Archive for the Pengetahuan Perolehan Category

Tinjauan Terhadap Sejumlah Pandangan Lain

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , , , , , , , , , , on Maret 18, 2014 by isepmalik

Kalangan yang berpendapat bahwa konsep universal adalah gagasan partikular yang samar dan bahwa pengertian-pengertian umum merujuk pada bentuk-bentuk samar (seolah-olah kepartikularan dan kekhasan telah tersapu bersih dari mereka) tidak akan menemukan hakikat konsep-konsep universal. Cara terbaik untuk menerangkan kekeliruan ini ialah dengan menarik perhatian mereka pada konsep-konsep yang sama sekali tidak mempunyai contoh-contoh nyata di alam luaran semisal “tiada” atau “mustahil”, atau konsep-konsep yang tidak mempunyai contoh-contoh material dan indriawi seperti Tuhan, malaikat, dan ruh, atau konsep-konsep yang sekaligus mempunyai contoh-contoh material maupun nonmaterial, seperti sebab dan akibat. Konsep-konsep tersebut tidak bisa dibilang sebagai bentuk-bentuk partikular yang rambang. Demikian pula halnya dengan konsep-konsep menyangkut hal-hal yang berlawanan seperti warna yang dapat berlaku untuk putih dan hitam. Tentu saja warna putih tidak bisa dikatakan telah sedemikian rambangnya hingga mengambil bentuk warna secara mutlak atau warna hitam telah sedemikian pudar dan pucatnya hingga dapat diterapkan pada warna putih (dan warna-warna lainnya).[1]

Seperti halnya pandangan di atas, kalangan Platonis juga menghadapi kesulitan-kesulitan serupa, mengingat sebagian besar konsep universal—seperti konsep “tiada” dan “mustahil”—tidak memiliki arketipe-arketipe kawruhan (intelligible archetypes). Oleh karena itu, pencerapan konsep-konsep universal jelas bukan merupakan pengamatan terhadap kebenaran-kebenaran intelektual dan nonmaterial. Dengan demikian, yang paling tepat ialah pendapat sebagian besar filosof Muslim dan kalangan rasionalis, yakni bahwa manusia berdaya kognitif khusus (special cognitive faculty)—yang disebut sebagai akal (intellect)—untuk menadah dan memahami (intellection) konsep-konsep mental universal, entah konsep-konsep itu memiliki contoh-contoh indriawi ataupun tidak.

Tabel 1. Pembagian Jenis Pengetahuan Representasional

Konsepsi (tashawwur)

Afirmasi (tashdiq)

Deskripsi

Makna literal: Pembentukan citra (mental);

Makna dalam logika: Penampakan mental yang sederhana, dengan sifat menyingkap sesuatu melampaui dirinya sendiri

Makna literal: Penetapan sesuatu sebagai hal yang benar;

Makna dalam logika/filsafat: proposisi logis yang mencakup subjek, predikat, dan penetapan kesatuan dari keduanya, atau penetapan kesatuan itu sendiri

Contoh-contoh

Imajinasi mental “Gunung Papandayan”.

Konsep “gunung” (sederhana), “gunung es” (majemuk)

Manusia adalah binatang rasional.

Bagian itu kurang dari keseluruhan.

Tabel 2. Pembagian Jenis Gagasan

Konsepsi (tashawwur)

Afirmasi (tashdiq)

Deskripsi

Citra/bentuk mental yang hanya mewakili/ menunjuk pada satu maujud/objek

Konsep yang dapat mewakili tak terbilang benda-benda atau orang-orang

Tipe-tipe

Gagasan Sensorik:

Fenomena sederhana di jiwa sebagai efek dari organ sensorik dan hubungan langsung dengan realitas material.

Contoh: Citra pemandangan alam ketika memandang dari kejauhan.

Gagasan imajiner:

Fenomena sederhana di jiwa sebagai efek dari organ sensorik dan hubungan dengan realitas material, namun keberadaan citra ini tetap bertahan meskipun hubungan dengan realitas eksternal telah putus.

Contoh: Fantasi

Konsep Kemahiyahan.

Konsep Filosofis.

Konsep Logis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Intinya barangkali adalah bahwa gagasan-gagasan partikular yang samar-samar seharusnya bisa menghimpun berbagai hal yang samar-samar mirip, persis seperti gagasan abu-abu yang cukup samar untuk bisa mencakup beragam corak warna. Akan tetapi, konsep-konsep yang berlawanan tidak begitu, lantara hitam dan putih bukanlah corak dari suatu warna yang serupa dengan corak-corak warna dalam abu-abu. Hitam dan putih adalah berlawan-lawanan, dan tidak serupa dalam batas-batas yang samar—penerj. Inggris.

Iklan

Tanggapan Terhadap Suatu Keraguan

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , on Maret 18, 2014 by isepmalik

Dalam upaya menafikan keberadaan konsep-konsep universal, para nominalis mengajukan keraguan berikut: setiap konsep yang muncul dalam satu benak merupakan konsep partikular dan khas yang berbeda dengan konsep-konsep serupa yang mengemuka di benak-benak lain. Bahkan, satu benak dapat memberikan pengertian yang berbeda pada kesempatan berbeda tentang satu konsep yang sama. Lalu, bagaimana mungkin konsep-konsep universal muncul dalam benak manusia dengan sifat keuniversalan (di satu sisi) dan kesatuan (di sisi lain)? Keraguan ini timbul akibat kebingungan membedakan segi konseptual dan segi eksistensi sesuatu. Atau kebingungan membedakan prinsip-prinsip logika dan prinsip-prinsip filsafat.

Kita sepenuhnya percaya bahwa semua konsep yang terjelma menjadi maujud bersifat partikular dan khas. Menurut kaidah para filosof, “keberadaan setara (equivalent) dengan kepartikularan”. Kalau kita membayangkan kembali, sesuatu itu akan mempunyai keberadaan lain (dalam benak). Tetapi, keuniversalan dan kepartikularan konseptual tidak mengacu pada sisi keberadaan sesuatu, tetapi mengacu pada segi konseptualnya, yakni segi penggambaran dan pencitraannya terhadap berbagai individu (dan anggota dalam suatu konsep universal).

Dengan perkataan lain, apabila benak dan pikiran kita meninjau konsep dari titik pandang kemampuannya mencitrakan dan memantulkan sesuatu (secara tidak mandiri) untuk menguji persesuaiannya dengan beragam individu, sifat keuniversalan akan terabstraksikan (dan termunculkan). Sebaliknya, apabila titik pandangnya berangkat dari keberadaan konsep itu di alam luar, ia akan menjadi perkara partikular.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Telaah Mengenai Konsep Universal

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , on Maret 12, 2013 by isepmalik

Seperti telah kita sebutkan, para nominalis berpendapat bahwa istilah-istilah umum (general terms) merupakan sejenis ekuivokasi atau ambiguitas (al-isytirak al-lafzhi) yang mengacu pada banyak individu. Untuk menjawabnya secara tuntas, kita mesti menguraikan (perbedaan) ambiguitas satu kata atau ungkapan yang merujuk pada banyak objek (al-musytarak al-lafzhi) dan kata atau ungkapan umum (al-musytarak al-ma’nawi).

Ambiguitas (musytarak lafzhi) terjadi manakala satu kata mengacu pada banyak objek melalui berbagai konvensi,[1] seperti kata “bunga” yang bisa berarti kembang (dalam konvensi umum) atau imbalan jasa untuk penggunaan modal yang dibayar pada waktu yang disetujui (dalam konvensi para ekonom).a Sebaliknya, makna umum (al-musytarak al-ma’nawi) ialah kata atau ungkapan yang ditetapkan dalam satu konvensi untuk merujuk pada sisi kesamaan dan keserupaan (isytirak) berbagai individu, dengan satu pengertian umum yang mengikat semuanya.b

Ada tiga butir penting yang membedakan antara mibiguitas (musytarak lafzhi) dan makna atau pengertian umum: a) ambiguitas menuntut sejumlah konvensi yang ditetapkan sebelumnya, sementara makna atau pengertian umum cuma memerlukan satu konvensi; b) makna atau pengertian umum dapat berlaku pada individu dan instanta yang tidak berhingga, sementara ambiguitas cuma berlaku pada sederet makna (yang masing-masingnya merupakan konvensi tersendiri); c) makna umum cuma memiliki satu pengertian umum yang dapat dipahami tanpa melihat konteks, sedangkan ambiguitas melibatkan banyak pengertian yang masing-masingnya membutuhkan penentuan konteks.

Setelah mempertimbangkan tiga butir perbedaan di atas, kita kembali bertanya tentang konsep umum seperti “manusia” dan “binatang”. Apakah konsep-konsep umum itu dapat kita pahami sebagai memiliki pengertian umum (untuk anggota himpunan yang tak berhingga) tanpa melihat konteks tertentu? Ataukah kata itu akan mencuatkan sejumlah pengertian dalam pikiran sehingga jika konteksnya tidak terbatasi, pikiran kita menjadi kacau dengan berbagai pengertian? Tak syak lagi, kita tidak menangkap Muhammad, Ali, Hasan, dan Husain sebagai pengertian kata “manusia” (yang berbeda-beda); karenanya saat mendengar kata “manusia” kita tidak pernah meragukan pengertiannya dengan menanyakan mana di antara individu-individu itu yang dapat menjadi pengertiannya. Malah, kita tahu dengan pasti bahwa “manusia” mempunyai satu pengertian yang merujuk pada seluruh individu tersebut dan manusia-manusia lainnya. Oleh sebab itu, kata manusia tidak bisa disebut ambigu.

Sekarang marilah kita lihat apakah kata di atas mempunyai contoh yang terbatas ataukah tidak? Jelas bahwa kata “manusia” mempunyai contoh dan acuan yang tak terbatas. Oleh karena itu, konsep-konsep universal (atau pengertian-pengertian umum) tidak membutuhkan pada konvensi yang berulang-ulang. Kesimpulannya, konsep-konsep universal mempunyai pengertian umum (yang mengena pada seluruh anggota himpunan) dan tidak ambigu.

Boleh jadi ada keberatan tentang tidak memadainya paparan di atas untuk menjelaskan kemustahilan terjadinya konvensi yang berulang-ulang dalam menentukan contoh acuan. Karena, mungkin saja, si pemakai hanya membayangkan satu instanta (dan bukan instanta-instanta tanpa batas) dalam benaknya ketika ia menetapkan kata atau ungkapan umum yang mencakup seluruh individu yang serupa (dengan contoh yang dibayangkannya).

Kita haya tahu si pemakai kata seharusnya telah mengkap ari “seluruh”, “instanta”, dan “serupa” dalam proses membuat konvensi. Oleh karena tu, pertanyaan di atas mesti dikembalikan pada bagaimana kata-kata dan ungkapan-ungkapan itu ditentukan sebelumnya sehingga dapat diterapkan pada instanta-instan individual bahwa pikiran manusia sanggup menganggit konsep (umum) yang dapat diterapkan pada contoh-contoh individual yang tak terbatas. Karena, tidaklah mungkin ada konvensi untuk tiap-tiap individu yang tercakup dalam pengertian umum.c

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] “Konvensi” di sini sama dengan “initial baptism (pembaptisan inisial)” dalam istilah Kripke yang merujuk pada kesepakatan sosial dalam menentukan kata atau ungkapan untuk objek tertentu—penerj. Inggris.

a Kata “tahu” juga mempunyai makna kembar, ia bisa berarti “mengerti” atau “makanan yang dibuat dari kedelai putih dan digiling halus-halus, direbus lalu dicetak”. Spring dalam bahasa Inggris juga bersifat ambigu, lantaran ia bisa berarti kumparan, musim semi, sumber air, dan lompatan. Demikian pula halnya dengan kata ‘ain dalam bahasa Arab yang bisa berarti mata, sumber air, dan emas—M.K.

b Contohnya ialah kata “binatang” yang dapat merujuk pada ayam yang berkaki dua atau lembu yang berkaki empat—M.K.

c Kesimpulannya: pengertian umum dari konsep universal (seperti manusia) mencakup seluruh individu secara tak terbatas, meskipun kata yang dipakai untuk menyampaikan pengertian umum dari konsep universal itu cuma sekali ditetapkan dalam konvensi. Dengan demikian, seluruh individu yang mempunyai sifat kebinatangan dari rasionalis dapat disebut manusia tanpa peremsian dan konvensi khusus untuk itu—M.K.

Gagasan-gagasan Universal

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , , on Maret 9, 2013 by isepmalik

Sudah kita ketahui bahwa pada satu sisi gagasan-gagasan dapat dibagi menjadi universal dan partikular, dan semua jenis gagasan yang telah kita bahas hingga sekarang adalah gagasan-gagasan partikular. Gagasan-gagasan universal yang juga disebut dengan “konsep-konsep akal” atau “objek-objek kawruhan” (intelligibles) telah menjadi pusat berbagai perdebatan filosofis penting, sekaligus menjadi tema pembicaraan selama berabad-abad lampau.

Sejak zaman kuno, ada sejumlah orang yang pada dasarnya menyangkal keberadaan konsep-konsep universal. Istilah yang dipakai untuk menunjuk (denote) konsep-konsep universal, kata mereka, sebetulnya merupakan istilah-istilah ekuivokal yang mengacu pada banyak hal. Umpamanya, kata “manusia” yang dipakai untuk banyak individu mirip dengan nama depan yang dipakai untuk beberapa keluarga atau nama keluarga yang dipakai untuk semua anggotanya. Para pendukung teori ini dikenal sebagai “nominalis”. Pada akhir Abad Pertengahan, William dari Ockham cenderung pada teori ini, kemudian diikuti oleh Berkeley. Belakangan, di zaman modern, para positivis dan penganut sejumlah aliran lain juga patut diduga berpandangan serupa.[1]

Sejalan dengan teori di atas ialah teori yang menyatakan bahwa konsep-konsep universal tak lebih dari konsep-konsep partikular yang samar (vague). Dengan sedemikian rupa menerabas beberapa ciri pembeda (features) dan bentuk khasnya, kita bisa menerapkan satu konsep partikular pada beragam orang dan individu. Misalnya, gagasan kita tentang seseorang bisa kita tetapkan pada orang lain dengan cara membuang beberapa ciri pembeda orang pertama. Dengan membuang lebih banyak ciri pembeda, gagasan tersebut menjadi lebih umum dan dapat diterapkan pada lebih banyak orang hingga akhirnya mencakup binatang, tanaman, dan mineral. Ini mirip dengan bayangan di kejauhan yang karena kesamarannya ia bisa cocok (conform) dengan gagasan batu, pohon, binatang atau manusia. Itulah sebabnya mengapa pada tatapan pertama kita selalu ragu apakah bayangan itu manusia atau benda lainnya. Makin dekat dan jelas penglihatan kita, makin sempit batas-batas kementakan (probability) bayangan itu, sampai akhirnya kita bisa memastikan sosok dan benda tersebut.

David Hume dan sejumlah pemikir lain punya pendapat semacam ini mengenai konsep-konsep universal. Di lain pihak, sebagian filosof kuno seperti Plato sungguh-sungguh menegaskan sifat nyata konsep-konsep universal, bahkan menganggap kenyataannya terpisah dari kerangka ruang dan waktu. Menurutnya, pencerapan konsep-konsep universal tak ubahnya seperti pengamatan pada entitas-entitas mujarad (non-material entities) dan arketipe-arketipe intelektual (ide-ide Platonik). Teori ini sendiri telah ditafsirkan secara beragam dan banyak teori lain bercabang darinya.[2] Oleh sebab itu, sebagian pemikir percaya bahwa sebelum terbungkus raga, ruh manusia telah menyaksikan segenap kebenaran intelektual di semesta keberadaan mujarad. Sesudah terbungkus raga, ruh mengalami kelupaan. Dengan menatap sosok-sosok yang terpampang secara material, ruh kembali teringatkan pada kebenaran-kebenaran mujarad yang pernah dilihatnya. Dan itulah yang disebut dengan pencerapan konsep-konsep universal.

Sebagian yang tidak percaya pada keberadaan ruh sebelum tubuh berpendapat bahwa persepsi indriawi mempersiapkan jiwa untuk menilik entitas-entitas mujarad. Akan tetapi, penyaksian dan pencerapan konsep-konsep universal merupakan penyaksian hakikat-hakikat mujarad dari kejauhan, berbeda dengan penyaksian dan penyingkapan gnostik (al-musyahadat al-‘irfaniyyah) yang membutuhkan persiapan khusus sebagai penyaksian dari kedekatan. Sebagian filosof Muslim, seperti Mulla Shadra dan Almarhum ‘Allamah Thabathaba’i, menerima penafsiran terakhir.

Teori paling masyhur ialah bahwa konsep-konsep universal merupakan sejenis konsep mental yang terpahami sebagai konsep universal pada tingkat tertentu dalam benak manusia. Oleh karena itu, salah satu definisi akal ialah kemampuan menangkap konsep-konsep mental universal. Teori ini dinisbatkan kepada Aristoteles dan diterima oleh kebanyakan filosof Muslim.

Menimbang teori pertama dan kedua pada hakikatnya bermaksud sama sekali menyangkal pencerapan intelektual, suatu titik pangkal untuk menghencurkan metafisika dan menyusutkannya menjadi sekadar wacana filologis dan uraian kebahasaan, sudah semestinya kita menelisik isu ini lebih jauh untuk menemukan landasan-landasan kukuh bagi pembahasan-pembahasan selanjutnya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Dalam kenyataannya, sementara nominalisme telah menarik beberapa positivis dan para pengikut mereka, pendapat resmi seorang positivis logika, seperti Rudolf Carnap, menunjukkan bahwa seluruh perdebatan tentang keberadaan konsep-konsep universal adalah tak bermakna. Anggapan ini agaknya timbul dari teori pemaknaan (theory of meaning) yang tak lengkap—penerj. Inggris.

[2] Fenomenologi Edmund Husserl harus dipandang sebagai diturunkan dari teori ini.

Pembagian Gagasan

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , , on Februari 3, 2013 by isepmalik

Dari satu perspektif, gagasan dapat dibagi menjadi dua: universal dan partikular: “Gagasan universal” adalah konsep yang menyantirkan sekian banyak hal dan benda, seperti konsep manusia, yang dapat diterapkan pada jutaan individu. Sebaliknya, “gagasan partikular” adalah bentuk mental (mental form) yang cuma menyantirkan satu maujud, seperti bentuk mental tentang Socrates. Gagasan universal maupun partikular, mengikuti dasar pembagian lain, dapat digolongkan menjadi beberapa tipe. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai bagian-bagian tersebut.

  • Gagasan-gagasan indriawi, yaitu gejala-gejala sederhana yang terdapat dalam jiwa sebagai hasil dari hubungan antara organ-organ indra dan kenyataan-kenyataan material, seperti citra pemandangan yang kita lihat dengan mata atau suara yang kita dengar dengan telinga. Kelangsungan gagasan ini sepenuhnya bergantung pada kelangsungan kontak dengan jagat luar. Begitu kontak itu terputus, gagasan-gagasan ini pun akan menghilang dalam sekejap (misalnya dalam sepersepuluh detik).
  • Gagasan-gagasan khayali (imaginary ideas), yakni gejala-gejala sederhana dan khas dalam jiwa yang secara langsung diakibatkan oleh timbulnya gagasan-gagasan indriawi dan hubungan dengan jagat luar. Berbeda dengan gagasan indriawi, kelangsungan gagasan khayali tidak bergantung pada hubungan dengan jagat luar. Sebagai misal, citra mental mengenai pemandangan kebun yang menetap dalam jiwa kendati kedua mata kita telah terpejam, dan dapat kita ingat kembali bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu.
  • Gagasan-gagasan kewahaman (al-wahamiyyah atau ideas of prehension)[1]: Para filosof menyebutkan adanya jenis lain gagasan partikular yang terkait dengan makna-makna partikular, seperti permusuhan antarbintang yang menyebabkan mereka saling menjauh. Sebagian filosof memperluasnya untuk mencakup segenap pengertian dan makna partikular lainnya, termasuk perasaan kasih sayang (affection) dan benci (enmity) dalam diri manusia.

Tak ayal lagi, konsep-konsep universal seputar kasih sayang dan kebencian pada hakikatnya tergolong sebagai gagasan-gagasan universal, dan bukan gagasan-gagasan partikular. Afeksi dan kebencian dalam diri pelaku persepsi sebenarnya adalah pengetahuan presentasional akan kualitas-kualitas jiwa, dan bukan termasuk dalam pengetahuan perolehan.

Perasaan kita tentang kebencian pihak lain, sesungguhnya bukanlah perasaan langsung yang mengemuka tanpa perantaraan (bukan pengetahuan presentasional), melainkan terjadi melalui perbandingan keadaan diri kita dengan orang lain yang berada dalam situasi dan kondisi sama. Akan halnya persepsi-persepsi binatang, agaknya kita masih perlu memperbincangkannya lebih panjang dan tidak bisa kita lakukan pada kesempatan ini.

Yang dapat kita terima sebagai bagian gagasan partikular ialah gagasan yang ditimbulkan oleh keadaan-keadaan jiwa yang sewaktu-waktu dapat kita ingat kembali, mirip dengan gagasan khayali dalam kaitannya dengan gagaan indriawi. Contohnya, ingatan tentang ketakutan tertentu yang mengemuka pada saat tertentu atau afeksi tertentu yang muncul pada saat tertentu. Harus dicatat bahwa adakalanya gagasan-gagasan wahm digunakan untuk mengacu pada gagasan-gagasan yang tidak bersandarkan pada realitas apapun dan adakalanya ia juga dimaksudkan sebagai “fantasi” (al-tawahhum).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Lihat, Parvis Morewedge, The Metaphysica of Avicenna (Ibn Sina), Routledge & Kegan Paul, 1973, h. 321—penerj. Inggris.

Unsur-unsur Proposisi

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , , on Januari 12, 2013 by isepmalik

Seperti telah kita ketahui, afirmasi dalam artian keputusan merupakan hal yang sederhana, sedangkan dalam artian proposisi ia terdiri atas berbagai unsur. Terdapat beberapa pendapat mengenai unsur-unsur yang terlibat dalam proposisi. Namun, karena penelaahan mengenai semua pendapat akan memperpanjang diskusi, yang lebih tepat dilakukan pada pembahasan logika, pada kesempatan ini kita akan memaparkan selayang pandang saja.

Sebagian berpendapat bahwa setiap proposisi predikatif (al-qadhiyyah al-hamliyyah) tersusun atas dua unsur: subjek dan predikat. Sebagian lain menambahkan relasi antara subjek dan predikat sebagai unsur ketiga dalam proposisi predikatif. Sedangkan sebagian lain lagi menambahkan keputusan mengenai berlangsung tidaknya hubungan sebagai unsur keempat dalam proposisi.

Sebagian ahli logika membedakan antara proposisi afirmatif dan negatif dengan menyatakan bahwa proposisi negatif tidak menyertakan keputusan, mengingat ia sebenarnya adalah negasi keputusan. Sebagian menolak adanya relasi dalam proposisi eksistensial sederhana (al-haliyyah al-basithah), yakni proposisi yang menegaskan keberadaan subjek di alam luaran, dan dalam predikat primer (al-haml al-awwal), yakni proposisi yang kandungan konseptual subjek dan predikatnya sama, seperti proposisi “Manusia adalah makhluk berakal”.

Tak ayal lagi, tidak ada proposisi logika yang tidak memuat hubungan atau keputusan. Pasalnya, seperti telah saya katakan, penegasan berasal dari keputusan yang memastikan hubungan antara subjek dan predikat dalam proposisi. Akan tetapi, boleh jadi ketentuan yang sama tidak berlaku dalam proposisi-proposisi filsafat dan ontologi.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Gagasan dan Penegasan

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , , on Desember 27, 2012 by isepmalik

Para logikawan membagi pengetahuan menjadi dua: gagasan (idea/ tashawwur) dan penegasan (tashdiq/affirmation). Dengan pembagian ini, para logikawan telah membatasi pengertian umum pengetahuan pada pengetahuan perolehan di satu sisi dan merentangkan artinya hingga mencakup gagasan-gagasan sederhana.

Makna harfiah tashawwur ialah “membentuk citraan” (to form an image) atau “memperoleh bentuk” (to acquire a form). Dalam istilah para logikawan, tashawwur berarti gejala mental sederhana yang melukiskan sesuatu di luar dirinya, seperti gagasan Gunung Semeru dan konsep gunung. Makna harfiah tashdiq ialah “memutuskan benar atau membenarkan” dan “mengakui” (to acknowledge). Dalam peristilahan para filosof dan logikawan, kata itu dipakai untuk dua pengertian yang bermiripan, dan karena itu bisa dianggap taksa:

  1. Proposisi logika yang sederhananya mengandung subjek, predikat, dan keputusan mengenai bersatunya subjek dan predikat dalam suatu proposisi.
  2. Keputusan dan ketetapan itu sendiri, suatu perkara sederhana yang menunjukkan keyakinan pelaku akan bersatunya subjek dan predikat dalam proposisi.

Sebagian logikawan Barat modern menduga bahwa penegasan atau afirmasi (tashdiq) berarti peralihan pikiran dari satu gagasan ke gagasan lain berdasarkan hukum asosiasi. Tentu saja dugaan itu tidak benar, lantaran tidak semua afirmasi menuntut asosiasi dan tidak pula semua asosiasi menuntut afirmasi. Afirmasi dan penegasan berlandaskan pada keputusan dan ketetapan (judgment). Dan itulah yang membedakan proposisi logika dan sejumlah gagasan yang secara berangsur jalin-menjalin dan berjajar dalam pikiran tanpa adanya hubungan antara satu dan lainnya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).