Archive for the Zaad Al-Ma’ad Category

Pengobatan Ala Nabi (1)

Posted in Zaad Al-Ma'ad with tags , , , , , on April 11, 2012 by isepmalik

Kedokteran Ala Nabi

Kita telah mempelajari beberapa petunjuk Nabi saw mengenai peperangan, perjalanan, utusan atau delegasi, kelompok pasukan, dan surat-suratnya yang dikirimkan kepada para raja dan para wakil raja.

Kita akan melanjutkannya dengan menyebutkan pasal-pasal yang bermanfaat mengenai petunjuk beliau dalam kedokteran yang digunakannya dan dianjurkannya kepada orang lain.

Kita akan menjelaskan hikmah yang tidak mampu dijangkau akal kebanyakan dokter dan bahwa perbandingan kedokteran mereka dengan kedokteran Nabi saw adalah seperti perbandingan kedokteran orang-orang yang lemah dengan kedokteran mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan dari-Nya kita mendapatkan upaya dan kekuatan.

 

Dua Macam Penyakit

Penyakit ada dua macam; penyakit hati dan penyakit badan. Kedua-duanya disebutkan dalam Al-Quran.

 

Dua Macam Penyakit Hati

Penyakit hati pun ada dua macam, yaitu: penyakit syubhat dan keraguan, dan penyakit syahwat dan kesesatan.

Tentang penyakit syubhat, Allah swt berfirman:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya” (QS. Al-Baqarah: 10).

Dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (QS. Al-Mudatstsir: 31).

Terhadap orang yang diajak berhukum dengan Al-Quran dan Sunnah, namun enggan dan menolaknya, Allah berfirman, “Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS. An-Nur: 48-50).

Ini adalah penyakit syubhat dan keraguan. Adapun penyakit syahwat, Allah berfirman: “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzab: 32).

Ini adalah penyakit syahwat zina. Wallahu a’lam.

 

Penyakit Fisik

Adapun penyakit badan, Allah berfirman:

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit” (QS. An-Nur: 61).

Al-Quran juga menyebutkan penyakit badan dalam haji, puasa, dan wudhu karena suatu rahasia yang lembut yang menjelaskan keagungan Al-Quran dan kebutuhan padanya yang tidak bisa dilepaskan bagi orang yang memikirkannya dan memahaminya. Demikian ini karena dasar kedokteran badan itu ada tiga; menjaga kesehatan, menjaga dari perkara yang menyakitkan, dan membersihkan materi-materi yang merusak. Allah swt menyebutkan tiga dasar ini dalam tiga tempat di Al-Quran.

Allah berfirman dalam ayat puasa, “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah: 184).

Allah memperbolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit karena uzur sakitnya dan bagi orang yang sedang dalam perjalanan demi menjaga kesehatan dan kekuatannya agar tidak dihabiskan oleh puasa dalam perjalana karena berkumpulnya gerakan yang berat dan akibat yang pasti ditimbulkannya berupa habisnya kalori. Ketika puasa, habisnya kalori ini tidak disuplai dengan makanan. Sehingga kekuatan tubuh melemah. Karena itu, orang yang sedang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa demi menjaga kesehatan dan kekuatannya dari sesuatu yang melemahkannya.

Dalam ayat haji Allah berfirman,

Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban (QS. Al-Baqarah: 196).

Bagi orang yang sakit atau ada gangguan di kepalanya berupa kutu, gatal, dan lain sebagainya, Allah memperbolehkan mencukur rambutnya dalam keadaan ihram dalam rangka membersihkan kepala dari uap-uap yang buruk yang menyebabkan penyakit tersebut karena terkumpul di bawah rambut. Apabila ia mencukurnya, maka pori-porinya akan terbuka dan uap-uap tersebut keluar darinya. Dari pembersihan ini dianalogikan segala pembersihan yang jika tidak dilakukan akan menimbulkan penyakit pada tubuh.

Ada sepuluh hal yang apabila tertahan dalam tubuh, maka menimbulkan penyakit; darah apabila bergejolak, mani apabila meronta, kencing, tinja, kentut, muntah, bersin, tidur, lapar, dan haus. Masing-masing dari sepuluh ini akan menimbulkan penyakit apabila tertahan.

Allah telah mengingatkan manusia untuk membersihkan diri dari yang paling ringan, yaitu uap yang tertahan dalam kepala agar dibersihkan juga yang lebih berat darinya. Ini merupakan metode Al-Quran dalam mengingatkan yang lebih berat dengan yang lebih ringan.

 

Menjaga Kesehatan

Tentang menjaga diri dari penyakit, Allah swt berfirman dalam ayat wudhu, “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)” (QS. An-Nisa: 43).

Allah swt memperbolehkan orang yang sakit menggunakan tanah (debu) sebagai pengganti air untuk menjaga tubuhnya dari perkara yang membuatnya sakit. Ini merupakan peringatan agar menjaga diri dari perkara yang mengakibatkan sakit, baik dari dalam maupun dari luar.

Allah telah memberikan petunjuk tentang dasar-dasar kedokteran kepada para hamba-Nya. Kami akan menyebutkan petunjuk Rasulullah saw dalam hal itu dan menjelaskan bahwa petujuknya adalah petunjuk yang paling sempurna.

 

Pengobatan Hati

Adapun pengobatan hati, ia diserahkan kepada para rasul as. Tidak ada jalan untuk mencapainya kecuali dari mereka. Sesungguhnya kebaikan hati adalah dengan mengenal Rabbnya, Penciptanya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum-Nya dan dengan lebih memilih keridhaan dan cinta-Nya, menghindari larangan-larangan-Nya dan perkara-perkara yang dibenci-Nya.

Tidak ada kesehatan hati dan tidak ada kehidupannya sama sekali kecuali dengan cara itu, yang tidak dapat dicapai kecuali dari para rasul. Barangsiapa yang menyangka mendapatkan kesehatan hati dengan cara selain mengikuti mereka, maka ia salah! Apa yang disangkanya itu merupakan kehidupan nafsu hewani dan birahinya, kesehatan dan kekuatannya. Kehidupan dan kesehatan hatinya jauh darinya. Barangsiapa yang tidak membedakan antara dua hal ini, maka hendaklah ia menangisi kehidupan hatinya, karena sesungguhnya hatinya telah mati! Hendaklah ia menangisi cahaya hatinya, karena sesungguhnya hatinya telah tenggelam dalam lautan kegelapan.

Iklan