Pendahuluan


Tiga deret unsur yang muncul dari pengisian kulit 3d, 4d dan 5d diposisikan dalam tabel periodik mengikuti logam alkali tanah, umumnya dijelaskan sebagai “unsur transisi”; istilah ini kadang-kadang juga diperluas meliputi unsur lantanida dan aktinida (atau unsur dalam). Mereka memperlihatkan sejumlah karakteristik sifat yang membedakannya dari golongan unsur lain:

 

(i) Semuanya logam, memperlihatkan kilauan, dapat dibentuk (ditempa) dan memiliki konduktivitas listrik dan termal tinggi. Selain itu, titik leleh dan titik didihnya cenderung tinggi dan umumnya keras dan kuat.

(ii) Sebagian besar memperlihatkan keadaan oksidasi tinggi yang bervariasi dengan 1 tahap daripada 2 tahap sebagaimana diperlihatkan unsur golongan utama yang memperlihatkan lebih dari satu keadaan oksidasi.

(iii) Mereka memiliki kecenderungan tidak paralel untuk membentuk senyawa koordinasi dengan basa Lewis.

 

(i) dan (ii) akan dibahas dalam bab berikutnya tetapi bab ini akan mengembangkan tema (iii).

Senyawa koordinasi atau kompleks, terbentuk ketika basa Lewis (ligan)[1] melekat pada asam Lewis (akseptor) yang memiliki elektron “pasangan sunyi”. Ketika ligan tersusun dari beberapa atom, salah satu yang langsung melekat pada akseptor disebut “atom donor”. Tipe ikatan ini sudah dibahas sebelumnya dan dicontohkan oleh senyawa trihalida dari unsur Golongan 13; ini merupakan dasar kimia unsur transisi. Sifat ikatan antara ion logam transisi dan ligan sangat bervariasi dan istilah “atom donor” sering digunakan dalam makna harfiahnya, tanpa asumsi apapun. Meskipun akan terjadi garis demarkasi, lebih mudah untuk membedakan dua ekstrim. Pada satu sisi, kasus di mana ikatan dipandang sebagai ikatan s tunggal atau murni antaraksi elektrostatik, dan logam memiliki keadaan oksidasi +2 atau lebih tinggi. Pada sisi lain, kasus di mana ikatannya rangkap, ligan bertindak sebagai donor s dan akseptor p dan logam memiliki keadaan oksidasi +1 atau lebih kecil, meskipun nilai seperti itu seringkali tidak jelas. Tipe senyawa sebelumnya dipandang sebagai kompleks “klasik” atau kompleks “Werner” karena orang pertama yang meneliti material tersebut adalah A. Werner pada tahun 1893-1913 dan menjadi fondasi kimia koordinasi[2]. Tipe senyawa berikutnya yang dijadikan contoh adalah karbonil dan senyawa organologam lainnya.

[1] W. H. Brock, K. A. Jensen, C. K. Jorgensen dan G. B. Kauffman, Ambix 27, 171-183 (1981).

[2] G. B. Kauffman, Alfred Werner Founder of Coordination Theory, Springer, Berlin, 1966, hal. 127. G. B. Kauffman (ed.) Coordination Chemistry: A Century of Progress, ACS Symposium Series 565, Washington DC, 1994, hal. 464.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: