material”, ia mungkin juga bersifat “immaterial”. Jika kita mengatakan bahwa aku itu bukan substansi, kita dapat menggambarkannya sebagai pusat dari identitas pribadi.

Terdapat bukti tentang adanya suatu unsur inti yang dapat diberi nama: self, ego, agent, mind, knower, soul, spirit atau person. Kata-kata seperti pengalaman langsung (immediate experience) dan isi kesadaran (content of consciousness) mengandung arti “adanya sesuatu yang mempunyai pengalaman, sesuatu yang memberikan kesatuan (unity)”. Kita berkata: aku dalam menceritakan pengalaman-pengalaman yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, kemarin atau sekarang, aku adalah sesuatu “kesatuan”, subyek yang mempunyai pengalaman, yang tak dapat dianggap hanya sebagai bagian dari aku, atau sebagai unsur-unsur yang khusus dan berubah dari pengalaman saya. Kalau istilah mind dan self (akal dan aku) tak dapat dianggap benda yang sama, maka self (aku) atau person adalah yang memiliki pengalaman-pengalaman tersebut yang kita namakan pengalaman mental.

Realitas yang diketahui oleh seseorang secara langsung adalah ­aku-nya (self, ego), “Aku” diketahui secara lebih langsung dan lebih meresap daripada dunia di luar diri seseorang. Dunia yang obyektif yang dapat dialami, diukur dan dimanipulasikan selalu dipandang dari segi kepentingan aku (self) atau orang yang dimengerti. Aku mencakup kualitas keistimewaan serta kelangsungan dalam perubahan, yakni kelangsungan yang memungkinkan seseorang berkata Aku, kesadaran pribadi (self-consciousness) adalah kesadaran aku terhadap dirinya. Manusia bukannya hanya sadar terhadap dirinya sebagai aku, akan tetapi ia juga sadar kepada fakta bahwa ia sadar.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).

Wataknya “Aku”

Posted in "Aku" with tags , , , , , on Mei 12, 2012 by isepmalik

Seseorang mungkin mendapat kesulitan dalam mengenal dirinya, sebanyak kesulitan yang ia rasakan dalam mengenal orang lain. Banyak soal-soal yang rumit yang timbul mengenai diri kita. Kita mencoba menjawabnya, kadang-kadang karena ingin tahu, tetapi kadang-kadang untuk sebab-sebab yang praktis. Siapa aku ini? Siapa anda? Kita selalu menunjuk diri kita: Aku kira, Aku harus, Aku mengharap. Apakah yang kita katakan ketika kita berkata kepada seseorang, “Aku bukannya diriku sendiri hari ini?” Apakah Aku yang berkata itu sadar akan dirinya? Apakah Aku itu berada langsung pada kesadaran? Kalau tidak, bagaimana kita menjadi sadar tentang Aku kita? Soal-soal ini implikasi falsafiah yang dalam, dan selalu dibahas dalam sejarah filsafat. Kita telah mempelajari persoalan watak manusia, soal apakah manusia mempunyai esensi yang sama. Kita juga harus menyelidiki watak dari Aku.

Sampai sekarang definisi Aku sukar untuk dilukiskan. Istilah seperti wujud (being), aku (self) dan Tuhan (God) sukar untuk dijelaskan; usaha untuk menjelaskan arti istilah-istilah tersebut nampaknya akan mengubah watak (nature)-nya dan membatasi implikasinya. Karena itu kita hanya memiliki definisi yang tidak menyeluruh (partial). Walaupun kita tidak dapat memberi definisi Aku (self) secara sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang penting. Ada filosof yang mengatakan bahwa ide “Aku” itu tak ada artinya, namun beberapa filosof lain tetap mengatakan bahwa “Aku” merupakan faktor yang penting dala kehidupan manusia. Kita tak dapat menghilangkan kesadaran (awareness), kesadaran pribadi (self-consciousness), dan jiwa (mind) dari interpretasi kita tentang urusan-urusan manusia tanpa mengingkari hal besar yang sentral (pokok) dalam pengalaman manusia. Sesungguhnya sejarah manusia sendiri merupakan cerita tentang makhluk-makhluk yang sadar dan berakal, yakni Aku (self) yang bergerak dalam waktu, mengamati, memikir dan membaca bermacam-macam maksud.

(Sumber: Harold H. Titus.(1984). Persoalan-persoalan Filsafat).