Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (4)


Pada permulaan Bab 59, setelah membuka dengan kutipan syair pada permulaan bab ini, Ibn ‘Arabi mengatakan:

Anda mengetahui pertama kali bahwa Allah, Yang Maha Agung, adalah Pertama (al-awwal), dan tidak ada kepertamaan (awwaliyya) sesuatu sebelum-Nya atau sesuatu yang lain—apakah eksis melalui-Nya atau bebas dari-Nya—dengan-Nya: tetapi Ia adalah Satu (yaitu, Sendiri; al-wahid), Kemuliaan untuk-Nya, dalam Kepertamaan-Nya. Jadi tidak ada yang menjadi bagian dari-Nya, karena Ia adalah Berkecukupan (al-ghani) dalam diri-Nya, secara mutlak, dan Bebas dari semua wujud lain. Ia berfirman: Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (3:97), dan hal ini benar berdasarkan intelek dan wahyu.

Oleh karena itu, eksistensi dunia muncul dari Allah baik untuk diri-Nya atau untuk ‘yang lain’ dari diri-Nya. Karena jika ‘yang lain’ ini adalah diri-Nya, ia tidak akan menjadi ‘yang lain’, dan juga jika ‘yang lain’ ini adalah diri-Nya, Ia akan memerlukan susunan dalam diri-Nya dan kepertamaan di atas untuk ‘yang lain’ ini; oleh karena itu, hal ini akan melanggar pernyataan terdahulu bahwa tidak ada kepertamaan untuk sesuatu dengan atau sebelum Allah.

Sehingga jika ‘yang lain’ ini bukan diri-Nya, kemudian ia menjadi baik eksistensi atau non-eksistensi. Tetapi tidak mungkin menjadi non-eksistensi, karena non-eksistensi tidak dapat memunculkan dunia (dari non-eksistensinya) ke dalam eksistensi karena tidak ada prioritas apapun kepada salah satunya (yaitu dunia dan ‘yang lain’ ini adalah non-eksistensi) untuk muncul ke dalam eksistensi karena keduanya adalah non-eksistensi, dan non-eksistensi tidak memiliki pengaruh karena ia tidak valid.

Dengan kata lain, ‘yang lain’ ini tidak dapat menjadi eksistensi, karena ia baik eksis oleh dirinya atau tidak (yaitu melalui yang lain). Dan ‘yang lain’ ini tidak mungkin eksis oleh dirinya sendiri, oleh karena sudah terbukti bahwa tidak dapat menjadi dua wujud eksisten yang mandiri.

Jadi yang tersisa bahwa ‘yang lain’ ini eksis oleh sesuatu yang lain, dan bermakna kemungkinan dunia adalah tidak ada tetapi ia eksis oleh sesuatu yang lain. Oleh karena itu, ‘yang lain’ ini adalah dunia atau (beberapa bagian) dari dunia.

Juga, jika eksistensi dunia oleh Allah adalah oleh karena ‘sesuatu’ yang tanpanya dunia tidak akan eksis—apakah ‘sesuatu’ ini disebut ‘kehendak’ (irada), ‘keinginan’ (mashi’a), ‘pengetahuan’ (‘ilm), atau apapun—kemudian yang Riil tidak akan (dapat untuk) melakukan apapun tanpa ‘sesuatu’ ini. Tetapi hal ini bukan berarti sesuatu yang dibenarkan, karena Allah secara mutlak Berkecukupan. Dan jika diklaim bahwa ‘sesuatu’ ini adalah Esensi diri-Nya, kita katakan bahwa tidak mungkin untuk apapun menjadi memerlukan dirinya karena Ia adalah berkecukupan dalam diri-Nya; ini (teori palsu) akan menuntut kepada kontradiksi—yaitu wujud Berkecukupan namun memerlukan dalam diri-Nya pada waktu yang sama—dan semua ini tidak mungkin.

Oleh karena itu, karena kita sudah membuktikan kesalahan eksistensi dari ‘yang lain’ (menentukan penyebab eksistensi dunia), kita menyimpulkan bahwa eksistensi dunia eksis melalui sesuatu yang lain, (dengan penyebab) berhubungan kepada Eksisten-Mandiri (wajib al-wujud li-nafsihi: yaitu Allah atau yang Riil), dan esensi (‘ayn) dari yang ‘mungkin’ oleh dirinya sendiri adalah tempat untuk pengaruh dari Eksisten-Mandiri membawa yang mungkin ke dalam eksistensi. Ia semestinya dipahami seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: