Harus dan Tidak Boleh


Kata “harus” dan “tidak boleh” yang dipakai dalam kalimat perintah dan larangan, dalam sebagian bahasa diungkapkan dengan satu huruf (seperti dalam bahasa Arab, lam dipakai untuk perintah [lam al-amr] dan la [la al-nahiyah] untuk larangan). Dalam semua bahasa yang kita ketahui, kita dapat mengganti kalimat perintah seperti “Kamu harus mengatakannya” dengan “Katakanlah” dan kalimat larangan seperti “Kamu tidak boleh mengatakannya” dengan “Jangan katakan”. Akan tetapi, adakalanya kalimat-kalimat ini digunakan dalam bentuk konsep-konsep mandiri yang mempunyai pengertian “perintah” dan “larangan” seperti ketika kita memakai kalimat deskriptif “Wajib bagi kamu untuk mengatakannya” sebagai ganti dari ungkapan preskriptif “Katakanlah”.

Perangkat-perangkat retorika dalam berbagai bahasa ini jelas tidak bisa dibilang sebagai kunci penyelesaian masalah-masalah filosofis. Pernyataan-pernyataan hukum tidak bisa didefinisikan sebagai preskriptif, lantaran pernyataan-pernyataan preskriptif ini bisa saja diganti dengan pernyataan-pernyataan deskriptif.

Ungkapan “harus”, baik yang diutarakan dalam huruf atau kalimat perintah ataupun dalam padanan-padanannya seperti “wajib” dan “mesti” tidak selalu menyatakan nilai. Umpamanya, saat guru di laboratorium berkata pada muridnya, “Kamu harus mencampur natrium dengan klorin untuk membuat garam” atau saat dokter berkata pada pasiennnya, “Kamu harus meminum obat ini hingga sembuh”. Tak syak, tujuan perkataan-perkataan itu tidak lain adalah untuk menunjukkan hubungan aksi-reaksi atau sebab-akibat antara pencampuran dua unsur dan produksi zat kimia, atau hubungan antara meminum obat dan proses penyembuhan. Dalam istilah filsafat, “harus” dalam dua kasus di atas mendedahkan keniscayaan deduktif antara sebab dan hasil atau penyebab dan akibat, yakni apabila peristiwa (sebab) tertentu tidak terjadi, hasil dan akibatnya pun tidak akan terjadi.

Ketika ungkapan-ungkapan ini kita gunakan dalam konteks etika dan hukum, apek nilai muncul di dalamnya. Di sini, sejumlah pendapat akan diajukan. Salah satunya ialah bahwa tujuan istilah-istilah ini tidak lain kecuali untuk mendedahkan hasrat-hasrat individual atau sosial terhadap suatu tindakan. Kalau ia tersampaikan dalam bentuk kalimat deskriptif, maksudnya tak lebih dari ungkapan keinginan dan hasrat.

Pendapat yang benar adalah bahwa ungkapan-ungkapan semacam ini tidak secara langsung mengisyaratkan objek keinginan. Sebaliknya, nilai dan objek keinginan dari suatu tindakan dipahami melalui petunjuk kondisional (dilalah iltizamiyyah/ conditional indication). Maksud utama dari ungkapan-ungkapan di atas tidak lebih dari pemaparan hubungan kausalitas antara tindakan tertentu dan tujuan etika serta hukum. Sebagai contoh, manakala seorang pengacara berkata, “Penjahat harus dihukum”, meskipun tingkat hukuman ini tidak ditandaskan, dalam kenyataannya pengacara itu hendak memaparkan hubungan antara hukuman dan tujuan atau salah satu tujuan hukum, yaitu menciptakan rasa aman bagi masyarakat.

Demikian juga manakalah seorang pendidik budi pekerti berkata, “Utang harus dikembalikan”, ia sebetulnya bermaksud memerikan hubungan antara tindakan mengembalikan utang dan tujuan budi pekerti, seperti penyempurnaan jiwa atau kebahagiaan abadi manusia. Dengan alasan sama, jika kita bertanya pada pengacara, “Mengapa para penjahat harus dihukum?” Jawabannya adalah, “Kalau para penjahat tidak dihukum, kekacauan dan anarki akan menimpa masyarakat”. Juga, jika kita bertanya pada si pendidik, “Mengapa utang harus dibayarkan kembali kepada kreditur?” Jawabannya pasti akan sejalan dengan patokan-patokan filsafat etika yang dipegangnya.

Oleh sebab itu, jenis konsep harus dan kewajiban moral serta hukum juga merupakan bagian dari “objek-objek filsafat yang terpahami secara sekunder” (secondary philosophical intelligibles). Kalaupun sewaktu-waktu terdapat makna lain yang dikandung atau dimaksudkannya, itu mesti dianggap tidak lebih sebagai ragam dan gaya bahasa (figure of speech).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: