Keseiringan Pengetahuan Perolehan dengan Pengetahuan Presentasional


Satu masalah penting harus kita ingat, benak kita senantiasa menangkap gambar yang hadir di hadapannya ibarat alat otomatis. Darinya benak kita mengambil sejumlah bentuk dan konsep tertentu, kemudian mengurai dan menafsirkannya. Sebagai misal, jika kita mengalami ketakutan, benak kita akan mengambil gambar tentang ketakutan yang sewaktu-waktu dapat kita ingat kembali jauh setelah keadaan takut itu sendiri sirna. Pada saat yang sama, benak kita menganggit konsep universal tentang ketakutan dan menambah konsep-konsep lain padanya untuk dapat menyodorkan proposisi seperti “saya takut” atau “saya mengalami ketakutan” atau “ketakutan menimpa saya”. Dengan kecepatan mengagumkan, benak kita dapat menafsirkan keadaan jiwa itu berdasarkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya sekaligus mengenali sebab musababnya.

Seluruh aktivitas dan proses mental yang berlangsung kilat itu berbeda dengan hadirnya ketakutan sebagai pengetahuan presentasional. Tetapi, keseiringan dan keserentakannya dengan pengetahuan presentasional sering  menjebak orang dalam kerancuan. Orang kerap menyangka bahwa karena ia menemukan keadaan takut dalam dirinya melalui pengetahuan dengan kehadiran, ia pun mengetahui sebab musabab ketakutan tersebut melalui pengetahuan dengan kehadiran. Padahal, apa yang dicerap melalui pengetahuan dengan kehadiran senantiasa bersifat sederhana, tanpa bentuk dan konsep, serta bebas dari segala macam penafsiran dan penjabaran. Dan itulah mengapa pengetahuan-dengan-kehadiran tidak mungkin keliru. Sebaliknya, penafsiran seketika yang mengiringi hadirnya ketakutan dalam diri itu merupakan persepsi-persepsi perolehan (dari informasi yang telah atau baru kita terima dari luar diri kita) sehingga tidak menjamin kebenaran dan kesesuaiannya dengan realitas yang sesungguhnya.

Dengan paparan itu, terjawablah mengapa dan bagaimana sebagian pengetahuan perolehan mengalami kekeliruan. Umpamanya, ada orang merasa lapar dan menyangka bahwa dia memerlukan makanan, padahal selera makan itu sebetulnya tidak nyata dan dia tidak memerlukan makanan. Hal demikian terjadi lantaran rasa tertentu yang ditangkapnya melalui pengetahuan-dengan-kehadiran yang tidak mungkin keliru itu telah diikuti dengan tafsiran mental yang membandingkan rasa tersebut dengan beberapa rasa terdahulu yang diduga berasal dari kebutuhan pada makanan. Hanya saja, perbandingan itu ternyata tidak benar dan karenanya muncul kekeliruan yang bermula dari tafsiran mental atas penyebab rasa tersebut. Kekeliruan serupa juga lazim berlaku dalam pengalaman dan penyingkapan mistis. Oleh sebab itu, adalah suatu keniscayaan untuk sepenuhnya jeli dalam menentukan pengetahuan presentasional dan memilahnya dari pelbagai tafsiran mental yang mengiringinya, supaya tidak terjatuh dalam kekeliruan yang diakibatkan oleh kebingungan tersebut.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: