Archive for the PSIKOLOGI Category

Kenikmatan dan Penderitaan

Posted in Kebahagiaan, Kebahagiaan & Penderitaan, Penderitaan with tags , , , , , on Agustus 16, 2012 by isepmalik

Ar-Razi memiliki satu buku atau makalah tentang kenikmatan. Dia telah menyebutkannya sendiri di dalam buku ath-Thib ar-Ruhani dan menamakannya dengan makalah Fi Mahiyah al-Ladzdzah.[1] Dari sini makin jelas bahwa ide ar-Razi tentang kenikmatan dan penderitaan telah dipengaruhi oleh pendapat Plato dalambuku Themes, baik melalui kajian langsung terhadap buku tersebut maupun melalui ringkasan Galenos terhadap buku tersebut.[2]

Kami belum mendapatkan buku atau makalah ar-Razi tentang kenikmatan, tetapi kami mendapatkan beberapa makalah pilihan darinya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Dan itu terdapat di buku Zad al-Musafir karangan Abu Muin Nashir bin Khasru bin Harits al-Qadiyani al-Balkhi al-Badkhasyani (wafat sekitar tahun 481 H), dan beliau terkenal dengan julukan Nashir Khasru. Paul Cruss telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab dan ia muat dalam buku Rasa’il Falsafiyah karangan Abu Bakar ar-Razi.[3]

Dalam pandangan ar-Razi, kenikmatan adalah rehat dari sebuah penderitaan, sehingga tidak ada kenikmatan kecuali setelah penderitaan. Menurutnya, kenikmatan adalah perasaan yang menyenangkan, sedangkan penderitaan adalah perasaan yang menyiksa. Perasaan adalah pengaruh inderawi pada orang yang melakukan penginderaan. Sedangkan pengaruh adalah tindakan si pemberi pengaruh terhadap orang yang terpengaruh; lalu keterpengaruhan adalah perubahan kondisi orang yang mendapatkan pengaruh.

Keadaan itu bisa bersifat alami, tetapi bisa juga bersifat supraalami. Menurut ar-Razi, jika orang yang mempengaruhi memindahkan orang yang terpengaruh dari keadaan alamiahnya, maka terjadilah penderitaan dan nestapa. Sebaliknya, jika si pemberi pengaruh mengembalikan lagi orang yang terpengaruh tadi ke keadaan alamiahnya, maka terjadilah kenikmatan.[4]

Oleh karena itu, penderitaan dan nestapa kerap terjadi pada orang yang terpengaruh ketika ia keluar dari keadaan alamiahnya. Sedangkan kenikmatan terjadi ketika ia kembali lagi ke keadaan semula atau kembali ke keadaan alamiah. Pasalnya, kenikmatan tidak akan terjadi kecuali setelah keluar dari keadaan alami yang di dalamnya terdapat penderitaan. Dengan demikian, kenikmatan adalah rehat dari penderitaan.[5]

Keadaan alamian tidak bersifat inderawi, karena penginderaan terjadi akibat pengaruh dari yang memberi pengaruh terhadap yang dipengaruhi dan memindahkannya dari keadaan semula. Pendeknya, keadaan alamiah adalah keadaan yang tidak berkaitan dengan keadaan yang lain, atau bukan karena perubahan dan bukan pula karena pengaruh. Oleh karenanya, ia menjadi tidak bersifat inderawi. Sementara, sesuatu yang tidak dicapai perasaan tidak akan menjadi kenikmatan atau penderitaan. Jadi, keadaan alamiah bukanlah kenikmatan atau penderitaan.[6]

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Ath-Thibb ar-Ruhani, h. 38.

[2] Rasa’il Falsafiyah, Abu Bakar ar-Razi, op.cit., h. 139-140.

[3] Ibid., h. 147-155.

[4] Ibid., h. 148-149.

[5] Ibid., h. 149-150.

[6] Ibid., h. 150-153.

Iklan

Tentang Jiwa

Posted in Jiwa, Jiwa with tags , , , , , on Agustus 7, 2012 by isepmalik

Dalam buku ath-Thibb ar-Ruhani, ar-Razi menyebutkan pendapat Plato tentang jiwa.[1] Menurut ar-Razi, manusia memiliki tiga jiwa, yaitu an-Nafs an-Nathiqah al-Ilahiyah (Jiwa yang bersifat rasional dan Ilahiah), an-Nafs al-Ghadhabiyah wa al-Hayawaniyah (Jiwa yang bersifat emosional dan kehewanan), dan an-Nafs an-Nabatiyah wa an-Namiyah wa asy-Syahwaniyah (Jiwa yang bersifat vegetatif, tumbuhan dan syahwat).

Jiwa hewani dan vegetatif merupakan bagian dari jiwa rasional. Jiwa vegetatif berfungsi untuk memberi makan pada badan yang berkedudukan sebagai alat dan perangkat jiwa rasional. Karena badan terdiri dari substansi yang bersifat cair dan mengalami kerusakan, maka agar dapat bertahan ia membutuhkan makanan untuk mengganti yang rusak.

Sedangkan fungsi jiwa emosi adalah membantu jiwa rasional untuk melawan syahwat dan mencegahnya agar tidak menyibukkan jiwa rasional dengan berbagai syahwat sehinggai mengabaikan fungsi dasarnya, yaitu rasio yang bila digunakan dengan cara yang efektif dan sempurna, maka akan memungkinkannya untuk membebaskan diri dari badan.

Jiwa emosi adalah sejumlah kelenjar jantung yang menjadi sumber panas dan detak jantung. Sementara jiwa syahwat adalah sejumlah kelenjar hati yang menjadi sumber makanan, pertumbuhan, dan perkembangan manusia. Kumpulan kelenjar otak adalah alat atau perangkat yang digunakan oleh jiwa rasional, karena sesungguhnya indera, gerak keinginan, imajinasi, berpikir dan mengingat bersumber dari otak.

Ar-Razi menyebutkan ide Plato yang menyatakan bahwa manusia harus berusaha mempelajari kedokteran fisik, yaitu kedokteran yang telah dikenal banyak orang; serta kedokteran ruhani, yaitu kemampuan berargumentasi dan berdalil dalam memperbaiki jiwa-jiwa tersebut agar keinginan terhadapnya tercapai dan tidak ada pelanggaran.[2]

Jiwa vegetatif dianggap kurang jika ia tidak memberi makan tubuh dan tidak menumbuhkannya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sebagaimana yang dibutuhkan tubuh. Sebaliknya, ia dianggap berlebihan jika melanggar dan melampaui kebutuhan tubuh sehingga tubuh tenggelam dalam kenikmatan dan syahwat. Sedangkan jiwa emosi dianggap kurang jika ia tidak memiliki kekuatan pelindung, perisai, dan senjata yang memungkinkannya untuk melawan nafsu syahwat. Sebaliknya, ia dianggap berlebihan jika mengandung unsur kesombongan, cinta kemenangan, penguasaan, dan pemaksaan terhadap manusia dan hewan.

Selanjutnya, jiwa rasional dianggap kurang jika tidak tergerak untuk meneliti, memikirkan, mengamati dan mengerahkan rasa ingin tahu terhadap alam beserta isi yang terkandung di dalamnya, terutama pengetahuan tentang tubuh dan keadaan tubuh sekarang ini dan setelah kematian. Jika jiwa rasional tidak memiliki rasa ingin tahu akan berbagai hal, maka itu akan membuat manusia seperti hewan, yang sama sekali, tidak berpikir dan mengingat.

Sebaliknya, jiwa rasional dianggap berlebihan jika manusia dikuasai oleh pikiran tentang hal-hal di atas dan sejenisnya, sehingga tubuh tidak mendapatkan makanan, tidur, dan kebutuhan lain untuk mengembangkan kelenjar otak dalam keadaan sehat, lantaran kecapaian mencapai pengetahuan yang diinginkan dalam waktu sesingkat mungkin. Padahal hal itu dapat menimbulkan kerusakan kelenjar tubuh sehingga ia mengalami was-was dan melankolia.

Sesungguhnya manusia, ketika hidup di dunia, semenjak lahir sampai usia tua, amat cukup menggunakan pikirannya untuk meneliti makna-makna yang kami sebutkan tadi. Hanya saja, kebanyakan dari mereka malah menistakan dan membenci tubuhnya serta tahu bahwa jiwa yang sensitif selalu dalam keadaan tersiksa dan nestapa selama bergantung pada tubuh. Itu sebabnya, mereka memilih meninggalkan fisik dan membebaskan diri darinya. Nah, jika jiwa berpisah dengan tubuh dan ia mendapatkan dan meyakini makna-makna tersebut, maka di dalam dunianya ia tidak ingin bergantung kepada tubuh dan tetap hidup, menggunakan rasio, tidak mati dan menderita, serta bertahan di tempat dan kedudukannya.

Ar-Razi memandang bahwa kehidupan setelah kematian, baik dalam keadaan terpuji maupun tercela, sangat bergantung pada perilaku manusia saat jiwanya berada di dalam tubuh ketika masih hidup di dunia. Dia juga menyatakan bahwa manusia tidak pernah diciptakan untuk mendapatkan kenikmatan fisik, melainkan untuk mencari ilmu dan memanfaatkan keadilan yang menjadi syarat kebebasan dari dunia menuju alam yang tidak mengenal kematian dan penderitaan. Sesungguhnya tabiat dan hawa nafsu mengajak manusia untuk mengedepankan kenikmatan yang ada, sedangkan akal sering mengajak manusia untuk meninggalkan kenikmatan lantaran beberapa hal yang ia utamakan atas kenikmatan.[3]

Oleh karena itu, orang yang berakal tidak boleh tunduk pada kenikmatan dunia yang sewaktu-waktu terputus karena kematian, tetapi ia harus berusaha mencapai kenikmatan abadi yang tidak pernah putus dan tidak berujung d dalam setelah kenikmatan lantaran di sana tidak ada kematian.[4]

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Ath-Thibb ar-Ruhani, op.cit., h. 27-30.

[2] Ibid., h. 29.

[3] Abu Bakar ar-Razi, Kitab as-Sirah al-Fadhilah, dimuat dalam buku Rasa’il Falsafiyah, op.cit., h. 101-102.

[4] Ibid., h. 101-103.