Telaah Mengenai Konsep Universal


Seperti telah kita sebutkan, para nominalis berpendapat bahwa istilah-istilah umum (general terms) merupakan sejenis ekuivokasi atau ambiguitas (al-isytirak al-lafzhi) yang mengacu pada banyak individu. Untuk menjawabnya secara tuntas, kita mesti menguraikan (perbedaan) ambiguitas satu kata atau ungkapan yang merujuk pada banyak objek (al-musytarak al-lafzhi) dan kata atau ungkapan umum (al-musytarak al-ma’nawi).

Ambiguitas (musytarak lafzhi) terjadi manakala satu kata mengacu pada banyak objek melalui berbagai konvensi,[1] seperti kata “bunga” yang bisa berarti kembang (dalam konvensi umum) atau imbalan jasa untuk penggunaan modal yang dibayar pada waktu yang disetujui (dalam konvensi para ekonom).a Sebaliknya, makna umum (al-musytarak al-ma’nawi) ialah kata atau ungkapan yang ditetapkan dalam satu konvensi untuk merujuk pada sisi kesamaan dan keserupaan (isytirak) berbagai individu, dengan satu pengertian umum yang mengikat semuanya.b

Ada tiga butir penting yang membedakan antara mibiguitas (musytarak lafzhi) dan makna atau pengertian umum: a) ambiguitas menuntut sejumlah konvensi yang ditetapkan sebelumnya, sementara makna atau pengertian umum cuma memerlukan satu konvensi; b) makna atau pengertian umum dapat berlaku pada individu dan instanta yang tidak berhingga, sementara ambiguitas cuma berlaku pada sederet makna (yang masing-masingnya merupakan konvensi tersendiri); c) makna umum cuma memiliki satu pengertian umum yang dapat dipahami tanpa melihat konteks, sedangkan ambiguitas melibatkan banyak pengertian yang masing-masingnya membutuhkan penentuan konteks.

Setelah mempertimbangkan tiga butir perbedaan di atas, kita kembali bertanya tentang konsep umum seperti “manusia” dan “binatang”. Apakah konsep-konsep umum itu dapat kita pahami sebagai memiliki pengertian umum (untuk anggota himpunan yang tak berhingga) tanpa melihat konteks tertentu? Ataukah kata itu akan mencuatkan sejumlah pengertian dalam pikiran sehingga jika konteksnya tidak terbatasi, pikiran kita menjadi kacau dengan berbagai pengertian? Tak syak lagi, kita tidak menangkap Muhammad, Ali, Hasan, dan Husain sebagai pengertian kata “manusia” (yang berbeda-beda); karenanya saat mendengar kata “manusia” kita tidak pernah meragukan pengertiannya dengan menanyakan mana di antara individu-individu itu yang dapat menjadi pengertiannya. Malah, kita tahu dengan pasti bahwa “manusia” mempunyai satu pengertian yang merujuk pada seluruh individu tersebut dan manusia-manusia lainnya. Oleh sebab itu, kata manusia tidak bisa disebut ambigu.

Sekarang marilah kita lihat apakah kata di atas mempunyai contoh yang terbatas ataukah tidak? Jelas bahwa kata “manusia” mempunyai contoh dan acuan yang tak terbatas. Oleh karena itu, konsep-konsep universal (atau pengertian-pengertian umum) tidak membutuhkan pada konvensi yang berulang-ulang. Kesimpulannya, konsep-konsep universal mempunyai pengertian umum (yang mengena pada seluruh anggota himpunan) dan tidak ambigu.

Boleh jadi ada keberatan tentang tidak memadainya paparan di atas untuk menjelaskan kemustahilan terjadinya konvensi yang berulang-ulang dalam menentukan contoh acuan. Karena, mungkin saja, si pemakai hanya membayangkan satu instanta (dan bukan instanta-instanta tanpa batas) dalam benaknya ketika ia menetapkan kata atau ungkapan umum yang mencakup seluruh individu yang serupa (dengan contoh yang dibayangkannya).

Kita haya tahu si pemakai kata seharusnya telah mengkap ari “seluruh”, “instanta”, dan “serupa” dalam proses membuat konvensi. Oleh karena tu, pertanyaan di atas mesti dikembalikan pada bagaimana kata-kata dan ungkapan-ungkapan itu ditentukan sebelumnya sehingga dapat diterapkan pada instanta-instan individual bahwa pikiran manusia sanggup menganggit konsep (umum) yang dapat diterapkan pada contoh-contoh individual yang tak terbatas. Karena, tidaklah mungkin ada konvensi untuk tiap-tiap individu yang tercakup dalam pengertian umum.c

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] “Konvensi” di sini sama dengan “initial baptism (pembaptisan inisial)” dalam istilah Kripke yang merujuk pada kesepakatan sosial dalam menentukan kata atau ungkapan untuk objek tertentu—penerj. Inggris.

a Kata “tahu” juga mempunyai makna kembar, ia bisa berarti “mengerti” atau “makanan yang dibuat dari kedelai putih dan digiling halus-halus, direbus lalu dicetak”. Spring dalam bahasa Inggris juga bersifat ambigu, lantaran ia bisa berarti kumparan, musim semi, sumber air, dan lompatan. Demikian pula halnya dengan kata ‘ain dalam bahasa Arab yang bisa berarti mata, sumber air, dan emas—M.K.

b Contohnya ialah kata “binatang” yang dapat merujuk pada ayam yang berkaki dua atau lembu yang berkaki empat—M.K.

c Kesimpulannya: pengertian umum dari konsep universal (seperti manusia) mencakup seluruh individu secara tak terbatas, meskipun kata yang dipakai untuk menyampaikan pengertian umum dari konsep universal itu cuma sekali ditetapkan dalam konvensi. Dengan demikian, seluruh individu yang mempunyai sifat kebinatangan dari rasionalis dapat disebut manusia tanpa peremsian dan konvensi khusus untuk itu—M.K.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: