Rahasiamu


Pagi ini, Uneh berlari-lari kecil menuju sekolah, tentu saja dengan peralatan dan perlengkapan yang sudah disiapkan sedari malam selepas belajar sama kakaknya. Ia teringat ucapan ibunya, malam tadi selepas belajar, “Besok, sebelum masuk kelas, belilah bubur untuk sarapan, ibu mau berangkat sebelum subuh”. “Baik Bu, boleh pake pedes?”, tambahnya. “Boleh, sedikit aja yah”, jawab ibunya sambil tersenyum. “Siap”.

Uneh bergegas mempersiapkan semuanya, untuk besok sekolah, tak lupa uang tambahan sudah ke dompetnya yang lucu. Ia tersenyum kalau ingat dompet itu, “Ga ada duanya di dunia”. Dompet buatannya sendiri, yang dilipatan bagian dalam ada untaian kata dari jalinan benang mas membentuk satu nama, uneh.

Entah karena ingatannya masih ke dompet, Uneh jadi agak ceroboh. Muncullah luka pada lengan kiri bagian atas, dekat di ketiaknya. Ia terpekik, ada darah menetes. Ia ke ibunya yang sudah siap-siap mau tidur. “Hanya luka kecil”, imbuh ibunya sambil menyeka darah lalu mengolesi dengan cairan perekat luka dan terahir perban pun melekat di situ. “Udah sembuh tuh, lain kali lebih hati-hati, yang sudah terjadi ga usah diingat-ingat. Sekarang waktunya tidur”, tatapan ibunya melepas Uneh memasuki ruang pribadinya. Uneh jadi tenang, meski itu luka pertamanya. Ia tertidur bersama mimpinya bertemakan bubur.

Lamunan Uneh buyar sewaktu melihat gerbang sekolah, tiga meteran lagi. Namun, ia berbelok arah, sedikit, melanjutkan lari kecilnya ke arah penjual bubur. “Uneeeh”, menoleh ke arah gerbang ia melihat temannya, si kriting, “Apaa”, jawab Uneh. “Kamu udah lupa sekolah sendiri yah?” “Hehe.. Aku mau bubur tau”, jawab Uneh. “Bareng atuh, aku juga mau ah”. “Hayuk”, kata Uneh sambil melambaikan tangan.

Sesuai janjinya, bubur sudah membentuk campuran bersama sedikit pedas. Di sebelah kanannya sudah duduk si Kriting juga sudah menganduk-aduk bubur pesananya. Pada suapan KETUJUH, saat mengangkat mangkok, “Aduh”, keluar ucapan dari mulut Uneh. “Kenapa Neh, kamu kepedesan?” “Bukan, tangan kiri aku masih menyisakan sakit tergores pensil semalam”. “Mana mana mana, coba aku lihat”, Si Kriting bergeser tempat duduk ke sebelah kiri. “Ini loh”. “sakitnya sampai ke hati ga yah?”, kata si Kriting sambil tertawa kecil. Uneh tersenyum, tapi tidak memahami ucapan sahabatnya. Uneh hanya mampu menghabiskan tujuh suapan, tidak diteruskannya, bayar lalu masuk ke kelas bersama si Kriting. Tidak lama bel berbunyi.

Sesampai di rumah Ibunya sudah menanti di ruang tamu. Uneh mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya.
Ibu (I) : “Sini, duduk dulu sebentar, ibu mau meriksa lukamu”
Uneh (U) : “Sekelas jadi tahu luka ini loh Bu”
I : “Kenapa atuh kamu ngasih tahu segala”
U : “Ndak, cuma seorang kok”
I : “Uneh, hati-hati menjaga rahasia karena itu adalah kehormatan kamu. RAHASIAMU ADALAH TAWANANMU. Tidak sedikit sahabat yang mempermalukan sahabat akrabnya sendiri, karena ia mengetahui rahasia temannya. Tuh lihat, orang-orang yang duduk ‘di persidangan’ itu dulunya sahabat kental semua”.

Uneh tidak menjawab lagi, matanya terpejam di atas pangkuan ibunya, capeklah yang ia rasakan. Sebentar ia mengusap lukanya, lalu menerawang si Kriting dengan ucapannya ‘lukanya sampai ke hati ga yah’. Uneh tahu rahasianya kenapa si Kriting begitu. Uneh tertidur dalam pangkuan ibunya, di bibirnya terbentuk lengkungan senyum tipis, “Aku tahu rahasiamu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: