Gagasan-gagasan Universal


Sudah kita ketahui bahwa pada satu sisi gagasan-gagasan dapat dibagi menjadi universal dan partikular, dan semua jenis gagasan yang telah kita bahas hingga sekarang adalah gagasan-gagasan partikular. Gagasan-gagasan universal yang juga disebut dengan “konsep-konsep akal” atau “objek-objek kawruhan” (intelligibles) telah menjadi pusat berbagai perdebatan filosofis penting, sekaligus menjadi tema pembicaraan selama berabad-abad lampau.

Sejak zaman kuno, ada sejumlah orang yang pada dasarnya menyangkal keberadaan konsep-konsep universal. Istilah yang dipakai untuk menunjuk (denote) konsep-konsep universal, kata mereka, sebetulnya merupakan istilah-istilah ekuivokal yang mengacu pada banyak hal. Umpamanya, kata “manusia” yang dipakai untuk banyak individu mirip dengan nama depan yang dipakai untuk beberapa keluarga atau nama keluarga yang dipakai untuk semua anggotanya. Para pendukung teori ini dikenal sebagai “nominalis”. Pada akhir Abad Pertengahan, William dari Ockham cenderung pada teori ini, kemudian diikuti oleh Berkeley. Belakangan, di zaman modern, para positivis dan penganut sejumlah aliran lain juga patut diduga berpandangan serupa.[1]

Sejalan dengan teori di atas ialah teori yang menyatakan bahwa konsep-konsep universal tak lebih dari konsep-konsep partikular yang samar (vague). Dengan sedemikian rupa menerabas beberapa ciri pembeda (features) dan bentuk khasnya, kita bisa menerapkan satu konsep partikular pada beragam orang dan individu. Misalnya, gagasan kita tentang seseorang bisa kita tetapkan pada orang lain dengan cara membuang beberapa ciri pembeda orang pertama. Dengan membuang lebih banyak ciri pembeda, gagasan tersebut menjadi lebih umum dan dapat diterapkan pada lebih banyak orang hingga akhirnya mencakup binatang, tanaman, dan mineral. Ini mirip dengan bayangan di kejauhan yang karena kesamarannya ia bisa cocok (conform) dengan gagasan batu, pohon, binatang atau manusia. Itulah sebabnya mengapa pada tatapan pertama kita selalu ragu apakah bayangan itu manusia atau benda lainnya. Makin dekat dan jelas penglihatan kita, makin sempit batas-batas kementakan (probability) bayangan itu, sampai akhirnya kita bisa memastikan sosok dan benda tersebut.

David Hume dan sejumlah pemikir lain punya pendapat semacam ini mengenai konsep-konsep universal. Di lain pihak, sebagian filosof kuno seperti Plato sungguh-sungguh menegaskan sifat nyata konsep-konsep universal, bahkan menganggap kenyataannya terpisah dari kerangka ruang dan waktu. Menurutnya, pencerapan konsep-konsep universal tak ubahnya seperti pengamatan pada entitas-entitas mujarad (non-material entities) dan arketipe-arketipe intelektual (ide-ide Platonik). Teori ini sendiri telah ditafsirkan secara beragam dan banyak teori lain bercabang darinya.[2] Oleh sebab itu, sebagian pemikir percaya bahwa sebelum terbungkus raga, ruh manusia telah menyaksikan segenap kebenaran intelektual di semesta keberadaan mujarad. Sesudah terbungkus raga, ruh mengalami kelupaan. Dengan menatap sosok-sosok yang terpampang secara material, ruh kembali teringatkan pada kebenaran-kebenaran mujarad yang pernah dilihatnya. Dan itulah yang disebut dengan pencerapan konsep-konsep universal.

Sebagian yang tidak percaya pada keberadaan ruh sebelum tubuh berpendapat bahwa persepsi indriawi mempersiapkan jiwa untuk menilik entitas-entitas mujarad. Akan tetapi, penyaksian dan pencerapan konsep-konsep universal merupakan penyaksian hakikat-hakikat mujarad dari kejauhan, berbeda dengan penyaksian dan penyingkapan gnostik (al-musyahadat al-‘irfaniyyah) yang membutuhkan persiapan khusus sebagai penyaksian dari kedekatan. Sebagian filosof Muslim, seperti Mulla Shadra dan Almarhum ‘Allamah Thabathaba’i, menerima penafsiran terakhir.

Teori paling masyhur ialah bahwa konsep-konsep universal merupakan sejenis konsep mental yang terpahami sebagai konsep universal pada tingkat tertentu dalam benak manusia. Oleh karena itu, salah satu definisi akal ialah kemampuan menangkap konsep-konsep mental universal. Teori ini dinisbatkan kepada Aristoteles dan diterima oleh kebanyakan filosof Muslim.

Menimbang teori pertama dan kedua pada hakikatnya bermaksud sama sekali menyangkal pencerapan intelektual, suatu titik pangkal untuk menghencurkan metafisika dan menyusutkannya menjadi sekadar wacana filologis dan uraian kebahasaan, sudah semestinya kita menelisik isu ini lebih jauh untuk menemukan landasan-landasan kukuh bagi pembahasan-pembahasan selanjutnya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Dalam kenyataannya, sementara nominalisme telah menarik beberapa positivis dan para pengikut mereka, pendapat resmi seorang positivis logika, seperti Rudolf Carnap, menunjukkan bahwa seluruh perdebatan tentang keberadaan konsep-konsep universal adalah tak bermakna. Anggapan ini agaknya timbul dari teori pemaknaan (theory of meaning) yang tak lengkap—penerj. Inggris.

[2] Fenomenologi Edmund Husserl harus dipandang sebagai diturunkan dari teori ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: