Archive for the Hakikat Kenabian Category

Hakikat Kenabian (2)

Posted in Hakikat Kenabian with tags , , , , , on April 10, 2012 by isepmalik

Di antara hukum ilmu bintang terdapat sesuatu yang tidak bakal terjadi kecuali sesudah setiap seribu tahun sekali, lantas bagaimana caranya hal itu bisa diraih dan dicapai hanya sekadar dengan eksperimen (percobaan)? Demikian pula dengan khasiat-khasiatnya obat-obatan.

Dengan bukti ini menjadi jelaslah bahwa di dalam “kemungkinan kenabian”, terdapat cara untuk mengetahui perkara-perkara ini yang tak bisa ditangkap oleh akal, dan inilah yang dimaksudkan dengan nubuwwah (kenabian) karena nubuwwah merupakan suatu ibarat daripada perkara-perkara tersebut saja, bahkan mengetahui jenis yang keluar dari penemuan akal merupakan salah satu khasiat kenabian, di samping itu masih banyak khasiat lainnya. Sedangkan apa yang sudah kami sebutkan hanya merupakan satu tetes air di dalam lautan kenabian yang amatlah luas, di mana kami menyebutkannya karena anda memiliki contoh darinya yaitu penemuan-penemuan anda di dalam tidur, dan di samping itu anda juga memiliki berbagai ilmu yang sejenis dengannya yakni yang terdapat di dalam ilmu kedokteran dan ilmu bintang. Dan ilmu-ilmu inilah merupakan mu’jizatnya para nabi dan tidak akan bisa diraih dan dicapai oleh orang-orang yang hanya mengandalkan akalnya saja.

Adapun khasiat-khasiat kenabian lainnya, hanya bisa diketahui dengan dzauq (cita rasa) dari salah satu ajaran kaum sufi yakni “suluk”, sebab ini hanya bisa anda fahami dengan suatu contoh yang telah dikaruniakan kepada anda yaitu tidur, dan andaikan saja tidak ada tidur niscaya anda akan bisa membenarkannya.

Apabila seorang nabi memiliki suatu khasiat di mana anda tidak memiliki contoh (padanan) sehingga anda tidak bisa memahami sama sekal, lantas bagaimana anda bisa membenarkannya. Padahal pembenaran itu bisa dilakukan setelah anda bisa memahaminya secara gamblang. Contoh seperti itu bisa anda dapatkan dalam permulaan-permulaan tarekat tasawwuf sehingga anda bisa memperoleh suatu bentuk cita rasa dengan ukuran yang telah ditetapkan, dan suatu bentuk pembenaran yang tidak bisa anda peroleh lewat jalan qiyas.

Khasiat yang hanya satu ini yang sudah cukup sebagai dasar untuk mempercayai pokok kenabian.

Apabila di dalam hati anda terbetik keraguan terhadap orang tertentu, apakah dia benar-benar seorang nabi atau tidak? Maka anda tidak akan menjadi yakin kecuali setelah anda mengetahui keadaan orang tersebut yang adakalanya dengan musyahadah, khabar yang sudah tersebar luas atau dengan sekedar dengan-dengar saja. Sebab bila anda telah mengenai ilmu kedokteran dan ilmu fikih, maka bisa saja anda mengetahui ahli-ahli fikih dan beberapa dokter dengan hanya menyaksikan tingkah laku mereka dan ucapan-ucapan mereka kendatipun anda tidak mengetahui sendiri dengan mata kepala. Anda juga tidak akan tak berdaya untuk mengetahui keadaan Imam Syafi’i rahimahullah sebagai seorang yang ahli dalam ilmu fikih, dan posisinya Jalinus sebagai seorang ahli dokter terkenal dengan kenyataan sebenarnya bukan hanya sekadar ikut-ikutan terhadap orang lain, yakni dengan cara anda mempelajari sedikit dari ilmu fikih dan ilmu kedokteran serta menelaah buku-buku kedua orang tadi beserta karangan-karangannya, sehingga anda mengetahuinya dan mendapatkannya secara otomatis tentang keadaan mereka berdua. Demikian pula halnya jika anda memahami benar tentang arti kenabian, lantas anda banyak mengadakan penelitian dalam Al-Quran dan beberapa hadits, niscaya anda akan mendapat pengetahuan secara otomatis bahwa kedudukan Nabi Muhammad SAW berada pada puncak derajat kenabian yang paling tinggi, dan yang paling kuat. Hal itu bisa dibuktikan dengan apa yang beliau ucapkan dalam beberapa ibadahnya dan pengaruhnya di dalam menjernihkan hati.

Bagaimana beliau jujur dalam sabdanya:

“Barang siapa yang beramal dengan ilmu yang telah diketahuinya, niscaya Allah akan mewariskan ilmu yang belum dia ketahui” (Al-Hadits).

Dan bagaimana pula beliau jujur dalam sabdanya:

“Barang siapa yang menolong orang yang bertindak zalim, maka Allah akan menguasakan orang zalim itu padanya” (Al-Hadits).

Serta bagaimana pula beliau berlaku jujur dalam sabdanya:

“Barang siapa yang menjadikan beberapa duka citanya menjadi satu duka cita, niscaya Allah ta’ala akan mencukupkan duka cita dunia dan akhirat” (Al-Hadits).

Maka apabila hal itu anda coba dan anda eksperimenkan dalam seribu dan dua ribu bahkan dalam beribu-ribu kali, anda tentu akan memperoleh ilmu yang bisa ditangkap secara otomatis yang tidak bisa dibantah lagi. Dari cara yang seperti itu, carilah keyakinan tentang kenabian dan jangan cara kebenaran tongkat yang bisa berubah wujud menjadi ular serta terbelahnya rembulan. Sebab jika anda hanya melihat hal itu saja niscaya anda tidak akan bisa mengumpulkan berbagai bukti dan karenanya yang banyak dan tidak bisa dihitung. Barangkali anda nantinya akan menduga bahwa perubahan bentuk seperti di atas merupakan sihir, imajinasi dan fatamorgana serta suatu yang menyesatkan dari Allah, sebab Allah telah berfirman:

“Allah menyesatkan orang yang Dia kehendaki dan menunjukkan kepada orang yang Dia kehendaki” (Al-Mudatstsir: 31).

Akan sampai pula kepada anda tentang masalah mu’jizat, sebab apabila pancatan kepercayaan anda kepada omongan yang sudah diatur di dalam arah konotasi mu’jizat, maka akan menjadi kokohlah kepercayaan anda kepada omongan yang telah diurutkan pada segi kemusykilan dan keraguan, sehingga kejadian yang di luar adat seperti ini merupakan salah satu bukti serta salah satu karena pada sejumlah analisa anda, sampai anda benar-benar mendapatkan ilmu dharuri yang tidak perlu lagi anda menyebutkan dasar dan pancatannya dengan jelas seperti orang yang menerima khabar mutawatir dari sekelompok orang, di mana dia tidak mungkin menyebutkan bahwa keyakinan itu bisa diambil faidahnya dari seorang tertentu, bahkan dia akan tidak tahu dari mana dia mendapatkannya dan yang jelas khabar itu tidak akan keluar dari sekelompok orang tersebut, tetapi dia tidak akan bisa memastikan satuan-satuan orangnya. Maka yang demikian ini merupakan iman yang kuat dan didasarkan atas ilmu.

Adapun dzauq (cita rasa), dia bagaikan musyahadah dan memegang dengan tangan. Dan ini tidak bisa ditemukan kecuali di dalam cara tasawuf. Kadar dari pada hakikat kenabian ini sudah saya anggap cukup dalam mencapai sasaran yang aku maksudkan sekarang, dan akan saya sebutkan segi kebutuhannya.

Iklan

Hakikat Kenabian (1)

Posted in Hakikat Kenabian with tags , , , , on April 8, 2012 by isepmalik

Perlu kiranya anda ketahui bahwa elemen manusia menurut asal fitrahnya memang diciptakan dalam keadaan kosong bersahaja (lugu) artinya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang beberapa alamnya Allah ta’ala.

Alam yang telah diciptakan Allah amatlah banyak di mana tiada yang dapat dihitung kecuali hanya Allah SWT seperti firman-Nya yang telah muncul dalam Al-Quran:

“Tiadalah yang dapat mengetahui balatentara Tuhanmu, melainkan sendiri” (Al-Mudatstsir: 31).

Untuk mengetahui alam diperlukan perantara dan perangkat intelijensi dan setiap intelijensi diciptakan untuk manusia guna mengetahui alam yang terpampang di depan kita. Dan yang kami maksudkan dengan alam di sini adalah berbagai jenis perwujudan yang ada di sekitar kita.

Permulaan sekali yang Allah ciptakan dalam diri manusia adalah indera peraba, sehingga dengan indera ini manusia dapat mengetahui berbagai jenis perkara yang terdapat di sekitar kita seperti panas, dingin, basah, kering, halus, kasar, dan lain-lainnya. Indera perasa hanya terbatas pada hal-hal itu saja dan tidak mampu menjangkau terhadap berbagai  warna dan suara, bahkan seolah-olah warna dan suara itu baiknya tidak ada saja menurut indera peraba.

Kemudian setelah itu Allah menciptakan indera penglihat, sehingga dengan bantuan indera ini orang bisa mengetahui warna-warna dan beberapa bentuk. Indea ini memang lebih luas jangkauannya dari pada peraba.

Sesudah itu Allah menitahkan indera pendengar, sehingga berkat indera ini orang lantas bisa mendengar berbagai suara dan beberapa bunyi-bunyian.

Kemudian sesudah itu pula Allah menciptakan indera perasa, dan berkat indera ini manusia bisa merasakan manis, pahit, kecut, getir dan lain sebagainya, sampai manusia benar-benar telah melewati batas alam inderawi. Kemudian proses selanjutnya Allah menciptakan manusia sebagai menyandang predikat “tamyiz” yaitu masa sekitar umur tujuh tahun yang merupakan periode lain dari pada sekian periode keberadaannya di dunia ini. Dalam periode ini manusia bisa mengetahui perkara-perkara yang melebihi apa yang pernah dia kenal di dalam alam inderawi, di mana dia belum pernah menemui sesuatupun di dalam alam itu.

Sesudah itu manusia beranjak naik kepada periode lain, sehingga pada akhirnya Allah menciptakan bagi manusia itu sebuah akal. Dengan akal inilah manusia lantas bisa mengetahui berbagai perkara wajib, beberapa perkara jaiz dan perkara-perkara yang mustahil serta langkah-langkah yang belum pernah dia temui pada periode-periode sebelumnya.

Di belakang akal ini terdapat lagi periode lain yang di dalamnya tersingkat mata (penglihatan) lain yang dapat melihat perkara yang ghaib dan apa saja yang akan terjadi mendatang dan masih ditambah lagi perkara-perkara lain di mana akal tidak ikut campur dan terpisah darinya seperti tersingkirnya kekuatan tamyiz dari mengetahui perkara-perkara yang masuk akal, dan juga seperti tersingkirnya kekuatan perasaan dari mengetahui artian tamyiz. Sebagaimana sebuah contoh andaikata seorang yang tamyiz disodori berbagai pengertian yang masuk akal, niscaya dia akan menolaknya dan menjauhinya, demikian pula sebagian orang-orang berakal tentu akan enggan dan tidak mau menerima pengertian-pengertian kenabian serta menjauhinya. Dan tindakan yang seperti ini merupakan intinya kebodohan, sebab mereka sama sekali tidak merupakan intinya kebodohan, sebab mereka sama sekali tidak memiliki sandaran dan pancatan kecuali keengganannya itu hanya merupakan suatu periode dan tahapan yang belum bisa dia capai dan belum ditemukan di dalam dirinya, sehingga dia mempunyai dugaan bahwa hal itu tidak maujud (ada) di dalam dirinya.

Seorang yang buta sejak lahir, andaikan dia belum mengetahui beberapa warna dan bentuk lewat omongan orang-orang banyak ataupun lewat mendengarkan lalu dia diberitahu tentang hal itu untuk pertama kalinya, maka dia tidak akan memahaminya dan tidak akan mengaku kebenarannya.

Allah ta’ala telah memberi karunia kepada manusia dengan memberi kepada mereka akan beberapa contoh dari khasiatnya kenabian yaitu tidur, sebab orang yang tidur bisa mengetahui apa yang bakal terjadi dari perkara ghaib dengan secara jelas atau masih dalam bentuk-bentuk perumpamaan (perlambang) di mana  dia dapat tersingkap dengan cara dijabarkan serta ditafsiri, demikian ini bila dia tidak mampu untuk menjabarkannya sendiri.

Dan ada orang yang berpendapat: “Seseorang yang jatuh pingsan tidak sadarkan diri seperti orang yang sudah mati dan sudah hilang perasaannya, pendengarannya dan penglihatannya, dia menjadi tahu perkara yang gahaib dan tidak mengingkarinya”, lalu dia berkata: “Kekuatan perasaan merupakan penyebab idra (bisa mengetahui). Oleh karena itu barang siapa yang tidak bisa mengetahui berbagai perkara padahal perkara itu terdapat di sekitarnya dan hadir di sisinya maka dia tidak dapat mengetahui sesuatu itu dalam keadaan tidur lebih dikatakan masuk akal dan lebih utama serta lebih benar. Ini merupakan suatu bentuk qiyas (analogi) yang bisa didustakan oleh wujud dan musyahadah.

Seperti halnya akal merupakan suatu kadar dan ukuran manusia yang di situ terdapat mata yang bisa dipakai untuk melihat berbagai macam benda yang bisa diterima akal di mana indera tersisih darinya, maka kenabian juga merupakan suatu gambaran dari kadar dan ukuran yang di sana terdapat mata yang memiliki cahaya yang dalam cahayanya itu nampaklah keghaiban beserta perkara-perkara yang tidak bisa lagi diketahui oleh akal.

Ragu-ragu terhadap kenabian adakalanya terjadi karena:

  1. Kemungkinan kenabian pada umumnya.
  2. Kewujudannya dan terjadinya, atau
  3. Keberhasilannya bagi orang tertentu.

Tentang bukti kemungkinannya ialah wujudnya kenabian itu sendiri, dan dalil kewujudannya ialah wujudnya ilmu pengetahuan tentang alam di mana sudah tak mungkin lagi bisa digambarkan oleh akal bagaimana caranya ilmu pengetahuan itu bisa diraih dan dicapai, seperti ilmu kedokteran dan ilmu bintang. Sebab orang yang menyelidiki dan membahas kedua cabang ilmu ini, dia akan tahu dengan sendirinya tanpa difikir bahwa kedua ilmu ini tidak bisa diketahui melainkan dengan ilham ilahi serta pertolongan dari sisi Allah SWT dan tidak ada cara yang bisa ditempuh dengan eksperimen.