Archive for the Agama dan Sains Category

Ikhtisar Sains Zaman Pertengahan (500-1500 M)

Posted in Agama dan Sains on April 3, 2011 by isepmalik

  • Sains zaman pertengahan terdiri dari: (1) sains dari kebudayaan Islam, dan (2) sains dari kebudayaan Barat.
  • Sains dalam kebudayaan Islam mulai berkembang pada abad ke-8 M dengan adanya gerakan terjemahan karya-karya Yunani di dalam bidang sains dan filsafat dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.
  • Dari tahu 500-1000 M Eropa sedang berada dalam era kegelapan tanpa kemajuan di dalam bidang ilmu khususnya sains dan filsafat, sedangkan kebudayaan Islam mewarisi dan memajukan sains dan filsafat Yunani melalui tokoh-tokoh seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Khawarizmi, Ibn Haytham, Ibn Rusyd, dan Ibn Shatir.
  • Pada abad ke-12 M sarjana-sarjana Eropa seperti Gerard dari Cremona dan Adelard dari Bath pergi ke Spanyol yang sebagian wilayahnya pada masa itu telah ditaklukkan oleh orang-orang Kristen. Di tempat seperti Toledo dan Cordova, mereka menemukan sains Yunani yang kebanyakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Latin yang menjadi Lingua Franca bagi sarjana-sarjana Kristen di Eropa pada masa itu. Dari hasil terjemahan dan diserap ke dalam institusi-institusi perguruan tinggi di Eropa pada abad ke-12 dan 13 mengakibatkan kebangkitan sains di Eropa. Bahkan lebih tepat bila dikatakan bahwa Renaisans sains di Eropa bermula pada abad ke-12, bukannya abad ke-15 atau 16. Khazanah sains ini menjadi bahan penelitian yang penting di universitas-universitas tua di Eropa seperti Bologna di Italia, Oxford di Inggris, dan Paris di Perancis pada abad ke-13.
  • Kedudukan sains di dalam kebudayaan Islam. Sains di dalam kebudayaan Islam walaupun telah dikembangakn oleh tokoh-tokoh sebagaimana disebutkan di atas, dapat dikatakan ‘gagal’ dilembagakan. Perkembangannya banyak bergantung kepada naungan politik dan ideologi para pemimpin, seperti Khalifah Al-Ma’mun pada abad ke-9 yang mendirikan Baitul Hikmah dan berfaham Mu’tazilah (rasionalis). Dari segi kedudukannya, sains Yunani ini yang dijuluki ilmu awwal mempunyai kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan ilmu agama seperti Quran, Hadits, Fikih, Ushuluddin, dsb. Walaupun begitu, tetapi tidak bermakna bahwa sains dan filsafat Yunani ini tidak dimanfaatkan langsung bagi tujuan agama. Ilmu matematika dan astronomi misalnya, digunakan untuk menentukan waktu shalat dan puasa, arah kiblat, dan pelayaran. Ilmu mantik (logika) digunakan untuk menguatkan dalil agama (dalil aqli). Namun demikian, pengajarannya di lembaga Islam seperti madrasah bersifat sampingan atau pinggiran. Kejayaan ahli-ahli sains dan filsafat Islam lebih merupakan kejayaan individu daripada lembaga. Karya-karya Ibn Rusyd misalnya, mendapat sambutan lebih baik dan dikaji secara mendalam di universitas-universitas Eropa, sedangkan di dunia Islam ia kurang mendapat sambutan.
  • Walaupun di Eropa juga ada potensi pertentangan antara sains Yunani dan pemahaman keagamaan Kristen, namun terdapat mekanisme sosial di dalam lembaga pendidikannya yang berhasil membendung dan mengelakkan pertentangan ini. Pertentangan hanya terjadi pada abad ke-17 antara Galileo yang memperjuangkan sains dan Gereja Katolik Romawi yang mempertahankan kedudukan pemahaman Katolik.
  • Sifat sains di zaman pertengahan. Sains dan filsafat di zaman pertengahan lebih merupakan warisan dari kebudayaan Yunani. Ia terdiri dari ulasan-ulasan atau komentar-komentar terhadao karya-karya Plato dan Aristoteles. Misalnya di dalam kajian tentang pergerakan, ilmuwan memulainya dengan tulisan Aristoteles seperti De Physica dan kemudian menguraikan atau menafsirkan. Ada juga karya-karya yang bersifat kritikan seperti kritikan yang dibuat oleh John Philoponus dan Ibn Bajjah mengenai teori pergerakan dari Aristoteles. Terdapat juga perkembangan di dalam teori pergerakan misalnya seperti teorema kelajuan pertengahan (mean speed theorem) oleh ilmuwan di Oxford yang menggunakan analisa matematika dan pembuktiannya dengan menggunakan teknik graph oleh Nicole Oresme dari Paris.
  • Secara keseluruhan, pandangan alam yang dibawa oleh sains zaman pertengahan masih merupakan lanjutan dari pandangan alam yang terkandung di dalam sains dan filsafat Plato dan Aristoteles. Dari Plato dan Phytagoras terdapat pengaruh matematika, dan dari Aristoteles terdapat tradisi organik. Sains Yunani dapat diselaraskan dengan dunia sains Kristen Barat dan dengan itu mengalami kejayaan pada perkembangan selanjutnya. Dari segi filsafat, usaha yang dijalankan oleh St. Thomas Aquinas di dalam mewujudkan sintesis antara Filsafat Aristoteles dan pemahaman keagamaan Kristen pada abad ke-13 mengakibatkan sains diterima di dunia Kristen Barat.

Selanjutnya, kemajuan sains di Barat melibatkan satu proses yang aneh dan paradoxical, yaitu melibatkan penolakan sains dan filsafat Yunani dan medieval, serta memunculkan sains dan pandangan alam yang bersifat mekanistik, eksperimental, dan ulititarian. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan apakah faktor-faktor sosio-budaya yang mengakibatkannya, telah menjadi bahan kajian ahli-ahli sejarah dan sosiologi sains di Barat seperti Max Weber, Robert Merton, dan Joseph Ben-David. Perkembangan ini juga merupakan satu episode penting di dalam sejarah modern Barat.

Iklan

Permulaan dan Tempat Manusia di Alam Semesta (1)

Posted in Agama dan Sains on Februari 24, 2011 by isepmalik

Petunjuk pertama mengenai alam semesta yang mengembang muncul pada tahun 1912 ketika Vesto Slipher mengumumkan bahwa beberapa fuzzy, nebula berbentuk spiral, atau gas awan, telah surut dari Bumi dengan kecepatan cepat. Gerak benda-benda ini mudah terdeteksi dalam spektrum cahaya yang diterima dari objek astronomi. Berdasarkan Efek Doppler, gerakan suatu objek yang membentang memancarkan gelombang cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang atau “lebih merah”, dan mereka muncul di posisi “pergeseran merah” dalam spektrum (lihat Gambar 2.1). Dalam satu dekade, Slipher mengukur empat puluh benda dan menemukan tiga puluh enam “pergeseran merah”.

 

Pada saat itu dipahami bahwa nebula merupakan bagian dari galaksi Bima Sakti, di mana tata surya kita menduduki posisi sentral. Bintang diyakini mempunyai ruang tak terbatas; mereka harus mencegah keruntuhan alam semesta. Selain dari gerakan acak bintang-bintang itu sendiri dan gerakan orbital planet, keseluruhan sistem itu statis, abadi, dan tak terbatas. Sebuah terobosan besar dalam memahami besarnya Bima Sakti dan lokasi kosmik kita muncul pada 1918 ketika Harlow Shapley menggunakan bintang sebagai variabel yang digunakan untuk menentukan bahwa bumi adalah tempat terdekat dari pusat dan bahwa galaksi kita memiliki diameter 300.000 tahun cahaya (gambaran ini kemudian direvisi). Shapley beralasan bahwa nebula harus surut dalam suatu sistem yang sangat besar, dan astronom terkemuka Arthur Eddington pada 1923 menyatakan, “Salah satu masalah yang paling membingungkan dari kosmogoni adalah kecepatan besar dari nebula spiral” (Lightman, 2005:235).

 

Terobosan lain terjadi ketika para astronom menyadari bahwa nebula fuzzy itu pada kenyataannya adalah ekstragalaksi. Pada pertengahan 1920, astronom Edwin Hubble menggunakan bintang sebagai variabel untuk menentukan jarak ke pusat benda-benda, Great Spiral Nebula di Andromeda (lihat Gambar 2.2). Pada 900.000 tahun cahaya (sekarang direvisi menjadi 2,5 juta) itu jauh melampaui galaksi kita, ia juga banyak melakukan pengukuran yang lainnya—“pulau jagad” seperti Bima Sakti itu sendiri. Benda-benda penting sekali sebagai “gambar besar alam semesta”, dan Hubble mulai menentukan jarak ke nebula yang surut. Hasil pertamanya diterbitkan pada 1929 yang menunjukkan hubungan pasti: dengan beberapa pengecualian pergeseran merah, kecepatan, galaksi semakin menjauh karena pertumbuhan yang lebih besar (lihat Gambar 2.3). Meskipun disadarinya bahwa “bahan langka, begitu sulit didistribusikan”, dia berani menyatakan bahwa terdapat korelasi linier yang menyarankan hukum mendasar: kecepatan dari surutnya galaksi adalah berbanding lurus dengan jarak mereka (lihat Gambar 2.4).

 

Diagram ini menyatakan tingkat peningkatan kecepatan universal dengan jarak, seseorang dapat memperkirakan waktu dari galaksi yang telah memisahkan, atau “umur” dari alam semesta. Perkiraan dari waktu ke waktu berkisar antara 10 dan 20 milyar tahun.

 

Beberapa saat sebelum Hubble menyelesaikan makalahnya, perhitungan teoritis juga menyarankan alam semesta yang mengembang. Kerja tersebut terjadi pada 1915 berasal dari teori relativitas umum Einstein yang menghubungkan materi dan energi kepada kesatuan ruang-waktu pada relativitas khusus. Dalam teori gravitasi diperlihatkan perbedaan kekuatan-kekuatan lain; hasil dari kelengkungan ruang-waktu di sekitar massa dan energi. Salah satu deskripsi populer menekankan bagaimana teori radikal mengubah konsepsi kita tentang kosmos:

 

Alam semesta [tidak lagi] suatu bangunan yang kaku dan berubah ketika materi independen bertempat di ruang dan waktu yang independen; melainkan sebaliknya suatu yang tidak berbentuk kontinum, tanpa arsitektur tetap, dan variabel yang terus-menerus menjadi subjek yang mengalami perubahan dan distorsi. Ketika ada materi dan gerak, sifat kontinumnya selalu terganggu. Sama seperti kolam ikan yang senantiasa dikenai gelombang air di sekitarnya, sehingga bintang atau galaksi mendistorsi geometri ruang-waktu melalui pergerakan. (Barnett, 1957:85)

 

Prediksi dari teori itu bahwa gelombang cahaya akan membengkokkan ketika mendekat sebuah obyek yang masif terbukti pada 1919 ketika cahaya bintang-bintang jauh diamati untuk kurva yang mengelilingi matahari selama gerhana total (lihat Gambar 2.5). Banyak astronom kemudian mengamati “lensa gravitasi” yang sama dari cahaya galaksi yang sangat jauh ketika melewati kelompok galaksi yang lebih dekat (lihat Gambar 2.6).

 

Dari persamaan relativitas umum Einstein dan lainnya berhasil dikembangkan model kosmologis. Meskipun ia melihat kemungkinan untuk memperluas model, pengaruh keyakinan bahwa alam semesta statis menghasilkan sebuah gagasan seperti adanya tolakan kosmik atau “anti-gravitasi”, istilah itu ia sebut “konstanta kosmologi” atau “Lambda”. Dia sangat menolak model-model untuk perubahan alam semesta, yang segera diusulkan oleh seorang matematikawan muda Rusia bernama Alexander Friedmann, dan beberapa tahun kemudian oleh seorang fisikawan muda Belgia bernama Georges Lemaitre. Paling signifikan, Lemaitre baru-baru ini menghubungkan teori dengan penemuan pergeseran merah dan posisi ekstragalaksi dari nebula spiral. Dalam makalah utamanya pada 1927, tetapi tidak dipublikasikan, ia menyatakan, “Surutnya kecepatan dari nebula ekstragalaksi adalah efek kosmik dari perluasan alam semesta”, dan ia memprediksikan bahwa hal itu harus menunjukkan korelasi linier dengan jarak (Lightman, 2005:230-45).

 

Permulaan Alam Semesta dalam Perspektif Sains dan Agama

Posted in Agama dan Sains on Februari 23, 2011 by isepmalik

Pada awal abad kedua puluh terjadi perubahan dramatis dalam mengonsepsi kedudukan manusia dalam alam semesta dan sifat dari alam semesta itu sendiri. Ilmu fisik bergabung dengan biologi dalam menyajikan gambaran evolusi kosmos—yang dinamis, perluasan alam semesta pada awal waktu. Pada awal 1930-an hasil observasi dan teori bersepakat bahwa ruang alam semesta dan galaksi mengalami pertumbuhan secara bersamaan, dan hukum menggambarkan kemapanan ekspansi ini. Pada periode yang sama, astronom menemukan fitur dunia fisik yang menakjubkan—bahwa Bumi dan tata surya tidak memiliki lokasi pusat di galaksi kita dan galaksi itu sendiri hanyalah satu dari banyak bintang besar lainnya dalam sistem kosmos.

 

Transformasi fisika yang lebih mendalam telah merevolusi konsepsi dasar ruang, waktu, dan materi itu sendiri. Teori Einstein mengungkapkan relativitas ruang, waktu, dan massa untuk gerak pengamat; kesetaraan massa dan energi; dan masalah pembentukan ruang-waktu dan energi yang menempatinya. Relativitas umum dan hipotesis lanjutannya menghasilkan model alam semesta mengembang yang meledak dari ruang padat yang tidak stabil, kemudian membesar dan didinginkan selama ribuan tahun. Ramalan dan pengamatan sisa-sisa radiasi awal tersebut validitasnya dikonfirmasi dari apa yang kemudian disebut teori “Big Bang” dan menyebabkan runtuhnya teori lainnya. Relativitas khusus memperkenalkan relasi energi-massa, dan bersama-sama dengan teori kuantum meletakkan dasar untuk memahami reaksi nuklir, produksi elemen dalam alam semesta awal, dan bintang-bintang. Hal ini untuk memahami secara sadar bahwa bintang-bintang itu sendiri tidak hidup selamanya tetapi mengalami proses dan dibangun dari unsur-unsur berat dalam siklus hidup yang panjang selama jutaan atau miliaran tahun.

 

Implikasi religius dari penemuan-penemuan tersebut sangat banyak dan beragam, sebagaimana diungkapkan para ilmuwan, teolog dan pemimpin keagamaan. Bumi sekali lagi diturunkan ke posisi sekunder, pada waktu ini ia berada dalam sistem yang jauh lebih besar dari galaksi, tetapi ia salah satu di antara pengisi sistem besar yang sama. Implikasi dari kemegahan gambaran tersebut tak berarti bumi berada di tengah-tengah dengan jelas. Terjadi pertumbuhan dan evolusi alam semesta serta bintang-bintang di dalamnya, presentasi gambar-gambar yang menarik menyarankan adanya kefanaan. Mungkin hal yang lebih besar adalah cerminan metafisik pada hal yang relatif, tetapi juga kesatuan elemen struktur alam paling mendasar yang membentuk unsur-unsur dunia fisik, seperti waktu, ruang, materi dan energi. Paling menonjol dari semuanya adalah implikasi kuat religius dari alam yang temporal—“titik penciptaan”—kemungkinan adanya keselarasan dengan peristiwa penciptaan alkitab, dengan konsep Kristen tentang “creation from nothing”, dan dengan ide ekspansi kosmik dari titik yang disajikan dalam tulisan-tulisan Kabbalistik dari Yudaisme dan dalam kosmologi Meher Baba.

 

Unsur-unsur Dasar Hubungan Islam dan Sains

Posted in Agama dan Sains on Februari 21, 2011 by isepmalik

Wacana kontemporer mengenai hubungan agama dan sains memiliki tiga tema mendasar: pertama, Harmoni, Disonansi, Netralitas: Apakah tradisi agama tertentu mendukung sains? Atau, apakah menentang? Atau, apakah bersifat netral? Apakah secara historis memiliki sifat hubungan?

 

Kedua, Asal: Dengan cara apakah suatu agama memahami sifat asal-usul kosmologis dan biologis? Bagaimana pemahaman ini menghasilkan kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan perspektif ilmiah?

 

Ketiga, Isu moral dan etika: (i) yang berhubungan dengan dampak dari sains dan teknologi modern, sumber daya, dan lingkungan hidup di planet; dan (ii) masalah baru yang muncul karena perkembangan teknologi, terutama dalam ilmu-ilmu biomedis seperti bayi tabung, kloning, dan genetika.

 

Pertanyaan-pertanyaan pada tema pertama muncul dari model dua entitas yang sudah dibahas sebelumnya. Karena model dua entitas tidak dapat diterapkan untuk hubungan Islam dan sains. Namun, karena sejumlah besar karya-karya sekunder secara konsisten mempublikasikan doktrin “Islam menentang sains”, maka perlu diperjelas mengenai beberapa kesalahpahaman mendasar ini. Tema kedua seputar pertanyaan tentang asal-usul yang memiliki dua aspek: asal-usul kosmologis dan asal-usul biologis; yang kedua mencakup teori evolusi yang diusulkan Darwin dan variasinya yang diusulkan para penerusnya.

 

Kita hanya mengeksplorasi hubungan Islam dan sains selama abad ke delapan sampai keenam belas. Pada tema ketiga kita akan mendiskusikan hubungan Islam dan sains modern.

 

Islam vs Sains atau Islam untuk Sains (2)

Posted in Agama dan Sains on Februari 19, 2011 by isepmalik

Sikap Eropa terhadap sains Islam selama masa Goldziher juga bisa dinilai dari perjumpaan yang menarik antara salah satu intelektual Muslim paling berpengaruh abad kesembilan belas bernama Jamaluddin Al-Afghani (1838/1897) dan Ernest Renan (1823-1892) seorang filolog, sejarawan, dan kritikus berkebangsaan Perancis. Rincian pertemuan ini juga menunjukkan kompleksitas warna psikologis intelektual Muslim pada abad yang menentukan, karena pada saat itu kekuatan Eropa sedang menjajah hampir di seluruh dunia Muslim. Mereka juga mengungkapkan aspek-aspek tertentu dari perubahan pandangan Eropa pada agama dan pemahaman Eropa mengenai hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan pada waktu itu.

 

Agama dianggap sebagai penghambat ilmu pengetahuan. Ini pertama kali terlihat dalam referensi Kristen, tetapi hal ini menjadi digeneralisasi kepada semua agama, Islam terutama dipilih untuk menjadi pusat permusuhan terhadap penyelidikan rasional. Gagasan bahwa Islam pada dasarnya menentang terhadap ilmu pengetahuan menjadi pandangan intelektual yang lazim di Eropa, dan hal itu menjadi latar belakang intelektual secara umum yang gemanya menjadi doktrin bahwa “Islam menentang ilmu pengetahuan”.

 

Pertemuan antara Al-Afghani dan Renan didasarkan pada kuliah umum tentang “Islam dan Ilmu Pengetahuan” yang disampaikan oleh Renan di Sorbonne; makalah Renan kemudian diterbitkan dalam Journal des Debats pada tanggal 29 Maret 1883. Dalam kuliahnya, Renan secara meyakinkan mengulangi klaimnya bahwa awalnya Islam dan Arab menentang terhadap hal-hal yang ilmiah dan spirit filsafat; ilmu pengetahuan dan filsafat memasuki dunia Islam hanya dari sumber-sumber non-Arab (Keddie, 1972:189). Al-Afghani yang berada di Paris pada saat itu menanggapi Renan. Responnya diterbitkan dalam jurnal yang sama pada tanggal 18 Mei 1883. Dalam jawabannya, Al-Afghani bertanya secara retoris: “Bagaimanakah agama Islam bisa berbeda pandangan dari agama lain pada hal tersebut? Semua agama tidak toleran, masing-masing dalam caranya sendiri” (Keddie, 1968:182-183). Dia melanjutkan untuk merespon hipotesis Renan, tetapi hanya dalam hal umum:

 

Setiap kali agama memiliki kekuatan di atas, hal itu akan menghilangkan filsafat; dan sebaliknya ketika filsafat yang memerintah, hal itu seperti gundik yang berdaulat. Selama manusia ada, perjuangan tidak akan berhenti antara dogma dan investigasi bebas, antara agama dan filsafat; sebuah perjuangan yang putus asa, saya takut kemenangan tidak akan datang ketika berpikir bebas, karena masyarakat tidak terlalu suka terhadap alasan dan ajaran-ajarannya hanya dipahami oleh beberapa kecerdasan para elit. Dan ilmu pengetahuan yang indah itu tidak sepenuhnya memuaskan kemanusiaan; kemanusiaan yang haus akan hal yang ideal, tetapi terkadang suka berada di daerah gelap dan sebenarnya para filsuf dan sarjana tidak dapat melihat atau menjelajahinya secara mendalam (Keddie, 1968:187).

 

Jawaban Renan yang diterbitkan dalam Journal des Debats pada tanggal 19 Mei 1883 merendahkan Al-Afghani, ia menyatakan bahwa “tidak ada yang lebih instruktif daripada mempelajari ide-ide dari Asia yang tercerahkan dalam keasliannya dan bentuk yang tulus” (Keddie, 1972:196). Ia menemukan pada mereka sebuah rasionalisme yang memberinya harapan bahwa “jika agama membagi manusia, maka kekuatan akan membawa mereka bersama-sama; dan hanya ada satu kekuatan”. Dia kemudian mengulangi pandangan rasialisnya itu, bahkan ketika memuji Al-Afghani: “Sheikh Jamaluddin adalah Afghanistan yang sepenuhnya terpisah dari prasangka Islam; ia milik ras energik Iran dekat India, di mana semangat hidup Aryan masih melebihi lapisan Islam yang resmi”. Renan mengakui “ia mungkin tidak adil kepada Syekh” atas serangan itu: “Kristen dalam hal ini tidak lebih unggul dari Islam. Ini diragukan lagi. Galileo tidak lebih baik ketika diobati dengan Katolik daripada Ibn Sina oleh Islam”. Renan menyimpulkan jawabannya dengan menyatakan bahwa Al-Afghani telah “membawa argumen yang cukup untuk tesis fundamental: selama paruh pertama keberadaan Islam tidak menghentikan gerakan ilmiah yang ada di negeri-negeri Muslim; di semester kedua, ia tertahan di dalam dada dan hal itu membawa duka” (Keddie, 1972:197).

 

Ini menjadi latar belakang literatur-literatur Barat pada abad kedua puluh tentang Islam dan ilmu pengetahuan. Renan telah mendorong untuk keluar dari gambaran itu, tetapi Goldziher masih memiliki pengaruh tinggi dalam wacana ini, yang menyatakan Islam pada dasarnya tidak mampu menghasilkan ilmu pengetahuan. Penafsiran yang fatal terhadap tesisnya Goldziher berakibat pengetahuan terbagi menjadi ‘ilmu-ilmu dari zaman kuno’ (artinya, semua karya diterjemahkan dari bahasa Yunani) dan ‘ilmu-ilmu dari orang Arab’ atau ‘ilmu baru’. Ilmu kuno berarti “seluruh ilmu pendidikan, ilmu fisika dan metafisik dari ensiklopedia Yunani, serta cabang-cabang matematika, filsafat, ilmu alam, kedokteran, astronomi, teori musik dan lain-lain” (Goldziher, 1915:185), meskipun ia mengakui ketertarikan yang luas “bahwa ilmu berkembang dari abad kedua dalam [lingkungan] lingkaran agama Islam (dan didorong oleh para Khalifah Abbasiyah)” “negara. Ia menyatakan bahwa “ortodoksi yang ketat selalu dilihat dengan beberapa ketidakpercayaan pada mereka yang akan meninggalkan ilmu pengetahuan Syafii dan Maliki dan meninggikan pendapat Empedokles ke tingkat hukum dalam Islam” (Goldziher, 1915:185-86). Seluruh rentang Yunani, Persia, Hindu, dan karya pra-Islam lainnya dipertentangkan dengan “ilmu-ilmu Islam yang murni”. Posisi ini sebelumnya telah diperiksa secara detail, dan karenanya sebuah kutipan akan lebih menjelaskan:

 

Ketika memeriksa data yang digunakan oleh Goldziher untuk membangun garis pertentangan itu, kita menyadari bahwa batas garis pertentangan digambar di atas pasir dengan cukup jelas dan sebelumnya tujuan disusun tidak lain dari interpretasi spesifik dari tradisi intelektual Islam secara keseluruhan. Dalam rangka mendukung berbagai klaimnya, Goldziher bergantung sepenuhnya pada pengecualian, bukan pada norma. Dan distorsi-distorsi fatal itu berupa peletakan data kepada bagian yang dikutip dalam konteks dia, bukan dalam konteks sejarah yang tepat. Contohnya, sebagai buktinya ia mengutip pernyataan, bahwa “Orang Muslim yang saleh harus menghindari ilmu-ilmu tertentu dengan sangat hati-hati karena berbahaya kepada iman”, karena Nabi berdoa kepada Tuhan untuk memberi perlindungan dari ‘ilmu tidak berguna’. Goldziher menyatakan bahwa hadits Nabi ini “sering dikutip”. Dalam catatan kaki untuk pernyataan ini, tentu orang akan mencari referensi yang dikatakan ‘sering dikutip’ itu, tetapi hanya ditemukan satu catatan yang menyatakan bahwa hadits ini dapat ditemukan dalam Muslim (V, 307) dan tidak ada dalam Bukhari. Tetapi, ia (Goldziher) mengatakan, “Itu muncul dengan perlakuan khusus di Musnad Ahmad: VI:318”. Apa artinya tradisi Nabi yang muncul dalam Musnad Ahmad dengan perlakuan khusus? Musnad Ahmad, seperti semua karya-karya lainnya adalah kumpulan ucapan dan deskripsi berbagai tindakan Nabi, disusun sesuai dengan narator, secara sistematis dan seragam tanpa ada perlakuan khusus yang diperuntukkan bagi satu hadits. Selanjutnya, dalam teks hadits tersebut, kata yang digunakan adalah ilm yang tidak berarti tipe ilmu pengetahuan yang sedang dibicarakan Goldziher; ilm berarti pengetahuan secara umum dan dibawa dalam konteks doa Nabi, sangat tidak mungkin bahwa ia mengacu pada “ilmu asing” (Iqbal, 2002:78).

 

Islam vs Sains atau Islam untuk Sains (1)

Posted in Agama dan Sains on Februari 15, 2011 by isepmalik

Sejauh ilmu pengetahuan diperhatikan, Islam merupakan suatu rintangan ketika mau mengembangkannya. Dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Islam sehingga ilmu sulit untuk berkembang. Inilah sebabnya, meskipun tersedia kekayaan minyak yang sangat besar di Timur Tengah, tidak ada negara Muslim yang memproduksi ilmu sampai hari ini. Secara historis, memang benar bahwa sebagian besar teks ilmiah Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan menjadi tersedia untuk Muslim. Tetapi hal ini tidak menghasilkan ilmu pengetahuan asli dan tentu saja bukan jenis yang muncul di Eropa pada saat Revolusi Ilmiah. Ilmu pengetahuan Yunani bertahan dalam peradaban Islam bukan karena Islam. Diperlakukan sebagai “ilmu asing”, warisan Yunani selalu dilihat oleh penguasa Islam dengan kecurigaan, permusuhan, dan begitu memiliki kesempatan mereka menghancurkannya. Al-Ghazali (w. 1111) adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk ini. Meskipun demikian, beberapa filsuf-ilmuwan dan dokter brilian masih memiliki kekuatan untuk keluar sebagai oposisi kuat. Mereka meninggalkan warisan kecil dari karya-karyanya—terutama komentar tentang filsafat alam karya Aristoteles—yang memiliki dampak signifikan pada pemikiran Barat ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Di antara filsuf-ilmuwan yang patut diketahui ini adalah Al-Kindi, Al-Farabi (w. 950), Ibnu Sina, Ibnu Bajjah (w. 1139), dan Ibnu Rusyd.

Bagaimanapun sangat banyak buku umum mengenai ilmu pengetahuan dan agama, maupun yang berhubungan dengan sejarah ilmu pengetahuan yang menggambarkan kegiatan ilmiah dalam peradaban Islam selama delapan ratus tahun. Sebagian besar catatan periode ini ternyata dimatikan hanya dalam beberapa ringkasan kalimat, yaitu tradisi ini mengalami kemandegan pada abad kedua belas. Ini adalah pandangan lazim tetapi tidak mendasar karena tidak pernah menyentuh naskah asli dan tidak pernah memandang instrumen ilmiah Islam sebagai kualitas estetika dan rincian yang memukau seperti penguasaan teorema matematika yang kompleks. Merupakan sebuah kewajiban bagi seorang penulis mengenai Islam dan ilmu pengetahuan untuk memeriksa bukti-bukti yang mendukung pandangan ini. Ignaz Goldziher seorang godfather dari doktrin “Islam versus ilmu asing” pertama kali membuat makalah berbahasa Jerman dengan judul “Stellung der alten islamischen Orthodoxie zu den antiken Wissenschaften” (Goldziher, 1915). Makalah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1981 oleh Merlin Swartz dengan judul yang sama sekali tidak akurat, “The Attitude of Orthodox Islam Toward the ‘Ancient Sciences’” (Swartz, 1981). Judul berbahasa Inggris tersebut menyesatkan sebagaimana dikatakan Dimitri Gutas karena “menghilangkan kata ‘old’ (‘alte’) dari judul asli; menghilangkan kata ‘old’ minimal tidak akan membuat pembedaan antara berbagai zaman sejarah Islam, menghilangkan kata ‘old’ dalam konteks bahasa Inggris membuat semua menjadi ‘Islam ortodoks’ yang menentang mempelajari ilmu-ilmu kuno” (Gutas, 1998:168).

Di antara 155 referensi yang dikutip Goldziher, tidak ada satu pun referensi ilmuwan yang mempermasalahkan tentang “oposisi Islam ortodoks”. Hal ini sangat mencolok karena bukti internal (Islam) tidak pernah disebutkan Goldziher ketika posisinya sedang mengkritik, walaupun setidaknya terdapat empat kritik penting yang sedikit pengaruhnya dalam beberapa tahun terakhir (Sabra, 1987; Makdisi, 1991; Berggren, 1996; Gutas, 1998).

Masalah mendasar dalam konstruksi Goldziher adalah konsepsinya mengenai “ortodoksi” dalam Islam, sebagaimana ditunjukkan George Makdisi:

Penggunaan istilah “ortodoksi” menyiratkan pembedaan antara yang benar dan yang palsu. Istilah ini menyiratkan adanya norma mutlak serta otoritas yang memiliki kekuatan untuk mengucilkan mereka yang berdoktrin palsu atau sesat. Seperti otoritas yang eksis dalam kekristenan, yaitu dewan dan sinode. Otoritas ini tidak ada dalam Islam (Makdisi, 1991:251)

Dengan adanya “ortodoksi tua” yang menentang ilmu pengetahuan, Goldziher ingin membuat perbedaan “untuk beberapa ortodoksi ‘baru’, dan ini diidentifikasi sebagai Islam versi Goldziher sebagaimana yang ia sebutkan di [kalimat terakhir makalahnya]” (Gutas, 1998): “Islam ortodoks dalam perkembangan dunia modern menawarkan tidak ada pertentangan untuk mempelajari ilmu-ilmu kuno, juga tidak melihat antitesis antara dirinya dan ilmu-ilmu kuni” (Goldziher, 1915; Swartz, 1981:209). Gutas mencatat bahwa “pernyataan ini menunjuk ke sumber rasionalistik Goldziher dan bahkan bias politik” dan dia menyarankan bahwa hipotesis Goldziher jelas terlihat anti-Hambali.

Sikap Goldziher terhadap Islam dirumuskan menjadi latar belakang kolonisasi dunia Muslim oleh kekuatan Eropa yang selanjutnya memberitakan Islam sebagai kekuatan yang hanya bisa mencemooh dan difitnah. Hal ini bias terhadap Islam yang telah menembus semua bidang pemikiran dan imajinasi dari kehidupan di Eropa pada abad kesembilan belas, posisi intelektual Goldziher memiliki kontribusi besar dalam membuat citra negatif dunia Islam. Dia seorang ahli yang mewarisi secara langsung sejarah abad pertengahan untuk memusuhi Islam. Selanjutnya, Islam dipelajari di Eropa bukan sebagai agama yang benar tetapi sebagai hasil penemuan Muhammad: banyak karya termasuk dalam judulnya yang menggunakan istilah Muhammadanism, sebagaimana yang digunakan Goldziher dalam judul karya besarnya Muhammedenische Studien (1888).

Islam dan Sains: Sebuah Hubungan Alami

Posted in Agama dan Sains on Februari 12, 2011 by isepmalik

Dengan menggunakan kategori-kategori konseptual yang melekat dalam Islam untuk memahami—apakah suatu pengetahuan itu ilmiah atau tidak—kita bisa merumuskan pertanyaan tentang hubungan Islam dan sains. Pengetahuan dalam bahasa Arab adalah ilm, sebuah kata yang sering muncul dalam Al-Quran. Pengetahuan dianggap sangat penting; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”, sebuah ayat Al-Quran memberitahu kita (QS. 39:9). Nabi SAW mengatakan bahwa “ulama adalah pewaris para nabi”. Nabi SAW juga menyarankan umat Islam untuk “mencari pengetahuan semenjak buaian sampai ke liang kubur”. Mengakuisisi pengetahuan merupakan manifestasi keluhuran budi, karena hal itu memuliakan kemanusiaan dan melayani kebutuhannya. Dalam kasus tertentu, sejumlah pengetahuan Islam dianggap penting; bagi masyarakat, berbagai ilmu pengetahuan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan praktis masyarakat. Pengakuan ini menghasilkan dua kategori kewajiban: pribadi dan komunal. Kewajiban pribadi (fard ‘ayn) dari orang yang percaya untuk memiliki sejumlah pengetahuan dari dîn-nya tetapi tidak setiap orang wajib memiliki keahlian dalam astronomi atau matematika, karena hal ini kewajiban dari suatu komunitas. Jadi dapat dipastikan bahwa mewujudkan pengetahuan ilmiah—apakah melanjutkan pemahaman tentang kosmos dan sistem kerjanya atau hanya untuk memenuhi kebutuhan praktis masyarakat—menjadi tugas “agama” bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian, sejumlah individu tertentu dari masyarakat harus mempersiapkan hal itu dengan keuangan cukup, logistik memadai, dan dukungan moral dari seluruh masyarakat. Hal ini akan menjadi kewajiban agama yang menyediakan hubungan antara Islam dan pencarian pengetahuan ilmiah.

 

Skema konseptual “interaksi sains dan agama” muncul dari pemahaman dasar tentang sifat dan fungsi pengetahuan untuk menghapus dualitas yang melekat dalam model dua entitas, dan memungkinkan kita untuk memahami upaya ilmiah dari para ilmuwan Muslim dan ulama periode klasik dengan istilah mereka sendiri. “Saya membatasi buku ini”, tulis Al-Khawarizmi dalam pengantar Algebra, “untuk keperluan menghitung warisan, bagian menilai dalam perdagangan dan semua urusan satu sama lain [yang melibatkan pengukuran] tanah, menggali kanal, dan [perhitungan] geometris, dan hal-hal lainnya” (Khawarizmi, 1989:4). Ketika menulis bukunya sebagai perintis ilmu aljabar, Al-Khawarizmi memenuhi kewajiban fard ‘ain, ia hanya berharap menerima balasan dari Sang Pencipta.

 

Bisa dikatakan bahwa tidak semua ilmuwan Muslim melihat penelitian ilmiah seperti ini, adakalanya mereka tertarik kepada sains hanya untuk kepentingan sendiri, atau mereka hanya mengejar karier, atau sebagai penghidupan untuk keluarganya. Meskipun begitu, banyak juga ilmuwan Islam yang memiliki komitmen terhadap Islam dengan bersungguh-sungguh membuat kerangka konseptual sains islami. Dua kategori yang disebutkan di atas (kewajiban pribadi atau fard ‘ain dan kewajiban komunal atau fard kifayah) adalah istilah-istilah sesuai dengan hukum Islam yang tertanam dalam sistem kepercayaan dan praktek Islam.

 

Hal ini penting untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hubungan antara Islam dan tradisi ilmiahnya dengan tidak memaksakan kategori konseptual asing. Sains adalah aktivitas peradaban; ia memenuhi kebutuhan dari suatu peradaban yang diberikan dengan pengetahuan yang reliabel dan dapat diverifikasi tentang dunia fisik. Hal ini dapat dilakukan pria dan wanita dengan mengeksplorasi secara langsung yang terkait sistem kepercayaan dan pandangan dunianya. Cara seorang ilmuwan memahami asal dan kerja dunia fisik ini sangat penting untuknya atau untuk pendekatan yang digunakannya. Hal ini merupakan kerangka pemahaman tentang asal-usul dan kerja dunia fisik yang membentuk matriks dari munculnya hubungan antara ilmuwan dan sains serta antara ilmuwan dan dirinya atau cara pandangnya (dîn).

 

Dilihat dengan cara ini, hubungan Islam dan sains menjadi satu set yang inheren dan merupakan hubungan organik antara sains, ilmuwan, serta keimanan dan prakteknya. Di satu sisi, hubungan itu adalah antara apa yang seorang individu persepsikan sebagai kewajiban pribadinya (fard ‘ain) dan perannya dalam memenuhi kewajiban komunal (fard kifayah). Tetapi, hal ini bukan berarti tidak ada ketegangan atau konflik di dalam ilmiah tradisi Islam. Pandangan Islam terhadap semua sains—apakah ilmiah atau sebaliknya—melalui perspektif unik yang memiliki kesatuan pengetahuan, arah, dan tujuan tertentu. Metodologi yang diusulkan di sini adalah mengeksplorasi hubungan Islam dan sains sebagai seperangkat hubungan dinamis yang muncul dari konsep pengetahuan Islam tertentu (dalam hal ini, pengetahuan ilmiah) yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tugas sebagai ilmuwan untuk memenuhi kebutuhan ini, dan naluri memperoleh pengetahuan yang selalu menjadi penggerak utama untuk menjelajahi alam dunia. Sebagaimana Al-Biruni mengatakan kepada kita:

 

Saya berkata, naluri seseorang terhadap pengetahuan terus menerus mendesaknya untuk menyelidiki rahasia yang tidak diketahui, dan untuk mengeksplorasi terlebih dahulu apa kondisi yang mungkin terjadi di masa depan, sehingga ia dapat mengambil tindakan yang diperlukan untuk menangkal bahaya dan kecelakaan yang mungkin menimpa dirinya. (Al-Biruni, 1967:5)

 

Sebuah bantahan untuk metodologi ini mengenai kehadiran ilmuwan dan sarjana non-Muslim dalam tradisi ilmiah ini. Memang benar, banyak sekali non-Muslim yang berpartisipasi dalam pembuatan tradisi ilmiah Islam khususnya pada tahap awal, tetapi dengan menganalisis secara mendalam menjadi jelas bahwa tradisi ilmiah yang dikembangkan dalam peradaban Islam tidak dapat dibagi ke dalam kategori Muslim dan non-Muslim; karena itu adalah tradisi yang menjelajahi alam dunia dalam keseluruhan pandangan yang diberikan oleh Islam, bahkan para ilmuwan dan penerjemah non-Muslim yang berpartisipasi dalam usaha ini bekerja dalam kerangka secara keseluruhan. Hal ini seharusnya tidak terlihat aneh. Pada saat sekarang ribuan ilmuwan Muslim bekerja di lembaga-lembaga sains modern yang dibangun pada pandangan dunia selain Islam, belum melakukan usaha dalam tradisi “Islam” kembali.

 

Suatu titik akhir yang berkaitan dengan metodologi adalah peran wahyu dalam Islam. Konsep pengetahuan Islam pada akhirnya terkait dengan wahyu yang dianggap satu-satunya sumber yang benar-benar nyata dan pengetahuan yang benar. Dalam konteks kita, hal ini harus dipahami bahwa informasi sekecil apapun atau pengamatan terhadap eksternal fisik indra seseorang (sentuhan, bau, rasa, penglihatan, pendengaran, atau dengan instrumen ilmiah), harus diproses sejelas-jelasnya untuk mengungkapkan pengetahuan. Pengetahuan yang terungkap akan menguraikan urutan dan hubungan hal tertentu. Pengetahuan yang berasal dari indera harus diperiksa secara jelas dan ‘objektif’. Begitu pula bintang atau bulan tidak eksis oleh dirinya sendiri atau untuk dirinya sendiri, melainkan ada di dalam alam semesta luas yang dihuni oleh berbagai hal-hal lainnya; selain keberadaannya sendiri sebagai benda, ia memiliki eksistensi relasional dengan hal-hal lainnya. Eksistensi relasional ini memberikan kerangka kerja mendalam yang keberadaannya sendiri harus diperiksa. Bintang malam yang terbit di atas Samarkand dan selama musim panas memiliki eksistensi sendiri, tetapi Al-Biruni atau Al-Khawarizmi mempelajari terbit dan terbenamnya dengan menggunakan data pengamatan untuk membangun model alam semesta dalam satu kesatuan. Secara umum, model alam semesta ini bagi seorang ilmuwan Muslim adalah sebagai kerangka kerja dan integrasi data ilmiah tentang bintang ke alam semesta yang lebih besar adalah apa yang dimaksud dengan “pengolahan” data berdasarkan kesucian wahyu. Ilmuwan melakukan pengamatan dan pengukuran untuk tujuan memajukan pengetahuan; di samping itu ia adalah manusia yang berada dalam masyarakat yang memiliki kebutuhan tertentu berupa berkah dari pendidikannya, pelatihan, sumber daya material, dan preferensi pribadi yang harus dipenuhi, serta berharap “apa yang dipelajari akan memberi umpan balik positif atas usahanya”. Al-Khawarizmi berkata, “mendapatkan untuk [dirinya] melalui keunggulan doa-doa atas anugrah Ilahi” (Al-Khawarizmi, 1989:66).