Archive for the Fasal 05 Category

Taubat dan Talqin

Posted in Fasal 05 with tags , , , , , on Maret 24, 2012 by isepmalik

Ketahuilah bahwa martabat tinggi yang telah dijelaskan dalam Fasal 4 tidak akan diperoleh kecuali dengan taubat yang sesungguhnya dan menerima talqin dari ahlinya. Firman Allah dalam Surah Al-Fath ayat 26:

“Dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa”.

Yaitu kalimat Laa Ilaha Illallah, dengan syarat kalimat tersebut diambil dari orang yang hatinya telah bertaqwa sempurna dan suci dari segala sesuatu selain Allah. Bukan sekadar kalimat Laa Ilaha Illallah yang didengar dari mulut orang yang biasa, walaupun lafaznya satu tetapi bobotnya berbeda. Bibit Tauhid yang diambil dari hati yang belum hidup, maka bibit tersebut bibit yang tidak sempurna dan tidak akan tumbuh. Oleh karena itu di dalam Al-Quran, Kalimat Tauhid ditempatkan dalam dua tempat. Pertama, ayat yang menunjukkan Laa Ilaha Illallah secara lisan zahir saja. Firman Allah:

“Apabila dikatakan kepada mereka: Laa Ilaha Illallah mereka menyombongkan diri”. (Ash-Shaffat: 35).

Maksudnya, kalimat Laa Ilaha Illallah yang ini merupakan bagian orang awam. Kedua, Allah menyatakan kalimat Laa Ilaha Illallah disertai dengan pengetahuan yang hakiki. Firman Allah dalam Surah Muhammad ayat 19:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan”.

Ayat ini menjadi sababun nuzul bagi adanya talqin zikir untuk orang-orang yang ingin wusul kepada Allah.

Di dalam Kitab “Bustanusy Syariah” diterangkan bahwa orang pertama yang menginginkan jalan terdekat kepada Allah, terunggul, tetapi termudah melalui Nabi s.a.w. ialah Sayyidina Ali r.a. ketika Sayyidina Ali r.a. meminta, Rasul tidak langsung menjawab, tetapi menunggu wahyu. Maka datanglah Jibril dan mentalqinkan kalimah Laa Ilaha Illallah tiga kali dan Nabi mengucapkannya tiga kali. Selanjutnya Nabi mendatangi para Sahabat dan Nabi mentalqin para Sahabat secara berjamaah.

Nabi bersabda: “Kita telah kembali dari perang kecil ke perang besar”. Yang dimaksudkan dengan perang besar adalah perang melawan hawa nafsu. Sabda Nabi kepada sebagian Sahabatnya:

“Musuhmu yang paling utama ialah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu”.

Mahabbah kepada Allah tidak akan tercapai, kecuali setelah melumpuhkan musuh-musuh-Nya yang ada di dalam wujud dirimu, seperti: nafsu amarah, lawamah, dan mulhimah dan membersihkan diri dari sifat-sifat bahimiyah (binatang jinak) yang tercela, seperti: makan, minum, dan tidur berlebihan, menggunakan waktu tanpa manfaat. Juga membersihkan hati dari sifat-sifat sabu’iyyah (binatang buas) seperti: marah, mencaci, memukul, memaksa. Juga dari sifat syaitaniyah, seperti: sombong, ujub, hasad, dengki, dendam, dan sebagainya dari sifat-sifat badan dan hati yang tercela.

Bilamana seorang manusia sudah besih dari sifat-sifat tercela tadi, berarti dia sudah bersih dari sumber dosa. Maka dia termasuk keluarga orang-orang suci dan ahli taubat. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 222:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Manusia yang hanya bertaubat dari dosa zahiriyah walaupun dia bisa disebut taibun (orang yang bertaubat) tetapi belum menjadi tawwab (orang-orang yang bertaubat dengan sesungguhnya), yaitu taubatnya orang-orang yang khusus.

Perumpamaan orang yang taubat dari dosa lahiriyah, seperti orang yang memotong tanaman dari batangnya, nantinya akan tumbuh kembali, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Berbeda dengan orang yang mencabut dengan akarnya. Yang bertaubat secara sempurna adalah seperti orang yang mencabut pohon padi dengan akarnya, sehingga tidak akan tumbuh lagi. Kalaupun tumbuh, itu termasuk hal yang langka. Talqin merupakan alat yang memutuskan manusia dari segala sesuatu selain Allah. Orang yang tidak memotong pohon pahit (tidak mau menjalani perjalanan pahit) tidak akan sampai kepada manis. Berpikirlah wahai manusia yang memiliki pandangan hati. Semoga engkau berbahagia dan wusul kepada Allah. Firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 25:

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahn-kesalahan”.

Dan Surah Al-Furqan ayat 70:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh maka kesalahan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan”.

Taubat terbagi dua macam, yaitu Taubat Umum dan Taubat Khusus. Taubat Umum adalah seorang hamba berhenti dari dosa kembali kepada taat; dari sifat tercela kepada sifat terpuji; dari jalan neraka ke jalan surga; dari mengikuti kemauan jasad kembali melatih diri dengan zikir dan melakukan perjalanan ‘ubudiyah sekuatnya. Adapun Taubat Khusus adalah setelah hamba meraih Taubat Umum tadi, ia melanjutkan amal-amal baik ke tingkat ma’rifat; dari darajat kepada Qurbah; dari kenikmatan jasmani kepada kenikmatan ruhani, yaitu meninggalkan sesuatu selain Allah; bermesra-mesraan dengan Allah dan melihat kepada Allah dengan pandangan yakin. Begitulah perjalanan orang-orang yang ingin wusul kepada Allah. Semakin tinggi derajatnya, semakin merasa rendah dirinya, semakin dekat kepada Allah, semakin merasa banyak kesalahannya; sehingga ketinggian derajat tadi itu masih merupakan Kasbul Wujud (mencari keadaan). Sedangkan kasbul wujud di tingkat manusia yang tinggi itu adalah dosa. Allah berfirman pada Nabi di dalam Hadits Qudsi: “Keberadaan itu adalah dosa”. Oleh karena itu janganlah menambah lagi dengan dosa yang lain. Para sufi besar berkata bahwa segala kebaikan manusia di kelas Al-Abrar adalah keburukan di kelas orang-orang yang ahli Qurbah. Oleh karena itu Nabi s.a.w selalu beristigfar setiap hari 100 kali. Allah berfirman dalam Surah Muhammad ayat 19 dan Surah Al-Mukmin ayat 55:

“Mohon ampunlah atas dosamu”.

Yang dimaksud dengan dosamu adalah dosa karena keberadaanmu. Taubat di tingkat inilah yang disebut Inabah (Kembali), karena hakikat Inabah adalah kembali dari selain Allah kepada Allah dan masuk ke tangga Qurbah di alam terakhir (Alam Lahut) dan melihat kepada Zat Allah.

Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang jasadnya di bumi dan hatinya di bawah Arasy”.

Melihat kepada Allah di dunia tidak akan berhasil. Yang dapat dilihat di dunia adalah sifat-sifat Allah pada cermin hati. Sayyidina Umar berkata: “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku”. Manusia akan melihat pantulan “Jamalullah” pada cermin hatinya.

Musyahadah seperti ini tidak dapat dihasilkan kecuali melalui talqin dari seorang yekh yang telah sampai kepada Allah dan diterima, juga termasuk kepada orang-orang “Sabiqin”. Dan mereka ditempatkan di Bumi untuk menyempurnakan orang yang masih kurang dengan perintah Allah melalui Nabi s.a.w. Para wali diutus oleh Allah kepada orang-orang tertentu bukan kepada manusia umum. Sedangkan para nabi kepada orang-orang umum dan khusus secara menyeluruh dengan membawa syariat sendiri dari Allah (musytakilan binafsihi).

Adapun Wali Mursyid diutus bagi orang khusus saja tidak hanya untuk dirinya. Tugas seperti ini tidak akan terpenuhi, keculi dengan mengikut nabinya, sehingga kalau seorang wali mengaku membawa Syariat sendiri maka kufurlah ia. Nabi pernah mengumpamakan ulama umat Nabi s.a.w. sama dengan para Nabi Bani Israil. Hal itu karena para Nabi Bani Israil mengikuti syariat Nabi yang diutus, yaitu Musa a.s. Mereka hanya melakukan perubahan dan penguatan-penguatan saja di dalam hukum-hukum, tidak membuat syariat yang lain. Begitu pula ulama umat Nabi Muhammad s.a.w. dari kalangan para wali. Mereka diutus kepada orang-orang khusus untuk menghidupkan kembali perintah dan larangan dan hukum-hukum amalan dan membersihkan pokok agama, yaitu di dalam hati sebagai tempat ma’rifat. Para wali memberitahu orang lain dengan ilmu dari Nabi s.a.w. seperti Ashabus-Suffah (ahli riyadhah). Mereka berbicara tentang rahasia Mi’raj sebelum Nabi memberitahu. Wali adalah penanggung wilayah kenabian yang merupakan bagian dari kenabian. Sedangkan batinnya adalah amanah pendukung bagi dia. Yang dimaksudkan dengan Warasatul Anbiya bukan hanya sekadar ulama yang memiliki ilmu zahir, karena walaupun ilmu zahir adalah warisan Nabi, tetapi sederajat dengan Dzawil Arham dalam ilmu waris. Yang dimaksudkan dengan pewaris sempurna adalah seperti derajat anak, karena anak adalah pewaris asabah terdekat. Anak adalah rahasia ayah zahir maupun batin. Nabi bersabda:

“Ada ilmu yang seperti tiram (tersembunyi). Hanya orang-orang yang mengenal Allah yang mengetahuinya. Bila mereka berbicara, orang-orang bodoh tidak dapat menolak”.

Inilah Sir yang dititipkan pada hati Nabi Muhammad s.a.w. di dalam Mi’raj di dalam batin yang terdalam yang terdiri dari tiga puluh ribu batin. Nabi tidak memberikannya kepada orang awam, tetapi hanya diberikan kepada sahabat-sahabat yang terdekat dan Ashabus Suffah. Dengan barakah Sir tersebut, berdirinya syariat hingga hari qiyamah. Ilmu batin menunjukkan kepada Sir tersebut maka semua ilmu dan pengetahuan hanya sebagai kulit Sir tadi.

Ulama ahli zahir adalah pewaris sebahagiannya, seperti Ashabil Furud. Sedarajat dengan Zawil Arham yang hanya menerima ilmu sebahagiannya sedarajat lapis luar saja. Mereka berdakwah mengajak beriman kepada Allah.

Adapun syekh-syekh yang agung bersilsilah kepada Sayyidina Ali r.a. Mereka sama dengan sumber ilmu di atas bab ilmu, karena mereka mengajak beriman kepada Allah dengan dakwah dan hikmah. Firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

Sumber pembicaraan mereka adalah satu, sedangkan cabang-cabangnya berbeda-beda. Tiga makna yang terkandung dalam ayat tadi terkumpul pada zat Nabi Muhammad s.a.w. Tidak akan ada satu pun orang yang akan menyamainya.

Oleh karena itu ilmu dibagi tiga:

Pertama: Ilmu hal (ilmu tingkah) yang merupakan pusatnya ilmu dan diberikan kepada Rijalullah. Semangat para Rijal adalah dengan ilmu tersebut. Nabi bersabda: “Semangat Rijal akan mampu mencabut gunung”. Yang dimaksud dengan mencabut gunung adalah mencabut kerasnya hati. Sifat kerasnya hati akan hancur dengan doa dan Tadharru mereka. Firman Allah:

“Dan barangsiapa yang diberi hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak”.

Kedua, adalah kulit dari rahasia tadi yang diberikan kepada ulama zahir, yaitu Mauizah Hasanah. Rasul bersabda:

“Seorang alim memberi peringatan dengan ilmu dan adab. Sedangkan orang yang bodoh memberikan peringatan dengan pukulan dan marah”.

Ketiga, adalah kulit yang paling luar diberikan kepada umara, yaitu adil secara lahiriyah dan taktik. Firman Allah:

“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl: 125).

Umara memiliki kemampuan memaksa dan sebab terpeliharanya agama, seumpama kulit hijau dari buah pala. Adapun ulama zahir seperti kulit merah. Sedangkan ulama batin dagingnya. Nabi s.a.w. bersabda:

“Kamu sekalian harus mau bergabung dengan ulama dan mendengarkan pembicaraan ahli hikmah. Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah, seperti menghidupkan bumi dengan air hujan”.

Rasul bersabda:

“Satu kalimat mengandung hikmah merupakan sesuatu yang hilang dari ahli hikmah. Ia mengambilnya bila menemukannya”.

Adapun kalimat yang keluar dari lidah orang awam itu turun dari Lauhil Mahfudz. Lauhil Mahfudz adalah alam Jabarut; termasuk darajat. Sedangkan kalimat-kalimat yang keluar dari Rijal turun dari lauhil Akbar dengan lisan Qudsi tanpa perantaraan di alam Qurbah. Segala sesuatu kembali kepada asalnya. Oleh karena itu hukum mengambil talqin bagi menghidupkan hati adalah wajib. Nabi bersabda: “Mencari ilmu adalah wajib”. Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah Ilmu Ma’rifat dan Ilmu Qurban. Adapun ilmu-ilmu yang lahir ialah yang diperlukan hanya ilmu-ilmu untuk melakukan ibadah saja, seperti Ilmu Fiqih di dalam ibadah. Al-Ghazali berkata:

“Hidupnya hati adalah ilmu, galilah ia. Matinya hati adalah bodoh, jauhilah ia. Bekal yang baik adalah takwa, maka berbekallah dengan takwa. Cukup bagimu apa yang kunasihatkan. Jadikanlah ia sebagai nasihat. Ridha Allah adalah Allah memberikan Qurbahnya kepada hamba-Nya tanpa melirik kepada darajat”.

Firman Allah dalam surah Asy-Syura ayat 23:

“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam Qurbah”.

Maksudnya adalah qurbah dalam satu perkataan.

Iklan