Arsip untuk hanya satu

Kesulitan-kesulitan dalam Mempelajari Akal

Posted in Akal with tags , , , , , on Juli 30, 2012 by isepmalik

Terdapat kekaburan dan keterlambatan dalam penyelidikan tentang akal karena beberapa sebab:

Pertama, penyelidikan tentang akal dan tentang manusia pada umumnya telah mendapat perhatian yang sangat sedikit pada masa yang lalu, khususnya dari segi bantuan keuangan, dibandingkan dengan penyelidikan tentang alam di sekitar manusia. Pada zaman kita sekarang, kita pada pokoknya mementingkan eksploitasi alam fisik, membentuk mesin dan menjelajah angkasa. Kita telah mempelajari lebih banyak tentang benda-benda dan binatang-binatang dari pada tentang manusia. Perhatian kita diarahkan terhadap aspek kehidupan manusia yang juga ada hubungannya dengan benda dan binatang. Penyelidikan sosial adalah baru, dilakukan orang semenjak akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Metoda ilmiah dipakai pertama dalam matematika dan astronomi kemudian dalam fisika dan kimia, kemudian lagi dalam fisiologi dan biologi dan hanya baru-baru ini diterapkan untuk sosiologi dan psikologi.

Dalam interpretasi-interpretasi yang terdahulu, sebelum konsep evolusi diterima dalam dunia pemikiran, akal dianggap sebagai terpisah dari alam. akal mencoba berhubungan dengan dan memahami “ultimate reality” (realitas yang tertinggi). Pandangan “seorang pengamat” tentang pengetahuan dianggap sudah yakin. Tetapi problemanya adalah untuk menjembatani jurang pemisah antara akal dan alam. Pada waktu sekarang, akal dipandang sebagai suatu alat atau suatu fungsi, dan tidak sekadar sebagai seorang pengamat di luar proses. Tidak ditekankan perlunya riset dan percobaan-percobaan, sikap sementara (tentative) dan derajat kemungkinan (degree of probability).

Kedua, psikologi telah menimbulkan aliran-aliran pemikiran yang bertentangan. Psikologi adalah sains yang khusus yang memberikan bahan-bahan deskriptif, dan bahan-bahan tersebut menjadi dasar untuk menyusun interpretasi kita tentang akal. Akan tetapi psikologi itu bermacam-macam, tidak hanya satu. Tak ada kata sepakat tentang metoda yang diperlukan untuk psikologi, bahkan tak ada kesepakatan tentang apakah subyek psikologi itu. Dalam mempelajari akal, beberapa metoda dapat dipergunaka; penyelidikan tentang perilaku yang obyektif, pendekatan genetik, yang mencakup perkembangan anak-anak atau perkembangan rasa, penyelidikan tentang perilaku binatang, perilaku yang abnormal, mekanisme dan proses fisiologis, introspeksi, persepsi ekstrasensori masing-masing metoda tersebut dipakai oleh sebagian dari para psikolog.

Bermacam-macam psikologi menekankan bermacam-macam aspek akal dan perilaku manusia. Perkembangan yang semula dari psikoanalisa (dilakukan oleh Sigmund Freud, Alfred Adler, C. G. Jung dan lain-lain), telah terjadi di dalam profesi kedokteran. Menurut Freud, enerji kehidupan manusia atau struktur kepribadian terdiri atas tiga bagian. Pertama id, yaitu yang merupakan lapangan di bawah sadar yang mendalam dari naluri (instinct); dorongan hati (impulse) dan passi (passion). Kedua, ego, yaitu unsur kepribadian yang dapat berpikir dan kadang-kadang dapat mengontrol kegiatan id. Ketiga, superego, yaitu internalisasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, yang telah dinamakan conscience. Berhadapan dengan tiga kekuatan, yakni id, superego dan dunia luar yang kasar, ego terpaksa mengakui kelemahannya dan dengan mudah terkena perasaan salah (guilty) dan gelisah (anxiety). Psikoanalisa menekankan adanya konflik dan kemenangan di dalam atau di antara bidang-bidang kepribadian dan bermacam-macam mekanisme untuk mengatasi problema-problema tersebut seperti: lari (escape), pertahanan (defence) dan sebagainya.

Behaviorisme (dikembangkan oleh John B. Watson, K. S. Lashley, Clark L. Hull dan E. C. Tolman) muncul sebagai hasil penyelidikan-penyelidikan dalam bidang psikologi binatang. Metoda dan cara bekerjanya kemudian diterapkan untuk menyelidiki perilaku manusia. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam fasal 2 dan 3, psikologi perilaku mengarahkan perhatiannya kepada tingkah laku yang dapat dilihat dan kepada respons.

Psikologi Gestalt (yang dikembangkan oleh Marx Wertheimer, Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler) merupakan reaksi terhadap metoda analitik dan atomistik dari psikologi sebelumnya, menekankan pandangan bahwa keseluruhan itu lebih besar dari sekadar jumlah bagian-bagiannya; sering keseluruhan itu memiliki kualitas yang tak terdapat dalam bagian-bagiannya. Pengikut aliran Gestalt, yang penyelidikan-penyelidikannya kebanyakan dalam bidang psikologi persepsi, berpendirian bahwa ide tentang organisasi dan contoh adalah sangat pokok untuk memahami pengamatan dalam bidang persepsi mereka bahkan memperluas pandangan mereka sehingga mencakup beberapa aspek kepribadian. Bagi penganut behaviorisme tingkah laku itu tidak ditetapkan oleh kejadian-kejadian stimulus tanggapan (stimulus response) yang terpisah-pisah dan terputus-putus, akan tetapi ditetapkan oleh pribadi yang terpadu (Integrated personality) yang melihat situasi menyeluruh.

Terdapat aliran-aliran lain dalam psikologi yang sekarang tidak lagi ternama, dan terdapat pula psikolog-psikolog yang tidak mau digolongkan pada suatu aliran.

Ketiga, dalam mempelajari akal adalah bahwa sukar untuk bersikap obyektif dalam bidang ini; terdapat pula bahaya bahwa ketika kita memperoleh obyektifitas, kita kehilangan hal yang kita ingin menyelidikinya. Sains cenderung untuk menganggap sepi hal-hal yang istimewa dan tidak terulang serta lebih suka mempelajari alam yang sudah dibersihkan dari sifat-sifat kemanusiaan yang istimewa. Ketika kita berusaha untuk mengisolir akal, akal itu sudah hilang dan kita menghadapi benda lain. Dalam kasus ini, akal mungkin seperti elektron, yang merasa diganggu jika diamati, ahli fisika tak dapat menemukan tempatnya dan kecepatannya.

Memang terdapat suatu problema yang riil yaitu apakah akal itu dapat dipelajari sebagai suatu kesatuan yang dapat dipandang sebagai obyektif? Apakah sesuatu akal dapat menjadi subyke dan obyek secara berbarengan. Jika ada suatu bidang dari kehidupan manusia yang khusus dan tidak dapat diamati secara umum, dan jika sains itu suatu pengetahuan yang dapat diperiksa benar tidaknya secara obyektif, maka sains akan menghadapi problema besar jika “berusaha untuk menyelidiki akal dan aku”, seorang yang ahli memberi tafsiran tentang alam, ia akan menemui kesulitan jika ia ingin memberi interpretasi tentang aku-nya sendiri dan aku orang lain, akalnya sendiri dan akalnya orang lain. Dia tak akan dapat yakin tentang apa yang ia selidiki, bagaimana ia harus menafsirkan hasilnya, ketepatan dan relevansi pengamatannya dan apakah pengaruh hasil-hasil tersebut terhadap teori akal.

Akhirnya, sampai sekarang tak ada kata sepakat tentang kapan dan bagaimana akal itu muncul dalam proses evolusi yang panjang. Jawabannya bergantung kepada definisi kita tentang akal dan pandangan kita tentang dunia atau interpretasi kita tentang alam. jika kita memberi definisi akal sebagai “perilaku adaptasi” (adapting behavior), proses adanya akal mungkin dimulai dengan amuba atau bentuk hidup yang lain. Terdapat perkembangan sedikit demi sedikit dari kehalusan dan kerumitan reaksi jika kita menghadapi organisme yang lebih kompleks tetapi tak terdapat evolusi yang jelas atau loncatan-loncatan yang dapat diklasifikasikan yang dapat kita katakan sebagai “permulaan akal”. Dari segi lain, jika kita memilih interpretasi bahwa akal itu adalah fikiran yang abstrak, maka akal itu hanya terdapat pada manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Iklan

Allah Swt Yang Menzahirkan Alam

Posted in 14. Allah SWT yang Menzahirkan Alam with tags , , , , , on Juli 3, 2012 by isepmalik

Alam adalah kegelapan dan yang menerangkannya karena padanya kelihatan yang haq (tanda-tanda Allah swt). barangsiapa melihat alam tetapi dia tidak melihat Allah swt di dalamnya, di sampingnya, sebelumnya atau sesudahnya, maka dia benar-benar memerlukan wujudnya cahaya-cahaya itu dan tertutup baginya cahaya ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam.

 

Alam ini pada hakikatnya adalah gelap atau ‘adam, tidak wujud. Wujud Allah sw yang menerbitkan kewujudan alam. tidak ada satu kewujudan yang berpisah dari wujud Allah swt. Hubungan wujud Allah swt dengan kewujudan makhluk sekiranya dibuat ibarat (sebenarnya tidak ada ibarat yang mampu menjelaskan hakikat sebenarnya), perhatikan kepada api yang berputar dalam kecepatan. Kelihatan pada pandangan kita bulatan api. Perhatikan pula kepada orang yang berbicara, akan kedengaran suara dari mulutnya. Kemudian perhatikan pula minyak kasturi, akan terhirup baunya yang wangi. Wujud bulatan api adalah wujud yang berkaitan dengan wujud api. Wujud suara adalah wujud yang berkaitan dengan wujud orang yang berbicara. Wujud bau wangi adalah wujud yang berkaitan dengan wujud minyak kasturi. Wujud bulatan api, suara dan bau wangi pada hakikatnya tidak wujud. Begitulah ibaratnya wujud makhluk yang menjadi ada dari  wujud Allah swt. Wujud bulatan api adalah hasil dari pergerakan api. Wujud suara adalah hasil dari perbuatan orang yang berbicara. Wujud bau wangi adalah hasil dari sifat minyak kasturi. Bulatan api bkanlah api tetapi bukan pula muncul selain dari api dan tidak terpisah darinya. Suara bukanlah orang yang berbicara tetapi tidak muncul selain dari orang yang berbicara. Walaupun orang itu sudah tidak berbicara tetapi masih banyak lagi suara yang tersimpan padanya. Bau wangi bukanlah minyak kasturi tetapi tidak muncul selain dari minyak kasturi. Walaupun bulatan api kelihatan banyak, suara kedengaran banyak, dan bau dapat dinikmati orang-orang, namun api hanya satu, orang yang berbicara hanya seorang dan minyak kasturi yang mengeluarkan bau hanya satu biji.

Agak sukar memahami konsep ada tetapi tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Inilah konsep ketuhanan yang tidak mampu dipecahkan oleh akal tanpa penerangan nur dari lubuk hati. Mata hati yang diterangi Nur Ilahi dapat melihat kaitan antara ada dengan tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Atas kekuatan hatinya menerima cahaya Nur Ilahi akan menentukan kekuatan mata hatinya melihat kepada keghaiban yang tidak berpisah dengan kejadian alam ini. Ada 4 tingkatan pandangan mata hati terhadap hubungan alam dengan Allah swt yang menciptakan alam.

  1. Mereka yang melihat Allah swt dan tidak melihat alam ini. Mereka adalah ibarat orang yang hanya melihat kepada api, bulatan api yang khayali tidak menyilaukan pandangannya. Walaupun mereka berada di tengah-tengah kesibukan, namun mata hati mereka tetapi bertumpu kepada Allah swt, tidak terganggu oleh keanekaan makhluk. Lintasan makhluk hanyalah ibarat cermin yang ditembus cahaya. Pandangan mereka tidak melekat pada cermin itu.
  2. Mereka yang melihat makhluk secara zahir tetapi Allah swt pada batin. Mata hati mereka melihat alam sebagai penzahiran sifat-sifat Allah swt. Segala yang maujud merupakan kitab yang menceritakan tentang Allah swt. Tiap satu kewujudan alam ini membawa sesuatu makna yang menceritakan tentang Allah swt.
  3. Mereka yang melihat Allah swt pada zahirnya sementara makhluk tersembunyi. Mata hati mereka terlebih dahulu melihat Allah swt sebagai sumber segala sesuatu, kemudian baru mereka melihat makhluk yang menerima karuia dari-Nya. Alam tidak lain merupakan perbuatan-Nya, gubahan-Nya, lukisan-Nya atau hasil kerja kekuasaan-Nya.
  4. Mereka yang melihat makhluk terlebih dahulu kemudian baru melihat Allah swt. Mereka memasuki jalan berhati-hati dan waspada, memerlukan masa untuk menghilangkan keraguan, berdalil dengan akal sehingga akhirnya meyakini akan Allah swt yang wujud-Nya menguasai wujud makhluk.

Selain yang dinyatakan di atas tidak disebut orang yang melihat Allah swt. Gambar-gambar alam, syahwat, kelalaian dan dosa menggelapkan cermin hati mereka hingga tidak mampu menangkap cahaya yang membawa kepada ma’rifat. Mereka gagal untuk melihat Allah swt berada di dalam sesuatu, di samping sesuatu, sebelum sesuatu atau sesudah sesuatu. Mereka hanya melihat makhluk seolah-olah berdiri sendiri tanpa campur tangan Tuhan.

Elemen alam dan sekalian peristiwa yang berlaku merupakan perutusan yang membawa berita tentang Allah swt. Berita itu bukan didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata atau dipikir dengan akal. Ia adalah berita ghaib yang menyentuh jiwa. Sentuhan tangan ghaib pada jiwa itulah yang membuat hati mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata dan merenung tanpa akal pikiran. Hati hanya mengerti setiap utusan yang disampaikan oleh tangan ghaib kepadanya dan hati menerimanya dengan yakin. Keyakinan itu menjadi kunci kepada telinga, mata dan akal. Apabila kuncinya telah dibuka, segala suara alam yang didengar, sekalian elemen alam yang dilihat dan seluruh alam maya yang direnungi akan membawa cerita tentang Tuhan. ‘Abid mendengar, melihat dan merenungi keperkasaan Tuhan. Asyikin mendengar, melihat dan merenungi keindahan Tuhan. Muttakhaliq mendengar, melihat dan merenungi kebijaksanaan dan kesempurnaan Tuhan. Muwahhid mendengar, melihat dan merenungi keesaan Tuhan.

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (QS. Al-Mumin:16).

Mereka mendustakan mukjizat Kami semuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa (QS. Al-Qamar:42).

Ayat-ayat di atas menggetarkan jiwa ‘abid. Hati abid sudah ‘berada’ di akhirat. Alam dan kehidupan ini menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda untuknya melihat keadaan dirinya di akhirat kelak, menghadap Tuhan Yang Esa, Maha Perkasa, tiada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah (QS. Al-Mulk: 3-4).

Asyikin memandang kepada ciptaan dan dia mengulang-ulang pemandangannya. Semakin dia memandang kepada alam semakin dia melihat kepada keindahan dan kesempurnaan Pencipta alam. Dia asyik dengan apa yang dipandangnya.

Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai asmaaul husna. Bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Hasyr:24).

Muttakhaliq menyaksikan sifat-sifat Tuhan yang dikenal dengan nama-nama yang baik. Alam adalah media untuknya mengetahui nama-nama Allah swt dan siat-sifat kesempurnaan-Nya. Setiap yang dipandang menceritakan sesuatu tentang Allah swt.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha:14).

Muwahhid fana dalam Zat. Kesadaran dirinya hilang. Melalui lidahnya muncul ucapan-ucapan seperti ayat di atas. Dia mengucapkan ayat-ayat Allah swt, bukan dia bertukar menjadi Tuhan.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS. Al-Fatihah:1-7).

Mutahaqqiq kembali kepada kesadaran kemanusiaan untuk memikul tugas membimbing umat manusia kepada jalan Allah swt. Hatinya senantiasa memandang kepada Allah swt dan bergantung kepada-Nya. Kehidupan ini adalah medan dakwah baginya. Segala elemen alam adalah alat untuk dia memakmurkan bumi.

Apabila Nur Ilahi menerangi hati apa saja yang dipandang akan kelihatan Allah swt, di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya.

Amina

Posted in Amina with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

  1. Amina adalah senyawa yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berikatan dengan satu/ dua/ tiga atom karbon. Ditinjau dari rumus strukturnya, amina merupakan turunan dari NH3 dengan satu/ dua/ tiga atom hidrogennya digantikan oleh gugus alkil (-R) atau aril (-Ar).
  2. Klasifikasi amina didasarkan atas jumlah atom H dalam NH3 yang digantikan oleh gugus alkil/ aril. Bila yang diganti hanya satu atom H disebut amina primer, bila yang diganti dua buah atom H disebut amina sekunder, dan bila yang diganti tiga buah atom H dinamakan amina tersier. Bila penggantinya gugus alkil dinamakan amina alifatik, dan bila penggantinya gugus aril dinamakan amina aromatik. Dalam hal atom N dalam amina merupakan bagian dari suatu cincin maka amina tersebut diklasifikasikan sebagai amina heterosiklik. Bila atom N dalam amina merupakan bagian dari cincin aromatik, maka amina tersebut termasuk amina heterosiklik aromatik.
  3. Menurut tatanama IUPAC, pemberian nama pada amina primer serupa dengan cara untuk alkohol, tetapi akhiran –a dalam nama alkana induknya diganti dengan kata amina. Untuk amina sekunder dan tersier, diberi nama dengan menganggapnya sebagai amina primer yang tersubstitusi pada atom N. Dalam tatanama trivial, adalah dengan menyebut nama gugus alkil/ aril yang terikat pada atom N dengan urutan abjad, kemudian ditambahkan kata amina dibelakangnya.
  4. Semua amina merupakan senyawa polar, dan antar molekul amina primer/ sekunder terdapat ikatan hidrogen. Karena perbedaan keelektronegatifan antara atom N dan H relatif kecil maka ikatan hidrogen antar molekul amina tidak sekuat molekul-molekul yang mengandung gugus –OH, seperti misalnya alkohol. Adanya perbedaan kekuatan antara ikatan hidrogen dalam molekul-molekul amina maupun alkohol nampak pengaruhnya terhadap titik didih kedua golongan senyawa tersebut. kelarutan amina dalam air menurun seiring dengan meningkatnya berat molekul. Dengan molekul air, semua amina dapat membentuk ikatan hidrogen.
  5. Semua senyawa amina bersifat basa lemah, demikian pula larutannya dalam air. Harga tetapan ionisasi asam konjugat suatu amina (Ka) dijadikan acuan dalam menentukan kebasaan suatu amina. Dalam praktiknya, yang dipakai adalah notasi pKa (= -log Ka). Hasil kajian menunjukkan bahwa sifat basa suatu amina alifatik/ aromatik ditentukan oleh rumu strukturnya.
  6. Semua amina dapat bereaksi dengan asam. Di samping itu terdapat pula reaksi-reaksi yang khas, yaitu: (a) dengan HNO2 amina alifatik primer, sekunder, dan tersier memberikan reaksi yang spesifik, sehingga dapat digunakan untuk membedakan ketiga jenis amina tersebut, (b) amina aromatik primer dengan HNO2 pada 00C menghasilkan garam diazonium, (c) dengan HOCl atau (CH3)3C-OCl amina akan mengalami substitusi pada atom H (yang terikat atom N) oleh atom Cl, (d) larutan KMnO4 dan asam-asam peroksi dapat mengoksidasi amina.
  7. Dua macam cara yang dapat digunakan untuk membuat amina adalah: (a) cara substitusi, yaitu mereaksikan amonia dengan alkil halida, (b) cara reduksi, yaitu dengan mereduksi senyawa nitro atau senyawa nitril atau senyawa aldehida/ keton, dengan ketentuan bahwa untuk masing-masing senyawa tersebut menggunakan reduktor yang berbeda. Cara pembuatan amina primer yang khusus adalah melalui reaksi degradasi Hofmann, yaitu mereaksikan suatu amida dengan brom dalam suasana alkalis. Kekhususan dari cara yang terakhir ini adalah terjadinya pengurangan satu atom C (degradasi) pada amida asalnya.

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Universitas Negeri Malang. Hal: 230-231).

Konsep ‘Kebetulan’ dalam Perspektif Ibn Sina (4)

Posted in Aristoteles, Konsep Kebetulan with tags , , , , , on Januari 28, 2012 by isepmalik

Sebuah peluang terjadi dari suatu tindakan atau peristiwa yang memiliki tujuan dan mengarah ke hasil tak terduga lainnya dari tujuan yang diharapkan. Hasil ini dapat dikatakan sah apabila tindakan agen memiliki tujuan.[1] Karena itu, elemen ‘kebetulan’ terikat dengan hasil yang diharapkan dari suatu tindakan, bukan dengan penyebab esensial dari tindakan itu. Menurut Ibn Sina, untuk tindakan yang selalu memiliki penyebab esensial, tidak diperlukan kriteria untuk mengklasifikasikan peristiwa ‘kebetulan’. Apakah contoh ini berarti ‘kebetulan’ hanya terbatas pada tindakan sukarela berupa aktivitas yang melibatkan pengetahuan? Bagaimana dengan peristiwa alam, atau peristiwa yang melibatkan hewan? Dalam proses alami atau hewan, ‘kebetulan’ terkait dengan kebiasaan yang dilakukan dan tujuannya. Definisi lain mengenai ‘kebetulan’ sebagaimana yang terdapat dalam al-Syifa mengenai Physics adalah “akhir yang disengaja (ghaya) dari proses alami, proses sukarela (amr), atau bahkan peristiwa yang dipaksa.”[2]

Kutipan ini untuk melengkapi penjelasan ‘kebetulan’. ‘Kebetulan’ tidak secara eksklusif dikatakan muncul dari tindakan yang memiliki tujuan, khususnya berhubungan dengan penyebab final. ‘Kebetulan’ melekat pada penyebab final, bukan pada penyebab efisien, karena ‘kebetulan’ adalah sebuah akhir, namun tidak hanya satu yang dimaksudkan.[3] Penyebab efisien dapat ditentukan dalam hal apapun, dan ‘kebetulan’ memiliki hubungan kuat dengan penyebab final. Dalam filsafat Ibn Sina, penyebab efisien (dan final) adalah tiga bentuk: alami, sukarela, dan ‘kebetulan’. Dengan menyatakan bahwa penyebab pertama di dunia adalah alam atau kehendak, Ibn Sina menegaskan bahwa penyebab pertama bukan ‘kebetulan.’[4]

Tetapi di sini masih menyisakan kontradiksi. Pada bagian tertentu, ia menyatakan bahwa ‘kebetulan’ berkaitan dengan peristiwa yang jarang terjadi, pada bagian yang lain ia mengatakan bahwa peristiwa yang selalu terjadi sebagai ‘kebetulan’. Kontradiksi ini dipecahkan: “Ketika sesuatu yang tidak diantisipasi atau tidak diharapkan muncul, karena tidak selalu atau jarang terjadi, maka tepat untuk mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah ‘kebetulan’ atau keberuntungan.[5] Kontradiksi ini dapat dpecahkan dengan mengatakan bahwa peristiwa yang jarang terjadi adalah ‘kebetulan’ karena tak terduga dan karenanya dianggap anomali oleh agen dari peristiwa. Bagaimanapun, ini tidak berarti aktual, atau objek yang jarang, atau anomali. Model statistik yang menghubungkan ‘kebetulan’ dengan frekuensi suatu peristiwa berlaku untuk kasus yang melibatkan harapan pada bagian agen saat melakukan suatu tindakan. Hal ini berlaku untuk makhluk hidup dan benda mati. Namun, bila tidak melibatkan makhluk rasional digunakan istilah ‘kebetulan’ (ittifaq), sedangkan keberuntungan (bakht) dipakai untuk tindakan yang melibatkan manusia.

Jelas, sesuatu yang merupakan peristiwa langka seperti jari keenam, tidak terduga dan cenderung di bawah kategori peristiwa ‘kebetulan.’ ‘Kebetulan’ biasanya berupa peristiwa yang jarang terjadi karena ia berubah menjadi tak terduga, tapi itu tidak berarti bahwa peristiwa yang sering terjadi tidak dapat digolongkan sebagai ‘kebetulan.’ Jika kita mengambil semua elemen-elemen sebagai dalil, maka ‘kebetulan’ adalah penyebab final aksidental dan terjadi hanya ketika hasilnya tak terduga. Contoh-contoh  yang dikemukakan Ibn Sina berfungsi untuk menjelaskan definisinya.

Jika kita mengambil rujukan ke penyebab aksidental sebagai kausalitas final, maka menemukan harta karun adalah penyebab final aksidental. Dengan kata lain, menemukan harta karun dikatakan sebagai hasil tak terduga ketika seseorang menggali lubang di kebunnya, karena menggali lubang tidak selalu menghasilkan harta karun. Penyebab final esensial, yaitu niat agen (subjek) akan menjadi sebuah penjelasan yang tepat. Namun, sejauh sebagai penyebab efisien, menggali dianggap sebagai penyebab efisien esensial untuk menemukan harta karun itu. Penyebab esensial dalam terminologi Aristotelian adalah yang menetapkan akibat dalam gerakan menggali dengan temuan harta karun tersebut. Karena dalam contoh ini ada satu penyebab efisien dan ‘kebetulan’ tidak dijadikan dasar penyebab efisien, maka ia tidak berhubungan dengan penyebab efisien atau sumber dari peristiwa. Sebaliknya, dalam penafsiran Ibn Sina hal itu berhubungan dengan tujuan dan hasil nyata.

Jika sesuatu tidak mengakibatkan apa-apa dan tidak ada hubungan kausal antara dua peristiwa, maka tidak bisa dikatakan sebagai penyebab aksidental. Seperti seseorang duduk saat gerhana bulan, “tidak bisa dikatakan bahwa seseorang duduk secara ‘kebetulan’ (ittifaq an kana) menjadi penyebab gerhana bulan, tetapi yang benar adalah begitu duduk (pada waktu yang sama) terjadi gerhana bulan.”[6] Duduk bukanlah penyebab gerhana meskipun terjadi pada waktu yang sama dengan gerhana bulan—murni koinsiden temporal. Pada contoh ini, tidak ada penyebab final aksidental dalam hubungan antara duduk dan gerhana bulan, maka ini bukan peristiwa ‘kebetulan.’ Namun, karena kedua rantai sebab-akibat, satu mengarah ke gerhana bulan dan yang lain duduk, maka hasil akhirnya berasal dari Tuhan meskipun antara keduanya tidak ada hubungan langsung sebab-akibat.

Penyebab peristiwa aksidental berhubungan dengan penyebab final, hanya saja jarang mengarah kepada akhir aksidental. Apa artinya mengatakan bahwa ‘kebetulan’ merupakan penyebab final aksidental? Ada banyak kemungkinan hasil ketika seseorang menggali di kebunnya, dan semua hasil mungkin penyebab final. Setelah agen tunggal keluar untuk menggali di kebun, maka niat menjadi penyebab final esensial dan jika terdapat hasil lain, maka akan menjadi penyebab final aksidental. Sebaliknya, dalam kasus menemukan orang yang berutang setelah ditetapkan maksud untuk menemukannya, tidak dapat dikatakan bahwa itu adalah peristiwa ‘kebetulan.’ Sejak berniat untuk menemukan orang yang berutang maka hasilnya bisa tidak terduga. Di sini penyebab akhir esensial muncul kepada hasil daripada penyebab final aksidental, yaitu berupa beberapa kemungkinan tujuan dari peristiwa. Sebagaimana telah kita ketahui, sebuah peristiwa langka atau substansi terikat dengan satu-satunya ‘kebetulan’ jika secara bersamaan tak terduga. Sebagai contoh, dalam kasus eksistensi zamrud, penyebab esensial atau substansial menentukan bahwa hal itu eksis karena penyebab tersebut diperlukan untuk pembentukannya. Oleh sebab itu, muncul gagasan secara tersirat bahwa dalam semua peristiwa selalu ada penyebab efisien esensial pada setiap peristiwa ‘kebetulan’ serta penyebab final esensial untuk mencapai tujuan yang diinginkan meskipun hal tersebut mungkin atau tidak mungkin menjadi kenyataan.[7]

Hal ini penting untuk memikirkan konsep ‘aksiden’ karena terkait erat dengan ‘kebetulan.’ Peristiwa ‘aksidental’ biasanya merupakan entitas yang eksistensinya muncul dari sesuatu yang lain. Definisi ‘aksiden’ dalam al-Syifa tentang logic adalah “yang ada dalam suatu peristiwa tanpa menjadi bagian dari peristiwa tersebut, subsisten (qiwam) dari yang tidak benar tanpa ia didalamnya.”[8] ‘Aksiden’ tidak berada dalam isolasi, tetapi hanya melalui sesuatu substansi atau peristiwa dalam peristiwa ‘kebetulan.’ Pada akhirnya, substansi “terpisah dari ‘aksiden’ dan subsisten diperoleh tanpa itu.”[9] Suatu substansi tidak tergantung pada ‘aksiden’ untuk eksistensinya, meskipun kebalikannya berlaku.

Dalam Logic, ‘aksiden’ berlawanan dengan esensi. ‘Aksiden’ esensial selalu bersamaan dengan subjek yang ditautkan, seperti tiga-dimensi dalam tubuh. ‘Aksiden’ non-esensial atau predikat dicontohkan dengan ‘putih’ pada seseorang. Namun, ‘warna’ umumnya adalah aksiden esensial dari tubuh, karena tubuh harus berwarna. Dalam ontologi, ‘aksiden’ beriringan dengan substansi, dalam arti bahwa hal itu melekat pada sebuah subjek tanpa menjadi bagian darinya. Dalam pengertian ini, sembilan kategori selain substsnai adalah ‘aksiden.’[10] Beberapa ‘aksiden’ ada yang permanen dan non-permanen. Dalam logika dan ontologi disebutkan bahwa permanen atau non-permanen, ‘aksiden’ bukan bagian dari substansi atau esensi. “Substansi membentuk ‘aksiden.’ Sedangkan, ‘aksiden’ tidak meninggalkan [substansi] dalam arti ia (‘aksiden’) tidak eksis tanpanya (substansi), eksistensi ‘aksiden’ tidak terpisah secara mandiri.”[11]

Selanjutnya, jika kita memperhitungkan pembagian antara atribut permanen/ esensial dan non-permanen, konsep ‘aksiden’ disebut Ibn Sina dalam konteks pembahasan ‘kebetulan’ sebagai ‘aksiden aksidental’ (‘aksiden non-permanen), lawan dari aksiden substansial/ esensial.[12] Hubungan antara ‘kebetulan’ dan ‘aksiden aksidental’ sangat jelas karena ‘kebetulan’ terkait dengan peristiwa yang jarang terjadi, sedangkan gagasan aksiden esensial menyiratkan selalu menyertai substansi/ esensi.

Mentransfer konsep ‘aksiden aksidental’ pada teori penyebab ‘kebetulan’ dapat dikatakan bahwa penyebab ‘kebetulan’ tidak berdiri sendiri, karena ia hanya ditemukan pada peristiwa-peristiwa yang memiliki penyebab esensial dan substansial, sedangkan dirinya sendiri tidak menentukan peristiwa terjadi. Jadi, “penyebab ‘kebetulan’ muncul untuk kepentingan sesuatu, tetapi penyebab menghasilkan akibat melalui ‘aksiden’ dan ujung-ujungnya berakhir dengan ‘aksiden’ karena ia termasuk dalam kelompok penyebab yang melalui ‘aksiden’.”[13]

Relativitas aksidental vis-à-vis penyebab esensial diilustrasikan dengan batu jatuh.[14] Jika batu jatuh membuat retak kepala [seseorang], mungkin batu akan berhenti atau mungkin jatuh ke tempat lain secara alami. Jika mencapai tujuan alaminya, hal ini berhubungan dengan penyebab esensial dan tujuan aksidental (al-ghaya al’aradiyya) yang merupakan penyebab secara ‘kebetulan.’ Jika tidak mencapai tempat alami, batu jatuh adalah penyebab secara ‘kebetulan’ yang berhubungan dengan tujuan aksidental, dan hal ini menggagalkan (batil) hubungan dengan tujuan esensial.[15]

Akhir yang tak disengaja akibat batu jatuh yang meretakkan kepala seseorang itu bukan tujuan karena kecenderungan alaminya tidak demikian. Maksud dari contoh adalah bahwa benda berat seperti batu secara alami jatuh ke tanah. Ketika mau menimpa kepala, batu bisa jatuh ke tanah yang menjadi tujuan esensialnya. Jika tidak demikian, berarti melesat dari target alaminya. Jatuh adalah penyebab aksidental terhadap retaknya kepala karena kepala retak itu bukan tujuan esensial dari jatuhnya batu. Penyebab aksidental (‘kebetulan’) muncul secara terpasang kepada penyebab esensial, tetapi ia hanya muncul dalam hubungannya dengan penyebab esensial, tidak pernah muncul dengan sendirinya. Argumentasi Ibn Sina dan contoh-contohnya secara konsisten mendukung suatu kausalitas deterministik yang efisien di alam. Kita harus ingat bahwa contoh jatuhnya batu adalah ilustrasi dari kausalitas final aksidental, hal itu masuk akal jika kita menganggapnya sebagai kausalitas final aksidental yang alami. Kausalitas efisien bukan yang dimaksud dari contoh tersebut. Fakta bahwa batu adalah penyebab efisien esensial dari retaknya kepala tidak diperdebatkan.

Satu yang dapat menentukan hubungan antara ‘kebetulan’ dan penyebab efisien berdasarkan fakta bahwa penyebab efisien adalah yang memproduksi hasil ‘kebetulan’, meskipun hal itu jarang terjadi. Namun, bagi Ibn Sina ‘kebetulan’ adalah urutan penyebab final karena ia merupakan hasil yang tak terduga dari suatu peristiwa, apalagi bila hal itu disebabkan oleh penyebab efisien. Secara umum mengatakan ‘kebetulan’ adalah penyebab aksidental berarti bahwa ‘kebetulan’ sendiri tidak memperhitungkan peristiwa, tetapi hanya dalam hubungannya dengan penyebab esensial.

Pada penutup penjelasannya, Ibn Sina membedakan antara ‘kebetulan’ (ittifaq) dan keberuntungan (bakht) dengan menegaskan bahwa keberuntungan hanya ditemukan dalam tindakan yang dilakukan manusia dan peristiwa ‘kebetulan’ lebih umum dan mencakup totalitas dari proses alami.

‘Kebetulan’ (ittifaq) lebih umum daripada keberuntungan (bakht), untuk setiap [contoh] keberuntungan adalah [contoh] ‘kebetulan, tetapi tidak setiap [contoh] ‘kebetulan’ adalah [contoh] keberuntungan. Keberuntungan adalah apa yang menyebabkan suatu hal yang diharapkan, dan prinsip ini merupakan bagian dari kehendak orang dewasa yang rasional yang dikaruniai dengan pilihan. Jika keberuntungan dikatakan sebagai sesuatu yang lain atau jika kata tersebut untuk sesuatu yang lain [dari manusia], misalnya sepotong kayu; setengahnya untuk membangun masjid dan setengah lainnya untuk membangun toilet umum. Setengah yang pertama dikatakan beruntung (sa’id) dan setengah yang kedua dikatakan tidak beruntung, ini sebuah metafora. Prinsip alam (mabda) tidak dikatakan muncul oleh keberuntungan (bi al-bakht) melainkan muncul secara spontan (min tilqa’i nafsi-hi) kecuali bila terhubung dengan prinsip sukarela.[16]

Oleh karena itu, ‘kebetulan’ terjadi secara spontan atau koinsidental—seperti telah ditunjukkan, istilah ittifaqsecara harfiah berarti ‘kebetulan.’


[1] Hal ini juga tidak dimaksud sebagai hasil ‘kebetulan’ menurut Aristoteles, tetapi bisa dianggap sebagai tujuan, Physics, 196b32-196b34, hal: 119-120 menurut versi terjemahan dalam bahasa Arab, dan menyerupai penyebab final yang benar.

[2] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 68. (Al-Yasin, hal: 122).

[3] Seperti untuk kasus ‘kebetulan’ dan itu adalah akhir tertentu (ghaya), disebutkan dalam Physics (al-Tabi’iyyat). Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 284.

[4] Ibn Sina, Danishnamah, al-Ilahiyyat, hal: 57-58. Le Livre de Science, hal: 172-173.

[5] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 64. (Al-Yasin, hal: 120).

[6] Versi terjemahan bahasa Arab Physics contoh tersebut berupa orang memasuki kamar mandi ketika terjadi gerhana bulan, lihat hal: 131, dan Physics, 197b27-197b28.

[7] Menurut Ibn Sina, peristiwa ‘kebetulan’ selalu memiliki penyebab sebelumnya, lihat: al-Sama wa al-‘Alam, hal 61. Untuk penjelasan bahwa penyebab final mendahului penyebab lainnya, lihat: Wisnovsky, Notes of Avicenna’s Concept of Thingness, hal: 201 dan 207-211.

[8] Ibn Sina, al-Maqulat, hal: 28.

[9] Ibid, hal: 32.

[10] Goichon, A. M., Lexique de la langue philosophique d’Ibn Sina, (Paris, 1938), hal: 216-219 dan 422.

[11] Ibn Sina, al-Maqulat, hal: 37.

[12] Ibn Sina, al-Madkhal, hal: 86. Contoh dari aksiden esensial ketika genus dipredikatkan sebagai spesies, seperti ‘warna’ dinisbahkan kepada ‘putih.’ Hal ini bertentangan dengan aksiden aksidental, seperti ‘putih’ dinisbahkan kepada ‘Zaid.’ Putihnya Zaid tidak berhubungan dengan esensinya, hal: 85.

[13] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 65. Lihat: min haythu dengan Zayid dan Madkur. (Al-Yasin, hal: 120). Penyebab aksiden dijelaskan dalam Bab 12 dalam al-Sama’ al-Tabi’i. Contoh klasik dari penyebab efisien aksidental adalah dokter yang membangun rumah. Dokter esensialnya adalah menyembuhkan orang, sedangkan bangunan tidak sesuai dengan atribut esensialnya, maka aktivitas membangun rumah tidak dikatakan sebagai esensial, hal: 55-56. (Al-Yasin, hal: 100-101). Akhir aksidental dapat dikatakan dengan cara yang berbeda: sesuatu yang bertujuan tetapi tidak untuk kepentingan dirinya, yaitu alat untuk mencapai tujuan seperti minum obat agar sembuh; sesuatu yang menyertai akhir atau menimpa aksidentalnya, seperti makan untuk menghilangkan lapar dan keindahan tubuh dalam kaitannya dengan olahraga; terakhir, arah gerakan yang tidak diarahkan, tetapi berlangsung di jalur gerak itu sendiri, seperti posisi kepala di jalur jatuhnya batu, hal 58. (Al-Yasin, hal: 101).

[14] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 65-66. (Al-Yasin, hal: 121).

[15] Ibn Sina, Ibid., hal: 65-66. (Al-Yasin, hal: 121). Lihat: versi terjemahan karya Aristoteles mengenai “contoh ini [yaitu, spontan] adalah batu jatuh dan membunuh (seseorang). Batu jatuh tidak bukan demi membunuh; karena itu adalah spontan [terjadinya] jika jatuhnya baru berakibat membunuh, atau jatuhny batu dilemparkan seseorang dengan tujuan membunuh, hal: 131-132. Lihat: Aristoteles, Physics, 197b30-197b31.

[16] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 66. (Al-Yasin, hal: 121). Ibn Sina menyesuaikan contoh untuk pembaca Muslim. Versi terjemahan Arab dari karya Aristoteles menyatakan bahwa batu patung yang dibuat hanya keberuntungan yang bersifat metaforis, hal: 129. Lihat: Aristoteles, Physics, 197b9-197b11.