Archive for the Fasal 06 Category

Ilmu Tasawuf

Posted in Fasal 06 with tags , , , , , on Maret 27, 2012 by isepmalik

Seseorang disebut sebagai ahli Tasauf bila ia sudah membersihkan batinnya dengan cahaya Ma’rifat dan tauhid; atau karena mereka dinisbahkan kepada Ashabus-Suffah (orang yang hidup di ceruk masjid; bukan karena miskin, tetapi sengaja mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan kehidupan dunia untuk sementara); atau juga karena mereka memakai bahan pakaian dari bulu-bulu yang kasar. Bagi tingkat mubtadi (tingkat dasar) adalah bulu domba; bagi tingkat menengah, bulu kambing; dan bagi tingkat terakhir adalah bulu mar’az, yaitu bulu yang paling halus. Begitu pula tingkatan batin tergantung kepada martabat ketinggian keadaannya. Makanan dan tempat makan dan tempat minumnya pun berbeda.

Dalam Tafsir Al-Mujma dijelaskan bahwa bagi ahli zuhud adalah makanan, minuman, dan pakaian yang kasar; bagi ahli ma’rifat adalah yang halus, sebab menempatkan manusia pada tempatnya itu termasuk Sunnah, agar masing-masing tidak melewati perjalanannya. Karena Ahli Tasauf berada pada bagian pertama Hadrat Ahadiyat.

Lafaz Tasauf terdiri dari empat huruf, yaitu Ta-Shad-Waw-Fa. Huruf Ta diambil dari taubat. Taubat terbagi dua, yaitu taubat zahir dan taubat batin. Taubat zahir adalah manusia kembali dengan seluruh badan lahiriyahnya dari dosa dan sifat tercela kepada taat, dan dari menentang perintah kepada taat dalam perkataan maupun perbuatan. Adapun taubat batiniyah ialah manusia meningkatkan diri dari taat terhadap aturan meningkat kepada pembersihan hati. Bila telah berhasil menggantikan sifat tercela dengan sifat terpuji, maka seorang salik telah mencapai huruf Ta.

Huruf Shad diambil dari lafaz Shafa’un yang artinya bersih. Bersih terbagi dua, bersih hati dan bersih rasa. Bersih hati ialah seorang salik membersihkan hatinya dari kekotoran manusia (sifat basyariyah) seperti syahwat-syahwat yang didorong oleh hati, contohnya: banyak makan, minum, tidur dan berbicara; menyenangi benda dunia, seperti usaha yang berlebihan, bersetubuh yang berlebihan; juga berlebihan dalam mencintai anak-anak dan keluarga. Untuk membersihkan hati dari sifat-sifat seperti ini hanya dapat dihasilkan dengan tetap melaksanakan zikrullah melalui talqin. Zikir jahar berlaku bagi mubtadi dan matinya sampai kepada tingkat khafiyyah. Firman Allah dalam surah Al-Anfal ayat 2:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”.

Yakni mereka takut kepada Allah. Rasa takut kepada Allah hanya tumbuh di dalam hati bila hatinya telah terbangun dari lupa, dan membersihkan hati. Bila hati telah dibersihkan, maka akan terukir di dalam hati gambaran ghaib dari kebaikan maupun keburukan. Nabi bersabda:

“Orang alim mengukir, sedangkan orang arif membersihkan”.

Adapun bersih rasa ialah dengan menjauhi segala sesuatu selain Allah dan mencintai Allah dengan terus-menerus melaksanakan Asma Tauhid dengan lisan rasa dan di dalam rasa. Bila sifat ini telah tercapai, maka salik berarti mencapai maqam huruf Shad.

Adapun huruf Waw diambil dari lafaz wilayah, itu merupakan untaian dari tasyfiyah (pembersihan). Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 6:

“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak merasa takut oleh selain Allah dan tidak mereka bersedih hati”.

Mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Adapun hasil dari wilayah, yaitu berakhlak dengan akhlak Allah. Rasul bersabda:

“Berakhlaklah kamu sekalian dengan akhlak Allah”.

Seorang salik dapat masuk pada sifat-sifat Allah setelah menghilangkan sifat Basyariyah. Allh berfirman dalam Hadits Qudsi:

“Bila Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadi pendengarannya, penglihatannya, lidahnya, tangannya dan kakinya. Maka oleh-Ku dia mendengar, oleh-Ku dia melihat, oleh-Ku dia bicara, oleh-Ku dia marah dan oleh-Ku dia berjalan”.

Wahai saudara-saudaraku, bersihkan dirimu dari selain Allah Tabaraka Wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Isra ayat 81:

“Katakanlah: “Yang hak telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang lenyap”.

Bila seseorang telah mencapai sifat ini, maka berarti dia telah menyelesaikan tingkatan huruf Waw.

Huruf Fa diambil dari lafaz fana, artinya peleburan diri pada Allah. Bila seseorang salik telah meleburkan sifat basyariyahnya, maka mengekalkan sifat ahadiyat. Sifat ahadiyat adalah sifat Allah yang tidak akan rusak dan hilang. Oleh karena itu, seorang hamba yang telah fana dengan Tuhannya, berarti dia pun kekal dengan Tuhannya dan keridhaan-Nya. Hati yang sudah fana akan kekal beserta rasa yang kekal dan bandingannya. Firman Allah dalam surah Al-Quran ayat 88:

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah”.

Ahli Tasauf mentakwilkan ayat ini banhwa yang dimaksud dengan segala sesuatu akan hancur keculi Zat Allah adalah manusia yang telah mendapat amal saleh yang bertujuan mendapat Ridha Allah: maka yang diridhai akan selalu bersama dengan yang meridhai.

Hasil daripada amal saleh adalah hidupnya manusia hakiki yang disebut dengan Tiflul Ma’ani. Allah berfirman dalam Surah Al-Fathiir ayat 10:

“Kepada-Nyalah naik kalimat Tayyibah dan amal yang saleh menaikkannya”.

Setiap amal yang ditujukan kepada selain Allah berarti mempunyai persekutuan. Itu semua akan hancur, sama dengan yang melakukannya. Bila fana telah sempurna, maka hasilnya adalah baqa, artinya abadi di alam Qurbah di Maq’adi Sidqin ‘Inda Malikin Muqtadir, di tempat yang benar di sisi Tuhan Yang Berkuasa (Al-Zumar: 55). Itulah maqam para nabi dan para wali di alam Lahut. Allah berfirman: “Dan Allah beserta orang-orang yang benar”. Zat baru bila bersama dengan yang qadim, maka tidak akan mempunyai wujud lagi. Seorang ahli syair berkata: “Sifat Zat dan Af’al akan datang seluruhnya menjadi qadim dan terhafa dari hilang”. Bila sifat fakir (ketergantungan pada Allah) telah sempurna, maka dia menjadi seorang sufi, artinya bersih bersama Allah s.w.t selamanya. Firman Allah:

“Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah: 249; Al-Anfal: 66).

Iklan