Archive for the Pengertian Teknis Category

Filsafat Ilmiah

Posted in Pengertian Teknis with tags , , , , , on Oktober 24, 2012 by isepmalik

Istilah ini dipakai dalam beberapa pola:

  1. Positivisme. Setelah mengutuk pemikiran filsafat dan metafisika serta menyangkal prinsip-prinsip rasional universal, Auguste Compte membagi ilmu-ilmu positif dasar dalam enam cabang utama, yang masing-masingnya mempunyai hukum-hukum khasnya, sebagai berikut: matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan sosiologi. Dia menulis sebuah buku berjudul Course of Positive Philosophy dalam enam jilid, dan mengupas keseluruhan ilmu lipat-enamnya sejalan dengan apa yang disebut-sebut dengan metode positif. Tiga jilid buku itu ia khususkan untuk sosiologi. Walaupun demikian, filsafat positif ini bersandar pada klaim-klaim dogmatis nonpositif! Walhasil, kandungan buku berisi program penyelidikan pelbagai ilmu ini, khususnya ilmu-ilmu sosial, disebut dengan filsafat positif atau filsafat ilmiah.
  2. Materialisme Dialektik. Bertolak-belakang dengan para positivis, kalangan Marxis menitikberatkan kemestian filsafat dan keberadaan hukum-hukum universal. Namun, mereka mengira bahwa hukum-hukum ini diperoleh lewat perampatan hukum-hukum dari ilmu-ilmu empiris, bukan dari pemikiran rasional dan metafisika. Maka dari itu, mereka menyebut filsafat materialisme dialektik dengan “filsafat ilmiah”, lantaran, menurut klaim mereka, ia didapat dari capaian-capaian ilmu-ilmu empiris, kendati ia tidak lebih ilmiah ketimbang filsafat positivisme. Pada dasarnya, filsafat ilmiah (jika “ilmiah” dimaknai “empiris”) adalah suatu oxymoron,b seperti “pria lajang yang beristri”. Klaim-klaim mereka ini telah dikritik habis-habisan.
  3. Arti lain filsafat ilmiah ialah sinonim “metodologi”. Jelas bahwa setiap ilmu, bergantung pada jenis masalahnya, memerlukan metode penelitian dan verifikasinya sendiri. Misalnya, masalah-masalah sejarah tidak bisa dipecahkan di laboratorium melalui penguraian dan pencampuran berbagai unsur. Demikian pula, tidak ada filosof yang bisa menetapkan tahun ketika Napoleon menyerang Rusia dan apakah ia kalah atau menang dalam serangan itu melalui analisis dan penyimpulan filosofis. Soal-soal macam ini mesti diselesaikan melalui tinjauan dokumen-dokumen yang relevan dan evaluasi keabsahannya.

Secara umum, mengikuti metode penyelidikan dan penelitian untuk memecahkan pokok-pokok masalahnya, ilmu dapat dibagi menjadi tiga tipe ilmu-ilmu intelektual, ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu tuturan (narrative) dan sejarah.

Nah, metodologi adalah ilmu untuk menilik pelbagai corak dan tingkat ilmu, dan menentukan metode-metode khusus dan umum untuk ketiga tipe ilmu tersebut. terkadang ia disebut dengan filsafat ilmiah atau juga logika praktis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


b oxymoron adalah gaya bahasa yang menggunakan ungkapan-ungkapan bertentangan dalam satu susunan kalimat—M.K.

Iklan

Makna Teknis “Ilmu”

Posted in Pengertian Teknis with tags , , , , , on Oktober 18, 2012 by isepmalik

Termasuk dalam ungkapan yang mempunyai penggunaan beragam dan campur-aduk adalah ‘ilm (ilmu atau sains). Makna harfiah ungkapan ini dan pelbagai sinonimnya, seperti danesy dan danestan, kiranys sudah sangat jelas, tidak lagi perlu dijelaskan. Akan tetapi, ilmu atau sains (‘ilm) juga mempunyai pelbagai makna teknis, dan di antara yang paling penting adalah sebagai berikut:

  1. Keyakinan tertentu yang sesuai (correspond to) dengan kenyataan, lawan dari kebodohan sederhana atau murakab (compound)a meskipun ia digunakan dalam satu proposisi.
  2. Himpunan proposisi yang dianggap berhubungan satu sama lain, meskipun sifat proposisi-proposisi itu personal dan spesifik. Dalam pengertian inilah, ilmu diterapkan pada ilmu sejarah (baca: pengetahuan tentang sejumlah peristiwa sejarah), geografi (baca: pengetahuan tentang kondisi-kondisi tertentu sejumlah kawasan di bumi), ilmu rijal (baca: pengetahuan tentang para perawi hadis) dan biografi.
  3. Himpunan proposisi universal yang berporos tertentu, tiap-tiap proposisi ini bisa diterapkan untuk sekian banyak contoh, meskipun himpunan proposisi itu bersifat konvensional. Dalam pengertian inilah, ilmu diterapkan pada hal konvensional sebagai lawan dari ilmu-ilmu “sejati” atau “hakiki”, seperti ilmu kosakata dan tata bahasa. Bagaimanapun, proposisi-proposisi personal dan khusus seperti di atas tidak terbilang sebagai ilmu dalam istilah ini.
  4. Himpunan proposisi-proposisi universal hakiki (bukan konvensional) berporos tertentu. Pengertian ini mencakup seluruh ilmu teoritis dan praktis, termasuk teologi dan metafisika, tapi tidak bisa diterapkan pada proposisi-proposisi personal dan konvensional.
  5. Himpunan proposisi-proposisi hakiki yang bisa dibuktikan dengan pengalaman inderawi. Dalam pengertian inilah para positivis menggunakan istilah ilmu, karenanya ilmu-ilmu dan pembelajaran non-empiris tidak dianggap sebagai ilmu atau sains.

Pembatasan istilah ilmu atau sains pada ilmu-ilmu empiris bukan soal yang perlu diperselisihkan, sebab hal itu semata-mata terkait dengan pembuatan istilah dan penentuan terminologi. Akan tetapi, dasar penentuan istilah ini oleh para positivis adalah pendapat yang membatasi lingkup pengetahuan hakiki dan pasti manusia pada hal-ihwal yang terindera (sensible) dan empiris. Tindak berpikir yang melampaui batasan itu mereka anggap sebagai tidak bermakna dan tidak berguna. Sialnya, makna inilah yang menyebar luas di seluruh penjuru dunia, yang menjadikan ilmu berhadap-hadapan dengan filsafat.

Bahasan seputar lingkup pengetahuan pasti manusia, sanggahan atas para positivis, dan bukti akan adanya pengetahuan hakiki di luar medan indra dan pengalaman, akan kita tunda pada Bagian Epistemologi. Selanjutnya, kita akan menjelaskan konsep filsafat dan metafisika.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


a Kebodohan sederhana adalah ketidaktahuan subjek akan objek, sedangkan kebodohan murakab adalah persangkaan subjek bahwa ia mengetahui objek walaupun sebenarnya ia tidak mengetahuinya—M.K.

Homonimitas

Posted in Pengertian Teknis with tags , , , , , on Oktober 15, 2012 by isepmalik

Dalam semua bahasa (sejauh yang saya ketahui), terdapat kosakata yang mempunyai makna harfiah yang umum diterima masyarakat dan makna teknis. Hal inilah yang disebut dengan homonimitas (kesekataan), al-isytirak al-lafzhi. Sebagai misal, dalam bahasa Persia, kata dusy mempunyai arti “tadi malam”, “pundak”, dan “mandi”, dan kata syir dipakai untuk “singa”, “susu”, dan “kran”.

Keberadaan homonimitas berperan penting dalam sastra dan sajak. Tetapi, dalam ilmu pengetahuan, utamanya dalam filsafat, ia melahirkan berbagai kesulitan. Khususnya apabila makna-makna yang berbeda itu sangat dekat satu sama lain hingga membedakannya menjadi pelik. Banyak kegalatan (kesalahan) timbul akibat homonimitas seperti ini, dan ada kalanya para pakar pun terjebak dalam perangkapnya.

Atas dasar itu, beberapa filosof besar, seperti Ibnu Sina, harus menjernihkan makna pelbagai istilah dan nuansa-nuansa perbedaan antara satu makna teknis dan makna teknis lainnya sebelum memulai perbincangan filsafat yang tepat, supaya kebingungan dan kegalatan dapat terelakkan. Untuk mengilustrasikannya, saya akan menyebutkan satu contoh homonimitas yang memiliki berbagai penggunaan yang kerap melahirkan seabrek kesalahpahaman, yaitu istilah jabr.

Makna harfiah jabr adalah menutupi atau membuang kekurangan. Selanjutnya, kata ini dipakai dalam artian “membalut tulang patah”. Mungkin ia mengambil makna kedua itu karena membalut luka adalah cara menutupi kekurangan. Boleh jadi, kata ini mula-mula dipakai untuk membalut luka kemudian dirampatkan (generalized) untuk semua tindakan menutupi semua jenis kekurangan atau kecacatan.

Makna ketiga kata ini adalah memaksa atau menekan seseorang. Mungkin ia mengambil makna ini akibat perampatan (generalization) atas kemestian tindak membalut tulang patah. Yakni, karena membalut tulang patah biasanya mengharuskan bagian yang patah untuk ditekan agar bisa benar-benar rapat, perampatan ini lantas mencakup semua tindakan orang untuk menekan pihak lain secara paksa. Mungkin saja mula-mula kata ini dipakai cuma untuk tekanan fisik lalu tekanan mental, dan akhirnya konsep ini direnggangkan hingga mencakup semua jenis perasaan tertekan, biarpun tidak diakibatkan oleh pihak lain.

Sampai di sini kita telah meninjau konsep jabr dari perspektif makna-makna harfiah dan yang umumnya diterima. Sekarang, kita akan memperkenalkan makna teknis ungkapan ini dalam ilmu dan filsafat.

Salah satu makna ilmiah jabr dipakai dalam matematika dalam arti kalkulasi yang menggunakan tanda-tanda atau huruf-huruf untuk menggambarkan atau mewakili angka-angka (aljabar). Boleh jadi makna ini dipakai karena dalam kalkulasi-kalkulasi aljabar kuantitas positif dan negatif saling menutupi (mengkompensasi) atau karena kuantitas yang tidak diketahui pada satu sisi persamaan menjadi diketahui dengan melihat pada sisi lain atau dengan mengalihkannya ke sisi lain, dan kesemuanya itu membawa makna harfiah jabr.

Makna teknis lainnya terkait dengan psikologi, dan dipakai sebagai lawan dari kehendak bebas. Serupa dengan makna itu adalah masalah “kehendak bebas dan determinisme” yang dikaji dalam teologi. Istilah ini juga dipakai dalam etika, hukum, dan fiqh. Penjelasan masing-masingnya akan terlalu panjang.

Sejak masa lampau konsep jabr (sebagai lawan kehendak bebas) dikacaukan dengan kepastian, keniscayaan, dan keniscayaan filosofis (al-wujub al-falsafi). Dalam kenyataannya, istilah jabr telah dirancukan dengan kepastian dan keniscayaan, dan “determinisme” sering dianggap sebagai padanannya dalam bahasa-bahasa asing (non-Arab dan Persia). Juntrungnya, terciptalah waham bahwa setiap kali ada keniscayaan (hubungan) sebab akibat, kehendak bebas tiada. Sebaliknya juga demikian: pengingkaran kepastian dan keniscayaan berarti peneguhan kehendak bebas.

Dampak waham ini kentara sekali dalam beberapa masalah filsafat. Umpamanya, para teolog terdahulu menyangkal keniscayaan kausal dalam kaitan dengan pelaku-pelaku berswakarsa (mukhtar). Buntutnya, mereka menuduh para filosof tidak meyakini Tuhan yang Mahasuci bersifat swakarsa. Pada sisi lain, par determinis (jabriyyun) meyakini adanya nasib tertentu sebagai dalil pendapat mereka. Di seberangannya, kaum Mu’tazilah yang meyakini kehendak bebas mengingkari adanya nasib atau takdir pasti. Padahal, jabr sama sekali tidak tersambit dengan soal kepastian takdir atau nasib. Semua gegap-gempita yang bersejarah panjang ini sebenarnya diakibatkan oleh tumpang-tindih antara konse jabr dan keniscayaan.

Contoh lainnya terjadi pada sejumlah fisikawan yang meragukan atau menyangkal keniscayaan kausal pada sejumlah fenomena mikrofisika. Nah, sementara ilmuwan Barat yang bertuhan mencoba membuktikan keberadaan kehendak Ilahi dengan menggunakan keraguan atau penyangkalan atas keniscayaan kausal pada sejumlah fenomena mikrofisis itu. Para ilmuwan ini berkhayal bahwa penafian keniscayaan dan penolakan atas determinisme dalam gejala-gejala di atas akan membuktikan keberadaan. Kekuasaan yang bebas berkehendak dalam mengatur mereka.

Walhasil, munculnya homonimitas, khususnya bilamana makna-maknanya saling berdekatan atau bermiripan, telah membawa pelbagai masalah dalam pembahasan-pembahasan filsafat. Kepelikan-kepelikan ini berlipat ganda manakala dalam satu ilmu terdapat satu istilah yang mempunyai banyak makna teknis, seperti istilah “intelek” (‘aql) dalam filsafat dan istilah “esensial” (dzat) dan “aksidental” (‘ardhi) dalam logika. Oleh sebab itu, jelas sekali kita mesti menjabarkan aneka rupa makna dan menentukan makna yang dituju dalam masing-masing pembahasan.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).