Archive for the Ilmu Kalam dan Hasilnya Category

Pembicaraan yang Menjelaskan tentang Maksud Ilmu Kalam dan Hasilnya

Posted in Ilmu Kalam dan Hasilnya with tags , , on Maret 9, 2012 by isepmalik

Selanjutnya aku mulai mengurai “Ilmu Kalam” sehingga aku telah berhasil mendapatkannya, mengotak-atiknya dan telah menelaah berbagai Ahli Tahqiq kemudian aku karang dan aku susun menurut apa yang menjadi kemauanku yaitu menyusun suatu kitab selanjutnya aku berhasil menyusunnya sebagai suatu ilmu yang sesuai dengan maksudnya tetapi belum sempurna dan sesuai dengan maksudku. Adapun maksud daripada Ilmu Kalam adalah menjaga serta memelihara akidah Ahli Sunnah dari gangguan Ahli Bid’ah yang menyesatkan.

Allah SWT telah memberi kepada hamba-hamba-Nya dengan dihantarkan oleh lisannya utusan akan sebuah akidah yang benar di mana di dalamnya terdapat suatu kemaslahatan terhadap agama dan dunia mereka yang semua pengetahuannya tu telah termaktub dan diucapkan oleh Al-Quran dan Al-Hadits, kemudian syetan melontarkan di dalam waswasnya Ahli Bid’ah tentang berbagai perkara yang bertentangan dan tidak sesuai dengan As-Sunnah sehingga mereka menjadi tersangkut padanya dan hampir saja mereka bisa mengecoh orang-orang yang memiliki akidah yang benar.

Selanjutnya Allah ta’ala menumbuhkan Golongan Mutakallimun (Ahli Tauhid) dan menggerakkan motivasi mereka untuk membela As-Sunnah dengan omongan yang tersusun rapi dan apik di mana dia dapat menyingkap kesimpang siuran Ahli Bid’ah yang sengaja membikin hal-hal baru yang tidak cocok lagi dengan As-Sunnah yang sudah teralisir. Maka dari situlah tumbuh Ilmu Kalam beserta Ahlinya.

Telah bangkit sekelompok Ahli Kalam dengan membawa amalan-amalan yang telah dianjurkan oleh Allah ta’ala, sehingga mereka benar-benar memperbaiki As-Sunnah dan berhasil membela akidah yang telah diterima dari ajaran-ajaran asli Nabi SAW. Kemudian mereka mengadakan perubahan pada sisi yang telah dirusak oleh Ahli Bid’ah, dan untuk mencapai usaha itu mereka berpancatan kepada beberapa pendahuluan yang telah mereka terima dari pada lawan fahamnya dan ternyata berhasil memaksa mereka untuk menyerah, yaitu bisa dengan taklid, konsensus (ijma’) umat atau hanya sekadar menerima dari Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan kebanyakan penyelaman mereka dalam usahanya mengeluarkan argumentasi-argumentasi debatnya dan pengambilan mereka adalah dengan mengandalkan bukti-bukti yang lazim, dan cara seperti ini sedikit sekali manfaatnya dalam menghadapi orang-orang yang tidak mau menyerah sama sekali kecuali terhadap dalil-dalil dharuri. Oleh karena itu, Ilmu Kalam dalam pandanganku tidaklah bisa banyak diandalkan dan juga tidak bisa menyembuhkan penyakit yang telah aku keluhkan di atas.

Ya, tatkala Ilmu Kalam itu muncul dengan pesatnya dan banyak orang yang menaruh simpati padanya sehingga masa yang seperti ini berlangsung lama, Ahli Ilmu Kalam mempunyai ide untuk maju selangkah dari pemeliharaan terhadap As-Sunnah yaitu dengan mengadakan pembahasan tentang berbagai hakikat perkara dan mereka mengadakan pendalaman dalam membahas tentang beberapa elemen dan beberapa benda beserta hukum-hukumnya, akan tetapi manakala hal itu tidaklah merupakan maksud ilmu mereka, maka pembicaraan mereka tidaklah sampai pada batas optimal, sehingga tidak bisa menghasilkan apa yang secara menyeluruh dapat menghapus berbagai kegelapan terhadap beberapa perselisihan faham di dalam masyarakat. Aku tidak memandang terlalu jauh dan tidak mengesampingkan berbagai kemungkinan bila cara yang seperti itu bisa diterima oleh orang selainku, namun saya juga tidak menyangsikan bila cara yang seperti itu dapat diterapkan terhadap salah satu kelompok. Tapi perlu diingat bahwa keberhasilan itu sudah sedemikian kaburnya dan telah bercampur aduk dengan taklid dalam suatu perkara yang tidaklah merupakan dasar-dasar pertama.

Tujuan sekarang yang harus disampaikan adalah menceritakan keadaanku bukannya mencela dan mengingkari terhadap orang yang minta kesembuhan sebab obat kesembuhan itu berbeda-beda mengingat kepada perbedaan penyakit. Bukankah sudah banyak sekali obat yang mujarab terhadap si sakit tertentu tetapi obat itu dapat mendatangkan bahaya dan merupakan racun bagi orang lain.

Iklan