Archive for the Tugas Filsafat Category

Faidah-faidah Filsafat

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Juli 9, 2012 by isepmalik

Dalam pelajaran-pelajaran permulaan, sering mahasiswa bertanya: “Untuk apa kita belajar filsafat?”, “Apa faidah filsafat?”, dan “Apakah filsafat berharga bagi saya dalam hidup saya?” Banyak filosof yang memperhatikan dan memikirkan soal-soal ini. Sidney Hook, dalam suatu makalah tentang hari kemudian filsafat mengatakan bahwa kita akan dapat mengetahui filsafat itu apa dengan menyelidiki faidahnya. Ia menunjukkan bahwa filsafat bukannya aktivitas yang memberi jawaban-jawaban pasti terhadap pertanyaan, akan tetapi sebagai aktivitas yang mempersoalkan jawaban-jawaban.[1]

Kegagalan untuk memperoleh suatu jawaban yang pasti kadang-kadang menyebabkan rasa frustasi. Walaupun begitu, kita tetap berpendirian bahwa faidah yang besar dari filsafat adalah untuk menjajaki bidang pemecahan yang mungkin terhadap problema filsafat. Sekali pemecahan tersebut sudah diidentifikasikan dan diperiksa, akan lebih mudah untuk menghadapi problema dan akhirnya untuk kita mengadakan pemecahan sendiri. Agar dapat menjadi efektif dalam tugasnya, seorang filosof harus dapat melampaui cara berfikir yang biasa agar dapat menghadapi munculnya problema baru yang tak daat diharapkan sebelumnya. Dengan begitu, pertama, kita dapat menjawab untuk sementara akan pertanyaan: “Mengapa kita mempelajari filsafat?”, dengan menunjukkan perlunya mempersoalkan hal yang tradisional, konvensional dan yang sudah melembaga.

Faidah kedua dari filsafat adalah untuk menunjukkan bahwa ide itu merupakan satu dari hal-hal yang praktis di dunia. Ide-ide falsafi mempunyai relevansi yang langsung dengan kejadian-kejadian hari ini, umpamanya, konsepsi filsafat tentang watak manusia, tentang jiwa manusia (human self) atau personality, tentang kemerdekaan kemauan, semua itu membentuk pengalaman kita sekarang. Kita pernah mendengarkan kata-kata: “Apa yang menjadi kepercayaan seseorang itu tidak penting selama ia melakukan hal-hal yang benar”. Hal ini berarti bahwa sebagian orang mempunyai kecenderungan untuk menilai tindakan-tindakan di atas keyakinan dan kepercayaan. Akan tetapi ide adalah dasar dari tindakan, dan seseorang tidak akan melakukan suatu tindakan dengan pasti, kecuali jika ia percaya sesuatu prinsip. Sebagai yang kita ketahui, bahwa komunisme mungkin tak akan lahir seandainya Marx tidak meletakkan dasar-dasarnya dalam filsafatnya; sekali orang menerima ide-idenya, sudah dapat ditentukan bahwa ide-ide tersebut harus diekspresikan dengan tindakan.

Dengan sadar atau tidak, kita harus mengakui bahwa filsafat itu adalah suatu bagian dari keyakinan kita dan tindakan kita berdasarkan atas keyakinan tersebut. jika kita ingin mengambil sesuatu keputusan secara bijaksana dan suatu tindakan secara konsisten, maka kita perlu menemukan nilai-nilai dan arti benda-benda, kita perlu memecahkan persoalan kebenaran atau kebohongan, keindahan atau keburukan, kebenaran atau kesalahan. Pencarian ukuran dan tujuan adalah suatu bagian yang penting dari tugas filsafat. Filsafat mementingkan aspek benda-benda secara kualitatif. Ia tidak mau menganggap sepi sesuatu aspek yang otentik dari pengalaman kemanusiaan dan berusaha untuk merumuskan ukuran dan tujuan-tujuan dengan cara yang sangat sesuai dengan akal.

Barangkali faidah filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis dan lebih cerdas. Dalam beberapa lapangan pengetahuan spesialisasi terdapat sekelompok fakta yang jelas dan khusus, mahasiswa diberi problema sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan untuk mendapatkan jawaban dengan cepat dan mudah. Akan tetapi dalam filsafat terdapat pandangan yang berbeda-beda dan harus difikirkan, dan ada pula problema-problema yang belum terpecahkan tetapi penting bagi kehidupan kita. Dengan begitu maka rasa keherasanan si mahasiswa, rasa ingin tahu dan kesukaannya dalam bidang pemikiran akan tetap hidup.

Sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof zaman purba, filsafat adalah mencari kebijaksanaan. Kita mengerti bahwa seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang banyak tetapi tetap dianggap orang bodoh yang berilmu. Dalam zaman kita yang penuh dengan kekalutan dan ketidakpastian, kita memerlukan ilmu pengarahan (sense of direction). Kebijaksanaan akan memberi kita ilmu tersebut; ia adalah soal nilai-nilai. Kebijaksanaan adalah penanganan yang cerdik terhadap urusan-urusan manusia. Kita merasakan tidak enak dari segi pemikiran jika kita dihadapkan pada pandangan dunia yang terpecah-pecah dan terbaur. Tanpa kesatuan pandangan dan response, jiwa kita akan terbagi. Filsafat akan sangat berguna bagi kita karena ia memberikan kita integrasi dalam membantu kita mengetahui mana yang harus kita setujui dan mana yang harus kita tolak, serta memberi arti dari eksistensi manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] “Does Philosophy Have a Future?” Saturday Review, 30, November 11, 1967, hal. 21.

Iklan

Cabang-cabang Tradisional Filsafat

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Juli 8, 2012 by isepmalik

Menurut sejarah, persoalan-persoalan filsafat telah telah dibahas dalam kategori-kategori berikut: logika, metafisika, epistemologi dan etika. Kami telah menyusun buku ini di sekitar persoalan-persoalan pokok dari filsafat; karena itu kami hanya akan menyoroti secara sepintas lalu tentang definisi cabang-cabang tradisional, dengan harapan bahwa fasal-fasal yang akan datang akan menyempurnakan definisi-definisi tersebut.

Di samping kategori-kategori besar tersebut di atas, filsafat juga membicarakan sekelompok yang teratur dari prinsip-prinsip dan asumsi-asumsi yang mengenai bidang-bidang pengalaman tertentu. Sebagai contoh, ada filsafat sains, pendidikan, seni, musik, sejarah, hukum, matematika dan agama. Tiap-tiap ilmu yang dikaji secara mendalam akan memperlihatkan bahwa di dalamnya terdapat problema filsafat.

 

Logika

Filsafat berusaha untuk memahami watak dari pemikiran yang benar dan mengungkapkan cara berfikir yang sehat. Satu hal yang kita jumpai dalam seluruh sejarah filsafat adalah ajakannya kepada akal, argumentasi dan logika.

Kita semua memakai argumentasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menopang pendapat kita atau menolak pendapat orang lain yang tidak cocok bagi kita. Tetapi bagaimana kita membedakan antara argumentasi yang benar dan yang tidak? Pada dasarnya, suatu argumentasi merupakan sebab-sebab (istilah Inggris: premise, istilah Arab: muqaddimah), untuk menguatkan atau menolak suatu posisi (istilah Inggris: conclusion, istilah Arab: natijah). Logika (mantik) adalah pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab-sebab yang mengenai konklusi; aturan-aturan itu dapat kita pakai untuk membedakan argumen yang baik dari argumen yang tidak baik.

Argumentasi dan dialektik merupakan alat (instrument) yang sangat perlu bagi ahli filsafat. Argumentasi harus mempunyai dasar yang sehat dan masuk akal. Tugas untuk menciptakan ukuran untuk menetapkan manakah argumen yang benar (valid) dan yang tidak benar adalah termasuk dalam cabang filsafat yang dinamakan logika. Kebanyakan filosof semenjak Aristoteles sampai sekarang merasa yakin bahwa logika itu diperlukan oleh semua cabang filsafat. Kemampuan untuk memeriksa sesuatu argumen dari segi konsistensi logika, untuk mengetahui akibat-akibat logis dari asumsi-asumsi dan untuk menentukan kebenaran sesuatu bukti yang dipakai oleh seorang filosof adalah sangat penting untuk “berfilsafat”.[1]

 

Metafisika

Beberapa pandangan falsafi yang akan kita bicarakan pada bagian keempat, akan membawa kita kepada suatu bagian yang biasanya disebut metafisik. Bagi Aristoteles, istilah metafisik berarti filsafat pertama (“first philosophy”), yakni pembicaraan tentang prinsip-prinsip yang paling universal; kemudian istilah tersebut mempunyai arti: sesuatu yang di luar kebiasaan—“beyond nature”—(meta-physikon). Metafisik membicarakan watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda, atau realitas yang berada di belakang pengalaman yang langsung (immediate experience).

Tak dapat diragukan lagi bahwa metafisik adalah cabang filsafat yang sangat sukar difahami oleh mahasiswa sekarang. Metafisik berusaha untuk menyajikan pandangan yang komprehensif tentang segala yang ada; ia membicarakan problema seperti hubungan antara akal dan benda, hakikat perubahan, arti kemerdekaan kemauan, wujud Tuhan dan percaya kepada kehidupan sesudah mati bagi tiap orang.

Pada waktu ini para filosof saling berselisih tentang apakah pandangan alam atau metafisik itu mungkin. Filsafat kontemporer dengan tekanannya kepada persepsi rasa dan pengetahuan ilmiah yang obyektif bersikap skeptis terhadap kemungkinan pengetahuan metafisik serta terhadap berartinya soal “metafisik”. Walaupun begitu, terdapat banyak filosof, baik yang purba atau yang modern, dari Timur atau dari Barat, yang percaya bahwa problema nilai dan agama, atau problema metafisik, adalah erat hubungannya dengan konsepsi seseorang tentang watak yang fundamental dari alam. Banyak para filosof-filosof tersebut percaya bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang lebih tinggi dari alam empiris.

 

Epistemologi

Secara umum epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji sumber-sumber, watak dan kebenaran pengetahuan. Apakah yang dapat diketahui oleh akal manusia? Dari manakah kita memperoleh pengetahuan kita; apakah kita memiliki pengetahuan yang dapat kita andalkan, atau kita hanya harus puas dengan pendapat-pendapay dan sangkaan-sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita ini dapat mengetahui yang lebih jauh daripada apa yang diungkapkan oleh indera?

Istilah untuk nama teori pengetahuan adalah epistemologi, yang berasal dari kata Yunani: episteme (pengetahuan). Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini:

  1. Apakah sumber-sumber pengetahuan? Dari mana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Ini semua adalah problema: “asal” (origins).
  2. Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia yang riil di luar akal, dan kalau ada, dapatkah kita mengetahui? Ini semua adalah problema: penampilan (appearance) terhadap realitas.
  3. Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema: mencoba kebenaran (verification).[2]

Dalam tradisi filsafat, kebanyakan dari mereka yang telah mengemukakan jawaban terhadap persoalan-persoalan tersebut dapat dikelompokkan dalam salah satu dari dua aliran: rasionalisme atau empirisisme. Kelompok rasionalis berpendapat bahwa akal manusia sendiain tanpa bantuan lain, dapat mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam. Kelompok empiris berpendirian bahwa semua pengetahuan itu pada dasarnya datang dari pengalaman indra, dan oleh karena itu maka pengetahuan kita terbatas pada hal-hal yang hanya dapat dialami. Memang jelas terdapat hubungan yang lazim antara metafisik dan epistemologi. Konsepsi kita tentang realitas tergantung pada faham kita tentang apa yang dapat diketahui. Sebaliknya, teori pengetahuan kita bergantung kepada pemahaman kita terhadap diri kita dalam hubungannya dengan keseluruhan realitas.

 

Etika

Dalam artinya yang luas, etika adalah pengkajian soal moralitas. Apakah yang benar, dan apakah yang salah dalam hubungan antar manusia? Dalam moralitas dan etika ada tiga bidang yang besar: etika deskriptif (descriptive ethics), etika normatif (normative ethics) dan metaetika (metaethics). Etika deskriptif berusaha untuk menjelaskan pengalaman moral dengan cara deskriptif. Kita berusaha untuk mengetahui motivasi, kemauan dan tujuan sesuatu tindakan dalam kelakuan manusia. Kita menyelidiki kelakuan perorangan atau personal morality, kelakuan kelompok atau social morality, serta contoh-contoh kebudayaan dari kelompok nasional atau racial. Etika deskriptif merupakan suatu usaha untuk membedakan apa yang ada dan apa yang harus ada.

Tingkatan kedua dari penyelidikan etika adalah etika normatif (apa yang harus ada). Di sini para filosof berusaha untuk merumuskan pertimbangan (judgment) yang dapat diterima tentang apa yang harus ada dalam pilihan dan penilaian. “Kamu harus memenuhi janjimu” dan “Kamu harus menjadi orang terhormat” adalah contoh dari penilaian (judgment) yang normatif (keharusan). Keharusan moral (moral ought) merupakan subject maker, bahan pokok dalam etika. Semenjak zaman Yunani purba, para filosof telah merumuskan prinsip-prinsip penjelasan untuk menyelidiki mengapa manusia bertindak seperti yang mereka lakukan, dan apakah prinsip-prinsip kehidupan mereka; pernyataan prinsip-prinsip tersebut dinamakan teori-teori etika.[3]

Tingkatan ketiga adalah metaetik atau critical ethic. Di sini perhatian orang dipusatkan kepada analisa, arti istilah dan bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berfikir yang dipakai untuk membenarkan pernyataan-pernyataan etika. Metaetik tidak menganjurkan sesuatu prinsip atau tujuan moral, kecuali dengan cara implikasi; metaetika seluruhnya terdiri atas analisa falsafi. “Apakah arti ‘baik’ (good)?”, dan, “Apakah penilaian moral dapat dibenarkan?”, “Adakah problema-problema khas dalam metaetika?”

Philip Wheelwright telah menulis definisi yang jelas dan tepat tentang etika: “Etika dapat dibatasi sebagai cabang filsafat yang merupakan pengkajian sistematis tentang pilihan reflektif, ukuran kebenaran dan kesalahan yang membimbingnya, atau hal-hal yang bagus yang pilihan reflektif harus diarahkan kepadanya.”[4]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Pembahasan lebih lanjut mengenai logika dapat dibaca dalam fasal 11: Sahnya Pengetahuan.

[2] Persoalan-persoalan ini dibahas dalam fasal 9, 10 dan 11. Perhatikan secara khusus pembicaraan tentang faham orang awam (common sense).

[3] Teori-teori etika akan dibicarakan dalam fasal 7.

[4] A Critical Introduction to Ethics, 3rd ed. (New York: Odyssey Press, 1959), hal. 4.

Metodologi Filsafat

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Juli 5, 2012 by isepmalik

Oleh karena filsafat mulai dengan rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental, maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawab persoalan-persoalan tersebut. problema-problema filsafat tak dapat dipecahkan dengan sekadar mengumpulkan fakta-fakta. Jadi bagaimanakah filsafat itu memecahkan problema-problema yang ditimbulkan? Apakah metoda yang dipakai oleh filsafat?

Kita telah memberikan definisi filsafat sebagai proses pemikiran dan kritik terhadap kepercayaan yang kita junjung tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita berpendapat bahwa metoda dasar untuk penyelidikan filsafat adalah metoda dialektik.

 

Dialektik Socrates

Filsafat berlangsung dengan mengikuti dialektik argumentasi. Apakah arti dialektik? Istilah dialektik menunjukkan proses berpikir yang berasal dari Socrates. Jika seorang peminat filsafat membaca salah satu dari dialog karangan Plato, ia akan menemukan bahwa Socrates adalah pemegang peran yang terpenting. Dalam dialog-dialog tersebut Socrates memakai metoda dialektik. Ia melibatkan diri dalam argumentasi; dalam analisis yang tak kenal lelah tentang apa saja. Socrates yakin bahwa cara yang paling baik untuk mendapatkan pengetahuan yang diandalkan adalah dengan melakukan pembicaraan yang teratur (disciplined conversation) dengan memainkan peranan seorang “intellectual midwife” (orang yang memberi dorongan/ rangsangan kepada seseorang untuk melahirkan pengetahuan yang terpendam dalam pikirannya; Pen); metoda yang dipakai Socrates dinamakan dialektik. Ini akan nampak sebagai suatu teknik yang sederhana. Dimulai dengan diskusi tentang aspek-aspek yang biasa diterima tentang sesuatu problem. Proses dialektik adalah dialog antara dua pendirian yang bertentangan. Socrates dan filosof-filosof yang datang kemudian[1] berkeyakinan bahwa dengan proses dialog di mana setiap peserta dalam pembicaraan akan terpaksa untuk menjelaskan idenya. Hasil terakhir dari pembicaraan tersebut akan merupakan pernyataan tentang apa yang dimaksudkan. Yang penting adalah bahwa dialektik itu merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan (interplay) antar ide.

Pemikiran dialektik atau metoda dialektik berusaha untuk mengembangkan suatu contoh argumen yang di dalamnya terjalin implikasi bermacam-macam proses (sikap) yang saling mempengaruhi. Argumen tersebut akan menunjukkan bahwa tiap-tiap proses (sikap) tidak menyajikan pemahaman yang sempurna tentang kebenaran. Dengan begitu timbullah pandangan dan alternatif yang baru, tiap tahap dari dialektik kita memasuki lebih dalam kepada problema asli, dan dengan begitu ada kemungkinan untuk lebih mendekati kebenaran.

Biasanya mahasiswa yang mulai mempelajari suatu ilmu, akan menghafalkan fakta, mempelajari formula dan menguasai sekelompok material. Filsafat memerlukan hal yang berlainan dengan cara itu. dengan menggunakan metoda dialektik kita akan lebih mendekati kebenaran, akan tetapi sesungguhnya tidak jarang problema filsafat yang semula belum juga terpecahkan. Dan masih banyak soal-soal yang dikemukakan serta argumentasi yang ditentang. Walaupun begitu, peminat filsafat tidak boleh putus asa. Dengan metode dialektik, kita dapat sampai kepada pemecahan sementara; ada jawaban-jawaban yang nampak lebih memuaskan, tetapi ada juga jawaban yang harus kita buang.

Dengan cara Socrates, filsafat berjalan dengan berusaha mengoreksi fikiran-fikiran yang tidak sempurna atau tidak tepat, dengan memancing (coaxing) kebenaran dari situasi. Socrates masyhur karena pendapatnya bahwa kehidupan yang tidak diselidiki tak layak untuk dihayati. Begitu juga filsafat berjalan dengan keyakinan bahwa ide yang tidak diselidiki tidak layak untuk dimiliki. Dengan begitu maka dialektik memerlukan pemikiran yang kritis.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Filosof-filosof seperti Plato, Aristoteles, Hegel, Kierkegaard, Nietzsche, Marx dan Heidegger; meskipun berbeda pendapat, mereka semuanya menekankan pentingnya dialektik.

Arti Filsafat

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Juli 2, 2012 by isepmalik

Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. Tentu saja ide-ide tersebut kita peroleh dengan bermacam-macam cara dan mungkin pula ide-ide tersebut adalah dalam keadaan kabur dan tidak jelas. Pada tahun-tahun pertama dari kehidupan kita, kita terus menerus memperoleh pandangan dan sikap dari kehluarga kita, teman-teman atau bermacam-macam perorangan dan golongan. Sikap-sikap tersebut, dapat juga dipengaruhi oleh pertunjukan film, televisi, musik atau buku-buku. Sikap tersebut mungkin juga merupakan hasil pemikiran kita, tetapi mungkin juga hasil dari dasar yang konvensional atau emosional. Gambaran filsafat yang luas, umum dan faham orang awam (common sense) tidak cukup untuk maksud-maksud kita. Karena tidak melukiskan pekerjaan dan tugas dari ahli filsafat. Kita perlu memberikan definisi filsafat secara lebih spesifik, sebab pandangan yang luas adalah kabur, berbaur, dan dangkal.

Kata filosofi (philosophy) diambil dari perkataan Yunani: philos (suka, cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Jadi kata itu berarti: cinta kepada kebijaksanaan. Suatu definisi filsafat dapat diberikan dari berbagai pandangan. Akan kami sajikan lima definisi, walaupun tentunya ada ahli filsafat yang menolak satu atau dua dari lima tersebut. Tiap pendekatan harus kita ingat agar kita memperoleh kejelasan dari beberapa arti filsafat dan apa yang mungkin mereka katakan tentang watak dan fungsi-fungsi filsafat.

1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut merupakan arti yang informal tentang filsafat atau kata-kata “mempunyai filsafat”. Biasanya kalau seseorang berkata: “Filsafat saya adalah …”, ia menunjukkan sikapnya yang informal terhadap apa yang dibicarakan.

Jika seseorang mengalami suatu krisis atau pengalaman luar biasa, kita sering bertanya-tanya: “Bagaimana pengaruh hal tersebut kepadanya? Bagaimana ia menghadapinya?” Kadang-kadang jawabannya adalah: “Ia menerima hal itu secara falsafiah”. Ini berarti bahwa ia melihat kepada problema tersebut dalam perspektif yang luas, atau sebagai suatu bagian dari susunan yang lebih besar; oleh karena itu ia menghadapi situasi itu secara tenang dan dengan berfikir, dengan keseimbangan dan rasa tentram.

2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita jungjung tinggi. Ini adalah arti yang formal dari “berfilsafat”. Dua arti filsafat, “memiliki dan melakukan”, tidak dapat dipisahkan sepenuhnya satu dari lainnya; oleh karena jika tidak memiliki suatu filsafat dalam arti yang formal dan personal, kita tidak akan dapat melakukan filsafat dalam arti kritik dan refleksif (reflective sense).

Meskipun begitu, memiliki filsafat tidak cukup untuk melakukan filsafat. Suatu sikap falsafi yang benar adala sikap yang kritis dan mencari. Sikap itu sikap terbuka dan toleran, dan mau untuk melihat segala sudut persoalan tanpa prasangka. Berfilsafat tidak hanya berarti “membaca dan mengetahui filsafat”. Seseorang memerlukan kebolehan berargumentasi, memakai teknik analisa serta mengetahui sejumlah bahan pengetahuan, sehingga ia dapat memikirkan dan merasakan secara falsafi.

Ahli filsafat selalu bersifat berpikir dan kritis. Mereka melakukan pemeriksaan kedua (a second look) terhadap bahan-bahan yang disajikan oleh faham orang awam (common sense). Mereka mencoba untuk memikirkan bermacam-macam problema kehidupan dan menghadapi fakta-fakta yang ada hubungannya dengan itu. Memiliki pengetahuan banyak tidak dengan sendirinya akan mendorong kita untuk memahami, karena pengetahuan banyak belum tentu mengajar akal untuk mengadakan evaluasi kritik terhadap fakta-fakta yang memerlukan pertimbangan (judgment) yang bersifat konsisten dan koheren.

Evaluasi-evaluasi kritik sering berbeda. ahli filsafat, teologi, sains, dan lain-lainnya mungkin berbeda; pertama, oleh karena mereka melihat benda dari segi yang berbeda. Pengalaman pribadi, latar belakang kebudayaan dan pendidikan mungkin berbeda jauh. Hal ini benar terjadi bagi orang-orang yang hidup pada waktu-waktu dan tempat yang berlainan. Kedua, adalah karena mereka itu hidup dalam dunia yang berubah. Manusia berubah, masyarakat berubah dan alam juga berubah. Sebagian manusia ada yang mau mendengarkan (responsive) dan peka (sensitive) terhadap perubahan, sebagian lainnya berpegang kepada tradisi dan status quo*, kepada sistem yang dibentuk pada masa silam dan karena itu dianggap berorientasi dan final. Ketiga, adalah karena mereka itu menangani bidang pengalaman kemanusiaan di mana bukti tidak cukup sempurna. Hal-hal yang kita hadapi dapat ditafsirkan secara bermacam-macam oleh bermacam-macam orang. Akan tetapi walaupun terjadi perbedaan pendapat, ahli filsafat tetap memeriksa, menyelidiki dan mengevaluasi bahan-bahan dengan harapan dapat menyajikan prinsip-prinsip yang konsisten yang dapat dipakai oleh seseorang dalam kehidupannya.

3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam. seorang ahli filsafat ingin melihat kehidupan tidak dengan pandangan seorang saintis, seorang pengusaha atau seorang seniman, akan tetapi dengan pandangan yang menyeluruh dari seorang yang memahami hidup sebagai keseluruhan. Dalam membicarakan “filsafat spekulatif” (speculative philosophy) yang dibedakan dari “filsafat kritik” (critical philosophy). C. D. Broad berkata, “Maksud dari filsafat spekulatif adalah untuk mengambil alih hasil-hasil sains yang bermacam-macam, dan menambahnya dengan hasil pengalaman keagamaan dan budi pekerti. Dengan cara ini, diharapkan bahwa kita akan dapat sampai kepada suatu kesimpulan tentang watak alam ini serta kedudukan dan prospek kita di dalamnya.”[1]

Memang terdapat kesulitan-kesulitan dan bahaya-bahaya dalam menetapkan pandangan tentang alam, akan tetapi juga terdapat bahaya dalam membatasi pandangan kita kepada fragmen (bagian-bagian pengalaman kemanusiaan). Tugas dari filsafat adalah untuk memberikan pandangan dari keseluruhan, kehidupan dan pandangan tentang alam, dan untuk mengintegrasikan pengetahuan sains dengan pengetahuan disiplin-disiplin lain agar mendapatkan suatu keseluruhan yang konsisten. Menurut pandangan ini, filsafat berusaha untuk membawa hasil penyelidikan manusia—keagamaan, sejarah, dan keilmuan—kepada suatu pandangan yang terpadu sehingga dapat memberi pengetahuan dan pandangan dalam bagi kehidupan manusia.

4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Memang ini merupakan suatu fungsi filsafat. Hampir semua ahli filsafat telah memakai metoda analisa serta berusaha untuk menjelaskan arti istilah-istilah dan pemakaian bahasa. Tetapi ada sekelompok ahli filsafat yang menganggap hal tersebut sebagai tugas pokok dari filsafat bahkan ada golongan kecil yang menganggap hal tersebut sebagai satu-satunya fungsi yang sah dari filsafat. Orang-orang tersebut menganggap filsafat sebagai suatu bidang khusus yang mengabdi kepada sains dan membantu menjelaskan bahasa, dan bukannya suatu bidang yang luas yang memikirkan segala pengalaman kehidupan. Pandangan seperti ini adalah baru dan telah memperoleh dukungan yang besar dalam abad ke-20. Pandangan tersebut akan membatasi apa yang kita namakan pengetahuan (knowledge) kepada pernyataan (statement) tentang fakta-fakta yang dapat dilihat serta hubungan-hubungan antara keduanya, yakni urusan sains yang beraneka warna. Memang ahli-ahli analisis bahasa (linguistic analysis) tidak membatasi pengetahuan sesempit itu. Memang betul mereka itu menolak dan berusaha untuk membersihkan bermacam-macam pernyataan tentang yang non ilmiah (non scientific), akan tetapi banyak di antara mereka yang berpendapat bahwa kita dapat memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip etika dan sebagainya, walaupun pengetahuan tersebut dihasilkan oleh pengalaman. Mereka yang memilih pandangan yang lebih sempit, mengabaikan, walaupun tidak mengingkari, semua pandangan yang menyeluruh tentang dunia dan kehidupan, tentang filsafat moral yang tradisional dan teologi. Dari segi pandangan yang lebih sempit ini tujuan filsafat adalah untuk menonjolkan kebauran dan omong kosong serta untuk menjelaskan arti dan pemakaian istilah-istilah dalam sains dan urusan sehari-hari.

5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Filsafat mendorong penyelidikannya sampai kepada soal-soal yang paling mendalam dari eksistensi manusia. Sebagian dari soal-soal filsafat pada zaman dahulu telah terjawab dengan jawaban yang memuaskan kebanyakan ahli filsafat. Sebagai contoh, adanya ide bawaan telah diingkari orang semenjak zamannya John Locke pada abad ke-17. Walaupun begitu, banyak soal yang sudah terjawab hanya untuk sementara. Dan ada juga problema-problema yang belum terjawab.

Apakah soal-soal kefilsafatan itu? Soal: Apakah Ali telah membuat suatu pernyataan yang palsu dalam formulir pajak pendapatan?, adalah hanya suatu soal tentang fakta. Akan tetapi soal: Apakah kebenaran itu?, atau: Apakah bedanya antara yang benar dan yang salah?, merupakan soal kefilsafatan yang penting.

Banyak orang yang termenung pada suatu waktu, kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada di sini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini? Apakah alam ini bersahabat atau bermusuhan? Apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud atau fikiran di dalam benda? Apakah kehidupan dikontrol oleh kekuatan-kekuatan dari luar, ataukah aku memiliki daya kontrol seluruhnya atau sebagiannya? Mengapa manusia berjuang dan berusaha untuk mendapatkan hak, keadilan, perbaikan di kemudian hari? Apakah arti konsep hak dan keadilan, dan apakah ciri-ciri masyarakat yang baik?

Sering manusia baik laki-laki atau perempuan, diminta untuk mengorbankan nyawanya, jika perlu untuk sesuatu nilai atau ideal. Apakah nilai yang sesungguhnya dari kehidupan itu dan bagaimana ia dapat dicapai? Apakah ada perbedaan yang sungguh-sungguh fundamental antara benar dan salah, atau apakah itu hanya sekadar merupakan pendapat perorangan?

Apakah keindahan itu? Apakah agama masih tetap berperan dalam kehidupan seseorang? Apakah beriman kepada Tuhan itu benar menurut akal? Apakah ada kemungkinan hidup sesudah mati? Apakah ada jalan untuk mendapatkan jawaban terhadap soal-soal ini dan yang serupa dengannya? Dari manakah datangnya pengetahuan dan dapatkah kita memperoleh jaminan bahwa sesuatu hal itu benar?

Semua soal tadi adalah falsafi. Usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme, filsafat analitik, eksistensialisme dan fenomenologi. Filsafat juga berarti bermacam-macam teori dan sistem pemikiran yang dikembangkan oleh filosof-filosof besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Augustine, Aquinas, Descartes, Spinoza, Locke, Berkeley, Kant, Nietzsche, Royce, James, Dewey, Whitehead dan lain-lain. Tanpa orang-orang tersebut di atas serta buah pikiran mereka, filsafat tidak akan mempunyai isi yang kaya seperti sekarang. Walaupun mungkin kita tidak menyadarinya, sesungguhnya kita selalu terpengaruh dengan ide-ide yang datang kepada kita dalam tradisi masyarakat.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


* status quo: keadaan tetap pada suatu saat tertentu. (Penerjemah).

[1] Scientific Thought (New York: Harcourt, Brace, 1923), hal. 20.

Mengapa Kita Memerlukan Filsafat

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Mei 15, 2012 by isepmalik

Kita hidup dalam suatu periode yang mirip dengan tahap-tahap terakhir dari kebudayaan Greko-Romawi, Renaisans, Reformasi, dan Revolusi Industri, di mana terjadi perubahan besar dalam cara manusia berpikir, dalam nilai dan praktek. Terjadi perubahan-perubahan yang mengenai dasar-dasar kehidupan manusia dan masyarakat. Sekarang manusia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk menguasai alam dan ruang angkasa. Manusia telah melakukan loncatan-loncatan raksasa dalam bidang sains, teknologi pertanian, kedokteran, ilmu-ilmu sosial dan pendidikan. Dalam abad ini, khususnya dalam dasawarsa terakhir, kita menyaksikan kemajuan pengetahuan manusia; lelaki dan perempuan hidup lebih panjang, bepergian lebih cepat, memiliki kenikmatan (comfort) dan alat-alat yang menghemat tenaga serta menghasilkan bahan yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Perkembangan zaman mesin (age of automation) jelas akan menghilangkan kelelahan jasmani, menambah produksi dan mengurangi jam kerja. Kemampuan untuk menguasai sumber-sumber energi dari atom, matahari, ombak laut serta angin akan menjelmakan dalam kehidupan kita perubahan-perubahan yang di luar khayalan kita.

Akan tetapi di samping kemajuan-kemajuan yang menakjubkan, banyak pemikir yang resah dan gelisah. Mereka memikirkan situasi di mana kekuatan fisik kita, serta pengetahuan ilmiah dan kekayaan kita berada dalam keadaan kontras (bertentangan) dengan kegagalan pemerintah dan individualis perorangan untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan dari segi intelektual dan moral. Pengetahuan menjadi terpisah dari nilai; telah tercapai kekuatan yang besar akan tetapi tanpa kebijaksanaan.

Kejadian-kejadian pada beberapa dasawarsa yang akhir ini menunjukkan bahwa ada kesalahan-kesalahan dalam cara mengurus urusan-urusan manusia. Manusia telah memperoleh kekuatan yang besar dalam sains dan teknologi, tetapi sangat sering mempergunakan kekuatan-kekuatan itu untuk maksud-maksud yang destruktif. Manusia telah memperluas jangkauan dan kuantitas pengetahuan tetapi belum dapat mendekati ideal-ideal individualitas dan realisasi diri (self-realisation). Manusia telah menemukan cara-cara untuk memperoleh keamanan dan kenikmatan; pada waktu yang sama mereka merasa tidak aman dan merasa risau oleh karena mereka tidak yakin akan arti kehidupan mereka dan tidak tahu arah mana yang mereka pilih dalam kehidupan itu.

Abad ke-20 berbeda dengan abad-abad sebelumnya dengan adanya perang ide di samping perang manusia, material, dan kepentingan-kepentingan nasional yang saling bertentangan. Filsafat-filsafat yang tak dapat dikompromikan berlomba-lomba mencari penganut. Pada permulaan abad ini perbedaan antara kehidupan dalam negara-negara demokrasi dan negara fasis tidak merupakan perbedaan dalam teknologi atau sains atau pendidikan umum. Perbedaan itu adalah dalam ide-ide dasar, ideal dan loyalitas. Dengan cara yang mirip, komunisme telah melemparkan tantangan-tantangan terhadap kepercayaan-kepercayaan dan ideal kita serta memperkeras perjuangan bagi fikiran dan hati manusia.

Tajuk-tajuk rencana, makalah-makalah, buku-buku, film dan komentator televisi bersatu dalam mengajak kita untuk meluruskan arah masyarakat kita. Mereka merasa bahwa kita hanya tanpa kepemimpinan moral dan intelektual. Sudah jelas bahwa zaman kita adalah zaman yang penuh dengan ketidakseimbangan sosial dan personal. Kita tidak tahu bagaimana cara membentuk masyarakat yang murni yang akan memberi kepuasan dan harapan bagi anggota-anggotanya. Pada waktu yang sama kita menuntut untuk “mengurus kepentingan kita sendiri” kemudian kita menyesalkan “usaha kita untuk mendapatkan rasa kesepian (loneliness)”. Kebudayaan kita teah sering didiagnosa; mereka yang melakukan diagnosis itu pandai dalam memberitahukan ciri-ciri berbagai penyakit, akan tetapi jarang ada yang mengusulkan obatnya. Yang disetujui oleh kebanyakan ahli kritik adalah bahwa sudah tiba saatnya untuk melakukan perubahan.

Perubahan dalam adat kebiasaan dan sejarah biasanya dimulai dengan adanya sekelompok orang yang yakin akan nilai sesuatu ideal atau yang tertarik oleh pandangan cara hidup yang lain. Setelah Abad Pertengahan banyak orang yang mulai memikirkan cara hidup yang didasarkan atas keyakinan bahwa hidup di dunia ini, pada dasarnya, perlu untuk dihayati. Dalam arti yang sangat luas, keyakinan semacam itu telah memungkinkan terjadinya Renaisans, Reformasi dan timbulnya dunia modern dengan pabrik-pabriknya, produksi secara besar-besaran (mass production), uang dan bank, transportasi yang cepat, tenaga atom dan eksplorasi ruang angkasa. Dengan semua hal tersebut dimaksudkan untuk menjadikan dunia ini lebih baik dan untuk memberikan kepada manusia kekuasaan yang lebih besar terhadap alam. Akan tetapi jika kita dapat mengetahui watak manusia secara konsisten, watak masyarakat umum di mana manusia hidup, dan beberapa patokan nilai yang didasarkan atas hal-hal yang lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, maka ciri-ciri dunia modern tersebut di atas tak akan memberi dasar yang kukuh bagi dunia kita. Filsafat dengan bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya, dapat memainkan peran yang sentral dalam memimpin kita ke arah keinginan-keinginan dan aspirasi-aspirasi baru.

William Barret dalam bukunya yang berjudul The Illusion of Technique[1] mengatakan bahwa pada waktu sekarang lebih dari waktu yang lain dalam sejarah, kita harus menempatkan teknik ilmiah dalam hubungan baru dengan kehidupan. Sebagai telah kita katakan masyarakat kita semakin bertambah dikuasai oleh teknik. Teknologi kemanusiaan semakin bertambah dipengaruhi oleh ahli-ahli sains dan pengetahuan lain yang mengikuti aliran behaviorism (tidak membicarakan nilai).[2] Barret yakin bahwa filsafat modern harus menjawab tantangan teknik dan teknologi: kalau tidak, kemanusiaan akan kehilangan tujuan, arah, dan kemerdekaan.

Sekarang, tiap orang yang akan mengutamakan “kemerdekaan harus melibatkan dirinya dengan wataknya teknik (nature of technique) bidangnya dan batasan-batasannya… Persoalan teknik itu sendiri merupakan persoalan penting bagi filsafat, apalagi filsafat modern yang sering terpengaruh oleh pandangan teknik dalam menentukan sikapnya. Dan lebih penting daripada itu semua, persoalan ini ada hubungannya dengan ketidakpastian seluruh peradaban yang berdasarkan teknologi, karena peradaban tersebut tidak mengetahui dengan pasti batas-batasnya dan akibat-akibatnya. Walaupun telah memiliki kekuatan teknologi yang besar.[3]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] William Barret, The Illusion of Technique (Garden City: Doubleday, Anchor, 1978).

[2] Behaviorisme dan B. F. Skinner akan dibahas dalam fasal 3, 4, dan 5.

[3] William Barret, The Illusion of Technique, h. xv.

Filsafat Pada Saat Ini

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Mei 13, 2012 by isepmalik

Dalam sebagian besar dari sejarahnya, filsafat selalu membahas problema sehari-hari atau situasi manusiawi; akan tetapi dalam beberapa dasawarsa terakhir banyak ahli filsafat di Barat mengarahkan hampir seluruh perhatian mereka kepada sejarah filsafat atau pembahasan tentang istilah dan bahasa yang dipakai untuk memaparkan fikiran-fikiran. Pengetahuan tentang istilah dan bentuk serta pemakaian bahasa adalah penting, akan tetapi kita tidak boleh menggunakan pengkajian tentang “alat” (instrumen) seperti: logika, semantik, analisa linguistik, untuk mengganti penelitian tentang problema yang pokok, yakni problema filsafat yang langgeng. Karena ahli filsafat sudah berpaling dari dunia, maka dunia tidak lagi meminta pengarahan kepada filsafat dalam menghadapi problema-problema baru yang mendesak.

Apakah yang telah terjadi pada filsafat yang telah memalingkan dirinya dari problema kehidupan yang pokok? Mengapa disiplin yang fundamental ini telah menjadi jauh dari perhatian manusia dan masyarakat? Dan mengapa para ahli filsafat itu sendiri telah merasa puas menerima kedudukan yang jauh dan mengherankan itu? Ada dua kemungkinan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. kegagalan filsafat modern dapat ditafsirkan oleh karena terlalu memperhatikan “alat” yang dipakai untuk memecahkan persoalan. Pada akhir abad ke-20, ahli filsafat lebih suka memperhatikan analisa serta penjelasan (klarifikasi) dari pendapat-pendapat sains, sejarah atau faham orang awam. Dalam pengertian ini, filsafat tidak memberi pengetahuan baru. Ia hanya menjelaskan hal-hal yang telah kita ketahui. Di bawah ini adalah gambaran tentang seorang linguistik “yang sedang bekerja”.

“Umpamanya, kita mulai dengan bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita ketahui ketika kita mengetahui bahwa ada satu kursi di dalam kamar tidur yang tidak dilihat oleh siapa pun. Tetapi dengan segera kita merasa bahwa tak ada perbedaan apakah kita mengetahui hal ini atau tidak, atau bahwa sesungguhnya ada atau tidak ada kursi yang tidak dilihat orang. Yang penting hanya: Apakah yang dimaksudkan dengan kata “di dalam kamar tidur ada satu kursi yang tidak dilihat orang”. Tidak penting apakah kata-kata tersebut benar atau salah, apakah hal tersebut kemudian diketahui memang benar atau hanya persangkaan, atau hanya sekadar dipersoalkan tanpa rasa percaya atau tidak percaya. Dan kata-kata yang mempunyai arti yang sama yang sudah tentu salah, seperti: “ada seekor buaya di ata atap yang tidak dilihat orang”, juga dapat dianggap sama dengan kata-kata yang pertama.”[1]

Penjelasan yang kedua tentang mengapa ahli filsafat gagal menunaikan tugas mereka adalah karena ciri khas dari eksistensi (keberadaan) mereka di dunia modern. Ahli filsafat sekarang berada semata-mata sebagai anggota dari jurusan filsafat dalam sekolah tinggi atau universitas; sebagai guru profesional dari sebuah mata pelajaran yang membingungkan. (Pandangan biasa terhadap filsafat adalah bahwa filsafat itu hanya membuat rumit ide-ide yang sederhana). Jadi ahli filsafat telah menjelma menjadi profesional seperti dokter, pengacara atau pemain tenis. Ahli filsafat mendapat gaji sebagai spesialis dalam bidang “ide”.

Pekerjaan (profesi) filsafat tidak selalu mempunyai arti yang sempit atau spesial seperti sekarang. Pada zaman Yunani, karena keadaannya, adalah sebaliknya. Yang ada bukan disiplin teoritis yang spesial yang dinamakan filsafat, akan tetapi suatu cara hidup yang kongkrit (a concrete way of life), suatu pandangan yang total tentang manusia dan alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang.[2]

Pada zaman dahulu filsafat adalah soal hidup atau mati; filsafat merupakan jiwa yang mencari keselamatan. Pada waktu sekarang, pendorong untuk mempelajari filsafat bagi seorang mahasiswa Timur adalah sangat berbeda dengan pandangan seorang mahasiswa Barat; mahasiswa Timur mencari jawaban tentang dunia yang kalang-kabut di mana ia hidup. Pada waktu ini banyak orang yang menjadi tidak puas dengan konsepsi analitik tentang filsafat; mereka bertanya, “Jika filsafat hanya berarti penjelasan (klarifikasi), apakah ia berhak menduduki tempat yang biasa dimilikinya dalam pendidikan liberal?” Pertanyaan tersebut mengandung arti: Jika analisa kata-kata adalah satu-satunya tugas filsafat, maka filsafat akan bunuh diri. Atau paling tidak, filsafat akan mundur ke pojok yang kecil dan jauh dari dunia intelektual. Dalam buku ini pendekatan kami adalah untuk memandang filsafat sebagai proses pemikiran atau kritik terhadap sikap dan keyakinan-keyaninan kita yang mendalam. Kami berharap untuk menyajikan aktivitas filsafat sebagai suatu aktivitas yang dimiliki oleh semua orang yang memikirkan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] H. H. Price, “Clarity Is Not Enough,” dalam buku Clarity Is Not Enough, ed. H. D. Lewis (London: Allen and Unwin, 1963), h. 17. Pada tulisannya, Prof. Price menjelaskan tentang pentingnya masalah kejelasan (klarifikasi) dalam filsafat, tetapi ia juga mengemukakan bahwa filsafat adalah analisa dari berbagai konsep yang sangat fundamental.

[2] William Barret, Irrational Man (Garden City: Anchor Books, 1962), h. 5.

Problema Filsafat adalah Problema Kehidupan

Posted in Tugas Filsafat with tags , , , , , on Mei 9, 2012 by isepmalik

Problema yang dihadapi oleh penggemar filsafat—pada umumnya—adalah problema yang pernah terjadi pada setiap orang yang pada suatu waktu. Anak berumur empat tahun menanyakan soal yang luar biasa yang jauh di luar scope-nya dan persepsinya. Ia menanyakan, “Bagaimana dunia ini bermula?”, atau, “Benda-benda itu terbuat dari apa?”, atau, “Apakah yang terjadi pada seseorang jika ia mati?”; dengan pertanyaan-pertanyaannya itu, ia telah membuat isu yang sangat penting. Fakta bahwa anak-anak kecil dapat mengajukan soal-soal seperti tersebut di atas menunjukkan rasa kehausan bagi tiap orang untuk mendapat penjelasan.

Problema filsafat tidak tetap; kita temukan problema-problema itu pada sesuatu waktu dan kita tidak akan meninggalkannya sampai mendapatkan pemecahan. Menghadapi problema seperti itu merupakan bagian yang sangat penting dari usaha untuk mengatasi problema kehidupan kita, dan oleh karena itu kita harus menjawabnya untuk diri kita sendiri. Jika begitu, mengapa kita memerlukan ahli filsafat? Tak ada seorang ahli filsafat pun yang mengaku bahwa ia dapat memberikan pemecahan persoalan-persoalan itu dengan satu cara yang sama dengan cara seorang dokter memberi resep obat kepada para pasiennya.[1] Walaupun begitu, ahli filsafat akan sangat berjasa dalam membantu menemukan pemecahan persoalan-persoalan. Sesungguhnya ahli-ahli filsafat itu seperti seorang dokter, ia mendiagnosa penyakit atau menunjukkan problema. Sebagai contoh: satu dari problema-problema besar dalam pendidikan pada masa sekarang ini adalah kurangnya kesatuan (unifikasi) dalam pengalaman pendidikan. Yang diterima oleh seorang mahasiswa adalah serangkaian penyajian dalam bidang spesialisasi yang tak ada hubungannya antara yang satu dengan lainnya. Suatu program pelajaran berisikan 50 menit Kebudayaan Barat, kemudian 50 menit matematik dan pelajaran yang terakhir pada hari itu adalah Kesusastraan Inggris. Penyajian secara sepotong-sepotong ini menggambarkan fragmentasi umum dari pengalaman yang menandai kehidupan modern; tugas dari ahli filsafat adalah untuk mengatasi spesialisasi dan memformulasikan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusiaan yang luas. Oleh karena itu filsafat merupakan satu bagian dari proses pendidikan alamiah dan makhluk yang berfikir.

Pemikiran filsafat mempunyai ciri khas, yaitu menimbulkan gejolak. Socrates, seorang ahli filsafat dari Yunani, dihukum mati karena ia menyerang kepercayaan suci dari agama dan negara. Pada fasal-fasal selanjutnya akan kami uraikan bahwa filsafat itu bertugas untuk menghadapi problema-problema pokok dari kehidupan dan mempersoalkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh faham orang awam (common sense), prasangka dan masyarakat, dan oleh karena itu akan menimbulkan keresahan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] W. G. Hobbs, “Who Needs Philosophers?” The Chronicle of Higher Education (January 20, 1975), h. 24.