Pengetahuan dengan Kehadiran


Pengetahuan setiap orang terhadap dirinya sebagai maujud pelaku persepsi adalah pengetahuan yang tak dapat disangkal. Para sofis yang menganggap bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu pun tidap dapat menyangkal keberadaan dirinya sendiri dan pengetahuannya tentang hal tersebut.

Tentu saja, yang dimaksud dengan manusia di sini adalah “aku” dan ego yang melakukan pencerapan dan pemikiran, yang dengan penyaksian batinnya (syuhud) sadar akan dirinya sendiri, tanpa sarana pengindraan, percobaan, (perolehan) bentuk-bentuk ataupun konsep-konsep mental, dengan kata lain, diri itu sendiri adalah pengetahuan. dan dalam pengetahuan serta kesadaran ini, pengetahuan dan subjek serta objek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, “kemanunggalan subjek dan objek pengetahuan” adalah instanta (instance/mishdaq) paling sempurna dari “kehadiran objek pengetahuan pada subjek pengetahuan”. Pengetahuan manusia tentang warna kulitnya, postur tubuhnya, dan ciri-ciri tubuhnya tidaklah bisa disebut sebagai “pengetahuan dengan kehadiran”, lantara semua pengetahuan itu diperoleh lewat penglihatan, perabaan, dan berbagai sarana indriaqi lain atau melalui bentuk-bentuk mental. Oleh karena itu, dalam tubuh kita terdapat sekian banyak organ yang tidak kita ketahui keberadaannya, kecuali melalui tanda-tanda dan efek-efeknya atau melalui penelaahan anatomi, fisiologi, dan berbagai sains biologi lain.

Di samping itu, pengetahuan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dianalisis dan diuraikan (dalam konsep-konsep), tidak seperti proposisi “saya adalah…(I am)” atau “saya ada (I exist)” yang tersusun dari dua konsep (saya + ada). Dengan demikian, pengertian “pengetahuan tentang diri sendiri” ialah kesadaran yang bersifat intuitif, sederhana, dan langsung tentang jiwa (atau ruh) kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran ini merupakan peri keadaan esensial jiwa. Pada saatnya nanti, kita akan membuktikan bahwa jiwa merupakan substansi nonmaterial, dan bahwa semua substansi nonmaterial menyadari dirinya sendiri. Kedua topik ini terkait dengan ontologi dan psikologi filosofis, yang tidak relevan dengan bahasan saat ini.

Kesadaran kita terhadap beragam keadaan, sentimen, dan perasaan jiwa, kita juga merupakan instanta-instanta (instances) pengetahuan yang langsung hadir dalam diri. Manakala kita takut pada sesuatu, kita langsung bisa menyadari keadaan itu tanpa perantaraan bentuk atau konsep mental atau santiran apa pun. Manakala cinta pada seseorang atau sesuatu merasuki diri, kita pun secara kontan dapat menilik getaran itu dalam diri kita, tanpa perantaraan apa pun. Demikian pula manakala kita memutuskan untuk berbuat sesuatu, niscaya kita sepenuhnya menyadari keputusan dan kehendak itu. adalah mustahil kita takut, cinta atau ingin melakukan sesuatu tanpa kesadaran akan ketakutan, kecintaan, dan keinginan itu sendiri. Oleh sebab itu, tidak mungkin ada orang yang meragukan atau menduga sesuatu tanpa menyadari atau mengetahui keraguannya, dengan cara meragukan keberadaan keraguannya!

Contoh lain dari pengetahuan dengan kehadiran ialah pengetahuan seseorang akan kemampuan dirinya dalam berpersepsi dan bergerak (perceptive and motor facilities). Kesadaran seseorang akan kemampuannya berpikir dan berimajinasi dan bergerak bersifat langsung menghadir (representational and direct), tidak diperantarai oleh santiran ataupun konsep mental apa pun. Karenanya, orang tidak akan pernah keliru menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut. orang tidak pula pernah menggunakan kemampuan perseptifnya untuk bergerak atau sebaliknya.

Termasuk hal yang juga diketahui dengan kehadiran ialah bentuk-bentuk dan konsep-konsep mental itu sendiri. Kalau untuk setiap kali mengetahui sesuatu kita senantiasa perlu bentuk-bentuk atau konsep-konsep mental, untuk mengetahui satu konsep mental orang perlu untuk mengetahui konsep mental lain dan pengetahuan tentang konsep mental lain juga memerlukan pada konsep mental lain lagi dan demikian seterusnya. Dengan begitu, untuk mengetahui satu hal kita perlu mengetahui sejumlah hal yang tak berhingga dan sejumlah konsep mental yang tak berhingga pula.

Boleh jadi muncul pertanyaan: sekiranya pengetahuan presentasional itu adalah objek yang diketahui itu sendiri, itu berarti bahwa bentuk-bentuk mental merupakan pengetahuan presentasional sekaligus pengetahuan perolehan. Demikian itu karena, pada satu sisi, bentuk-bentuk mental diketahui dengan kehadiran, sedangkan bentuk-bentuk mental itu, pada sisi lain, merupakan contoh-contoh pengetahuan perolehan dari benda-benda eksternal. Jadi, bagaimana mungkin satu pengetahuan sekaligus merupakan pengetahuan presentasional dan pengetahuan perolehan?

Jawabannya: bentuk-bentuk mental mempunyai sifat “mencerminkan” bentuk-bentuk ekstrnal dan mencerminkan (represent) benda-benda eksternal. Sebagai sarana untuk mengetahui benda-benda eksternal, bentuk-bentuk mental dapat dianggap sebagai contoh-contoh dari pengetahuan perolehan. Namun, sebagai hal-hal yang hadir dalam diri seseorang dan orang itu secara segera dan langsung menyadari kehadirannya, bentuk-bentuk mental dapat dianggap sebagai pengetahuan presentasional. Kedua sisi bentuk-bentuk mental ini berbeda satu dan lainnya; sisinya sebagai pengetahuan-dengan-kehadiran berkaitan dengan kesadaran langsung manusia akan keberadaan mereka, sedangkan sisanya sebagai pengetahuan perolehan berkaitan dengan sifatnya yang melukiskan dan menyantirkan benda-benda eksternal.

Untuk lebih menjelaskan duduk perkara di atas, kita cermati analogi cermin berikut ini. Kita dapat mengamati cermin dari dua sudut yang terpisah: sudut seorang yang hendak membeli cermin, yang melihatnya dari sisi depan dan belakang untuk memastikan tidak ada yang pecah atau rusak pada tampilan fisik cermin tersebut; dan sudut seorang yang hendak berkaca di cermin. Pada sudut kedua ini, meskipun kedua mata kita terarah pada kaca cermin, perhatian kita yang sebenarnya tertuju pada wajah kita atau selainnya, dan bukan pada kaca cermin yang bersangkutan.

Diri kita pun dapat memperhatikan bentuk-bentuk mental secara terpisah (dari sifatnya yang menyantirkan benda-benda eksternal). Dengan cara itu, bentuk-bentuk mental tercerap manusia sebagai pengetahuan presentasional. Pada sisi lain, bentuk-bentuk mental dapat menjadi sarana untuk mengetahui berbagai hal atau benda eksternal, yang dalam hal ini bentuk-bentuk mental itu menjadi pengetahuan tangkapan. Mesti dicatat bahwa maksud dari penjelasan ini bukan untuk memilah kedua contoh di atas secara waktu, melainkan untuk memilah dua sudut pandang (respect). Oleh karena itu, bentuk-bentuk mental tidak lantas menjadi tidak diketahui atau kurang hadir dalam diri manakala ia dilihat sebagai pengetahuan santiran.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: