Archive for the Posisi & Kedudukan Category

Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (3)

Posted in Posisi & Kedudukan on Februari 27, 2011 by isepmalik

Namun, filsuf sejati pertama dari Andalusia adalah Abu Bakar Ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal sebagai Ibn Bajjah atau Avempace (w. 1138). Tidak seperti para pendahulunya dari Andalusia yang disebutkan di atas, Ibn Bajjah benar-benar mendalami bidang filsafat, logika, dan medis. Dia menulis parafrase dari Aristoteles Physics, Meteorology, Generation and Corruption, dan Book of Animals. Selain itu, ia menulis interpretasi secara luas (ta’liq) terhadap logika karya Al-Farabi yang dikaguminya. Di samping itu, ia menulis sebuah risalah politik orisinil yang modelnya diambil dari Virtuous City karya Al-Farabi dan diberi judul Conduct of the Solitary (Tadbir alMutawahhid).

Sosok besar kedua dalam sejarah filsafat Andalusia adalah Abu Bakr Ibn Tufail (w. 1185), sahabat dekat Ibn Rusyd. Karyanya yang terkenal berjudul Hayy Ibn Yaqzan adalah novel filosofis yang mewujudkan substansi Islam Neoplatonisme yang tidak disenangi oleh aliran sufi seperti Al-Ghazali yang memang telah populer di Timur.

Bagaimanapun, sosok penting dalam sejarah filsafat Andalusia adalah Abu Al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rusyd, lebih dikenal di Eropa sebagai Averroes. Filsafat Ibn Rusyd menandai titik klimaks dalam pengembangan filsafat Arab-Islam dan sebagai kesimpulan selama empat abad peperangan antara filsafat dan teologi dalam Islam. Dalam istilah budaya global, kontribusinya untuk menggali kembali ajaran Aristoteles menandai titik kritis dalam sejarah transmisi filsafat Yunani-Arab ke Eropa Barat. Karena pada saat itu bahasa Yunani dan filsafat hampir sepenuhnya dilupakan di Barat, khususnya lagi Aristotelianisme. Kecuali terjemahan logika karya Aristoteles oleh Boethius (w. 525) dan bagian dari Timaeus karya Plato oleh Chalcidus (abad keempat), sangat sedikit filsafat Yunani yang sampai ke Barat. Jadi, komentar Ibn Rusyd terhadap karya Aristoteles yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di awal abad ketiga belas menyebabkan pertumbuhan intelektual dalam bidang filsafat dan teologis di Eropa Barat dan meletakkan landasan bagi kebangkitan Skolastik Latin yang menemukan kembali karya Aristoteles. Sudah selayaknya Barat berterima kasih terutama untuk komentar Ibn Rusyd tersebut. Bahkan bangkitnya Renaisans dengan rasionalisme dan humanismenya terkait erat dengan komitmen Ibn Rusyd terhadap keunggulan wacana filosofis dan teologis. Etienne Gilson menulis dalam Reason and Revelation in the Middle Ages, “Rasionalisme lahir di Spanyol dalam pikiran seorang filsuf Arab, sebagai reaksi sadar terhadap teologisme Arab”. Etienne kemudian menambahkan bahwa ketika Ibn Rusyd meninggal pada 1198, “dia mewariskan sesuatu yang ideal berupa filsafat rasional yang murni, memiliki pengaruh yang ideal sehingga evolusi filsafat Kristen menjadi terpengaruh dan dimodifikasi”.[1] Bisa dikatakan bahwa ‘rasionalisme filosofis’ Ibn Rusyd tidak hanya lima abad yang lalu, tetapi bahkan lebih komprehensif daripada ‘rasionalisme matematis’ dari Rene Descartes (w. 1650) yang umumnya dianggap sebagai bapak filsafat modern.

Terlepas dari kontribusinya pada perdebatan filosofis dan teologis yang meramaikan dunia intelektual Islam, Ibn Rusyd adalah filsuf Muslim yang aktif dalam perdebatan yuridis semasa di Andalusia. Ia menjabat sebagai hakim agama (qadi) di Sevilla (1169-1l72), hakim ketua di Cordova (1172-1l82), dan pada 1182 ditunjuk sebagai dokter kerajaan di Marrakesh. Ia juga menulis risalah yuridis berjudul Primer of the Discretionary Scholar (Bidayat alMujtahid) yang sampai hari ini masih banyak dipelajari. Dalam risalah ini, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa tujuannya adalah untuk membahas keputusan-keputusan yuridis yang menjadi subjek konsensus atau perselisihan di antara para cendekiawan dan menentukan pangkal pernyataan secara eksplisit dari Kitab Suci. Di sini terlihat pengetahuannya yang luas di bidang hukum Islam, karena ia menyebutkan dan membahas setiap pendapat yuridis baik liberal maupun konservatif, Hanafi, Syafii, Maliki atau Hambali, serta tidak selalu mengunggulkan pendapat Maliki meskipun ia resmi berstatus sebagai hakim yang bermadzhab Maliki.

Selain dalam hukum Islam, filsafat, dan teologi, Ibn Rusyd memberikan kontribusi secara ekstensif dalam bidang medis. Ia menghasilkan banyak risalah, yang paling terkenal di antaranya adalah alKulliyat diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Colliget. Risalah ini bersama dengan sejumlah karya medis lainnya banyak yang sampai kepada kita, sebagian besar berisi epitomes atau ringkasan (talakhis) medis karya Galen. Karyanya yang lain berupa komentar pada puisi medis terkenal karya Avicenna diberi judul alUrjuzah fi alTibb yang masih eksis dalam bahasa Arab dan Latin.


[1] Reason and Revelation in the Middle Ages, hal. 37.

Iklan

Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (2)

Posted in Posisi & Kedudukan on Februari 26, 2011 by isepmalik

Namun demikian, meskipun bermadzhab Maliki, Ibn Tumart percaya bahwa konflik yang nyata antara kalam dan filsafat bisa diselesaikan ketika berpindah ke prinsip-prinsip intuitif dari akal yang menetapkan bahwa setiap tindakan atau kejadian harus dirujuk ke Agent sebagai akhir dari prinsip kausalitas dan Al-Quran sendiri menetapkan dalam ayat-ayat seperti 11:14 dan 11:17 yang mengacu bahwa Al-Quran sebagai wahyu dari Allah dan “bukti yang jelas dari Tuhan mereka”. Dari premis Ibn Tumart ini, kita dapat membuktikan keberadaan Tuhan dan dengan demikian “dapat dipastikan bahwa Allah Yang Maha Kuasa bisa diketahui melalui perlunya alasan”, ia telah menempatkan hal tersebut dalam karyanya yang paling terkenal, Dearest Quest (A’azz ma Yutlab).[1] Dia tidak sepakat terhadap orang yang mengklaim bahwa hukum agama (syariah) tidak kompatibel dengan kebijaksanaan atau filsafat (hikmah), “hal yang demikian merendahkan martabat agama dan mengabaikan kebijaksanaan Tuhan itu sendiri”.[2] Dia juga berkeyakinan seperti Ibn Rusyd yang diketahui telah menulis Commentary on Ibn Tumart Creed bahwa deduksi (qiyas), relijius (syar’i) atau rasional (aqli) adalah jalan menuju kepastian di mana hal itu bertentangan dengan ‘dugaan’ yang telah menyebabkan munculnya sektarian, seperti Nonattributionists (Mu’attilah) dan Corporealists (Mujassimah) yang menyesatkan. Dia juga meyakini bahwa rasional dan hukum deduksi adalah setara; karena dalam kasus yang pertama, kita membedakan antara apa yang diperlukan, mungkin dan yang tidak mungkin; sedangkan dalam kasus yang terakhir, kita membedakan antara wajib, halal dan haram—menurutnya, hal itu adalah dua set kategori yang analog.

Ibn Tumart melanjutkan dengan menyatakan bahwa sebenarnya hukum deduksi memiliki lima varietas yang digunakan oleh berbagai sekte, termasuk Mu’attilah, Mujassimah dan lainnya untuk mendukung proposisi munafik mereka. Menurutnya, kelima varietas tersebut sebagai berikut:

  1. Eksistensial deduction, yang dijadikan Mujassimah berdasarkan pengamatan objek empiris dengan berkesimpulan bahwa Pencipta harus korporeal.
  2. Habitual deduction, yang membuat beberapa orang berpendapat bahwa semua entitas yang eksis dihasilkan oleh entitas yang eksis lainnya, sehingga makhluk yang tidak menghasilkan entitas yang eksis itu tidak eksis pula—dari hal tersebut mereka menyimpulkan bahwa Tuhan tidak eksis.
  3. Observational deduction, segala sesuatu yang kita amati harus eksis dalam suatu lokus tertentu. Maka, Tuhan pun harus eksis dalam suatu lokus.
  4. Active deduction, disimpulkan bahwa siapa pun yang bertanggung jawab untuk tindakan tertentu seperti ketidakadilan atau agresi, harus digambarkan sebagai agresor yang tidak adil. Dari premis ini mereka menyimpulkan bahwa Tuhan harus dijelaskan seperti itu.
  5. Causal deduction, berdasarkan pengamatan bahwa pengetahuan yang menetap dalam sesuatu yang mengetahui adalah penyebabnya menjadi maha mengetahui. Pengetahuan Tuhan akan menjadi kontingen daripada yang diperlukan, dan dengan demikian pengetahuan dapat dipungkiri-Nya.[3]

Menarik sekali untuk mendefinisikan deduksi rasional yang memang berbeda dari hukum deduksi dan variasi lainnya. Hal ini memainkan peran penting dalam upaya Ibn Rusyd untuk menunjukkan keharmonisan agama (shariah) dan filsafat (hikmah) dalam karyanya Decisive Treatise. Di dalamnya memunculkan wacana antara dua varietas deduksi; keagamaan digunakan oleh ahli fikih dan teolog sedangkan rasional digunakan oleh filsuf.

Meskipun Murabitun menolak keras studi filsafat, teologi dan ‘ilmu-ilmu kuno’, tetapi mereka tidak melakukan penelitian selanjutnya. Faktanya awal dari spekulasi filosofis di Andalusia bertepatan dengan akhir kekuasaan mereka. Sejarawan Andalusia bernama Said (w. 1070) menyebutkan bahwa seorang sarjana bernama Maslamah Ibn Ahmad Al-Majriti (w. 1008) adalah orang pertama yang memisahkan astronomi dan ilmu-ilmu gaib. Diceritakan pula kalau ia telah mengajarkannya di Timur dan membawa kembali Epistles of the Brethren of Purity ke Spanyol. Menurut sumber lainnya, dibawa ke Spanyol oleh muridnya yang bernama Al-Kirmani.[4]

Sarjana lain yang berminat dalam filsafat dan ‘ilmu kuno’ sebagaimana disebutkan Said adalah Ibn Al-Nabbash Al-Bajjai, Abu Al-Fadl Ibn Hasdai, Ahmad Ibn Hafsun yang dijuluki filsuf, dan lain-lain. Sebelumnya, sarjana Andalusia bernama Muhammad Ibn Abdullah Ibn Masarrah (w. 931) lebih cenderung memilih teologi mistisisme Mutazilah.[5]


[1] A’azz ma Yutlab, hal. 214.

[2] Ibid, hal. 157.

[3] Ibid, hal. 158.

[4] Said Al-Andalusi, Tabaqat al-Uman, hal. 80.

[5] Ibid, hal. 21.

Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (1)

Posted in Posisi & Kedudukan on Februari 20, 2011 by isepmalik

Fase Helenistik dalam sejarah filsafat Yunani bertepatan dengan berdirinya Alexandria di Mesir oleh Alexander Agung pada 332 SM. Sejak saat itu, Alexandria menjadi ahli waris Athena sebagai pusat budaya dunia kuno, terutama di bidang ilmu pengetahuan positif dan obat-obatan. Dalam filsafat, fase ini ditandai oleh sinkretisme dan kecenderungan untuk mempersatukan tradisi Yunani, Semit, Mesir, Phoenix, unsur-unsur Yahudi, dan Kristen mencapai puncaknya pada abad kedua dan ketiga era Kristen di zaman Neoplatonisme yang merupakan monumen besar filsafat Yunani.

Pendiri filsafat Helenis ini adalah Plotinus, lahir di Lycopolis Mesir pada 205 dan meninggal di Roma pada tahun 270. Ajarannya terkenal di wilayah Timur Dekat dan selanjutnya diteruskan oleh murid dan editornya yang bernama Porphyry dari Tirus (w. 303), dilanjutkan oleh Jamblichus (w. 385) muridnya Porphyry berasal dari Syria, dan diteruskan oleh murid Jamblichus bernama Proclus dari Athena (w. 485) yang merupakan pendukung besar paganisme Yunani. Tak lama setelah itu, Filsafat Yunani meredup di tanah kelahirannya dan begitu pula Eropa ketika Kaisar Bizantium bernama Justinian memerintahkan Sekolah Athena yang merupakan benteng terakhir paganisme Yunani akan ditutup. Tujuh dari guru sekolah tersebut, dipimpin oleh Simplicius (533) menyeberang ke Persia setelah dibujuk secara simpati oleh kaisar Persia bernama Chosroes I yang dikenal dalam sumber literatur Arab sebagai Anushirwan atau Just. Episode ini disebut-sebut sebagai migrasinya filsafat Yunani ke arah timur yang secara resmi menandai fase Helenistik atau Alexandria.

Tahap bersejarah berikutnya dalam sejarah filsafat Yunani adalah Arab-Islam yang dimulai selama periode Abbasiyah (750-1258), ketika ibukota Abbasiyah berada di Baghdad mewarisi kekayaan intelektual dari Alexandria dan Athena yang menjadi pusat kebudayaan dunia. Filsuf, ilmuwan, dan teolog berkumpul di seluruh penjuru dunia Islam.

Orang pertama yang dikenal menjadi ilmuwan-filsuf adalah Al-Kindi (w. 866). Ia menulis seluruh ajaran kuno mengenai logika, aritmatika, psikologi, meteorologi, astrologi, dan metafisika. Selama periode hidupnya, Al-Kindi melakukan pencarian jiwa secara mendalam, karena pada saat itu teologi rasionalis yang dikenal sebagai Muktazilah banyak beradu argumen dengan madzhab Hanbaliyah, Malikiyah dan tradisionalis lainnya yang menolak penerapan metode wacana rasional yang dipinjam dari Yunani. Mereka menganggap bahwa tradisi Yunani sebagai ajaran sesat (bid’ah) atau tidak berlandaskan agama (kufr).

Al-Kindi bersimpati dengan keinginan Muktazilah untuk merasionalisasi dogma Islam, menghadapi tradisionalis dengan tekad tunggal dan memastikan pijakan yang aman untuk filsafat di tanah Muslim. Penggantinya, termasuk Al-Farabi (w. 950) dan Ibn Sina atau dikenal sebagai Avicenna (w. 1037) menghadapi tantangan yang sama selama dua abad ke depan dalam mengembangkan proses pandangan dunia metafisik yang didasarkan pada Neoplatonisme; ia berdua melakukan pekerjaan dan percaya bahwa filsafat bisa kompatibel dengan sistem kepercayaan Islam. Posisi mereka segera ditantang oleh sekolah teologi (kalam) yang berasal berasal dari Muktazilah sendiri. Pendirinya bernama Abu Hasan Al-Asyari (w. 935) seorang mantan Muktazilah, menyukai penerapan metode bukti teologis untuk dogma Islam, tetapi cenderung setuju dengan kaum tradisionalis termasuk dengan Ibn Hanbal (w. 855) yang mengajar dengan berpijak pada substansi dogmatis. Pengikut-pengikut Abu Hasan Al-Asyari yang merupakan para teolog atau Mutakallimun yang terkenal di antaranya Al-Baqillani (w. 1012), Al-Baghdadi (w. 1037), Al-Juwaini (w. 1086) dan muridnya bernama Al-Ghazali. Teolog terakhir ini umumnya dianggap sebagai teolog terbesar atau Proof of Islam (Hujjat al-Islam).

Al-Ghazali sepenuhnya dididik sebagaimana pendidikan para filsuf, sebagai buktinya ia menghasilkan karya Intentions of the Philosophers, Criterion of Knowledge (tentang logika) dan Balance of Action (tentang etika). Bagaimanapun, ia benar-benar mendalami agama dan mistis, dan mengerahkan seluruh energinya untuk mengkritisi bagian-bagian filsafat Yunani yang “bertentangan dengan dasar-dasar agama”, menurutnya. Sebagian besar proposisi fisika dan metafisik telah dipopulerkan oleh Islam Neoplatonis yang dipimpin Al-Farabi dan Ibnu Sina. Tidak seperti mayoritas teolog lainnya, secara cukup signifikan keduanya menganggap bahwa cabang-cabang filsafat seperti logika, etika, dan matematika tidak berbahaya dari sudut pandang agama.

Hal tersebut menjadi kemungkinkan mengapa Al-Ghazali menyerang filsafat Yunani-Arab terwujud terutama dalam karyanya Tahafut al-Falasifah (Incoherence of the Philosopher) sebagai tonggak sejarah dimulainya konfrontasi teolog dan filsuf Islam. Pada saat dunia Muslim dilanda perselisihan antara Syiah Fatimiah di Mesir dengan Sunni Abbasiyah di Baghdad, pertarungan teologis dianggap tidak kalah dibanding pertempuran politik dan militer. Al-Ghazali dijadikan standar perjuangan melawan pihak filsuf dan Syiah, hal ini memang terasa sangat aneh.

Serangan Al-Ghazali pada abad kesebelas dapat dikatakan menandai kematian filsafat di Timur, tetapi tidak lama kemudian memperoleh hak hidup di Barat. Dimulai pada abad kesembilan di masa pemerintahan Muhammad Ibn Abdul Rahman (852-886), studi tentang mata pelajaran matematika dan hukum tampaknya telah dipersiapkan untuk mempelajari kembali ‘ilmu kuno’ pada masa pemerintahan Al-Hakam II yang dikenal sebagai Al-Mustansir Billah (961-976). Pangeran tercerahkan ini memerintahkan pengimporan buku dari Timur ke Cordova sebagai pusat kota Muslim Spanyol (Andalusia); kota ini mulai menyaingi Baghdad sebagai pusat pembelajaran dengan perpustakaan terkenal yang menyimpan sekitar 400.000 buku. Namun, gambaran tersebut berubah ketika putranya Al-Hakam yang bernama Hisyam (976-1009) naik tahta dan berbanding terbalik dengan kebijakan-kebijakan ayahnya. Ia memerintahkan buku-buku ‘pelajaran kuno’ untuk dibakar dengan pengecualian buku bidang astronomi, logika dan aritmatika sebagai upaya menenangkan para ahli hukum dan masyarakat umumnya. Maka berkembanglah tuduhan seperti ‘ilmu kuno’ benar-benar bidah atau kafir.

Selama masa pemerintahan dinasti penerus Berber, nasib ilmu pengetahuan, filsafat dan teologi atau kalam tidak berubah. Mula-mula dinasti ini diperintah oleh Al-Murabitun (Almoravids) yang memerintah Spanyol dan Afrika Utara (1090-1147); menganut madzhab Maliki dan mendorong studi hukum (fiqh), tetapi melarang studi teologi (kalam), ‘ilmu kuno’, dan filsafat. Dalam hal ini, mereka mengikuti jejak dari pendiri sekolah Maliki bernama Malik Ibn Anas (w. 799) yang tidak menggunakan wacana rasional dalam bentuk apapun. Sekali waktu pernah ditanya ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang Allah duduk di atas takhta (istiwa), ia menjawab: “duduk sudah dikenal secara luas, modalitasnya tidak diketahui; mempercayainya adalah wajib dan mempertanyakannya adalah ajaran sesat (bidah)”.

Dengan munculnya Dinasti Muwahhidun (Almohades) di tahun 1146, iklim intelektual di Andalusia dan Afrika Utara agak berubah. Pendiri Dinasti Almohades, Ahmad Ibn Tumart (w. 1128) memperkenalkan kembali studi teologi (kalam) dan hal ini membuka jalan bagi studi filsafat dan ‘ilmu-ilmu kuno’ yang telah diabaikan di Barat. Perlu dicatat bahwa Ibn Tumart agak terbuka dalam pendekatan ke kalam, karena ia menyukai metode Muktazilah pada beberapa hal dan metode Asyariyah pada hal-hal lainnya. Dalam hukum, ia tetap menjadi Zhahiri mengikuti jejak Ibn Hazm (w. 1068) dan menganggap Kitab Suci sebagai otoritas final dalam hal hukum agama (syari’ah) dan ritual peribadahan (ibadat).