Arsip untuk pemandangan

Pembagian Gagasan

Posted in Pengetahuan Perolehan with tags , , , , , on Februari 3, 2013 by isepmalik

Dari satu perspektif, gagasan dapat dibagi menjadi dua: universal dan partikular: “Gagasan universal” adalah konsep yang menyantirkan sekian banyak hal dan benda, seperti konsep manusia, yang dapat diterapkan pada jutaan individu. Sebaliknya, “gagasan partikular” adalah bentuk mental (mental form) yang cuma menyantirkan satu maujud, seperti bentuk mental tentang Socrates. Gagasan universal maupun partikular, mengikuti dasar pembagian lain, dapat digolongkan menjadi beberapa tipe. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai bagian-bagian tersebut.

  • Gagasan-gagasan indriawi, yaitu gejala-gejala sederhana yang terdapat dalam jiwa sebagai hasil dari hubungan antara organ-organ indra dan kenyataan-kenyataan material, seperti citra pemandangan yang kita lihat dengan mata atau suara yang kita dengar dengan telinga. Kelangsungan gagasan ini sepenuhnya bergantung pada kelangsungan kontak dengan jagat luar. Begitu kontak itu terputus, gagasan-gagasan ini pun akan menghilang dalam sekejap (misalnya dalam sepersepuluh detik).
  • Gagasan-gagasan khayali (imaginary ideas), yakni gejala-gejala sederhana dan khas dalam jiwa yang secara langsung diakibatkan oleh timbulnya gagasan-gagasan indriawi dan hubungan dengan jagat luar. Berbeda dengan gagasan indriawi, kelangsungan gagasan khayali tidak bergantung pada hubungan dengan jagat luar. Sebagai misal, citra mental mengenai pemandangan kebun yang menetap dalam jiwa kendati kedua mata kita telah terpejam, dan dapat kita ingat kembali bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu.
  • Gagasan-gagasan kewahaman (al-wahamiyyah atau ideas of prehension)[1]: Para filosof menyebutkan adanya jenis lain gagasan partikular yang terkait dengan makna-makna partikular, seperti permusuhan antarbintang yang menyebabkan mereka saling menjauh. Sebagian filosof memperluasnya untuk mencakup segenap pengertian dan makna partikular lainnya, termasuk perasaan kasih sayang (affection) dan benci (enmity) dalam diri manusia.

Tak ayal lagi, konsep-konsep universal seputar kasih sayang dan kebencian pada hakikatnya tergolong sebagai gagasan-gagasan universal, dan bukan gagasan-gagasan partikular. Afeksi dan kebencian dalam diri pelaku persepsi sebenarnya adalah pengetahuan presentasional akan kualitas-kualitas jiwa, dan bukan termasuk dalam pengetahuan perolehan.

Perasaan kita tentang kebencian pihak lain, sesungguhnya bukanlah perasaan langsung yang mengemuka tanpa perantaraan (bukan pengetahuan presentasional), melainkan terjadi melalui perbandingan keadaan diri kita dengan orang lain yang berada dalam situasi dan kondisi sama. Akan halnya persepsi-persepsi binatang, agaknya kita masih perlu memperbincangkannya lebih panjang dan tidak bisa kita lakukan pada kesempatan ini.

Yang dapat kita terima sebagai bagian gagasan partikular ialah gagasan yang ditimbulkan oleh keadaan-keadaan jiwa yang sewaktu-waktu dapat kita ingat kembali, mirip dengan gagasan khayali dalam kaitannya dengan gagaan indriawi. Contohnya, ingatan tentang ketakutan tertentu yang mengemuka pada saat tertentu atau afeksi tertentu yang muncul pada saat tertentu. Harus dicatat bahwa adakalanya gagasan-gagasan wahm digunakan untuk mengacu pada gagasan-gagasan yang tidak bersandarkan pada realitas apapun dan adakalanya ia juga dimaksudkan sebagai “fantasi” (al-tawahhum).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Lihat, Parvis Morewedge, The Metaphysica of Avicenna (Ibn Sina), Routledge & Kegan Paul, 1973, h. 321—penerj. Inggris.

Iklan

Pertimbangan-pertimbangan Nilai

Posted in Watak Nilai with tags , , , , , on Mei 19, 2012 by isepmalik

Melakukan pertimbangan nilai adalah kebiasaan sehari-hari bagi kebanyakan orang. Bagi kebanyakan orang penilaian terjadi secara terus menerus dan jika sesuatu (benda fisik, cara bertindak seseorang) diutamakan atau dipilih. Dari tangisnya seorang bayi yang ingin diperhatikan, sampai kepada orang yang berbelanja memilih barang-barang di toserba, sampai kepada negarawan yang menetapkan soal-soal politik nasional atau internasional, kita terlibat dalam tingkah laku di mana nilai itu menjadi pertaruhan. Sebagian pilihan ada yang tidak penting seperti pilihan kopi atau teh, jika kita ditanya lebih suka minum apa; tetapi ada pilihan-pilihan lain yang mempengaruhi seluruh kehidupan kita seperti jika kita memilih profesim memilih calon istri, memilih partai politik untuk menjadi anggota, atau memilih gereja.¨

Kehidupan itu memaksa kita untuk mengadakan pilihan, mengukur benda dari segi lebih baik atau lebih jelek dan untuk memberi formulasi tentang ukuran nilai. Kita memuji atau mencela, mengatakan bahwa suatu tindakan itu benar atau salah dan menyatakan bahwa pemandangan di muka kita itu indah atau buruk. Setiap individu mempunyai perasaan tentang nilai dan tak pernah terdapat dalam suatu masyarakat tanpa sistem nilai. Jika kita tidak melakukan pilihan kita sendiri, maka waktu atau teman-teman kita atau kekuatan-kekuatan luar lainnya akan menetapkan pilihan itu untuk kita, dan ini berarti penetapan kita juga. Oleh karena itu maka soalnya bukan apakah kita harus atau tidak perlu mempunyai ukuran, keyakinan, kesetiaan atau idealisme yang atas dasar-dasarnya kita mengatur kehidupan. Soalnya adalah apakah ukuran-ukuran tersebut harus konsisten atau tidak konsisten, harus mengembangkan kehidupan atau merusaknya. Menganggap sepi peran nilai berarti mempunyai gambaran yang keliru dari satu segi tentang manusia dan alam. kebanyakan orang suka melihat kesopanan, keadilan, cinta, dan pengabdian untuk tambahnya kebenaran serta berkurangnya kekejaman, kezaliman, kebencian, keburukan dan kepalsuan.

Semenjak zaman Yunani purba, para filosof telah menulis segi, teori tentang problema nilai. Sekarang, penyelidikan tentang apa yang dinilai manusia, dan apa yang harus dinilai, telah menimbulkan perhatian baru. Penyelidikan mengenai teori umum tentang nilai tersebut, asal, watak, klasifikasi dan tempat nilai di dunia terbit secara teratur dalam surat kabar umum dan penerbitan ilmiah. Etik (penyelidikan tentang nilai dalam tingkah laku manusia) dan estetik (penyelidikan tentang nilai dalam seni) merupakan dua bidang yang besar yang berhubungan dengan nilai.

Dalam masyarakat yang agak statis, nilai tercakup dalam adat kebiasaan tradisi. Adat dan tradisi tersebut dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua anggota masyarakat sedemikian rupa sehingga mereka itu tidak sadar akan perbuatan mereka. Dalam masyarakat yang berubah secara cepat, seperti masyarakat di mana kita hidup, nilai mungkin menjadi bahan perselisihan dan bidang konflik. Krisis sekarang tentang nilai adalah sangat mendalam. Beberapa orang menganggap krisis tersebut sebagai aspek dari krisis otoritas yang lebih hebat.[1] Pusat otoritas telah menjadi tidak tetap, dasarnya dipersoalkan, dan akibatnya putusan-putusannya tidak lagi dipercaya. Mungkin orang menjelaskan bahwa ketidak-percayaan itu disebabkan oleh kejadian-kejadian sejarah yang baru, tetapi persoalannya adalah lebih besar dari sekadar tidak percaya kepada juru bicara yang berkuasa; yang menjadi soal adalah bahwa orang tidak lagi dapat mempercayai sesuatu apa pun.[2]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


¨ Di Barat penganut-penganut Protestan memilih sekte yang disukai, dan masing-masing sekte mempunyai gereja sendiri (penerjemah).

[1] Abraham Kaplan, In Pursuit of Wisdom (Beverly Hills: Glencoe Press, 1977), h. 309. Don Cupitt, Crisis of Moral Autority (Philadelphia: Westminster, 1972.)

[2] Sissela Bok, Lying: Moral Choice in Public and Private Life (New York: Pantheon Books, 1978). Terbitnya buku semacam ini pada waktu sekarang menunjukkan adanya kekurangpercayaan.