Paradigma Holistik


PARADIGMA HOLISTIK

Dialog Filsafat, Sains dan Kehidupan menurut Shadra dan Whitehead

Penulis : Husain Heriyanto

Penerbit : Teraju, Komplek Plaza Golden Blok G 15-16.  Jl. Rs Fatmawati N0. 16 Jakarta Selatan 12420. Telp. [021] 7661724, Faks [021] 7581 7609 Email: terajuku@yahoo.com

htttp://www.mizan.com

Cetakan : I [kesatu], Januari 2003

Pendahuluan

Latar Belakang

  • Pelbagai problem dan krisis global

1)      Fritjof Capra menyebutnya “penyakit-penyakit peradaban”.

2)      Arnold Toynbee menyebutkan terjadinya ketimpangan yang sangat besar antara sains dan teknologi yang berkembang sedemikian pesat dan kearifan moral dan kemanusiaan yang sama sekali tidak berkembang, kalau tidak dikatakan malah mundur ke belakang.

3)      Menurut Koppi Anan menyebut bahwa abad ke-20 sebagai abad terkejam sepanjang sejarah manusia.

4)      Anthony Giddens menjuluki masa sekarang dengan ciri manufactured uncertainty, yaitu masa yang diliputi ketidakpastian dan mengarah kepada high consequence risk.

  • Menurut Dr. Laing: “Program Galileo (paradigma Cartesian-Newtonian) menawarkan kepada kita sebuah dunia yang mati: lenyapnya pemandangan, suara, rasa, sentuhan, dan penciuman, serta bersama itu mati pula kepekaan etis dan estetis, nilai, kualitas, jiwa, kesadaran, dan ruhani. Pengalaman seperti itu telah dikesampingkan dari wacana ilmiah”.
  • Dr. Laing menarik kesimpulan: “Kita telah menghancurkan dunia ini secara teori sebelum kita menghancurkannya dalam praktek”.
  • Morris Berman menyebut paradigma Cartesian-Newtonian sebagai dicenchantment of the world (hilangnya kepesonaan alam semesta). Ia mengutip kegelisahan penyair Inggris abad ke-18, William Blake, terhadap pandangan mekanistik-linier- deterministik yang dibangun Descartes dan Newton. Blake menulis: “Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari pandangan tunggal-linier dan tidurnya Newton!
  • Club of Roma dalam laporan pertamanya Limits of Growth (Batas-Batas Pertumbuhan) tahun 1975, mengingatkan malapetaka yang mengancam peradaban manusia jika cara pandang manusia modern umumnya terhadap ekosistem tidak berubah atau diubah khususnya terhadap konsep pertumbuhan demi pertumbuhan tanpa memperhatikan ekosistem secara holistik dan integral. Dalam laporan keduanya, Mankind at The Turning Point (Umat Manusia di Titik Balik), kelompok inio malah meramalkan bakal kiamatnya dunia jika tanda-tanda bahaya peradaban seperti krisis ekologis tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
  • James Robertson dalam The Sane Alternative: A Choice of Future mengemukakan sebuah skenario proyek penyelamatan umat manusia bersama ekosistem dengan mengajukan paradigma humanistis-ekologis.

Krisis Persepsi

  • Capra menegaskan bahwa krisis multidimensional dan kompleks yang melanda dunia sekarang ini berawal dari krisis persepsi. Capra menulis: “Semakin nyatalah sekarang bahwa problem-problem besar zaman kita tidak dapat dipahami dalam isolasi. Ancaman perang nuklir, kerusakan lingkungan alam kita, bertahannya kemiskinan dunia yang berjalan seiring dengan kemajuan negara-negara kaya; ini semua adalah problem-problem yang tidak terisolasi. Problem-problem itu merupakan pelbagai macam segi permukaan dari sebuah krisis tunggal, yang secara esensial adalah krisis persepsi.
  • Pada tataran praktis, pandangan Cartesian-Newtonian menimbulkan problem-problem global seperti krisis ekologi, dehumanisasi, dan konflik-kekerasan yang akut. Sedangkan pada tataran teoritis, pandangan ini tidak mampu lagi memberi penjelasan dan pemaknaan terhadap fenomena-fenomena yang muncul dalam perkembangan sains mutakhir, seperti teori relativitas, teori kuantum, teori chaos, evolusi-kreatif, dissipative structures, teori sibernetika dan self-organization, psikologi Gestalt atau psikologi humanis-eksistensialis, dan tentunya, terlebih lagi, teori-teori sosial budaya yang sudah terlebih dahulu menolak pandangan positivistik.

Tuntutan Paradigma Baru

  • Menurut McLuhan, teknologi media telah mentranformasikan masyarakat-masyarakat manusia di dunia menjadi sebuah satuan komunitas global (global village) tanpa dinding-dinding pembatas lama seperti ideologi politik, nasionalitas, dan agama serta batas-batas geografis.
  • Persoalan besar yang menghadang peradaban global sekarang adalah tidak sesuainya tuntutan perkembangan zaman dengan cara pandang manusia. Dinamika realitas menuntut sebuah pandangan-dunia yang lebih cair dan menyeluruh agar realitas itu terpahami, sementara manusia modern sekarang pada umumnya masih menganut pandangan-dunia lama yang rigid dan mekanistik, yaitu paradigma Cartesian-Newtonian.
  • Meminjam istilah Jurgen Hubermas, Muhammad Khatami menyatakan bahwa dialog antarperadaban menuntut rasionalitas-komunikatif, sementara dalam kenyataannya kebanyakan manusia dari pelbagai tradisi-peradaban sekarang ini masih menerapkan rasionalitas-intrumental.
  • Mark Slouka (budayawan Universitas Calofornia) menyebutkan banyaknya ruang dialog-komunikasi humanis yang hilang ditelan oleh mesin-mesin digital. Ia juga mengutip pernyataan R.D. Laing yang menyebutkan terciptanya pribadi-pribadi yang terbelah (divided self).
  • Jean baudrillard menyatakan bahwa sekarang ini kita hidup dengan informasi yang berlimpah ruah tapi dengan makna yang semakin susut, karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tidak diimbangi oleh kemampuan kita memaknai informasi itu untuk meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia yang berpikir (homo sapiens).
  • Manusia modern benar-benar membutuhkan sebuah pandangan-dunia baru untuk dapat menanggulangi krisis-krisis dan problem-problem global. Pemikiran, persepsi, dan nilai yang dianut selama tiga abad ini harus diubah secara mendasar. Capra mengajukan pemikiran bahwa: “Kita memerlukan sebuah revoluasi budaya alam pengertian sejati. Keberlangsungan seluruh peradaban kita akan sepenuhnya tergantung apakah kita mampu mengadakan perubahan tersebut atau tidak… Kita memerlukan sebuah paradigma baru, visi baru tentang realitas, perubahan yang mendasar pada pemikiran, persepsi, dan nilai yang kita anut selama ini…
  • Pandangan-dunia baru yang ditawarkan itu adalah paradigma holistik. Holisme (berasal dari kata whole yang berarti keseluruhan) adalah suatu cara-pandang yang menyeluruh dalam mempersepsi realitas. Karakter yang menyertai paradigma holistik ini adalah pandangan ekologis. Istilah ekologi yang dimaksudkan di sini adalah suatu cara pandang yang menyeluruh dengan penekanan pada inter-relasi, interkoneksi, dan interdependensi entitas-entitas dalam sebuah jaringan.
  • Berpandangan holistik artinya lebih memandang aspek keseluruhan daripada bagian-bagian, bercorak sistemik, terintegrasi, kompleks, dinamis, nonmekanistik, nonlinier. Berpandangan ekologis maksudnya memandang bahwa segala sesuatu di alam raya mengandung nilai-nilai intrinsik; bahwa alam kosmos merupakan jaringan yang saling terhubungkan serta merupakan sistem hidup yang berkemampuan self organization. Kesadaran ekologi adalah kesadaran kesalinghubungan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain. Morris Berman menyebut kesadaran holistik-ekologis ini sebagai participating conscousness (kesadaran ikut berpartisipasi dalam kesatuan kosmos).

Lingkup Permasalahan

  • Bagaimana karakteristik paradigma baru holistik yang ditawarkan agar dapat berpartisipasi memberikan visi dan cara-pandang yang lebih memadai realitas dengan segenap problemanya? Permasalahan ini perlu dielaborasi sekaligus dibatasi dan dirumuskan melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Pertama, bagaimana penjelasan tentang pengaruh paradigma Cartesian-Newtonian yang mekanistik-deterministik terhadap terciptanya pengetahuan dan kesadaran yang terpecah-pecah (fragmented knowledge and consciusness) yang bermuara kepada munculnya pelbagai problem dan krisis global seperti yang dipaparkan di atas? Mengapa paradigma Cartesian-Newtonian dapat menghegemoni pandangan-dunia manusia modern selama tiga abad sejak abad ke-17 hingga abad ke-20?

Kedua, bagaimana penyelesaian terhadap problem dualisme dalam ontologi yang memisahkan pikiran materi atau kesadaran dan alam dapat dirumuskan? Sejauh manakah perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir, setelah melalui refleksi filosofis, dapat membantu perumusan penjelasan persoalan tersebut seraya sekaligus membangun paradigma baru yang lebih mampu memahami realitas daripada epistemologi Cartesian-Newtonian?

Ketiga, kriteria-kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh paradigma baru holistik yang memungkinkannya memberikan konstribusi signifikan terhadap arah dan bingkau filosofis menuju penyelesaian pelbagai problem dan krisis global yang kompleks dan multidimensional? Asumsi-asumsi ontologis dan kosmologis seperti apa yang dapat menjadi landasan filsafat holistik-ekologis tersebut?

Teori dan Metodologi

  • Terdapat dua kegiatan metodologis yang utama,  pertama, yaitu “penarikan ke atas”. Kegiatan ini meninjau implikasi-implikasi filosofis dari perkembangan fenomena dan realitas dunia ilmiah dan dunia sehari-hari. Kedua, “penarikan ke bawah”. Kegiatan kedua merupakan upaya penjabaran dan transformasi gagasan-gagasan filosofis ke dalam wacana yang akrab dengan pemikiran sains modern.
  • Terhadap konsep dan teori ilmiah berupa data-data perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang terdiri dari konsep-konsep dan teori-teori yang relevan dilakukana analisis filosofis melalui interpretasi, koherensi intern, korespondensi eksternal, komparasi dan heuristik sedemikian rupa sehingga terbangun suatu sintesis dan penarikan kesimpulan.
  • Pemikiran filosofis yang digunakan sebagai bahan utama adalah sebagai berikut. Pertama, pemikiran ontologis Mulla Shadra, khususnya analisis eksistesial, gradasi eksistensi dan gerak trans-substansial (al harakat al jawhariyah). Kedua, pemikiran kosmologis A.N. Whitehead yang organis dan holistik, khususnya tentang konsep-konsep actual entities, becoming process, nexus, dan pansubjektivitas. Ketiga, pemikiran-pemikiran Fritjof Capra, Morris Berman, dan Seyyed Hossein Nasr yang banyak mengulas dan mengungkap paradigma baru holistik.
  • Secara lebih terinci beberapa konsep dan teori ilmu pengetahuan yang akan dielaborasi secara filosofis adalah sebagai berikut: (1) teori relativitas; (2) teori kuantum; (3) fisika bootstrap; (4) teori dissipative structures; (5) biologi molekuler, dan (6) teori evolusi.

Filsafat Organisme Whitehead

Pemikiran Umum Whitehead

  • Ia mengemukakan empat gagasan baru yang muncul dalam sains fisika dan biologi pada abad ke-19, yaitu cahaya sebagai gelombang elektromagnet yang bergerak tanpa medium (bertentangan dengan teori ether dan korpuskular Newton), penemuan sub atom yang menggugurkan pandangan atomisme (atom sebagai satuan materi terkecil), gagasan konservasi energi yang lalu menggeser posisi materi sebagai konsep sentral fisika, dan gagasan tentang evolusi.
  • Menurut Whitehead, kedua gagasan revolusioner ini (Teori Relativitas Einstein dan Mekanika Kuantum) merupakan pukulan telak bagi penganut materialisme ilmiah atau positivisme. Karena, kedua gagasan baru tersebut menggugurkan konsep-konsep dasar paradigma materialisme ilmiah. Teori Relativitas misalnya, menolak kemutlakan dan keterpilahan ruang dan waktu Newtonian, dan mengajukan konsep ruang-waktu yang relatif dan saling tergantung bahwa tidak ada ruang tanpa waktu, tidak ada waktu tanpa ruang. Sedangkan Mekanika Kuantum mendekonstruksi pemahaman orang terhadap materi sebagai badan padat atau satu satuan yang bersifat kental dan statis dengan menunjukkan bahwa partikel-partikel pembentuk materi itu merupakan sebuah fungsi dari gelombang elektromagnet atau suatu medan energi yang berpusar secara cepat.
  • Pandangan organisme dalam kosmologi Whitehead didasarkan pada beberapa konsep dasar, yaitu: (1) satuan-satuan aktual (actual entities, actual occasions), (2) proses organis, (3) prinsip relativitas, (4) prinsip kreativitas, dan (5) pansubjektivisme. Kelima prinsip dasar ini saling terkait secara organis membangun sistem kosmologi Whitehead sehingga harus dipahami dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.
  • Whitehead menyatakan: Bahwa bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi (becoming) mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada (being); sehingga dua deskripsi sebuah satuan aktual tidak terpisah. Ke-pengada-annya dikonstitusi oleh ke-menjadi-annya. Inilah yang dimaksud dengan prinsip proses.
  • Whitehead menjelaskan: prinsip subjektivitas bagi filsafat organisme merupakan sebuah alternatif dari prinsip relativitas. Prinsip ini menyatakan bahwa hakikat setiap ‘pengada’ merupakan potensi untuk setiap ‘proses menjadi’. Karena itu, segala sesuatu harus dipahami sebagai kualifikasi peristiwa-peristiwa aktual. Prinsip: ‘bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada’ merupakan prinsip yang menyatakan bahwa pengada dikonstitusi oleh ‘kemenjadiannya’. Dalam hal ini, sebuah satuan aktual yang dikualifikasi oleh satuan-satuan aktual yang lain merupakan ‘pengalaman’ dunia aktual yang diperoleh satuan aktual tersebut, dan ini berarti sebagai subjek. Prinsip subjektivitas ini menyatakan bahwa segenap alam semesta terdiri dari unsur-unsur yang terbuka untuk analisis pengalaman-pengalaman subjek.
  • Whitehead menyatakan bahwa: dunia aktual adalah sebuah kenangan, jaringan (nexus). Komunitas segala sesuatu yang aktual adalah sebuah organisme, tetapi bukan organisme yang statis. Ekspansi alam semesta mengenai segala yang aktual adalah makna pertama dari ‘proses’; dan alam raya dalam setiap tahapan ekspansinya adalah makna pertama dari ‘organisme’. dalam pengertian ini, suatu organisme adalah sebuah jaringan (nexus).
  • Untuk menggambarkan satuan aktual sebagai gumpalan gelombang pengalaman spasiotemporal (kekinian dan kesinian), Whitehead menggunakan istilah extensive continuum. Dalam hal ini mengacu kepada gagasan sentral yang dicetuskan oleh Teori Relativitas dan Mekanika Kuantum ia mengemukakan “prinsip relativitas” (principle of relativity). Whitehead menulis: prinsip relativitas universal secara langsung berseberangan dengan diktum Aristoteles: ‘Sebuah substansi tidak hadir dalam sebuah subjek’. Sebaliknya, menurut prinsip relativitas, setiap satuan aktual hadir dalam satuan-satuan aktual yang lain. Pada dasarnya, jika kita memperhitungkan tingkat-tingkat relevansi, dan relevansi itu dapat diabaikan, kita dapat mengatakan bahwa setiap entitas aktual hadir dalam setiap satuan aktual yang lain. Adalah tugas utama filsafat organisme untuk mencurahkan perhatiannya kepada penjelasan tentang gagasan bahwa ‘pengada hadir dalam entitas lain’.
  • Untuk menjelaskan prinsip “proses” dan “menjadi” yang merupakan realitas primer dalam sistem Filsafat Organisme atau Filsafat Proses-nya, Whitehead mengajukan sebuah prinsip dasariah lain, yaitu prinsip “kreativitas” (creativity). Whitehead menjelaskan: ‘kreativitas adalah prinsip kebaruan. Peristiw aktual adalah sebuah satuan baru yang diturunkan dari pelbagai satuan tempat ‘yang banyak’ menyatu. Karena itu ‘kreativitas’ mengintroduksi kebaruan ke dalam kandungan ‘yang banyak’, yang adalah alam semesta secara disjungtif. ‘Kemajuan kreatif’ adalah aplikasi dari prinsip dasar kreativitas ini terhadap setiap situasi baru yang darinya ia berasal. Pengertian ‘bersama-sama’ mensyaratkan gagasan ‘kreativitas’, ‘yang banyak’, ‘ketunggalan’, ‘identitas’ dan ‘keragaman’.
  • Prinsip pansubjektivitas digunakan Whitehead sebagai pandangan alternatif terhadap materialisme ilmiah yang berkarakter mekanistik, atomistik, dan reduksionis sehingga dapat menghindari sikap yang mereduksi, membekukan, dan menstatiskan  kekayaan dan dinamika realitas. Lebih lanjut dia menjelaskan: prinsip subjektivitas bagi filsafat organisme merupakan sebuah alternatif dari dari prinsip relativitas. Prinsip ini menyatakan bahwa hakikat setiap ‘pengada’ merupakan potensi untuk setiap ‘proses menjadi’. Karena itu, segala sesuatu harus dipahami sebagai kualifikasi peristiwa-peristiwa aktual. Prinsip: ‘bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada’ merupakan prinsip yang menyatakan bahwa pengada dikonstitusi oleh ‘kemenjadiannya’. Dalam hal ini, sebuah satuan aktual yang dikualifikasi oleh satuan-satuan aktual yang lain merupakan ‘pengalaman’ dunia aktual yang diperoleh satuan aktual tersebut, dan ini berarti sebagai subjek. Prinsip subjektivitas ini menyatakan bahwa segenap alam semesta terdiri dari unsur-unsur yang terbuka untuk analisis pengalaman-pengalaman subjek.
  • Sudarminta menyebutkan bahwa “serikat satuan-satuan aktuaal” itu bersifat bipolar, yaitu berkubutub dua: kutub fisik dan kutub mental. Perbedaan antara kedua kutub itu terletak dalam intensitas dan kompleksitas “pengalaman”nya. Kutub fisik pada pada “serikat satuan-satuan aktual” alam kebendaan disebut oleh Whitehead sebagai ‘regnant nexus’, yaitu jaringan satuan aktual yang menguasai dan mengatur yang lain; sedangkan kutub mentalnyaa disebut sebagai ‘subservient nexus’ yang bersifat mengabdi kepada kutub fisik.
  • Analisis ontologi-eksistensial Shadra memberi sumbangan signifikan dalam penyelesaian yang sistematis dan mendasar terhadap problem dualisme kesadaran-mateeri atau jiwa-tubuh, sedangkan uraian kosmologi-organis Whitehead menyumbang gagasan penting tentang prinsip pansubjektivitas yang mencairkan kebekuan dikotomi subjek-objek dalam relasi manusia-alam, kesadaran-materi atau jiwa-tubuh.
  • Kosmologi Whitehead merupakan penjabaran lebih lanjut dari ontologi eksistensial Shadra dalam menjelaskan relasi yang dinamis dan organis antara tubuh dan jiwa. Prinsip keragaman-dalam-kesatuan eksistensi Shadra diturunkan menjadi prinsip organisme Whitehead. Prinsip gerak trans-substansial dalam sistem ontologi Shadra ditransformasikan menjadi prinsip relativitas dan pansubjektivitas dalam sistem kosmologi Whitehead.
Iklan

9 Tanggapan to “Paradigma Holistik”

  1. ijin diunduh bro tuk koleksi ilmu pengetahuan thanks

  2. silahkan cuy… aku mengikhlaskannya…

  3. aku minta izin ia,, tulisan ini dijadikan referensi tugas akhirku.
    Tapi mas, yang jadi masalah,, aku kurang begitu faham,,,
    kalau boleh diskusi dikit
    menurut mas
    Ilmu pengetahuan itu di masa mendatang akan menjadi materialis atau holistik sih?

  4. el-faiq: pertanyaan awalnya adalah apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau tidak? kalo bebas nilai, ilmu pengetahuan itu sudah ada secara lengkap dari a-z di muka bumi, seolah-olah ada yang menaburkan begitu saja. lalu apa fungsi dan peran akal manusia kalau ilmu pengetahuan bebas nilai? apakah akal budi manusia tidak bisa menganalisis dan mensintesis ilmu pengetahuan? jadi, bila memilih bebas nilai, ilmu pengetahuan itu sudah ada dan keberadaannya berada di luar diri manusia. bila ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, maka ia tergantung siapa “sponsor” dibelakangnya. Sponsor ini bisa menitip pesan sesuai dengan keinginan dan motifnya. memang benar, bahwa sains itu produk dari metode ilmiah dengan seperangkat aturan yang dikatakan “objektif”. tetapi, harus diingat bahwa awal dari seseorang melakukan penelitian mestilah ada landasan filosofisnya. nah, dari sinilah mulai masuk yang namanya sponsor tersebut. menurut Ian G. Barbour, ada tiga juru bicara Tuhan di muka bumi ini, yaitu sains, filsafat dan agama. Apakah masing-masing dari ketiga juru bicara Tuhan ini tidak berkaitan ketika dijadikan pedoman kehidupan? tentu tidak bukan?

  5. alamsyah pratama Says:

    maci banyak yaa atas artikelx!!!!!!!!

  6. maaf kalau mau dapat bukunya beli dimana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: