Archive for the Fasal 01 Category

Kembalinya Manusia ke Tempat Asal

Posted in Fasal 01 with tags , , , , , on Maret 14, 2012 by isepmalik

Manusia terdiri dari dua bahagian, yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani adalah bahagian manusia yang umum, sedangkan ruhani adalah bahagian manusia yang khusus. Kembalinya bahagian manusia yang umum ke tempat asalnya disebut darajat karena mengamalkan ilmu Syariat, Tariqat dan Ma’rifat. Rasul bersabda:

“Hikmah yang mencakup adalah mengenal Allah bila dilakukan tanpa riya’ dan sum’ah”.

Darajat ada tiga tingkatan, yaitu:

  1. Surga di alam Mulki, yaitu Jannatul Ma’wa.
  2. Surga di alam Malakut, yaitu Jannatul Nai’m.
  3. Surga di alam Jabarut, yaitu Jannatul Firdaus.

Ini adalah kenikmatan jasmani. Jasmani tidak akan sampai kepada alamnya kecuali dengan tiga ilmu, yaitu Syariat, Tariqat dan Ma’rifat. Nabi bersabda: “Hikmah yang mencakupi adalah mengenal Allah dan mengamalkannya”. Oleh karena itu Rasul berdoa:

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang benar dan berilah kami kemampuan mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa kebatilan itu adalah sesuatu yang batil maka itu berikanlah kami kemampuan menjauhinya”.

Sabda Nabi:

“Barangsiapa yang mengenal dirinya dan melawannya, berarti dia mengenal Tuhannya dan mengikutinya”.

Kembali dan sampainya manusia yang khusus (ruhani) aalah Qurbah dengan sebab mengamalkan ilmu Hakikat, yaitu tauhid di alam Qurbah, yaitu alam Lahut. Pencapaian alam ini di saat ia hidup di dunia, karena sesuatu yang ia biasakan dalam keadaan tidur maupun terjaga. Bahkan bilamana tidur, hati akan menemukan peluang untuk kembali ke negeri asalnya secara menyeluruh atau sebahagian. Firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 42:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan”.

Oleh karena itu Nabi bersabda: “Tidurnya seorang ‘Alim lebih besar pahalanya daripada orang bodoh”, yaitu orang yang telah hidup hatinya dengan cahaya tauhid dan dengan lisan sirri tanpa huruf dan suara. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia”.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:

“Ilmu batin adalah rahasia di antara rahsia-Ku. Aku jadikan di dalam hati hamba-hamba-Ku dan tidak ada yang menempatinya kecuali Aku”.

Firman Allah:

“Aku ini berada pada sangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada hatinya, Aku pun mengingatnya pada zat-Ku. Dan bila dia mengingat-Ku pada suatu kumpulan, maka Aku pun akan mengingatinya di dalam kumpulan yang lebih baik daripadanya”.

Yang dimaksud dengan Hadits ini adalah manusia pada wujud manusia, yaitu di alam tafakur.

Nabi s.a.w. bersabda:

“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah setahun”.

Sabda Nabi s.a.w.:

“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah 70 tahun”.

Rasul bersabda:

“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah seribu tahun”.

Maksudnya ialah manusia yang berpikir dalam masalah-masalah Furu’ (cabang), maka nilai tafakurnya lebih besar daripada ibadah setahun. Berpikir untuk mengetahui hal-hal yang diwajibkan oleh Allah dalam ibadah dan berpikir tentang aturan-aturan ibadah wajib, maka nilai tafakurnya lebih besar daripada ibadah 70 tahun. Dan berpikir tentang ma’rifat kepada Allah, maka nilai tafakurnya lebih besar daripada beribadah seribu tahun. Syeikh Al-Ansari bersya’ir (tidak diterjemahkan).

Ini adalah alam ma’rifat, yaitu alam tauhid. Seorang arif akan sampai kepada yang diketahui dan dicintainya. Hasilnya adalah terbang dengan ruhani ke alam Qurbah.

Seorang abid berjalan ke surga, sedangkan seorang arif terbang ke alam Qurbah. Sebahagian ulama mengatakan:

“Orang-orang yang merindukan Allah hatinya mempunyai mata. Mata hatinya melihat segala sesuatu yang tidak dilihat oleh penglihatan biasa. Hati mereka mempunyai sayap yang terbang tanpa bulu, terbang ke Malakut Rabbul Alamin”.

Hal seperti ini terdapat pada orang arif, yaitu insan hakiki. Dialah kekasih Allah, mahram Allah dan pengikutnya. Abu Yazid Al-Bustami berkata: “Ahlinya Allah adalah pengantin-pengantinnya Allah”. Dalam suatu riwayat dikatakan: “Para wali Allah adalah pengantin-pengantinnya Allah, tidak ada yang mengetahui kepada seorang pengantin, kecuali mahramnya. Mereka tertutup dalam penghalang kemanusiaan. Tidak ada yang melihat kepada mereka, kecuali Allah Ta’ala.

Hadits Qudsi: “Wali-wali-Ku berada di bawah kubah-kubah-Ku. Tidak ada yang mengetahuinya selain Aku”. Manusia tidak akan melihat dari sisi lahir pada seorang pengantin, kecuali yang dilihat hanya keindahan lahiriyahnya.

Sayyid Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata: “Seorang wali adalah wangi-wangian Allah di bumi. Orang-orang yang benar akan mencintainya”. Kewangiannya akan sampai pada hatinya dan timbullah kerinduan untuk bertemu dengan Tuhannya. Ibadahnya semakin meningkat sesuai dengan keadaannya masing-masing dan sesuai dengan kefanaannya, karena bertambahnya qurbah tergantung pada bertambahnya fana. Seorang wali adalah seorang yang fana (melebur diri) dalam keadaannya dan yang kekal musyahadah kepada Allah. Dirinya seakan-akan tidak punya kemampuan memilih dan tidak ada tempat kembali selain Allah. Mereka adalah orang-orang yang diperkuat dengan karamah, tetapi mereka tertutup dalam karamah, mereka tidak diberi izin untuk menjelaskannya, karena menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur.

Orang-orang yang memiliki karamah, mereka tertutup dan karamah adalah hadinya seorang lelaki. Seorang wali memiliki seribu maqam. Maqam yang pertama adalah karamah. Orang yang telah menyelesaikan tingkatan karamah akan masuk ke tingkatan yang lain dan bila tersendat dalam karamah, maka tidak akan mampu melanjutkannya.

Iklan