Archive for the Teori Chaos Category

Chaos dan Kreativitas

Posted in Teori Chaos on Februari 28, 2011 by isepmalik

Bagi manusia, kreativitas adalah tentang apa yang diperoleh melebihi dari apa yang kita ketahui, sampai kepada “kebenaran”. Di situlah chaos mulai masuk.

 

Kita semua tentunya dikondisikan oleh masyarakat. Kondisi dipaparkan dengan kepastian yang jelas, dilengkapi gambaran atau peta yang lengkap mengenai realitas dan bagaimana kita harus bertindak di dalamnya. Kita dilatih untuk menerima dan bergerak dalam realitas sejak keluar dari rahim.

 

Kebiasaan kita dalam berpikir, berpendapat, mengalami, bahkan “fakta” di dunia mirip dengan umpan balik negatif loop yang memasuki lingkaran untuk menjaga kita di dasar tempat yang sama. Loop seperti itu membatasi, umpan balik negatif jelas diperlukan untuk mempertahankan masyarakat yang stabil, tetapi bisa berakibat mengerikan jika percaya bahwa itu semua ada untuk hidup kita. Bahayanya mungkin seperti anjing dalam percobaan Pavlov—kelenjer bereaksi setiap kali bel berbunyi. Dan masyarakat seolah-olah dipenuhi dengan lonceng.

 

Sering terjadi bahwa kebiasaan berpikir yang seharusnya akan menghasilkan kepastian “pengetahuan” tentang dunia, tetapi malah menghasilkan distorsi dan menipu tentang realitas. Yang lebih penting, pendapat dan fakta yang merupakan pengkondisian itu mungkin akhirnya akan mengaburkan “kebenaran” dan keaslian yang lebih dalam tentang keberadaan pengalaman pribadi kita di dunia.

 

Apa yang dimaksud dengan “kebenaran”? Dalam budaya relativisme postmodern, kata “kebenaran” telah menjadi biasa dengan asosiasi yang negatif. Sulit untuk menggunakan cara apapun yang otentik. Banyak orang yang menganggap dirinya cendekia pada masa sekarang menghindari hal itu, karena di masa lalu mereka mengaku memiliki kebenaran dan cenderung memaksakan pada orang lain, seringkali dengan cara kekerasan. Dengan semua keragaman dunia modern, bagaimana kita memilih antara kebenaran yang ditawarkan oleh berbagai agama dan budaya? Tetapi yang kami maksud dengan kebenaran di sini tidak dapat dimiliki sendiri dan dipaksakan pada orang lain.

 

Salah satu makna awal terkait dengan gagasan yang “benar” berasal dari konteks upaya seseorang membuat hal yang lurus dan seimbang. Demikian pula kehidupan seseorang dapat dikatakan “benar” bila bergerak dalam jalan yang lurus, tidak terdistorsi, dan tetap begitu hingga saat ini. Di sini, kata “kebenaran” bukan berarti sesuatu yang mutlak (kebenaran adalah kebenaran) atau relatif (Anda memiliki kebenaran dan saya pun memilikinya sendiri). Sebaliknya, kebenaran adalah sesuatu yang berwujud pada saat ini dan sifat ekspresif dari koneksi individu dengan keseluruhan.

 

Filsuf India bernama J. Krishnamurti menjelaskan kebenaran seperti ini: “Kebenaran bukanlah suatu titik tetap; tidak statis, tidak dapat diukur dengan kata-kata; bukan pula konsep, tetapi sebuah ide yang akan dicapai”.[1] “Tidak ada jalan untuk kebenaran”, tegasnya. Kebenaran tidak sampai melalui teknik, disiplin, atau logika. Hal ini bukan sesuatu yang kita setujui atau tidak. Kebenaran adalah apa yang kita pegang bersama-sama, namun secara individu harus keluar dari syarat dan kondisi hidupnya yang unik.

 

Novelis bernama Joseph Conrad menulis tentang kebenaran sebagai “perasaan dasar mengenai persekutuan dengan semua ciptaan, terutama di dalam kehalusan hati yang tak terhitung banyaknya”.[2] Conrad meyakini bahwa kebenaran sejati dapat ditemukan di setiap tempat dan waktu—dalam hal-hal yang kecil maupun besar.[3] Tapi kita seringkali terjebak dengan memandang dunia melalui ide, pendapat, dan emosi mengenai kebenaran yang tepat sebagaimana dirujuk Conrad.

 

Memahami kebenaran adalah keutamaan dari pelukis Perancis bernama Paul Cezanne. Dia berusaha keras untuk mencatat sensasi kanvas yang timbul dalam dirinya saat ia duduk di depan subjek. Tujuannya bukan untuk melukis “ide”, tetapi persepsi kebenaran saat demi saat ketika menghubungkan dengan kehidupan di depannya. Dia membuat gerakan-gerakan kecil dari kepalanya saat akan mulai melukis, setiap gerakan tersebut akan menghasilkan persepsi dan menuangkan apa yang sebelumnya dilihat melalui cat.[4] Oleh karena itu lukisannya menghasilkan rangkaian titik-titik bervisi yang disebut “keraguan Cezanne”.[5] Cezanne percaya bahwa dalam fluktuasi “sensasi kecil” ini terletak kebenaran persepsi itu.[6] Ia mendorong kita untuk mempelajari gerakan kebenaran dengan cara terus-menerus bertanya mengenai apa yang kita lihat dan pikirkan tentang dunia.

 

Kebenaran dan chaos dihubungkan. Hidup dengan keraguan kreatif berarti masuk ke dalam chaos sehingga dapat menemukan wujud kebenaran yang “tidak dapat diukur dengan kata-kata”.


[1] Krishnamurti, Jiddu. “Krishnamurti Foundation Bulletin,” November 1989.

[2] Conrad, Joseph. Typhoon and Other Tales. New York: New American Library, 1925, hal. 22.

[3] Gagasan Conrad bahwa kebenaran tentang seluruh hidup ini terkandung dalam setiap bagian dalam teori chaos. Teori chaos memberitahu kita bahwa skala kecil mencerminkan hal yang sama untuk skala besar. Dengan “sungguh-sungguh” melihat di bagian tersebut, Conrad mengatakan “kita bisa melihat gerakan dari keseluruhan”.

[4] Shiff, Richard. “Cezanne’s physicality: The politics of touch.” The Language of Art History. Cambridge: Cambridge University Press, 1991.

[5] Medina, Joyce. Cezanne and Modernism: The Poetics of Painting. Albany: State University of New York Press, 1995.

[6] Merleau-Ponti, Maurice. “Cezanne’s doubt.” Sense and Nonsense. Evanston, Ill.: Northwestern University Press, 1964.

Iklan

Menjadi Kreatif

Posted in Teori Chaos on Januari 21, 2011 by isepmalik

Bagaimana manusia pertama kali membuat panah atau lukisan gua? Bagaimana Einstein menemukan teori relativitas? Apa yang terjadi ketika kita memiliki gagasan asli? Apakah kreativitas? Mengapa ada apa-apa yang awalnya tidak ada apa-apa?

 

Teori chaos menawarkan wawasan yang jauh terhadap pertanyaan di atas—wawasan yang dikenakan pada sifat masing-masing kita sebagai makhluk kreatif.

 

Sebelum menjelajahi wawasan ini, sangat membantu untuk menyadari bahwa pada abad dewasa ini banyak orang yang sangat ambivalen dan menerima informasi yang salah tentang kreativitas. Jika Anda terus bertanya, mereka akan berapologi bahwa tidak benar-benar merasa sangat kreatif karena kreativitas merupakan “hadiah” atau “bakat” khusus yang diperuntukkan bagi beberapa orang. Gagasan bahwa kreativitas hanya terbatas bagi individu khusus adalah salah satu mitos.

 

Ironisnya, orang-orang mengagumi produk yang dibuat ‘pencipta’ (puisi, lukisan, musik, penemuan-penemuan ilmiah), bahkan percaya bahwa ‘pencipta’ bisa sampai mendalami hakikat hidup. Sampai tahap ini, orang-orang memiliki gambaran terhadap ‘pencipta’ sebagai agak gila. Dengan kata lain, kreativitas dan kegilaan berjalan seiring. Hal ini sesuai dengan gagasan bahwa kreativitas bersifat abnormal.

 

Kebanyakan dari kita percaya bahwa ‘pencipta’ melakukan kontrol atas karya mereka, sementara pada saat yang sama ada pandangan bahwa kreativitas bersumber atas inspirasi yang tidak memiliki kontrol (“datang kepada mereka”).

 

Kita juga mempercayai bahwa seseorang bisa menjadi kreatif dengan bekerja di salah satu bidang kreatif yang diakui seperti musik, film, lukisan, teater, atau matematika tingkat tinggi. Kita tidak akan menerapkan kata “kreativitas” pada kegiatan mengamati alam, mengingat mimpi, berbicara dengan seseorang, atau mempelajari sebuah karya seni. Padahal penyair dan seniman sendiri mengakui bahwa tindakan semacam itu sangat kreatif.

 

Sebuah mitos akhir—sulit untuk memperbaikinya—berupa tujuan utama dari ‘pencipta’ adalah membuat sesuatu yang baru. Metafor teori chaos membantu kita melampaui kesalahpahaman ini dan dalam proses mengajari kepada kita sesuatu yang “kreatif” tentang kehidupan.