Subjek-subjek Etika dan Hukum


Seperti telah kita tuturkan, sekelompok konsep lain dipakai sebagai subjek dalam proposisi-proposisi etika dan hukum, semisal keadilan dan kezaliman, kepemilikan dan pernikahan. Subjek-subjek ini juga bisa dibahas dari sudut pandang leksikografi dan etimologi, peralihan dari makna-makna harfiah kepada makna-makna kiasan dalam konsep-konsep ini, yang semuanya berhubungan dengan kajian-kajian kesastraan dan kebahasaan.

Singkatnya, dapat dikatakan bahwa sebagian besar konsep ini dipinjam dari konsep-konsep kemahiyahan (whatish concepts) dan konsep-konsep filsafat, dan dipakai dalam bahasa kesepakatan yang sejalan dengan kebutuhan praktis manusia dalam konteks individu maupun masyarakat. Umpamanya , demi mengendalikan hasrat dan mendisiplinkan perilaku, sejumlah batasan ditetapkan dan diletakkan. Melanggar batasan-batasan itu disebut sebagai kezaliman dan kesewenang-wenangan. Dan kebalikannya disebut sebagai keadilan dan kesetaraan. Mengingat keniscayaan membatasi penguasaan manusia atas harta benda yang diperoleh lewat cara tertentu, penguasaan dengan perjanjian (contractual domination) atas sejumlah benda dapat dianggap sebagai hak milik.

Yang menarik dari sudut pandang epistemologi ialah apakah konsep-konsep ini cuma didasarkan pada keinginan (dan kemufakatan) sekelompok orang dan tidak berhubungan dengan kenyataan objektif yang terpisah dari kecenderungan-kecenderungan sekelompok masyarakat, sehingga ia tidaklah mungkin diuraikan secara intelektual? Ataukah konsep-konsep ini bisa disandarkan pada kebenaran objektif dan kenyataan luaran, di samping juga bisa diuraikan dan dijelaskan melalui hukum sebab akibat?

Dalam konteks ini, pandangan yang benar adalah sebagai berikut: kendati bersifat kesepakatan dan i’tibari dalam arti tertentu, konsep-konsep ini pada umumnya berhubungan dengan kenyataan luaran dan hukum sebab akibat. Keabsahan konsep-konsep ini berpangkal pada sejumlah kebutuhan yang dirancang untuk mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan kesempurnaannya. Rancangan ini, seperti halnya dalam kasus-kasus lain, kadang-kadang tepat dan sesuai dengan kenyataan dan kadang-kadang sebaliknya. Mungkin saja sekelompok orang tetap meletakkan aturan dan ketentuan tertentu demi kepentingan pribadi, malah memaksakannya kepada masyarakat—meskipun salah dan bertentangan dengan kenyataan sesungguhnya. Kendatipun begitu, tidak satu pun aturan dan kesepakatan yang ditetapkan tanpa tujuan dan ukuran. Karenanya, segenap hal ini dapat kita uji secara kritis, sebagian bisa kita dukung dan sebagian lagi bisa kita campakkan. Seandainya seluruh kesepakatan semacam ini cuma cerminan hasrat seseorang, seperti halnya selera pribadi menyangkut pilihan warna, kesepakatan-kesepakatan ini tidak layak dipuji atau dicerca. Mendukung atau menolaknya pun tidak lebih dari kecocokan dalam selera dan kegemaran.

Alhasil, walaupun bergantung pada kesepakatan dan persetujuan, nilai konsep-konsep ini ialah sifatnya yang melambangkan kebenaran objektif dalam kaitan tindakan manusia dan akibatnya. Kaitan-kaitan inilah yang mesti kita selidiki dalam perilaku manusia pada umumnya. Dan memang, segenap konsep yang disetujui dan disepakati ini sesungguhnya berurat-berakar dalam hubungan-hubungan eksistensial dan kesejahteraan hakiki.

Tabel 1. Pembagian Jenis Konsep Universal

 

Konsep Kemahiyahan (Whatish conceptl first intelligible)

Konsep Filsafat (Philosophical secondary intelligible)

Konsep Logika (Logical secondary intelligible)

Deskripsi

Menggambarkan batas-batas eksistensi subjek Menggambarkan hubungan-hubungan eksistensial di antara objek-objek

Memberikan atribut pada konsep-konsep mental

Karakterisasi

Karakterisasi dari objek-objek eksternal, dan memiliki instansiasi eksternal

Karakterisasi objek-objek eksternal, namun terjadinya di mental

Karakterisasi dan terjadinya di mental

Contoh-contoh

Contoh: “Manusia” pada predikasi “Hasan itu manusia”;

Si Hasan merupakan instansiasi konsep “manusia”

Contoh: Sebab, Akibat, Potensial, Substansi, dll.

Dalam kalimat: “Kalor merupakan “sebab” bagi memanasnya air, “sebab” memberikan karakterisasi bagi kalor. Namun, di dunia luar tidak ada objek yang merupakan instansiasi dari “sebab” ini.

Contoh: Konsep partikular, konsep universal

Pemberian atribut partikular atau universal ini terjadi pada konsep-konsep yang berada di mental

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: