Rangkaian Tipe Objek Kawruhan


Konsep-konsep universal dalam ilmu-ilmu intelektual[1] terbagi menjadi tiga kelompok: 1) konsep-konsep kemahiyahan (whatish atau al-mahuwiyyah) atau objek-objek yang terpahami secara primera (first intelligibles/ma’qulat awwaliyah), seperti konsep manusia dan konsep sifat warna putih (whiteness); 2) konsep-konsep filsafat atau objek-objek filsafat yang terpahami secara sekunder, seperti konsep sebab dan akibat; 3) konsep-konsep logika atau objek-objek logika yang terpahami secara sekunder, seperti metode konversi (‘aks al-mustawi)b dan kontraposisi (‘aks al-naqidah).c Harus kita ingat bahwa ada sejumlah tipe konsep universal lain yang digunakan dalam etika dan hukum, yang akan kita bahas kemudian.

Pembagian segitiga cetusan para filosof Muslim ini sangat berguna dalam diskusi-diskusi selanjutnya. Kurang jeli menangkap dan memilah bagian-bagian ini akan menyebabkan kebingungan dan aneka rupa kesulitan dalam perbincangan kefilsafatan pada umumnya. Berkali-kali para filosof Barat terkecoh oleh konsep-konsep memusingkan ini. Contoh-contoh mengenai hal itu bisa kita temukan dalam perkataan Hegel dan Kant.[2] Oleh karena itu, sudah mestilah kita mengulas pembagian ini secara memadai.

Ada konsep-konsep universal yang bisa dijadikan predikat untuk hal-hal yang sungguh-sungguh menjelma (al-‘umur al-‘ainiyyah atau entified things)—secara teknis hal-hal itu disebut menyandang penyifatan luaran (external characterization atau al-ittishaf al-khariji)—seperti konsep manusia yang dipredikatkan kepada Hasan, Husain, dan sebagainya dalam perkataan “Hasan adalah manusia”. Ada pula konsep-konsep universal yang tidak bisa dijadikan predikat untuk hal-hal yang sungguh-sungguh menjelma, tetapi hanya untuk konsep-konsep dan bentuk-bentuk mental serupanya—secara teknis disebut menyandang penyifatan mental (mental characterization atau al-ittishal al-dhihni)—seperti gagasan universal dan partikular (dalam peristilah logika). Universal merupakan sifat dari “konsep manusia” dan partikular merupakan sifat dari “konsep atau bentuk mental Hasan”. Konsep-konsep dalam kelompok kedua—yang semata-mata diterapkan pada hal-ihwal mental—disebut sebagai “konsep-konsep logika” atau “objek-objek logika yang terpahami secara sekunder (secondary logical intelligibles)”.

Konsep-konsep yang bisa dijadikan predikat untuk benda-benda luaran terkelompok menjadi dua. Pertama ialah konsep-konsep yang diperoleh benak secara otomatis dari peristiwa-peristiwa tertentu. Dengan kata lain, jika satu atau dua kali persepsi kita “bertemu” dengan peristiwa-peristiwa itu melalui pancaindra atau intuisi batin, akal kita akan segera dapat menyerap konsep universal darinya. Misalnya, konsep “sifat warna putih” (whiteness) yang diperoleh akal kita segera setelah mata menatap satu atau beberapa benda berwarna putih. Juga, konsep universal “ketakutan” yang diperoleh akal segera setelah satu atau dua kali tebersit perasaan tertentu dalam jiwa. Konsep-konsep dalam himpunan ini disebut dengan konsep-keonsep kemahiyahan (whatish concepts atau al-mafahim al-mahuwiyyah) atau objek-objek kawruhan utama (first intelligibles atau al-ma’qulat al-ula).

Kedua adalah konsep-konsep yang penyerapan dan pengabstrakannya memerlukan upaya dan perbandingan mental terhadap satu dan lain hal, seperti konsep sebab dan akibat yang terabstraksi lewat pencermatan hubungan biner yang sedemikian sehingga keberadaan yang satu bergantung pada yang lain. Umpamanya, saat kita membandingkan api dan panas (heat), kita mengamati kebergantungan panas pada api. Tanpa pencermatan dan perbandingan seperti itu, konsep-konsep sejenis ini takkan pernah tertangkap. Melihat api dan merasakan panas ribuan kali tanpa menimbang pertautan keduanya tidak akan mengantarkan kita pada konsep sebab dan akibat. Konsep-konsep jenis ini disebut sebagai “konsep-konsep filsafat” (philosphical concepts atau al-mafahim al-falsafiyyah) atau “objek-objek filsafat yang terpahami secara sekunder” (secondary philosophical intelligibles atau al-ma’qulat al-tsaniyah al-falsafiyyah).

Dalam bahasa teknis disebutkan bahwa pemunculan (‘arudh) dan penyifatan objek-objek kawruhan utama sama-sama terjadi di alam luaran.[3] Pengejawantahan objek-objek filsafat yang terpahami secara sekunder berlangsung dalam pikiran, sedangkan penyifatannya di alam luaran. Dan terakhir, objek-objek logika yang terpahami secara sekunder sama-sama termunculkan (occur) dan tersifati dalam pikiran.

Definisi dan penerapan ungkapan “pemunculan mental” dan “pemunculan luar” dan demikian pula penyebutan “konsep-konsep filsafat” dengan “objek-objek kawruhan sekunder” memang banyak menimbulkan kontroversi. Namun, di sini kita memandang ungkapan-ungkapan itu sekadar sebagai istilah seperti yang telah kita jabarkan di atas.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Ilmu-ilmu intelektual (‘ulum ‘aqliyyah), yang berakar pada nalar, lazim dilawankan dengan ilmu-ilmu naqliyyah atau nukilan yang berakar pada wahyu dan nash—penerj. Inggris.

a Istilah primer dan sekunder di sini mengacu pada proses penangkapannya oleh akal manusia. Jika prosesnya segera dan tidak memerlukan banyak kerja otak, ia disebut primer, dan sebaliknya jika prosesnya memerlukan jerih payah otak, ia disebut sekunder—M.K.

b Konversi adalah metode mgubah suatu proposisi logika menjadi proposisi logika yang setara (equivalent) dengan menukar subjek menjadi predikat dan sebaliknya—M.K.

c Di samping obversi dan konversi, kontraposisi adalah metode ketiga untuk mengubah suatu proposisi logika menjadi proposisi logika yang setara. Untuk melakukan suatu kontraposisi, kita perlu melakukan tiga operasi: a) mengobversi, yaitu dengan pertama-tama mengubah kualitas proposisi (negatif menjadi afirmatif dan sebaliknya) dan kemudian menegasikan proposisi yang kualitasnya telah diubah tersebut; b) mengkonversi; dan c) mengobversikan hasil konversi akhir. Ilustrasinya, perhatikan contoh berikut: a) Tiada lembu yang non-binatang; b) Tiada non-binatang yang lembu; c) Semua non-binatang adalah bukan lembu—M.K.

[2] Untuk lebih jauh, lihat kuliah saya yang kesepuluh dan kesebelas dalam Muhadharat fi Al-Aidiuluijiyyah Al-Muqarranah (Teheran: Wizarah Al-Irsyad Al-Islam, 1982), dan buku Pasdari Az Sangarha-ye Iydiuluzhik, artikel tentang dialektika, (Qum: Dar Rah-e Haqq, 1982)—Taqi Mishbah Yazdi.

[3] Mahdi Mohaghegh dan Toshihiko Izutsu menerjemahkan ‘arudh dengan occurance (pengejawantahan atau kejadian) dan ittishaf dengan qualification atau pemerian), dalam The Metaphysics of Sabzavari (Teheran: Iran University Press, 1983), h. 67. Kedua konsep ini menerangkan hubungan antara konsep (dalam kepala) dan objeknya (di alam luar). ‘Arudh merujuk pada penerapan konsep predikat (dalam proposisi) kepada objek atau sifat keterhubungan (relational property) konsep predikat dengan objeknya, sedangkan ittishaf merujuk pada penyifatan atau pemerian objek oleh konsep. Semua terjemahan atas istilah-istilah tersebut pasti terkesan semu. Dengan mengingat bahwa ittishaf adalah penyifatan atau pemerian (characterization) dan ‘arudh adalah pengejawantahan atau kejadian (occurance); yang pertama terkait dengan sifat (karakter atau perikeadaan) Objek, sedangkan yang belakangan terkait dengan pola kejadian objek pada benak yang menerapkannya pada objek pengetahuannya. Semua terjemahan ini dibuat agar selaras dengan penjelasan pengarang—penerj. Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: