Ruang-waktu dan kecepatan cahaya (1)


Meskipun kemunculan waktu tidak seperti ruang, dalam teori Relativitas ia diperlakukan sebagai dimensi riil seperti halnya ketiga dimensi lainnya dari ruang (panjang, lebar, tinggi: x, y, z). Dalam Relativitas, setiap titik dalam universe dapat dinyatakan dalam istilah-istilah dari empat-dimensi koordinat ruang-waktu (x, y, z, t); kita tidak menyatakan waktu sendirian atau ruang sendirian, tetapi kesatuan tunggal yang disebut ruang-waktu.[1]

Demikian juga, Ibn ‘Arabi menggambarkan fisik universe sebagai sesuatu yang ‘terbatas dalam waktu dan ruang’. Lebih jauh, salah satu hal terpenting pandangan Ibn ‘Arabi tentang waktu adalah pertimbangan bahwa kita mendiami pada ‘Sabtu’, sementara enam ‘Hari’ kosmik lainnya dari Minggu sampai Jumat diperhitungkan untuk penciptaan dunia—di mana dengan kontinu berlangsung penciptaan ulang oleh Allah—dalam ruang. Allah menciptakan dunia tiga-dimensi (aktualnya enam-dimensi/arah jika kita mempertimbangkan dua arah untuk setiap dimensi) dalam enam ‘Hari’ dari Minggu sampai Jumat, tetapi wujud manusia hanya menyaksikan Sabtu karena dalam enam hari lainnya dari seminggu kita (bersamaan dengan selebihnya penciptaan) masih dalam wujud diciptakan. Ibn ‘Arabi mempertahankan bahwa proses penciptaan yang bersifat ketuhanan ini berulang setiap satu momen, sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya.

Namun demikian, hasil yang dapat kita katakan bahwa waktu (‘Sabtu’), meskipun ini khusus, adalah seperti satu dari enam Hari lainnya yang bersesuaian kepada enam (atau tiga) dimensi spasial. Bagi Ibn ‘Arabi, sesungguhnya dunia terbatas dalam tujuh ‘dimensi’ ruang-waktu (6 ditambah 1) yang serupa—sebab, semuanya adalah ‘hari’. Ini merupakan makna mendasar dari beberapa versi dalam Al-Quran yang merinci bahwa Allah menciptakan surga dan Bumi ‘dalam enam Hari’ (bersesuaian kepada ruang) dan ‘kemudian Ia naik [yaitu pada Sabtu, bersesuaian kepada waktu] pada Singgasana’ (Al-Quran 7:45, 10:3, 11:7, 25:59, 32:4, 50:38 dan 57:4). Ini juga dapat dengan mudah dipahami jika kita mengingat kembali bahwa makna aktual waktu adalah diberlakukan untuk eksistensi dunia dalam momen masa kekinian, bukan masa lampau atau yang akan datang. Jadi manifestasi eksistensi terbatas dalam ruang dan waktu sehingga keduanya merujuk kepada eksistensi, dan tidak memiliki makna ketika berlangsung oleh dirinya sendiri tanpa objek atau peristiwa yang terjadi di dalamnya. Konsep baru ini merupakan salah satu aspek penting untuk teori Relativitas yang mempertimbangkan waktu sebagai satu dimensi dari empat-dimensi ruang-waktu, khususnya sejak Ibn ‘Arabi merinci hal yang menarik tentang bagaimana tujuh Hari dari Seminggu kosmik saling berhubungan, sebagaimana akan kita bahas selanjutnya.

Sebagian sudah jelas dan ada juga sebagian yang masih tersembunyi mengenai perbedaan antara ruang dan waktu. Pada permulaan bab 59 dan dalam bab 559 (yang meringkaskan kontribusi kunci setiap bab sebelumnya dari Futuhat), Ibn ‘Arabi mencatat kemiripan dan perbedaan antara ruang dan waktu. ‘Waktu’, ia mengatakan, ‘adalah seperti ruang, perluasannya tidak memiliki batas (paling luar)’. Kemudian ia menambahkan:

Ruang merupakan atribut dari sesuatu yang eksis, tetapi waktu adalah atribut dari sesuatu yang terbatas tetapi tidak perlu eksis. Ruang ditetapkan oleh siapa yang duduk di dalamnya, dan waktu dihitung berdasarkan nafas. (Status ontologis dari) ‘bergantung pada kemungkinan’ (imkan) mempengaruhi waktu dan ruang. Waktu memiliki fondasi (ontologi) yang merujuk balik kepada dan berdasarkan atas Nama yang bersifat ketuhanan ‘Zaman’ (al-dahr). Ruang muncul berdasarkan ‘pendirian’ (istiwa) (dari yang Maha Rahmat pada Singgasana, 20:5), dan waktu muncul berdasarkan ‘turunnya (Tuhan) kepada surga (yang paling bawah)’ (merujuk kepada hadis: “Tuhan yang Maha Agung turun setiap malam, dalam sepertiga malam akhir menuju langit paling bawah…’ [Kanzul Ummal: 3351, 3355, 3388]). Tetapi waktu juga terdapat dalam Debu (berbentuk butiran sangat halus, ‘ama’) meskipun sebelum ‘pendirian’. Waktu merupakan kondisi untuk peristiwa seperti halnya makna untuk surat, dan ruang bukan seperti kondisi, jadi ia bukan seperti surat. Waktu terbatas melalui pembagian berdasarkan ‘sekarang’ dan tidak memerlukan eksistensi objek, tetapi ruang tidak dapat dipahami tanpa objek (yang menempatinya), jadi ia merupakan jenis dari (ontologi) ‘rumah’ (untuk sesuatu yang diciptakan di dalamnya).

Pada sisi lain, konsep pemakaian waktu untuk mengukur jarak sudah digunakan orang-orang Arab kuno yang mengukur jarak selama perjalanan yang mereka lalui, biasanya dengan unta. Tetapi Ibn ‘Arabi menggunakan konsep ini jauh lebih abstrak, cara yang dapat dibandingkan dengan bentuk pengukuran yang sekarang secara luas digunakan dalam astronomi: tahun cahaya. Dalam beberapa tempat ia berulang-ulang mengatakan bahwa jarak antara bola-bola langit adalah bilangan khusus dari ‘tahun’, tanpa merinci apakah kecepatan atau bentuk gerakan yang mungkin terlibat. Misalnya, ia mengatakan bahwa jarak antara puncak dan dasar Jahannam adalah ‘tujuh ribu lima ratus tahun’. Dan pada bagian lain ia mengatakan bahwa Jahannam adalah (atau ‘akan menjadi’) seluruh situasi ruang dari Bumi sampai bagian bawah bintang-bintang tetap (konstelasi Bulan).


[1] Untuk penjelasan lebih rinci tentang subjek ini, lihat: Minkowski, H. (1923). ‘Space and Time’, dalam The Theory of Relativity, editor. H. A. Lorentz, A. Einstein, H. Minkowski dan H. Weyl, London: Methuen; dan Hinton, Charles H. & Rucker R. (editor). (1980). Speculation on the Fourth Dimension Selected Writing of C. H. Hinton. New York: Dover Publications.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: