Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (4)


Jiwa Universal memiliki dua kekuatan yang disebutkan dalam Gambar 1.1: “kekuatan intelektif” (quwwa ‘ilmiyya) yang dipandang sebagai pengetahuan, dan “kekuatan aktif” (quwwa ‘amaliya) yang mempertahankan eksistensinya melalui gerakan. Hal pertama yang dimunculkan Jiwa Universal seperti ditunjukkan pada gambar yang sama ada dua: “level Alam”[1] dan “Chaos” (al-haba: harfiah artinya “Debu”) atau “Materi Pertama” (al-hayula al-ula). Dari sini, Ibn Arabi menggunakan gambaran simbolis “pernikahan” suami-istri dari unsur-unsur generatif dan “melahirkan” setiap urutan atau manifestasi level penciptaan. Jadi, Jiwa Universal pertama kali melahirkan Alam dan kemudian Materi Pertama atau Debu. Kemudian Alam dan Debu melahirkan “anak” pertama yang disebut “Tubuh Universal” (al-jism al-kull). Proses simbolis “kelahiran” kosmos terjadi dalam rangkaian panjang dan menjadi penyebab sehingga menghasilkan “tanah” (turab) yang mengacu pada materi fisik secara umum. Jadi, dunia fisik muncul “setelah” Tubuh Universal ini, sebelum itu semuanya bersifat spiritual.

Seperti pada Gambar 1.2, Tubuh Universal memuat segala sesuatu di dalamnya, termasuk zodiak (dengan semua bintang dan galaksi). Atau, kita dapat mempertimbangkan bahwa dunia fisik dibentuk oleh (bukan “di dalam”) Tubuh Universal, karena seperti Akal Universal dan Jiwa Universal, Tubuh ini dapat disebut Tubuh Pertama karena ia yang pertama kali diciptakan. Selain itu, dunia material dan spiritual terbentuk oleh Monad Tunggal melalui manifestasi Monad yang berkelanjutan. Jika kita kemudian menganggap bahwa Tubuh Pertama adalah “partikel elementer” pertama yang dibentuk oleh Monad Tunggal maka dunia fisik dibentuk “oleh” Tubuh Pertama ini. Kemungkinan lain adalah Tubuh Universal semacam awan besar materi dalam bentuk primer, kemudian berkembang menjadi bintang dan galaksi; dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa dunia fisik terbentuk “dalam” Tubuh Universal. Hal pertama yang dibentuk dalam (atau oleh) Tubuh Universal adalah “Arasy” (al-‘Arsy) di mana Tuhan mendirikan kekuasaan-Nya (istiwa)[2] dari nama-Nya “Yang Maha Penyayang” (al-Rahman), yang berarti bahwa semua makhluk di bawah Arasy diberikan Rahmat kreatif atas eksistensi-Nya. Oleh karena itu, hal pertama yang ditulis Kalam Tertinggi atau Akal Pertama dalam Jiwa Universal adalah “Arasy” di mana seluruh ciptaan (kosmos) akan muncul. Semua ini ditunjukkan pada Gambar 1.2.

Di dalam (atau “di bawah”) Arasy muncul “Kursi” (al-Kursi) yang memiliki dimensi dengan perbandingan lebih relatif lebih kecil daripada dimensi spiritual Arasy; Ibn Arabi membandingkannya dengan sebuah cincin kecil di padang pasir yang luas. Dalam hal ini, “Kursi” adalah “Bulatan Isotropik” (al-falak al-atlas) yang mengandung bola dari bagian zodiak (falak al-buruj) dan bola dari bintang (al-falak al-mukawkab), termasuk di bawahnya bulatan yang terpisah dari lima planet, Matahari, Bulan, dan Bumi. Semua ini ditampilkan pada Gambar 1.3 dan 1.4.

Dikatakan Bulatan Isotropik atau bola karena tidak mengandung bintang atau belum ada fitur yang membedakan, homogen dalam segala arah. Lingkup zodiak adalah bola pertama yang dibuat di dalam Bulatan Isotropik, dan permukaannya dibagi menurut konvensi manusia dalam 12 bagian yang secara tradisional menandakan variasi tanda-tanda zodiak. Menurut diagram dalam Gambar 1.3 dan komentar Ibn Arabi dalam Bab 371 dari Futuhat, ia adalah jarak yang besar antara galaksi dengan bintang-bintang yang ada di galaksi kita, sementara tanda-tanda zodiak adalah galaksi lain yang sangat jauh. Dalam ruang yang berkembang ini, Tuhan menciptakan tujuh “Taman” (al-jinan) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran dengan tingkatan yang berbeda dan sebagai tanda simbolis “tempat pertemuan” antara realitas-realitas spiritual murni dari Arasy dan realitas “berkesadaran” dalam Kursi tersebut. Nama khusus dari masing-masing tujuh Taman tersebut diambil dari ayat-ayat dalam Al-Quran dan Hadits, dan mereka berbeda antara Tujuh Surga dan Langit (samawat). Bagi Ibn Arabi, ruang tujuh langit yang sama terdiri dari lima planet (yang dikenal waktu itu) ditambah Bulan dan Matahari, seperti ditunjukkan pada gambar 1.4 dan 1.3. Kata al-Wasila dua kali melintasi ketujuh Taman (pada Gambar 1.3) sesuai dengan “level tertinggi dalam (Taman tertinggi) Eden, dan pemiliknya (khususnya) adalah Sang Utusan (Muhammad) Tuhan. Hal ini juga dikenal sebagai al-maqam al-mahmud (tempat terpuji) dan disebut al-Wasila(perantara, “Jalan Pendekatan kepada Tuhan) karena “melalui itu Tuhan dapat didekati”.


[1] Alam di sini bermakna “level Alam” (martabat al-tabi’a) (yaitu empat elemen dasar) dan bukan alam dalam arti fisik yang merupakan dunia material. Ibn Arabi menjelaskan bahwa level Alam bukan merupakan eksistensi yang terpisah-pisah.: “Jadi, (Tuhan) menciptakan level Alam (nyata) yang eksistensinya berada di bawah Jiwa meskipun ia tidak benar-benar eksis tetapi dapat disaksikan oleh yang Real. Itulah sebabnya Ia (Tuhan) menentukan dan membedakan level. Hal ini berkaitan dengan wujud Alam seperti Nama-nama Tuhan: dapat diketahui dan dibayangkan, efeknya dapat muncul dan tidak dapat diabaikan, sedangkan secara umum  tidak memiliki esensi (terpisah). Demikian juga (level) Alam memberikan potensi bentuk kesadaran dan memiliki eksistensi nyata, tetapi eksistensinya tidak terpisah. Jadi, bagaimana kekuatan keadaan ini dan seberapa tinggi efeknya?

[2] Lihat: QS. 20:5, 7:54, 2:29, 10:3, 25:59, 32:4, 57:4. Kita akan melihat dalam penjelasan selanjutnya mengenai enam arah ruang yang diciptakan dalam proses “pemasangan” (istiwa) di Arasy dalam enam hari mulai Minggu sampai Jumat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: