Archive for the Fasal 17 Category

Saum Syariat dan Saum Tariqat

Posted in Fasal 17 with tags , , , , , on Mei 2, 2012 by isepmalik

Saum (puasa) syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang. Saum tariqat adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yang diharamkan dan dilarang juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub dan sebagainya lahir dan batin, siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa tariqatnya. Saum syariat mempunyai waktu tertentu, saum tariqat selama hidup.

Nabi bersabda:

“Banyak orang yang berpuasa hasilnya hanyalah lapar dan dahaga”.

Dalam Hadits yang lain Nabi bersabda:

“Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa”.

Yaitu orang yang perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang dan menyakiti orang lain.

Firman Allah dalam hadits Qudsi:

“Puasa itu untukku dan Akulah yang akan membalasnya”.

Hadits Rasul:

“Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan. Pertama, yaitu ketika berbuka. Kedua, ketika melihat Allah”.

Semoga kita mendapatkannya.

Pengertian Hadits tadi menurut syariat ialah kebahagiaan yang pertama ketika berbuka dengan memakan makanan di waktu maghrib. Kedua, ketika melihat bulan di malam lebaran pertama selesainya tugas puasa Ramadhan.

Adapun pengertian menurut tariqat ialah kebahagiaan yang pertama ketika masuk surga menikmati kenikmatan surga. Semoga Allah memberikannya kepada kita. Kedua, ru’yah. Yang dimaksud dengan ru’yah ialah melihat Allah pada hari kiamat dengan pandangan sirri secara nyata. Semoga kita mendapatkannya.

Saum hakikat ialah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah. Hadits Qudsi: “Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya”. Sir itu dari nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat. Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah saum hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat, sesuai firman Allah: “Saum itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”.

Iklan