Archive for the Fasal 03 Category

Tempat-tempat Ruh di Dalam Jasad

Posted in Fasal 03 with tags , , , , on Maret 18, 2012 by isepmalik

Tempat Ruh Jismani di dalam badan tepatnya di wilayah dada dan anggota badan yang zahir. Alatnya adalah Syariat. Amalannya adalah mengamalkan Syariat yang telah difardukan Allah sesuai dengan hukum-hukum zahir yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa diiringi dengan Syirik (menyekutukan Allah). Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Kahfi ayat 110:

“Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil dan mencintai yang ganjil, yaitu amal yang tidak disertai dengan Riya’ (ingin dipuji orang lain) dan Sum’ah (mencari kemasyhuran). Hasilnya di dunia adalah Wilayah (pertolongan Allah) dan Mukasyafah (terbukanya hijab antara manusia dengan Allah) dan Musyahadah (merasa berhadap-hadapan dengan Allah) di alam Mulki dari bumi sampai langit. Begitu pula karamatul kauniyah pada martabat kewalian seperti: berjalan di atas air, terbang di udara, menyingkat jarak, mendengar dari jauh, melihat rahasia badan dan sebagainya. Keuntungan di Akhirat adalah mendapatkan surga, bidadari istana, pembantu-pembantu, minuman yang nikmat serta nikmat-nikmat lain di surga tingkat pertama yang disebut Jannatul Ma’wa.

Adapun tempat Tuh Ruhani adalah Hati. Alatnya adalah ilmu Tariqat. Amalannya adalah mengamalkan Empat nama Allah (dari kelompok pertama) dengan tanpa suara dan huruf dari sumber Dua Belas Nama Allah. Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra ayat 110:

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana sahaja kamu seru, Dia mempunyai Asma-ul Husna (nama-nama yang baik)”.

Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-A’raf ayat 180:

“Allah mempunyai Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Asma Allah adalah tempat melakukan pengalaman kepadanya secara khusyuk. Itulah yang disebut dengan Ilmu Batin. Ma’rifat adalah hasil dari Nama-nama Tauhid. Nabi bersabda:

“Allah memiliki 99 nama. Orang yang menguasainya akan masuk surga”.

Kemudian sabdanya pula:

“Belajar satu huruf, mengamalkan seribu kali”.

Yang dimaksud dengan Ihsa (menghitung) dalam hadits ini ialah manusia berakhlak dengan akhlak Asma-ul Husna. Dua belas nama ini adalah sumber dari seluruh Nama-nama Allah, sesuai dengan jumlah huruf Laa Ilaha Illallah, yaitu dua belas. Maka Allah menetapkan bagi perjalanan hati setiap satu huruf dengan satu nama. Setiap satu alam dengan tiga nama. Allah menetapkan nama-nama tersebut pada hati orang-orang yang Mahabbah kepada Allah. Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 27:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan akhirat”.

Dan Allah menurunkan kepada mereka ketenangan di dalam bergaul. Allah menurunkan Pohon Tauhid yang akarnya tertancap di tujuh lapis bumi dan cabangnya di langit. Keuntungan dari pengolahan Ruh Ruhani adalah hidupnya hati dan Musyahadah di alam Malakut, seperti menyaksikan surga dan ahlinya dan sinar-sinar dan malaikat-malaikatnya. Juga seperti bicara batin dari lisannya dengan Mudawamah menggunakan Asma-ul Batin tanpa suara dan huruf. Tempatnya di akhirat adalah surga tingkat kedua yaitu Jannatun Na’im.

Tempat Ruh Sultani adalah Fuad (mata hati). Alatnya adalah ma’rifat. Amalannya adalah Mudawamah nama-nama yang empat di tingkat menengah dengan lisan hati. Nabi bersabda:

“Ilmu ada dua macam. Pertama: Ilmu Lisan. Itulah hujjahnya Allah bagi makhluk. Kedua: Ilmu Hati. Itulah ilmu yang bermanfaat, karena kebanyakan manfaat ilmu bersumber di daerah hati”.

Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Al-Quran mempunyai zahir dan batin”.

Nabi bersabda:

“Allah menurunkan Al-Quran dengan sepuluh batin, lebih batin lebih bermanfaat dan lebih menguntungkan, karena batin ini adalah sumber/ pusat/ pokok”.

Nama-nama Allah yang dua belas ini menempati tempat dua belas mata air seperti dua belas mata air yang mengalir dari batu yang dipukul oleh Nabi Musa a.s. Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 60:

“Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku kaum itu telah mengetahui tempat minumnya masing-masing”.

Ilmu Zahir seperti air hujan yang turun ke bumi. Adapun ilmu batin seperti mata air yang asli. Ia lebih banyak manfaatnya dari air hujan. Firman Allah dalam surah Yasin ayat 33:

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati dan kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan”.

Allah mengeluarkan biji-bijian dari ufuk bumi ini yang merupakan makanan pokok makhluk hidup yang bangsa nafsu dan Allah mengeluarkan biji-bijian dari bumi nafsu yang merupakan pokok Ruh Ruhani.

Nabi bersabda:

“Orang yang ikhlas kepada Allah selama 40 hari akan timbul sumber hikmah dari hatinya pada lisannya”.

Adapun keuntungan dari pengolahan ruh Sultani adalah melihat pantulan Jamalillah (keindahan Allah). Firman Allah dalam surah An-Najm ayat 11:

“Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya”.

Sabda Nabi:

“Manusia yang beriman adalah cermin Allah yang Mu’min”.

Yang dimaksudkan dengan lafaz mu’min yang pertama dalam hadits ini adalah hati hamba Allah yang mu’min secara hakiki. Dan lafaz mu’min yang kedua adalah zat Allah. Firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 23:

“Yang mengaruniakan keamanan. Yang Maha Memelihara”.

Tempat bagi kelompok ini adalah di surga ketiga, yaitu surga Firdaus.

Adapun tempat Ruh Al-Qudsi adalah di dalam Sirri (rasa). Firman Allah dalam hadits Qudsi:

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia”.

Alatnya adalah Ilmu Hakikat, yaitu Ilmu Tauhid. Amalannya adalah Mudawamah nama-nama Tauhid, yaitu nama-nama yang empat di bahagian terakhir di tingkat puncak dengan lisan sir tanpa suara dan huruf. Firman Allah dalam surah Taha ayat 7:

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi”.

Siapa pun tidak ada yang mampu melihat/ menelitinya, kecuali Allah. Adapun keuntungannya yaitu keluarnya Tiflul Ma’ani (bayi ma’nawi), dan musyahadah serta terarah, dan melihat kepada Zat Allah dalam keagungan-Nya dan dalam keindahan-Nya dengan penglihatan sirri. Firman Allah dalam surah Al-Qiyamah ayat 22-23:

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat”.

Tanpa bentuk, cara dan perumpamaan. Bila manusia telah sampai kepada tujuannya, maka akal tidak akan mampu untuk menggambarkannya, hati tidak akan mampu untuk membayangkannya dan lidah tidak akan mampu untuk membicarakannya dan tidak akan mampu untuk memberitahunya. Karena Allah bersih dari perumpamaan. Bila khabar seperti ini sampai kepada para ulama, mereka wajib memahami dari tingkatan ilmu dan mereka harus ingin mencapai hakikatnya dan menghadapkan diri ke tempat/ darajat paling tinggi dan harus berjuang agar sampai kepada Ilmu Ladunni. Dan mengetahui Zat Yang Maha Tunggal tanpa ingkar terhadap pembicaraan yang kami jelaskan ini.

Iklan