Pendahuluan


Kiranya menarik untuk mereka-reka alasan, mengapa suatu gerakan keagamaan merasa perlu meminjam sistem pemikiran teoretis dari luar, padahal ia sendiri sudah dilengkapi dengan berbagai perangkat teoretis. Para penganut gerakan itu seharusnya merasa bahwa sistem pemikiran mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi berbagai isu dan masalah konseptual yang mungkin timbul di kemudian hari.

Demikianlah kasus yang terjadi pada Islam. Di dalam sistem pemikiran Islam, pertama dan terutama, ada Al-Quran yang sarat dengan analisis terperinci seputar hakikat realitas dan anjuran-anjuran moral bagi para pembacanya. Setelah Al-Quran, ada Sunnah bagi kebanyakan umat Muslim, dan bimbingan yang terus-menerus dari pemimpin spiritual (imam) bagi sebagian yang lain. Kalangan kebanyakan itu disebut Muslim Sunni lantaran komitmen mereka pada berbagai hadis mengenai perilaku Nabi Saw. dan para sahabat dekatnya sebagai rujukan dalam melakukan tindak dan menentukan sikap. Sementara itu, kalangan kedua disebut Muslim Syi’ah atau Syi’ah. Nama Syi’ah berasal dari istilah Syi’ah Ali (Partai Ali) lantaran mereka secara khusus memberi penghargaan kepada menantu Nabi Saw. ini dan para penerus beliau sebagai sumber mata air pengetahuan spiritual (Muhajirani, 1996).

Hadis (jamak: ahadis) yang mengandung sabda-sabda Nabi Saw. dan para sahabat beliau juga dipakai sebagai sumber otoritas. Metodologi untuk memilih hadis yang asli dan yang palsu pun sudah ditetapkan. Atas dasar itu pula, dibuatlah superstruktur teologi (kalam) yang berfungsi untuk mengupas soal-soal teoretis dalam sumber-sumber di atas. Teologi juga digunakan untuk membuat fiqih (fiqh) yang berfungsi menentukan tindakan yang sah dan tidak sah menurut hukum Islam.

Selain itu, ada pula tata bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran. Mendalami tata bahasa Arab sangat krusial untuk bisa mencerap makna pesan yang terkandung di dalam teks (Al-Quran) sebagai wahyu Ilahi.

Tidak mengejutkan apabila kemudian banyak orang Muslim yang merasa bahwa Islam dan sistem pengetahuannya—yang sering disebut ilmu-ilmu keislaman—lebih dari cukup untuk mengatasi semua masalah yang mungkin timbul sehingga tidak perlu lagi ada sumber teoretis tambahan. Ini memang reaksi wajar dari semua pengenut agama yang memiliki sistem pemaparan yang canggih. Para penganut ini umumnya menolak gagasan “menengok ke luar agama” untuk menyelesaikan masalah-masalah teoretis, juga praktis, yang mungkin dihadapi oleh umat manusia (Leaman, 1988b).

(Sumber: Oliver Leaman. Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: