Archive for the Posisi dan Kedudukan Category

Posisi dan Kedudukan Al-Farabi (2)

Posted in Posisi dan Kedudukan on Februari 11, 2011 by isepmalik

Berlawanan dengan skema kosmologis yang disebutkan di atas, Al-Farabi menyebut rangkaian itu berakhir pada manusia dengan alasan karena ia memiliki alam rasional sebagai penghubung antara dunia intelligible dan dunia material yang lebih rendah. Manusia diberkahi dengan serangkaian kemampuan—persepsi, imajinasi dan rasionalitas—yang tidak akan mencapai tujuan akhir berupa kebahagiaan atau kesejahteraan (sa’adah) tanpa semua itu. Hal ini merupakan cerminan kesatuan politik (ijtima’) dalam bentuk komunitas besar, menengah, dan kecil yang diidentifikasi oleh Al-Farabi sebagai munculnya dunia yang dihuni (ma’murah), bangsa dan kota.

Di sini Al-Farabi menarik garis paralel antara negara dan tubuh; bagian atau organ membentuk hirarki yang saling membantu satu sama lain, dipimpin oleh seorang penguasa utama (ra’is) untuk sebuah negara dan jantung untuk tubuh. Tema ini dikembangkan secara detail, tetapi dengan beberapa pengulangan dalam risalah utama politik Al-Farabi, termasuk Virtuous City (al-Madinah al-Fadilah), Civil Polity (al-Siyasah al-Madaniyah) dan Attainment of Happines (Tahsil al-Sa’adah) yang menggambarkan bahwa ia sebagai kepala filsuf Islam. Hal ini mungkin akurat untuk menunjuk Al-Farabi sebagai pendiri filsafat politik Islam, penulis seperti Ibn Bajjah (w. 1138) dan Nasir Al-Din Al-Tusi (w. 1274) menyetujuinya.

Sebagai penerus langsung Al-Farabi, Ibn Sina (w. 1037) merupakan murid spiritual dan penggantinya langsung. Dengan memiliki komitmen yang sama dengan Neoplatonis dalam memandang realitas, Ibnu Sina mampu mengembangkan skema emanasi Al-Farabi secara lebih sistematis mengenai hirarki kosmis dan khususnya perkembangan umat manusia dari yang lebih rendah kepada tingkatan mengetahui yang disebut olehnya sebagai Intelek Pasif atau Intelek Material, lalu ‘disambungkan’ dengan Intelek Aktif untuk memenuhi semua keinginan intelektual manusia. Menurut Ibnu Sina, ketika seseorang mencapai kondisi seperti ini, jiwanya menjadi replika dan penghuni dari dunia intelligible sebelum turun ke dalam tubuh manusia.

Meskipun sepakat dengan prinsip-prinsip dasar Neoplatonisme, perlu dicatat bahwa gaya menulis Ibnu Sina lebih diskursif atau tematik dan hal ini mengingatkan pada ‘risalah’ Aristoteles. Sebaliknya, Al-Farabi mengingatkan pada gaya Dialogues Plato.

Dalam istilah-istilah substantif, kontribusi Ibnu Sina mengenai etika dan politik agak berbeda dengan pekerjaan besar yang dilakukan Al-Farabi. Tidak seperti Ibnu Sina, perhatian terhadap etika dan politik mendominasi pemikiran Al-Farabi untuk menggapai kebahagiaan dengan komponen pengetahuan (‘ilm) dan kebajikan.

Murid atau pengganti Al-Farabi di daerah Timur adalah Yahia Ibnu Adi (w. 974), Miskawaih (w. 1037) dan Nasir Al-Din Al-Tusi, dan di daerah Barat bernama Ibnu Bajjah yang merupakan murid spiritual terbesar dan komentator utama dalam bidang filsafat politik dan logika, seperti yang akan dibahas pada waktunya.

Perlu dicatat bahwa meskipun sebagai pembangun sistem pertama dalam sejarah filsafat Islam dan pelopor yang luar biasa dalam bidang logika dan filsafat politik, tetapi perhatian terhadap Al-Farabi masih sangat sedikit di zaman kita. Studi awal dalam bahasa Eropa dilakukan oleh M. Steinschneider dalam bukunya yang berjudul Al-Farabi’s Leben und Schriften dan dipublikasikan pada tahun 1889; lalu diikuti oleh I. Madkour pada tahun 1934 dalam karyanya yang berjudul La Place d‘Al-Farabi dans l’ecolo philosophique Musulmane. Ian R. Netton pada tahun 1992 menerbitkan sebuah studi berjudul Al-Farabi and His School, artikel-artikel dalam bahasa Inggris atau bahasa Barat lainnya dibuat oleh R. Walzer, M. Mahdi, dan F. Najjar. Sayangnya, I. Madkour dalam karyanya yang mengagumkan tentang logika Aristoteles dalam tradisi Arab yang diterbitkan pada tahun 1934 hanya menyinggung Al-Farabi sekadarnya saja; sedangkan sesungguhnya dari sekian banyak karya dalam bidang logika dan komentarnya pada bagian-bagian Organon cukup banyak dan orisinil yang sampai kepada kita. Namun, gambaran tersebut telah berubah secara radikal dalam beberapa tahun terakhir karena sejumlah karya logika dan komentar Al-Farabi telah diedit dan diterjemahkan.

Iklan

Posisi dan Kedudukan Al-Farabi (1)

Posted in Posisi dan Kedudukan on Februari 9, 2011 by isepmalik

Abu Nashr Al-Farabi (870-950) dalam sumber-sumber Arab disebut sebagai Guru Kedua (al-Mu`allim al-Tsani) yang menempati posisi unik dalam sejarah filsafat sebagai penghubung antara filsafat Yunani dan pemikiran Islam. Karyanya sangat penting mengenai sejarah logika Aristoteles; dia seorang ahli logika yang memainkan peran penting selama periode antara Boethius (w. 525) seorang konsulat Romawi yang menerjemahkan karya-karya logika Aristoteles ke dalam bahasa Latin, dan Abelard (w. 1141) di Eropa Barat. Para filsuf Arab yang mendahului Al-Farabi, seperti Al-Kindi (w. 866) guru besar mengenai filsafat Yunani yang selaras dengan Islam; tetapi menurutnya dia tidak terlalu memberikan kontribusi signifikan terhadap logika, meskipun dalam hal lain pengetahuannya sangat luas. Al-Razi (w. 925) menjunjung tinggi orang Yunani, khususnya terhadap Plato yang dianggap sebagai master dan pemimpin dari semua filsuf; tapi dia menganggap filsafat dan agama tidak harmonis. Sebagai non konformis terbesar dalam Islam, ia menolak seluruh struktur wahyu dan menggantinya dengan pandangan lima prinsip Islam yang bersifat coeternal, Sang Pencipta (Bari), jiwa, materi, ruang, dan waktu, yang terinspirasi oleh Plato dan Harranian.

Al-Farabi—dalam sebuah risalahnya yang hilang berjudul Rise of Philosophy—menelusuri sejarah filsafat Yunani dari zaman Aristoteles dengan beberapa tahap, pertengahan masa Alexandria, periode Ptolemeus, periode Islam dan sampai masanya sendiri. Dalam beberapa tulisannya yang lain, ia menjelaskan filsafat Aristoteles dan Plato secara rinci dan memberikan catatan ringkas mengenai pra Sokrates. Gurunya dalam logika bernama Yuhanna Ibn Haylan, serta ahli-ahli logika terkemuka sepanjang masa bernama Abu Bishr Matta (w. 940), Israil Quwayri, dan Ibrahim Al-Marwazi yang disebutkan bagian lampiran Rise of Philosophy. Namun, belum ada satupun ahli logika Syria yang telah melampaui empat buku pertama mengenai logika Aristotelian, Isagoge karya Porphyry, Categories, De Interpretatione dan bagian pertama dari Analytica Priora, karena ada peringatan terhadap keyakinan agama Kristen bahwa studi yang lain terutama Posteriora Analytica yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Book of Demonstration (Kitab al-Burhan) diperkirakan hadir. Al-Farabi patut dihormati karena ia merupakan ahli logika pertama yang memutuskan tradisi Syria tersebut; komentar-komentar logis dan parafrasenya menutupi seluruh ajaran logika Aristotelian dengan menambahkan Rhetorica dan Poetica.

Tidak hanya di bidang logika, Al-Farabi juga menjadi tokoh terkemuka dalam bidang kosmologi dan metafisika. Begitu pula Al-Kindi atau Al-Razi memberikan kontribusi substansial dalam sistematisasi kosmologi dan metafisika. Oleh karena itu, Al-Farabi harus dianggap sebagai orang pertama yang membangun sistem sejarah pemikiran Islam-Arab. Dia berpijak di atas skema emanasionis Plotinus dalam sistem kosmologi dan metafisik yang rumit tetapi berani. Dijiwai semangat Neoplatonis dari filsuf Yunani-Mesir, Al-Farabi mengembangkan tulisan utamanya seperti Virtuous City (al-Madinah al-Fadilah) dan Civil Polity (al-Siyasah al-Madaniyah); di dalamnya berisikan skema metafisis yang rumit, konsep-konsep Al-Quran tentang penciptaan, kedaulatan Tuhan di dunia, dan nasib jiwa setelah kematian diinterpretasikan dengan semangat yang sama sekali baru. Skema yang memiliki nilai seni ini kemudian digabungkan dengan skema politik, mengingatkan model utopis Plato di dalam Republic.

Dalam skema metafisik, God atau The First Being (al-Awwal), Al-Farabi lebih suka menyebut dengan kata Him, mengikuti contoh Proclus dari Athena (w. 485) yang merupakan cendekiawan Yunani yang menjadi juru bicara utama Neoplatonisme mengenai puncak dari tatanan kosmik; tetapi tidak seperti The One (Tô hen) dari konsep Plotinus (w. 270) atau The First (Tô Prôton) dari konsep Proclus yang berada di atas keberaaan dan berpikir, konsep God menurut Al-Farabi identik dengan Aristoteles, yaitu Penggerak yang tidak digerakkan, Berpikir dengan sendirinya (‘aql, ‘aqil dan ma’qul), dan Wujud di mana semua makhluk berasal. Dari The First Being, melalui proses emanasi progresif atau keberlimpahan (fayd atau sudur) berturut-turut muncul intelek (‘aql), jiwa (nafs) dan materi pertama (hayula). Setelah itu, unsur takdir telah terpenuhi yang berada dalam ruang asing atau dunia yang dapat di mengerti, jiwa mampu berhubungan (ittisal) dengan intelek terakhir yang dikenal sebagai Intelek Aktif untuk bergabung kembali dengan keadaan awal di dunia yang lebih tinggi.

Meskipun konsep emanasionis memiliki kesamaan dengan konsep Al-Quran mengenai penciptaan (khalq, ibda), tetapi apa yang disajikan dalam Al-Quran mengenai kemahakuasaan dan kemahatahuan Tuhan dihilangkan dari konsep itu (emanasi). Tidak heran bila masalah ini menjadi kontroversi yang paling sengit antara para filsuf Islam dan para teolog (Mutakallimun), sebagaimana diilustrasikan dalam serangan Al-Ghazali (w. 1111) kepada dua juru bicara utama Neoplatonisme dalam Islam, yaitu Al-Farabi dan Ibn Sina (w. 1037). Bentuk kontroversi tersebut mengenai apakah konsep dunia sebagai emanasi abadi atau kekal dari Tuhan; pada sisi lain doktrin Islam mengatakan bahwa dunia dibuat untuk jangka waktu tertentu dan bermula dari ex nihilo (hadits, muhdats) oleh tindakan Tuhan dengan perintah yang pasti (amr).

Kontroversi yang berhubungan dengan jiwa (nafs), apakah jiwa manusia hanyalah sebuah fragmen sederhana dari jiwa universal yang bergerak di ruang surgawi dan melalui Intelek Aktif dapat hidup di bumi; atau, jiwa merupakan ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk bertahan ketika tubuhnya hancur, lalu disatukan kembali secara ajaib di akhirat.

Menurut skema Neoplatonis Islam—di mana Al-Farabi adalah orang pertama yang mengembangkannya—rangkaian intelek (‘uqul) dan jiwa (nufus) berakhir pada kemunculan bumi yang terdiri dari suatu entitas hidup dan mati, disebut dunia. Skema ini tidak diragukan lagi berasal dari Neoplatonis; meskipun ada yang mengkaitkan dengan Aristoteles, hal itu karena sebuah kecelakaan sastra yang aneh, yaitu terjemahan dari tiga buku terakhir karya Plotinus yang berjudul Ennead secara keliru dikaitkan dengan Aristoteles dan diedarkan dengan judul Atulugia Aristutalis (The Theology of Aristotle) atau Book of Divinity.