Arsip untuk Juni, 2016

Teori Arrhenius

Posted in Larutan dan Sifat-sifatnya on Juni 6, 2016 by isepmalik

Pada tahun 1680, Robert Boyle mengemukakan bahwa asam (1) melarutkan berbagai zat, (2) mengubah warna beberapa pewarna (indikator) alami, dan (3) kehilangan sifat karakteristiknya ketika dicampurkan dengan alkali (basa). Pada tahun 1814, Gay-Lussac menyimpulkan bahwa asam menetralkan basa dan dua kelompok zat didefinisikan berdasarkan reaksinya satu sama lain.

Pada tahun 1884, Svante Arrhenius (1859-1927) menyampaikan teorinya mengenai disosiasi elektrolit yang dihasilkan dalam reaksi asam-basa teori Arrhenius. Dalam pandangannya,

asam merupakan zat yang mengandung hidrogen dan menghasilkan H+ dalam larutan. Basa merupakan zat yang mengandung gugus OH (hidroksil) dan menghasilkan ion hidroksida (OH) dalam larutan.

Netralisasi didefinisikan sebagai penggabungan ion H+ dengan ion OH membentuk molekul H2O.

H+(aq) + OH(aq) → H2O(l)     (netralisasi)

Teori perilaku asam-basa Arrhenius mampu menjelaskan reaksi protonasi asam dengan hidroksida logam (hidroksi basa). Ia berkontribusi signifikan pada pemikiran kimia dan teorinya berkembang pada abad sembilanbelas. Model asam dan basa Arrhenius (meskipun terbatas) mengalami perkembangan menjadi teori asam-basa lebih umum. Hal tersebut akan dibahas dalam subbab berikutnya.

(Sumber: Whitten, et.al., General Chemistry Seventh Edition, ‘Reactions in Aqueous Solution I: Acids, Bases, and Salts’).

Iklan

Sifat Larutan Asam dan Basa

Posted in Larutan dan Sifat-sifatnya on Juni 6, 2016 by isepmalik

Larutan asam berprotonasi (larutan tersebut mengandung atom hidrogen asam) memperlihatkan sifat tertentu yang merupakan sifat ion hidrogen terhidrasi dalam larutan.

  1. Memiliki rasa masam. Acar biasanya disajikan dalam asam cuka, suatu larutan asam asetat 5%. Berbagai bumbu acar mengandung gula sehingga rasa asam asetat tertutupi rasa manis dari gula. Lemon mengandung asam sitrat yang menghasilkan karakteristik rasa masam.
  2. Mengubah warna indikator. Asam membirukan lakmus merah dan menyebabkan bromtimol biru berubah dari biru ke kuning.
  3. Asam-asam nonoksidasi bereaksi dengan logam di atas hidrogen dalam deret aktivitas (Subbab 4-8, bagian 2) dengan membebaskan gas hidrogen, H2. (HNO3, suatu asam pengoksidasi, bereaksi dengan logam menghasilkan nitrogen oksida, bukan H2).
  4. Bereaksi dengan (menetralkan) oksida logam dan hidroksida logam membentuk garam dan air (Subbab 4-9, bagian 1).
  5. Bereaksi dengan garam dari asam lemah membentuk asam lemah dan garam baru.

Larutan asam menghantarkan arus listrik karena terionisasi sempurna atau sebagian.
Larutan basa juga memperlihatkan sifat tertentu yang disebabkan keberadaan ion hidroksida terhidrasi dalam larutan basa.

  1. Memiliki rasa kecut.
  2. Terasa licin. Sabun merupakan contohnya; ia merupakan basa lunak. Larutan pemutih terasa sangat licin karena sangat basa.
  3. Mengubah warna indikator: lakmus berubah dari merah ke biru, dan bromtimol biru berubah dari kuning ke biru dalam basa.
  4. Bereaksi dengan (menetralkan) asam membentuk garam dan air (dalam sebagian besar kasus).
  5. Larutannya menghantarkan arus listrik karena terionisasi atau terdisosiasi

(Sumber: Whitten, et.al., General Chemistry Seventh Edition, ‘Reactions in Aqueous Solution I: Acids, Bases, and Salts’).