Asal Mula Waktu?


Jika kita tidak dapat mengatakan tentang asal mula dunia dalam waktu, kita masih dapat bertanya tentang asam mula waktu dalam dunia. Sebagaimana Ibn ‘Arabi katakan, kita tidak dapat bertanya kapan waktu dimulai, karena kata ‘kapan’ memerlukan ketetapan waktu sebelumnya. Tetapi kita dapat bertanya bagaimana waktu dimulai?

Dalam merespon pertanyaan kosmologis ini, Ibn ‘Arabi berargumen bahwa alami dan para-alami tipe waktu bersumber dalam Jiwa Universal yang memiliki dua daya: aktif dan intelektif (quwwa ‘amaliyya dan quwwa ‘ilmiyya). Daya aktif berada ‘dalam muatan gerakan’ tubuh dan objek,[1] sementara daya intelektif adalah kemampuan menerima pengetahuan, atau memperbarui keadaan spiritual jiwa. Jadi waktu fisik (yaitu berhubungan dengan objek fisik) adalah ketika tubuh menjaga gerakan untuk melindungi eksistensinya, dan waktu spiritual adalah ketika wujud hati manusia menerima pengetahuan dari Tuhannya. Oleh karena itu, waktu fisik bersumber dari daya aktif Jiwa Universal, sementara waktu spiritual bersumber dari daya intelektifnya.

Dengan kata lain, oleh karena waktu alami (atau fisik) adalah konsekuensi dari gerakan material dalam Alam, ini bersumber dengan bola isotropik di mana bola pertama dalam Alam merupakan tubuh pertama yang diciptakan. Ketika bola isotropik ini (al-falak al-atlas) sudah diciptakan dan mulai bergerak, gerakannya ditetapkan sebagai waktu alami. Tetapi karena bola ini adalah isotropik—sama dalam semua arah—maka tidak mungkin untuk mengukur waktu dalam bulatan ini karena tidak ada cara untuk membandingkan gerakan kepadanya. Dan ketika Allah menciptakan bola kedua yang meliputi bintang-bintang paling jauh (galaksi) yang biasanya disebut bintang-bintang tetap, gerakan bintang-bintang tersebut dalam bulatan ini ditetapkan sebagai hari ketika berevolusi sempurna dari bola ini: ‘Ketika Allah menyebabkan bola lebih tinggi untuk bergerak dan Ia menciptakan hari-hari dalam bola pertama (bulatan isotropik) dan ia ditetapkan sebagai (hari) dalam bola kedua adalah bola bintang tetap yang nyata’ [Ayyam al-Sha’n: 6].

Namun demikian, sebagaimana Ibn ‘Arabi katakan, gerakan dari bola isotropik secara aktual ditentukan dari atas; ia dimulai ketika derajat pertama dari Gemini sesuai dengan sifat Ketuhanan ‘Kaki’ pada ‘Alas’ (kursi)[2] di atas bola isotropik, dan setelah satu kali revolusi sempurna, penciptaan ‘Hari’ kosmik pertama dilakukan, dan ini adalah Minggu. Kemudian proses penciptaan dengan sifat Ketuhanan berlangsung sampai Senin, Selasa, dan seterusnya sampai lengkap pada Sabtu—dan kemudian dimulai lagi. Karena ‘Hari’ kreatif ini ditentukan dari atas, tidak mungkin untuk diketahui durasinya. Benar bahwa kita membagi hari menjadi 24 jam, tetapi ini hanya kesepakatan saja. Secara aktual tidak mungkin untuk menentukan panjangnya hari karena tidak ada yang lain (dalam Alam) untuk membandingkan kepada gerakannya, jadi kita menggunakan hari untuk mengukur ‘hari’ relatif lainnya dari bola lain yang berada di bawah bola bintang-bintang tetap, dan juga ‘hari’ dari bola spiritual (dan sifat berketuhanan) yang berada di atas bola isotropik fisik ini. Kita akan menjelaskan lebih rinci ketujuh Hari dalam ‘Minggu’ kosmik dan bagaimana penyebab kemunculannya.


[1] Ketika Ibn ‘Arabi menggunakan istilah ‘dalam muatan gerakan’ untuk menggambarkan daya aktif, ia sedang memikirkan konsep masyhurnya bahwa dunia (di mana tubuh dan objek bergerak) seperti manusia-super (insan kabir), di mana semua gerakan fsik dikarenakan daya aktif dari Jiwa Universal, dan semua perubahan dikarenakan daya intelektifnya.

[2] Dasar hadis ‘Alas (al-kursi) adalah tempat dua kaki’ [Kanz al-Ummal: 1683], Ibn ‘Arabi menyatakan bahwa ‘kaki’ dalam pertanyaan ini adalah ‘ketetapan’ yang bersifat ketuhanan (thubut) dan ‘dua kaki’ diatribusikan kepada Maha Rahmat dan Maha Mulia, merujuk kepada ‘kaki keterpaksaan’ qadam al-jabar) dan ‘kaki keterpilihan’ (qadam al-ikhtiyar). Ibn ‘Arabi memperlihatkan bahwa Allah, Maha Rahmat, Perkataan (dalam Singgasana) adalah Satu (semua rahmat), tetapi oleh ayunan (tadalli) dari kaki keterpaksaan dan keterpilihan pada Alas, Perkataan dibagi menjadi dua, dan pembedaan antara keterpaksaan dan keterpilihan ini menyebabkan munculnya tentang perintah dunia (‘alam al-amr) dan penciptaan dunia (‘alam al-khalq), tentang larangan dan perintah (yang bersifat ketuhanan), tentang kepatuhan dan pelanggaran, dan tentang Surgan dan Neraka, tetapi semua ini adalah bentuk sifat ketuhanan yang berakar dari Rahmat yang diatributkan kepada Maha Rahmat yang ‘naik di atas Singgasana’ (al-rahman ‘ala al-‘arsh istawa, 20:5). Kemudian Ibn ‘Arabi juga menghubungkan pembedaan yang sama ini kepada simbolisme waktu siang dan malam, di mana ia mengatakan bahwa, karena Perkataan di atas Alas adalah satu, semuanya di sana adalah waktu siang (terang), tetapi di bawah Alas adalah waktu siang dan malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: