Sumber dan Struktur Filsafat Menurut Al-Kindi (1)


Kata “filsafat” dalam bahasa Arab adalah falsafa, berasal dari bahasa Yunani philosophia. Asal kata tersebut tidak dipermasalahkan pada masa Al-Kindi, sebab dalam tradisi Arab filsafat dipandang sebagai sesuatu yang “asing”. Hal ini ditunjukkan kritikus seperti Al-Sirafi yang akan dibahas nanti, juga Al-Khawarizmi yang menulis ensiklopedi berjudul Keys to the Science (ditulis sekitar 977 M) menjadi dua bagian: dalam tradisi Arab dan Yunani.[1] Jelas terlihat bahwa tradisi Arab awal sampai masa Ibn Sina dipengaruhi oleh Aristoteles; legitimasi dan pentingnya tradisi Yunani akan dibahas khususnya manfaat logika (Yunani) dan tata bahasa (Arab). Meskipun begitu, ada kesepakatan tertentu tentang isi dan struktur tradisi “asing” (Yunani) yang dianalisis secara kritis oleh para ilmuwan Muslim.

Lebih dari 100 tahun setelah massa Al-Khawarizmi, Al-Kindi belum bisa menguatkan asumsi pentingnya tradisi Yunani. Al-Kindi tidak hanya membela dan mempromosikan nilai karya-karya terjemahan tradisi Yunani kepada tradisi Arab terhadap kritik, tetapi juga mencoba untuk menjelaskan tradisi filsafat Yunani secara khusus. Di sisi lain, Al-Kindi diuntungkan oleh kenyataan bahwa ilmuwan pada abad kesepuluh tidak mempertentangkan antara pemikiran Yunani dan Arab. Karena pada abad kesembilan, gerakan penejemahan menerima dukungan sosial dan politik dari penguasa Abbasiyah. Dalam konteks ini, Al-Kindi merasa optimis tentang prospek tradisi Yunani ke dalam wacana intelektual Arab. Tradisi Yunani bukan untuk menggantikan identitas tradisi Arab atau Muslim, tetapi hasil akhirnya akan menjadi tradisi Arab atau Muslim. Hasilnya, tidak ada polarisasi antara falsafa dan kalam—seperti pada Al-Farabi dan Ibn Rushd—sebagaimana pada pemikiran Al-Kindi itu sendiri. Pada masa kini banyak ilmuwan yang menentang keinginan Al-Kindi membawa tradisi Yunani. Tetapi perhatian Al-Kindi bukan hanya untuk menunjukkan kebenaran dan kebijaksanaan tradisi Yunani, melainkan juga untuk memperlihatkan bagaimana tradisi “asing” tersebut membentuk batang tubuh pengetahuan, dan bagaimana pengetahuan ini dapat diintegrasikan dengan tradisi Arab dan ajaran Islam.[2]

 

Pembelaan terhadap Filsafat

Salah satu bagian paling terkenal dari karya Al-Kindi adalah bagian pertama dari On First Philosophy. Dalam pendahuluan karyanya tersebut, ia memperkenalkan metafisika atau “filsafat-pertama” yang dipahami sebagai studi tentang Sebab Pertama, yaitu Tuhan. Menurutnya, “Seni manusia yang memiliki peringkat tertinggi dan termulia adalah seni filsafat yang didefinisikan sebagai pengetahuan manusia untuk mengenal sifat-sifat, sejauh hal tersebut mungkin bagi manusia.”* Dan karena keunggulan objeknya, filsafat-pertama adalah bagian paling mulia dari filsafat. Selaras dengan Al-Quran yang menyatakan bahwa Tuhan adalah al-Haqq (“Kebenaran”), Al-Kindi menyatakan bahwa “segala sesuatu telah dijadikan kebenaran, dan Tuhan adalah Kebenaran Pertama; Ia adalah penyebab dari segala kebenaran, Ia adalah penyebab dari semuanya.”

Inilah yang menjadi perhatian utama Al-Kindi. Ia memulai dengan ajakan untuk mencari dan menjaga kebenaran dari mana pun sumbernya. Filsafat adalah bangunan pengetahuan yang bersifat kolektif, “Jika seseorang mengumpulkan bagian-bagian terkecil, maka ia akan mencapai kebenaran yang hasilnya cukup besar.” Kemudian Al-Kindi berkata dalam On First Philosophy:

Kita tidak harus malu untuk mengagumi kebenaran atau untuk mendapatkan itu dari mana pun sumbernya. Bahkan jika kebenaran tersebut berasal dari bangsa dan tradisi asing. Hal ini penting untuk para pencari bahwa kebenaran jauh lebih penting. Kebenaran tidak bisa direndahkan oleh orang atau suatu bangsa, begitu pula tidak ada yang direndahkan oleh kebenaran apapun derajatnya.**

Lebih lanjut Al-Kindi berkata:

Kita harus waspada terhadap kejahatan penafsiran yang didasarkan untuk melambungkan ketenaran dari orang yang sebenarnya terasing dari kebenaran. mereka seolah-olah memahkotai dirinya dengan mahkota kebenaran, karena sempitnya pemahaman terhadap kebenaran. Hal ini karena rasa iri yang telah menguasai jiwa binatang mereka, visi pemikirannya tertutup dari cahaya kebenaran.*

Hal ini sebagai respon Al-Kindi terhadap para penentang yang dituduhnya “memperdagangkan agama”. Orang-orang ini dikenal sebagai “golongan spekulatif (nazhari)” yang memiliki posisi prestise dan dekat terhadap kekuasaan. Selain “mahkota” semu, golongan ini juga dikatakan “menempati kursi penipuan secara tidak layak.” Alfred Ivry menjelaskan bahwa pada masa ditulisnya On First Philosophy pada abad kesembilan sedang didominasi teologi Muslim spekulatif golongan Mu’tazilah. Sasaran kemarahan Al-Kindi, menurut Ivry, ditujukan kepada para teolog yang mengedepankan spekulatif teologi dan mencari keuntungan belaka. Pada pertengahan abad kesembilan banyak melahirkan tokoh dalam kalam dan cukup kecil kemungkinan bila kemarahan Al-Kindi dialamatkan hanya kepada Mu’tazilah. Patut diduga pula bahwa bantahan Al-Kindi ditujukan kepada para tradisionalis seperti Hanbali dan para pendukungnya.[3] Harus dipertimbangkan pula bahwa dalam banyak kasus, bantahan Al-Kindi tidak hanya dialamatkan kepada para teolog tetapi kepada para pencela tradisi filsafat Yunani. Inilah sebabnya mengapa Al-Kindi melakukan bantahan setelah memuji tradisi Yunani dalam mencari kebenaran. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak ada keharusan untuk menolak memperoleh pengetahuan “kodrat sejati manusia”, yaitu filsafat. Siapapun yang menyangkal kebutuhan untuk berfilsafat akan membutuhkan argumen filosofis mengapa filsafat itu tidak perlu. Dengan melontarkan argumen ini tentu saja mereka akan terlibat dalam filsafat, dan karenanya secara tidak langsung menyangkal diri mereka sendiri.**

Al-Kindi menyimpulkan bantahannya yang mungkin merupakan bagian paling mendapat penekanan dalam setiap karyanya. Hal ini layak untuk dikutip:

Kami memohon kepada Dia yang dapat melihat ke dalam hati—usaha kita adalah menuju pembentukan bukti keilahian-Nya, mewujudkan pemahaman tentang kesatuan-Nya, menentang orang-orang yang keras kepala menolak-Nya dan tidak percaya kepada-Nya dengan mengemukakan bukti-bukti yang membantah ketidakpercayaan, merobek selubung kebohongan, dan menyatakan secara terbuka kekurangan mereka—untuk melindungi kita dan siapapun yang mengikuti jalan untuk terus-menerus mendekati-Nya. Mari kita memfokuskan niat dalam membantu dan mendukung apa yang benar; Dia akan memberikan jalan kepada kita untuk mencapai derajat orang-orang yang berniat mengagungkan-Nya, mereka yang menyetujui tindakan-Nya. Dia akan memberikan kemenangan atas lawan yang tidak percaya terhadap rahmat-Nya dan orang-orang yang bertentangan dengan jalan kebenaran yang mengagungkan-Nya.*

Apa yang sangat mencolok tentang retorika di atas adalah konteks religiusnya. Al-Kindi tidak mengatakan bahwa mengejar kebenaran filosofis harus melepaskan keyakinan terhadap agama. Sebaliknya, Al-Kindi berpendapat bahwa memvonis kafir (kufr) terhadap orang yang mempelajarinya adalah tuduhan tidak benar. Al-Kindi mendasarkan pada fakta bahwa penentangnya menolak upaya untuk menggunakan filsafat dalam mendukung prinsip utama Islam: keesaan Tuhan dan keilahian. Sejauh filsafat dapat berkontribusi terhadap kebenaran, bila filsafat ditolak maka dengan sendirinya menolak Islam itu sendiri.

Dengan demikian jelas sekali tujuan On First Philosophy dan arah karya-karya Al-Kindi. On First Philosophy merupakan upaya penggunaan filsafat untuk membuktikan kebenaran sentral dogma teologis Islam bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan itu satu. Seperti yang akan kita lihat selanjutnya, dalam karyanya tersebut Al-Kindi mengemukakan argumen kepada orang-orang atau golongan yang menegasikan sifat-sifat Tuhan; tentu saja hal ini ditujukan kepada Mu’tazilah. Bantahan Al-Kindi tidak hanya ditujukan terhadap posisi teologi Mu’tazilah dan praktik teologi spekulatif. Ia berusaha mengajak pembaca untuk mendukung teologi spekulatif filosofis dalam On First Philosophy. Tujuan dan doktrin utamanya tidak jauh berbeda dengan Mu’tazilah; perbedaannya, ia mengambil bahan-bahan dari tradisi Yunani dalam karyanya.[4]Oleh sebab itu, ia menentang teolog (atau siapa saja) yang ingin menyangkal manfaat tradisi filsafat Yunani terhadap teologi Islam.


[1] Bosworth, C. E. (1963). “A Pioneer Arabic Encyclopedia of the Sciences: Al-Khwarizmi’s Keys of the Sciences.” Isis 54. Hal: 97-111.

[2] Pada masa kini, seperti Robert Wisnovsky mencoba menyelaraskan teks-teks Aristoteles dengan pemikir Yunani lainnya, khususnya antara Aristoteles dengan Platonisme untuk menghasilkan kesatuan pengetahuan Yunani. Hal ini tidak hanya menunjukkan warisan dari Al-Kindi, tetapi Al-Kindi juga berusaha untuk membuat harmoni lebih besar antara tradisi Yunani di satu sisi dan tradisi Arab dan ajaran agama Islam di sisi lain.

* Adamson, P., dan Pormann, Peter E. The Philosophical Works of al-Kindi. New York: Oxford University Press. Vol. I. Hal: 2.; Rida, Abu. (1950). Rasa’il al-Kindi al-Falsafiyya, vol. I. Cairo: Dar al-Fikr al-Arabi. Hal: 95.; R. Rashed dan J. Jolivet. (1998). Oeuvres Philosophiques et Scientifiques d’al-Kindi, Vol. II. Leiden: Brill. Hal: 9.

** Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. II. Hal: 4.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 103.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 13.

* Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. III. Hal: 1-2.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 103-104.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 13-15.

[3] Hal ini masuk akal ketika melihat konteks pada waktu itu; Khalifah Al-Mu’tasim, seperti pendahulunya Khalifah Al-Ma’mun yang menyingkirkan kaum tradisionalis dan Mu’tazilah banyak menduduki kursi kekuasaan. Meskipun tradisionalis tidak memiliki dukungan kekhalifahan selama periode ini, Al-Kindi melihat bahwa golongan ini cukup populer di masyarakat. Al-Ma’mun sendiri dalam suratnya mengeluhkan kemuliaan dan kepemimpinan tradisionalis hanya untuk dirinya sendiri [Lihat: Al-Tabari. (1897). (ed.) De Goeje. Vol. III. Hal: 1114).

** Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. III. Hal: 4.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 5.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 15.

* ** Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. III. Hal: 5.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 105.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 15-17.

[4] Adamson, P. (2003). “Al-Kindi and the Mu’tazila: Divine Attributes, Creation and Freedom.” Arabic Sciences and Philosophy. Vol. 13.I. Hal: 45-77.

Iklan

2 Tanggapan to “Sumber dan Struktur Filsafat Menurut Al-Kindi (1)”

  1. Assalam,saya ingin bertanya jika ada maklumat mengenai

    1.pujian yang diberi kepada al kindi
    2.guru2 kpd al kindi

    semoga anda dpt membantu,terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: