Archive for the Filsafat Barat Category

Tradisi dan Faham Orang Awam

Posted in Sumber Pengetahuan with tags , , , , , on November 17, 2012 by isepmalik

Filsafat adalah suatu perkembangan yang agak baru dalam perjuangan manusia yang panjang untuk memahami segi kehidupannya. Pada waktu sekarang juga, hanya sebagian kecil dari manusia yang secara sungguh-sungguh mempunyai pandangan terhadap problema-problema kehidupan manusia yang fundamental yang dipikirkan oleh para filosof. Mayoritas yang terbanyak hanya mengikuti pendapat atau kepercayaan yang didasarkan atas tradisi dan adat kebiasaan. Marilah kita bicarakan secara ringkas pendapat-pendapat (tradisi dan adat) sebelum kita menyelidiki sumber-sumber yang pokok dari pengetahuan kita.

Kita dilahirkan dalam kelompok-kelompok sosial yang memilih cara-cara tertentu untuk bertindak, merasakan dan berpikir. Kita sadar akan diri kita dan dunia di sekeliling kita. Kita berkenalan dengan orang lain dan mengenal benda-benda melalui pengalaman-pengalaman yang bertambah luas. Kesadaran kita mencakup sentuhan, penglihatan, pendengaran, pencicipan dan daya cium. Pada waktu obyek (atau hubungan – relation -, kualitas, dan sebagainya) dan suara terkumpul dengan melalui asosiasi atau conditioning yang disengaja, kita membentuk kata-kata dan belajar nama benda-benda. Kata-kata dikelompokkan dalam kalimat (sentence) ketika mengetahui bahasa. Kejadian-kejadian kesadaran kita adalah sangat khusus karena tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang kita rasakan. Walaupun begitu, kita menganggap bahwa pengalaman-pengalaman orang lain sama dengan pengalaman-pengalaman kita.

Jika kita menjadi besar dan mendapatkan pengalaman-pengalaman, kita memperoleh adat kebiasaan, perasaan (feeling), pikiran, kepercayaan, dan ingatan-ingatan yang nampaknya dapat diandalkan cara-cara bertindak dan berpikir sebagai tersebut di atas, yang dilakukan oleh anggota-anggota kelompok tanpa rasa ragu-ragu atau mempertanyakan, adalah adat kebiasaan dan tradisi yang cenderung untuk mengikat individu dalam satu jalan. Sering manusia melihat kepada fikiran kelompok untuk membentuk pikirannya sendiri. Cara bertindak dan berpikir, beralih dari suatu generasi ke generasi lain dengan sarana tradisi, meniru dan pengajaran. Cara yang umum untuk memandang kepada sesuatu ini biasanya dinamakan paham orang awam (common sense). Dengan begitu maka common sense adalah istilah yang luas untuk pendapat-pendapat yang dimiliki oleh tiap anggota kelompok.

Kebijaksanaan yang diperoleh ini (bukan bawaan) mencakup kaidah (maxim) dan peribahasa yang praktism pendapat-pendapat tentang praktek yang diikuti oleh orang ramai, dan kepercayaan yang tidak diucapkan akan tetapi dpegang teguh oleh anggota kelompok. Bahwa anak-anak harus tunduk kepada perintah ibu-bapak mereka, bahwa organisme binatang mempunyai umur tertentu, bahwa benda yang lebih berat dari udara akan jatuh ke bumi, dan bahwa benda-benda itu ada, terlepas dari kita dan dari pengetahuan kita tentang benda-benda tersebut, semua ini dapat dimasukkan ke dalam keyakinan-keyakinan yang tak terhitung jumlahnya dan yang timbul dari pengalaman manusia. Di antara sifat-sifat pendapat orang awam, kita cantumkan empat yang penting seperti di bawah ini:

Pertama, pendapat orang awam condong untuk bersifat kebiasaan dan meniru, yang diwarisi dari masa silam. Ia bersandar kepada adat dan tradisi. Apa yang menjadi adat dan tradisi bagi suatu kelompok menjadi kebiasaan dan kepercayaan bagi pribadi-pribadi. Kepercayaan orang awam biasanya dikatakan sebagai peribahasa atau kaidah yang datang dari masa lalu. Umpamanya, peribahasa Inggris: “Spare the rod and spoil the child” (jangan memakai cambuk dan anakmu akan jadi manja).

Kepercayaan orang awam membatasi kemauan dan tingkah laku individu seta menekankan kepada cara-cara kelompok yang sudah dicoba dan disepakati. Karena itu maka paham orang awam biasanya dianggap sinonim dengan good sense dan orang memiliki common sense dianggap sebagai seorang yang mempunyai pertimbangan yang sehat.

Kedua, pendapat orang awam biasanya samar-samar dan tidak jelas. Pendapat itu seringkali dangkal dan dapat berbeda dari seseorang kepada orang lain, dan dari suatu daerah ke daerah lain. Paham orang awam adalah campuran dari fakta dan purbasangka, dari kebijaksanaan dan kecenderungan emosi. Ia mencakup pendapat-pendapat yang telah terbentuk tanpa pemikiran yang teliti atau kritik, umpamanya “The good die young” (orang-orang yang baik mati pada usia muda). Selain dari itu pendapat orang awam mencakup semua bidang kehidupan dalam arti bahwa ia adalah kepercayaan yang tidak terkhususkan (spesialis). Pada suatu waktu ia mungkin menjadi unsur kekuatan dan keseimbangan. Ia memungkinkan kita untuk menganggap faham orang awam sebagai sebaliknya dari pendapat-pendapat spesialis yang ekstrim atau berat sebelah yang melihat dunia dan kehidupan dari segi yang sangat sempit. Walaupun begitu kepercayaan orang awam dapat menyesatkan orang sebagaimana ia dapat menuntun ke arah yang benar. Dalam dunia yang kompleks dan berubah secara cepat, paham orang awam sering tidak cukup untuk menghadapi atau mengatasi situasi yang baru dan belum terkenal.

Ketiga, pendapat orang awam, kebanyakan merpakan kepercayaan yang belum diuji. Tidak seperti orang yang kebanyakan cenderung untuk percaya, pendapat orang awam bukannya pernyataan tentang fakta yang didasarkan atas perasaan dari tangan pertama atau pengalaman-pengalaman lain. Sebagai contoh, ada pepatah bahasa Inggris: Red-headed people are quick-tempered (orang yang rambutnya merah lekas marah). Seperti orang-orang yang tidak berambut merah, ada yang lekas marah dan ada pula yang tidak. Kasus-kasus positif biasanya menguatkan pendapat, sedang kasus-kasus negatif biasanya tidak dipakai untuk menolak kepercayaan itu. Walaupun mereka yang memegang teguh pikiran-pikiran tersebut mungkin mengira bahwa pikiran mereka itu sangat jelas, pada hakikatnya pikiran tersebut didasarkan atas tanggapan-tanggapan yang sering tidak diselidiki dan karenanya perlu untuk dicek dan dikritik. Walaupun banyak pikiran orang awam yang dapat dibenarkan, sejarah sains dan filsafat membuktikan bahwa pandangan pertama (first look) tidak selalu benar dan benda-benda itu tidak selalu seperti apa yang nampak kepada penglihatan kita.

Keempat, pendapat orang awam jarang disertai dengan penjelasan mengapa benda-benda itu seperti yang dikatakan. Penjelasan tidak ada, atau jika ada, ia terlalu umum sehingga tidak memperhatikan kekecualian atau kondisi-kondisi yang membatasi. Sebagai contoh: jika air dikatakan membeku pada temperatur rendah, mengapa begitu. Dan mengapa air yang mengalir dan air asin tidak membeku pada kondisi yang sama seperti air yang tenang dan tawar? Untuk membedakan sains daripada faham orang awam, Ernest Nagel berkata: “Yang menimbulkan sains adalah keinginan untuk penjelasan yang bersifat sistematis dan dapat dikontrol dengan bukti-bukti fakta; maksud yang jelas dari sains adalah untuk mengatur dan mengelompok-ngelompokkan pengetahuan atas dasar prinsip-prinsip yang menjelaskan.[1]

Kita tidak pernah dapat membebaskan diri dari faham orang awam, walaupun kita sudah mendapat pengetahuan yang sangat jauh atau memiliki pengetahuan yang sangat khusus (spesial). Barangkali ada baiknya bahwa kita tidak pernah meninggalkan kepercayaan faham orang awam, karena faham orang awam dapat berguna sebagai cek terhadap hal-hal yang samar-samar (blind spots) yang timbul dalam pikiran orang jika ia terlalu berspesialisasi. Tetapi, jika harus dipakai untuk maksud yang berfaidah itu, faham orang awam perlu diperiksa kembali secara teliti.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] The Structure of Science (New York: Harcourt, Brace and World, 1961), hal. 4.

Iklan

Persoalan-persoalan Pokok dalam Teori Pengetahuan

Posted in Sumber Pengetahuan with tags , , , , , on November 16, 2012 by isepmalik

Pertanyaan: “Apakah yang dapat saya ketahui?” menduduki tempat yang sentral dalam filsafat sejak zaman Plato di Yunani purba. Semenjak Renaisans, dan sampai sekarang, persoalan ini telah diperdebatkan dalam tulisan-tulisan para filosof. Pengetahuan sekadarnya tentang problem yang berkaitan dengan persoalan tersebut adalah sangat perlu sebagai latar belakang untuk memahami banyak dari sistem-sistem pokok dalam filsafat yang akan kita bicarakan dalam Bagian IV. Soal tersebut bukannya hanya merupakan yang terpenting akan tetapi juga yang lebih sukar dalam bidang filsafat. Para pengarang buku ini telah berusaha untuk menyajikan problema dalam bahasa yang tidak terlalu teknis sedapat mungkin tanpa mengorbankan arti dan ketepatan.

Apakah watak pengetahuan manusia itu? Apakah akal manusia yang dapat mengetahui itu? Apakah kita mempunyai pengetahuan yang sesungguhnya yang dapat kita andalkan, atau kita harus merasa puas dengan sekadar pendapat dan dugaan. Apakah kita ini terbatas kepada fakta-fakta pengalaman atau kita dapat mengetahui di belakang hal-hal yang diungkapkan oleh indra?

Istilah untuk teori pengetahuan adalah epistemologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani: episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui? Ini adalah persoalan tentang “asal” pengetahuan. (2) Apakah watak pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar di luar fikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang apa yang kelihatan versus hakikatnya (reality). (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah soal entang mengkaji kebenaran atau verifikasi. Soal-soal ini semua akan kita bahas dalam fasal ini dan dua fasal sesudahnya. Dalam fasal 12 kita akan membahas metoda ilmiah untuk penyelidikan serta hubungan antara sains dan filsafat.

Banyak kepercayaan yang pada suatu waktu dianggap benar, ternyata salah. Manusia pada suatu waktu yakin bahwa bumi ini datar, bahwa setan-setan penyebab penyakit dapat dihalau keluar dengan suara yang keras dan bahwa dalam mimpi, jiwa kita benar-benar pergi ke tempat dan zaman yang jauh. Kepercayaan ini yang pada suatu waktu dipegang teguh, sekarang ini secara universal sudah ditinggalkan. Apakah kejadian semacam itu dapat terjadi juga kepada pengetahuan kita sekarang.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Kemerdekaan Sipil

Posted in Kebebasan & Hukum with tags , , , , , on November 16, 2012 by isepmalik

Perjuangan kemerdekaan manusia telah ada semenjak lama dalam sejarah sehingga kita tidak tahu lagi pada zaman yang mana; dan perjuangan lama itu terus berlangsung tanpa mengendur pada waktu ini di Amerika Serikat, Eropa, Asia dan Afrika. Kita dapatkan tradisi Anglo Saxon dan prakteknya, dan atas dasar hukum konstitusi atas Common Law Inggris dan prakteknya, dan atas dasar hukum konstitusi Amerika dan prakteknya. Semua itu adalah tradisi kemanusiaan yang bermaksud untuk menjamin dan memelihara kebebasan sambil menjaga ketertiban. Manusia ingin kebebasan, tetapi juga ingin tata tertib dan keamanan. Tata tertib adalah perlu untuk memelihara dan memperluas bidang kebebasan, akan tetapi nilai-nilai ini kadang-kadang nampak bertentangan. Persoalannya adalah untuk menjaga keseimbangan yang akan mempertahankan hak-hak perorangan dan masyarakat, karena selalu akan timbul bahaya jika pemerintah emmpunyai terlalu sedikit atau terlalu banyak kekuasaan.

Banyak halaman besar dalam sejarah menceritakan perjuangan yang timbul dari keyakinan dan jiwa demokrasi dan sebagai usaha untuk mencapai kebebasan di bawah hukum dan tata tertib. Manusia ingin menghilangkan batasan-batasan buatan serta hambatan terhadap perkembangan pribadi serta ekspresi mereka. Mereka ingin mengendalikan kekuasaan yang arbitrer dan tidak bertanggung jawab, serta memperluas kebebasan ekonomi dan politik. Sebagai contoh, sejarah meriwayatkan kepada kita penghapusan perbudakan: perbudakan petani, perbudakan karena hutang, dari kebanyakan negara di dunia, perkembangan majelis-majelis perwakilan rakyat, perluasan kemerdekaan berpolitik dan beragama, emansipasi wanita dan golongan minoritas dan sebagainya. Perjuangan tetap terus dan nampaknya tak akan berhenti dalam zaman kita. Setelah perjuangan dan perdebatan selama berabad-abad, masyarakat-masyarakat yang merdeka telah merumuskan prinsip-prinsip dan usaha-usaha penjagaannya serta menjamin sebagiannya dalam keputusan-keputusan yang formal dan legal. Kebebasan berfikir, berbicara, menulis, berkumpul dan beragama, hak untuk tidak setuju, protes atau oposisi adalah sebagian dari hak-hak kebebasan yang sangat diidam-idamkan. Kita dapat meningkatkan bermacam-macam kebebasan tersebut dalam istilah “civil liberties”.

Dalam negara-negara demokratis, sekarang terdapat dua sikap umum terhadap kebebasan-kebebasan ini. Sikap pertama mengatakan bahwa harus ada kebebasan yang mutlak tanpa pembatasan kecuali “jangan sampai merugikan orang lain”. Sikap kedua adalah sikap orang-orang yang berpendirian bahwa harus ada pembatasan.

Pendukung airan kebebasan mutlak berpendapat bahwa pendapat-pendapat yang menyangkut kepentingan umum harus dapat diutarakan tanpa gangguan. Tak boleh ada orang yang dikendalikan dalam menyatakan pendapatnya. Hal ini nampaknya adalah sikap yang ingin dilindungi oleh First Amandement (amandemen pertama) dari United Stated Constitution (Konstitusi Amerika Serikat). “Kongres tidak boleh mengadakan hukum tentang pembentukan agama atau melakukan peribadatan agama itu, atau menciutkan kebebasan bicara dan kebebasan persurat-kabaran, atau hak rakyat untuk bersidang secara damai atau hak untuk minta kepada pemerintah agar menghilangkan kesulitan”. (Congress shall make no law respectingan establishment of religion or prohibiting the free exercise thereof; or abridging the freedom of speech or of the press; or the right of the people peaceably to assemble, and to petition the government for a redress of grievances).

Thomas Jefferson pada waktu hidupnya dan American Civil Liberties Union pada zaman kita sekarang, setuju dengan sikap tersebut. jefferson berkata: “Sudah datang waktunya untuk maksud-maksud yang wajar dari pemerintah sipil, bagi petugas-petugasnya untuk campur tangan jika prinsip-prinsip menjelma menjadi tindakan melawan keamanan dan ketertiban”.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Hukum Moral sebagai Ukuran Etika

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 28, 2012 by isepmalik

Satu dari sistem etika yang besar telah dibentuk oleh Immanuel Kant (1724-1804). Untuk menilai Kant sebaik-baiknya, kita harus membaca karangan-karangannya tentang etika, khususnya “Metaphysics of Morals” dan “Critique of Practical Reason”. Filsafat moral Kant kadang-kadang dinamai formalisme, karena ia mencari prinsip-prinsip moral yang baik atau yang jahat secara inherent, tanpa memandang kepada keadaan. Prinsip-prinsip moral atau hukum, menurut Kant, adalah diakui secara langsung sebagai benar dan mengikat.

Kant mewarisi rasa hormat kristiani terhadap hukum Tuhan dan harga pribadi seseorang. Ia juga mendapat pengaruh filsafat Yunani dan filsafat abad ke-18 yang menjunjung akal setinggi-tingginya. Menurut Kant filsafat moral tidak membahas apa ang ada akan tetapi apa yang seharusnya ada. Kita masing-masing mempunyai rasa kewajiban, “saya harus”, atau hukum moral yang secara logis berada lebih dahulu daripada pengalaman, dan rasa kewajiban tersebut muncul dari watak kita yang paling dalam. Hukum moral menghubungkan kita dengan tata alam, karena hukum alam dan hukum akal pada dasarnya sama.

Setelah hukum moral, atau rasa kewajiban, Kant menghubungkan kita dan niat baik sebagai pusat. “Di dunia ini, bahkan juga di luar dunia, tak ada yang dapat dinamakan baik tanpa tambahan (qualification) kecuali niat yang baik.” Kecerdasan dan keberanian, biasanya baik, akan tetapi dapat juga dipakai untuk mengembangkan kejahatan,. Kebahagiaan mungkin diperoleh dengan jalan yang rendah. Seseorang mungkin memberi sumbangan tetapi niatnya untuk mencari nama atau karena tidak berani menolak permintaan. Niat baik adalah niat yang berdasarkan kewajiban; ia bertindak hanya atas dasar rasa hormat terhadap prinsip kewajiban. Jika seseorang bertindak karena motif yang baik, tindakannya adalah baik; kita tidak memandang kepada hasil atau akibat-akibatnya. Kant tidak mengatakan bahwa akibat-akibat itu tidak perlu diperhatikan atau tidak penting. Ia hanya mengatakan bahwa kualitas moral sesuatu tindakan tidak ditetapkan oleh akibat-akibatnya.

Jika kemauan atau motif dipimpin oleh akal dan bukan sekadar oleh kemauan, maka kemauan tersebut adalah mutlak dan tanpa syarat; ini berarti bahwa mengikutinya adalah suatu kewajiban, dan tak ada pengecualian dalam hal ini. Ajakan kepada kewajiban yang brasal dari dalam adalah hukum moral atau menurut istilah Kant “the categorical imperative”. Kant memberi tiga ukuran atau formulasi tentang hukum moral.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Ukuran-ukuran Etika

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 21, 2012 by isepmalik

Kesadaran tentang situasi moral (menghadapi alternatif, tuntutan-tuntutan hidup, bahan-bahan kehidupan moral, pertimbangan tentang pendorong, sarana dan akibat) membawa kita kepada soal ukuran-ukuran etika.

Semenjak zaman Yunani Kuno dan orang Yahudi, manusia telah memikirkan prinsip-prinsipnya dan problem tentang mana yang benar dan mana yang salah. Pemikiran-pemikiran etika telah muncul dalam bermacam-macam bentuk dan penjelasan. Suatu penjelasan yang berpengaruh dan masih ada sampai sekarang di antaranya adalah: ukuran kenikmatan, kesenangan (pleasure), penjelasan Imanuel Kant, wakil formalisme yang sangat cakap, John Stuart Mill, penganjur utilitarianisme (mazhab manfaat) yang termasyhur, dan Plato, seorang humanis yang besar. Ukuran-ukuran etika yang lain menekankan hukum realisasi diri (self-realization) dan ideal keagamaan.

 

Kenikmatan sebagai Pedoman Etika

Teori-teori etika yang dinamakan teleological, yakni yang berdasar kepada maksud adalah teori yang menganggap suatu tindakan benar atau salah dalam hubungannya dengan maksud atau tujuan yang dianggap baik. Doktrin yang mengatakan bahwa kenikmatan atau kebahagiaan (happiness) adalah “baik” yang terbesar dalam kehidupan, ada tiga yaitu: Hedonism, Epicureanism dan Utilitarianisme.

Hedonism berasal dari kata Yunani “Hedona” yang berarti kelezatan. Epicureanism, nama yang dinisbahkan kepada Epicurus, seorang Yunani yang menyiarkan aliran kelezatan. Semenjak zaman Jeremy Bentham dan John Mill pada abad ke-19, yang terpakai adalah kata “utilitarianism”.

Menurut John Stuart Mill (1806-1873) utilitarianism menggunakan utility (manfaat) atau the greatest happiness (kebahagiaan yang terbesar) sebagai dasar moralitas. Karangan John Stuart Mill yang singkat tetapi sangat menarik, yaitu Utilitarianism yang membahas tentang filsafat moral, harus dibaca oleh setiap mahasiswa. Mill menerima pandangan Jeremy Bentham (1748-1832) yang menggunakan kata-kata “the greatest happiness of the greatest number” (kebahagiaan terbesar bagi jumlah yang terbesar). Bentham mengatakan bahwa alam telah menempatkan manusia di bawah tuntutan dua guru, yaitu kelezatan (pleasure) dan kesakitan (pain). Manusia adalah makhluk yang mencari kelezatan (pleasure seeking) dan menghindari rasa sakit (pain avoiding). Bentham menjelaskan teorinya dalam istilah: kuantitatif dan mengharap untuk membina etika kemanfaatan atas dasar ilmiah. Dalam menjawab kritik yang dilontarkan orang kepada sikap Bentham, Mill mengubah sikap tersebut dengan menambah unsur-unsur baru.

Perubahan terpenting yang dilakukan oleh Mill dalam aliran Utilitarianisme adalah dengan menambah ukuran kualitatif. Manusia dengan fikirannya yang tinggi tidak merasa puas dengan kelezatan jasmani. Manusia mencari kenikmatan yang lebih besar, yaitu kesenangan ruhani. Sekali seseorang hidup di tingkat yang tinggi, ia tidak akan mau turun lagi ke tingkat hidup yang lebih rendah. Hal ini adalah karena manusia mempunyai rasa dignity (harga diri). “Adalah lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada menjadi seekor babi yang puas. Lebih baik menjadi Socrates yang tidak puas daripada menjadi orang bodoh yang puas”.

Mill mempertahankan Utilitarianisme dengan gigih terhadap dakwaan bahwa alirannya membantu tersiarnya sifat mementingkan diri sendiri (selfishness). Ia mengatakan bahwa kebaikan untuk semua dan kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi jumlah yang terbesar harus menjadi ukuran tentang tindakan yang baik. Karena kita hidup dalam masyarakat yang tidak adil. Pengorbanan itu bukannya tujuan; ia adalah sarana kepada kebahagiaan yang lebih besar untuk jumlah yang lebih besar. Walaupun tidak semua orang mencari kebahagiaan, namun mereka harus mencarinya. Untuk menambah jumlah kebahagiaan yang terbesar dan bukan kebahagiaan pribadi adalah sari dari pendapat Mill.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Pendorong, Sarana dan Akibat Moral

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 15, 2012 by isepmalik

Mencari jalan bertindak, memilih alternatif yang benar tidaklah selalu mudah. Jika terdapat konflik kepentingan, pemecahannya mungkin memerlukan kecerdasan yang besar dan kemauan baik, sehingga walaupun kita sudah mempunyainya kita mash ragu-ragu apakah kita telah bertindak betul atau tidak. Untuk memberi pertimbangan tentang tingkah laku kita perlu memikirkan pendorng, sarana dan akibat-akibatnya. Semua itu harus kita perhatikan.

 

Pendorong

Motif seperti telah dikatakan oleh Nabi Isa dan Kant· dan lain-lain adalah ketepatan (determination) yang pokok bagi moralitas. Suatu pendorong yang baik adalah syarat tingkah laku yang kita setujui sepenuhnya tanpa syarat. Jika terdapat niat baik dan sesuat tindakan berakibat jelek karena suatu faktor yang tak dapat diperkirakan, kita condong untuk tidak menyetujuinya tetapi dengan cara yang lebih lunak, serta mengatakan: Bagaimanapun, ia bermaksud baik. Jika orang bertanya: “Apakah yang benar dalam situasi ini?” biasanya niat mereka itu baik dan mereka berusaha untuk mencari jalan yang benar untuk melakukan tindakan itu.

 

Sarana

Mungkin terdapat beberapa motif untuk menginginkan sesuatu, begitu juga mungkin terdapat beberapa sarana untuk mendapatkannya. Kita mengharapkan seseorang untuk memakai cara yang sebaik-baiknya guna mencapai maksud. Kita mencela seorang mahasiswa yang menipu dalam ujiannya. Kadang-kadang kita menyetujui suatu tindakan yang dilakukan dengan sarana-sarana yang dalam kondisi lain harus dicela. Kita mengambil contoh seorang manajer teater yang mengetahui bahwa di belakang panggung terjadi kebakaran. Ia menyelamatkan para penonton dan ingat suatu peristiwa yang sama dan pernah terjadi; pada waktu itu penonton panik kebingungan dan berdesak-desak keluar. Akibatnya banyak yang menderita kecelakaan dan banyak pula yang mati. Manajer tadi mengumumkan di depan penonton bahwa pertunjukan harus dihentikan dengan dalih yang tidak benar. Ia bohong tetapi gedung itu menjadi kosong dan jiwa para penonton selamat. Anggapan bahwa sarana apa saja dapat digunakan dengan syarat bahwa tujuannya baik adalah suatu prinsip yang berbahaya; tetapi terjadi peristiwa-peristiwa di mana kebaikan maksud lebih kuat daripada cara jahat yang tak dapat dihindarkan. Biasanya akibat yang baik hanya dapat dicapai dengan cara yang baik. Sekali dipilih, sarana itu menjadi bagian dari efek umum suatu tindakan.

 

Akibat

Kita mengharap bahwa akibat-akibat tindakan yang baik akan baik juga. Biasanya jika orang-orang bertanya: “Apakah kebenaran itu?” mereka memikirkan akibat-akibat tindakan. Tindakan adalah baik jika ia didasarkan atas niat yang baik. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, kita mencela tindakan tersebut atau menyetujuinya dengan beberapa syarat (reservation). Jarang sekali kita menyetujui suatu tindakan jika hasilnya jahat. Dalam contoh seorang dokter yang melakukan pembedahan yang teliti terhadap seorang pasien, tetapi si pasien tadi meninggal. Walaupun segala usaha telah dilakukan untuk menyelamatkannya, kita menyetujui tindakan tersebut karena motifnya baik dan karena melihat pengetahuan yang ada pada waktu itu, kita mengira bahwa tindakan tersebut seharusnya akan membawa akibat yang baik.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


  • · Hadits Nabi: Innamal a’maa-lu bin-niyaat: “Sesungguhnya pahala baik itu karena niatnya.” (Hadits panjang).

Situasi Moral

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 11, 2012 by isepmalik

Moralitas adalah suatu masalah bagi pelaku-pelaku moral, makhluk-makhluk yang bertindak, yang melakukan pilihan dan yang melakukan sesuatu secara sadar. Kehidupan kita sebagai pelaku-pelaku moral meminta sesuatu dari kita dan dengan begitu memberi kewajiban kepada kita, sehingga kita mempunyai kewajiban dan hak. Di dalam setiap makhluk yang normal terdapat pendorong yang berasal dari proses kehidupan itu sendiri dan mengarah kepada perkembangan serta pemenuhan hidup—moralitas muncul dari kehidupan dan hajat-hajatnya; ia muncul dari watak kita sendiri sebagai manusia dan dari watak dunia di mana kita hidup. Tuntutan-tuntutan kehidupan itu sendiri menghadapkan kita kepada alternatif-alternatif moral dan kita dapat mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut secara lebih baik jika kita mengetahui seluk beluk kehidupan moral.

 

Kehidupan Memajukan Tuntutan-tuntutan Kepada Kita

Marilah kita bicarakan tuntutan-tuntutan yang dihadapi pribadi-pribadi, yaitu tuntutan-tuntutan yang menyebabkan kota memilih alternatif-alternatif moral.

1. Tuntutan-tuntutan fisik. Terdapat kebutuhan-kebutuhan fisik yang harus dipenuhi dengan jalan keputusan dan tindakan yang tepat. Jika seseorang hidup dengan cara tertentu ia akan tetap hidup dan sehat. Jika ia mengubah cara hidupnya, kehidupannya akan menjadi susah, ia mungkin mati. Seseorang memerlukan hawa yang segar, sinar matahari, temperatur tertentu, makan dan minum, gerak badan dan tidur jika ia ingin agar badannya berfungsi baik. Cara memenuhi hajat ini ditetapkan oleh watak anatomi dan fisiologi manusia serta kondisi lingkungan di mana seseorang hidup. Biasanya kita tidak memikirkan tentang soal-soal tersebut, sehingga terjadi sesuatu kesalahan dan kehidupan menderita karenanya; pada waktu itulah kita mengumumkan tuntutan-tuntutan kita: susu murni, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, ventilasi yang lebih baik dan lain-lain. Kita tak mempunyai kewajiban untuk merusak kesehatan kita atau hidup dengan cara yang merusak kesehatan kita. Kita mencela tindakan-tindakan yang menyebabkan penderitaan kepada diri kita atau orang lain. Kita menyetujui tindakan-tindakan yang memelihara atau memperbaiki kondisi bagi manusia.

2. Tuntutan-tuntutan psikologi dan sosial. Terdapat dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan pokok yang muncul dari keadaan psikologis dan kebutuhan-kebutuhan sosial. Dorongan-dorongan ini menampakkan diri dengan cara-cara yang sama di mana saja manusia hidup. Dalam tempat-tempat tersebut, kehidupan memajukan tuntutan-tuntutan kepada kita. Kemarahan, ketakutan, dengki, keresahan, menyebabkan penderitaan kepada tubuh dan condong untuk merusak kehidupan sosial. Hal-hal tersebut harus dijauhkan kecuali dalam keadaan-keadaan khusus di mana mereka mengingatkan atau membantu melawan kejahatan besar. Cinta dan niat baik akan berakibat baik bagi badan dan menambah kesejahteraan sosial. Beberapa sifat seperti mengalahkan kepentingan diri sendiri, persahabatan, kejujuran, keberanian, menguasai diri (self-control) merupakan sifat-sifat yang di mana-mana dipuji. Sifat-sifat lain seperti cinta diri, khianat, pembunuhan, pencurian dan penipuan selalu tercela. Yang pertama dinamakan keutamaan (virtue), yang kedua dinamakan kejahatan (vices). Pertimbangan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat kedua adalah orang jahat, bukannya pertimbangan buatan atau sewenang-wenang. Pembedaan tersebut didasarkan atas watak manusia dan tuntutan masyarakat.

Perorangan harus bergaul dengan teman-temannya dengan cara bermacam-macam. Hanya dengan usaha gotong royong mereka dapat memperoleh makanan, tempat berteduh serta perlindungan, begitu juga membentuk lembaga-lembaga seperti keluarga, sekolah, gereja dan negara. Dari interaksi sosial dan kerja sama timbullah adat kebiasaan, moralitas dan praktek kelembagaan. Aturan-aturan menjelma ke luar sebagai adat kebiasaan dan hukum, dan menjelma ke dalam sebagai rasa wajib, ekspresi persetujuan-persetujuan kita, untuk mengikuti adat kebiasaan dan tunduk kepada hukum. Kita mempunyai kewajiban moral untuk memenuhi kesanggupan kita kecuali jika hal-hal di luar dugaan menjadikan hal tersebut mustahil, untuk mengikuti adat kebiasaan kecuali jika kita yakin bahwa adat tersebut merusak kesejahteraan umum, untuk tunduk kepada hukum dan berusaha memperbaikinya. Tuntutan-tuntutan tersebut timbul dari watak manusia dan mengekspresikan diri dalam hubungan masyarakat.

3. Tuntutan spiritual dan intelektual. Ada tuntutan-tuntutan spiritual dan intelektual juga. Ada kewajiban moral untuk mendapatkan informasi tentang soal-soal penting dan untuk bertindak secara pandai sedapat mungkin. Kecerdasan-kecerdasan condong untuk menghemat waktu, tenaga bahkan menyelamatkan jiwa. Menjadi orang bijaksana (reasonable) berarti menjadi orang yang konsisten dan moderat. Orang-orang Yunani dahulu berpendapat bahwa akal harus dapat menguasai keinginan-keinginan; hanya dengan cara itu manusia dapat hidup secara memuaskan. Keyakinan tersebut telah diterima oleh pemikir-pemikir Kristen walaupun tidak ditekankan seperti cinta dan mengalahkan kepentingan diri sendiri; ia menjadi dasar dari peradaban Barat. Terdapat keyakinan yang universal yang mendapat ekspresi dalam sistem moral, dan keagamaan, bahwa kepuasan akal dan jiwa lebih diperlukan dan lebih langgeng daripada kepuasan badan.

Jika pengetahuan dan kecerdasan itu perlu bagi moralitas yang matang, hal tersebut tidak cukup. Kecerdasan sendiri tidak cukup karena orang yang cerdas kadang-kadang jahat; pengetahuan mungkin dipakai untuk maksud-maksud destruktif. Semua sistem etika dan kode moral yang besar yang dapat langsung hidup lama telah menekankan bermacam-macam interpretasi tentang cinta dan ksaih sebagai pokok moralutas. Cinta dapat mendorong kepada pengorbanan diri dalam keadaan tertentu. Kata-kata Nabi Isa yang sering dinamakan Aturan Keemasan, “Apa yang kau inginkan orang lain bertindak kepadamu, lakukanlah untuk mereka”, adalah sama dengan prinsip yang diajurkan oleh Confucius bagi orang Cina, dan hal yang sama telah diekspresikan dalam ajaran etika agama-agama besar.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).