Pembagian Gagasan


Dari satu perspektif, gagasan dapat dibagi menjadi dua: universal dan partikular: “Gagasan universal” adalah konsep yang menyantirkan sekian banyak hal dan benda, seperti konsep manusia, yang dapat diterapkan pada jutaan individu. Sebaliknya, “gagasan partikular” adalah bentuk mental (mental form) yang cuma menyantirkan satu maujud, seperti bentuk mental tentang Socrates. Gagasan universal maupun partikular, mengikuti dasar pembagian lain, dapat digolongkan menjadi beberapa tipe. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai bagian-bagian tersebut.

  • Gagasan-gagasan indriawi, yaitu gejala-gejala sederhana yang terdapat dalam jiwa sebagai hasil dari hubungan antara organ-organ indra dan kenyataan-kenyataan material, seperti citra pemandangan yang kita lihat dengan mata atau suara yang kita dengar dengan telinga. Kelangsungan gagasan ini sepenuhnya bergantung pada kelangsungan kontak dengan jagat luar. Begitu kontak itu terputus, gagasan-gagasan ini pun akan menghilang dalam sekejap (misalnya dalam sepersepuluh detik).
  • Gagasan-gagasan khayali (imaginary ideas), yakni gejala-gejala sederhana dan khas dalam jiwa yang secara langsung diakibatkan oleh timbulnya gagasan-gagasan indriawi dan hubungan dengan jagat luar. Berbeda dengan gagasan indriawi, kelangsungan gagasan khayali tidak bergantung pada hubungan dengan jagat luar. Sebagai misal, citra mental mengenai pemandangan kebun yang menetap dalam jiwa kendati kedua mata kita telah terpejam, dan dapat kita ingat kembali bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu.
  • Gagasan-gagasan kewahaman (al-wahamiyyah atau ideas of prehension)[1]: Para filosof menyebutkan adanya jenis lain gagasan partikular yang terkait dengan makna-makna partikular, seperti permusuhan antarbintang yang menyebabkan mereka saling menjauh. Sebagian filosof memperluasnya untuk mencakup segenap pengertian dan makna partikular lainnya, termasuk perasaan kasih sayang (affection) dan benci (enmity) dalam diri manusia.

Tak ayal lagi, konsep-konsep universal seputar kasih sayang dan kebencian pada hakikatnya tergolong sebagai gagasan-gagasan universal, dan bukan gagasan-gagasan partikular. Afeksi dan kebencian dalam diri pelaku persepsi sebenarnya adalah pengetahuan presentasional akan kualitas-kualitas jiwa, dan bukan termasuk dalam pengetahuan perolehan.

Perasaan kita tentang kebencian pihak lain, sesungguhnya bukanlah perasaan langsung yang mengemuka tanpa perantaraan (bukan pengetahuan presentasional), melainkan terjadi melalui perbandingan keadaan diri kita dengan orang lain yang berada dalam situasi dan kondisi sama. Akan halnya persepsi-persepsi binatang, agaknya kita masih perlu memperbincangkannya lebih panjang dan tidak bisa kita lakukan pada kesempatan ini.

Yang dapat kita terima sebagai bagian gagasan partikular ialah gagasan yang ditimbulkan oleh keadaan-keadaan jiwa yang sewaktu-waktu dapat kita ingat kembali, mirip dengan gagasan khayali dalam kaitannya dengan gagaan indriawi. Contohnya, ingatan tentang ketakutan tertentu yang mengemuka pada saat tertentu atau afeksi tertentu yang muncul pada saat tertentu. Harus dicatat bahwa adakalanya gagasan-gagasan wahm digunakan untuk mengacu pada gagasan-gagasan yang tidak bersandarkan pada realitas apapun dan adakalanya ia juga dimaksudkan sebagai “fantasi” (al-tawahhum).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Lihat, Parvis Morewedge, The Metaphysica of Avicenna (Ibn Sina), Routledge & Kegan Paul, 1973, h. 321—penerj. Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: