Jalan-jalan, Uneh


Uneh pengen jalan-jalan, ya, di hari bertanggal merah ini. Setelah sehari kemarin otaknya diperas membaca buku yang bukan peruntukannya kalau secara Piaget. Kelas dua es-em-a dikasih buku anak mahasiswa, dua pula; satu berwarna biru tidak tebal tapi agak lebar dan satunya berwarna kuning, buku yang terakhir ini agak tebal sampai pas pulang sekolah harus ditenteng di tangan kirinya.

Uneh menerima buku itu dari gurunya, guru favoritnya. Si Bapak Baplang, begitu Uneh biasa memanggilnya. Dua hari yang lalu, sehabis jam pelajaran terakhir, Uneh dan dua temannya, termasuk si Kriting dipanggil sang guru. “Ayo, kerjakan bersama-sama di sini soal yang tadi belum sempat dibahas. Kita berempat adu cepat, oke”. Si Kriting dan satunya lagi sudah siap dengan kalkulator, Uneh hanya mengeluarkan kipas, lalu berkipas pelan. Tentu saja sang guru pun tidak pakai kalkulator, “Mulai”.

Keempatnya menghasilkan jawaban yang sama, Uneh duluan, disusul sang guru, dan si Kriting di posisi buncit. “Bagus”, sang guru berkata. Tapi Uneh masih ada unek-unek rupanya, tentang si makhluk aneh, katalis. Aneh, karena dapat mempercepat reaksi, tapi tidak di masukkan dalam persamaan. Eh, pas akhir reaksi muncul lagi, si makhluk aneh itu. “Itu Pak, ketiganya ga masuk di otak Uneh mah, lieur”. Sang guru tersenyum, “Nanti dua hari lagi jawabannya, sekarang Bapak mau makan, dan kalian harus pulang”. Setelah ketiga muridnya pulang, sambil ke luar ruangan sang guru berkata, “Itu sih udah di luar SK/KD”.

Jawabannya ternyata dua buku itu, tapi Uneh senang meski guru favoritnya ketika menyerahkan berkata, “Jawaban pertanyaan dua hari lalu nanti serahkan ke Bapak, kalo bukunya buat kamu, dua-duanya”. “Baik Pak, jawab Uneh cepat. Si Kriting melongo, “Kebaca gitu?”

Ya, Uneh pengen jalan-jalan! Menurut hadis yang pernah dibacanya, ada tiga hal yang bisa menyenangkan mata dan menenangkan hati. Air jernih yang mengalir, tetumbuhan hijau, dan wanita cantik yang ketiganya. “Aku cuman kebagian dua dong, hehe…”, gerentes Uneh. Ia mengeluarkan teman sejatinya, kipas. Lalu, mengeluarkan dompet dan memeriksa isinya, “Cukuplah”. Ia tidak segera memasukkannya, diperhatikan lagi, dompetnya sudah agak lecak, benang emas yang membentuk namanya juga udah agak memudar, sisi-sisinya sudah pada lecet. “Aku tidak akan pernah mengganti dompet ini, tidak akan pernah. Sampai dia menghilang sendiri!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: