Merumuskan Fondasi Pengetahuan


Pada pelajaran sebelumnya telah saya sebutkan bahwa sebagian pengetahuan dan persepsi sama sekali tidak dapat diragukan. Bahkan, alasan-alasan para skeptis untuk membenarkan pandangan sesat mereka yang mutlak mengingkari pengetahuan pun bertumpu pada sejumlah pengetahuan. Pada sisi lain, kita mengetahui bahwa tidak semua pengetahuan dan keyakinan kita benar dan sesuai dengan kenyataan. Dalam banyak hal, kita sendiri dapat mengamati adanya kegalatan dalam pengetahuan kita. Menimbang dua sisi (dalil) di atas, timbul pertanyaan mengenai perbedaan antara berbagai ragam persepsi manusia, sehingga muncul ragam pengetahuan nirgalat (infallible) dan tak bisa diragukan serta pengetahuan yang bisa keliru dan bisa diragukan. Lalu, dengan cara apa kita memilah kedua ragam pengetahuan tersebut?

Seperti sudah lazim diketahui, Descartes berupaya membangun filsafat yang tak tergoyahkan dalam rangka memerangi skeptisisme dengan menggunakan kemustahilan meragukan sebagai batu-tapakan filsafatnya. Selanjutnya, keberadaan ego peragu dan pemikir adalah hasil langsung dari landasan tersebut. descartes memperkenalkan kejelasan (clarity) dan kekhasan (distinctness) sebagai kriteria sesuatu yang mustahil diragukan dan ukuran untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Dia juga telah coba memakai matematika dalam filsafat, bahkan pula ingin memperkenalkan logika baru.

Sekarang kita tidak sedang menakar filsafat Descartes atau menguji tingkat keberhasilannya melaksanakan tuga yang telah ditetapkannya sendiri. Yang ingin kita katakan, masuk akal jika kita memulai perdebatan dengan kaum skeptis melalui dasar keraguan, sebagaimana telah kita lakukan pada pelajaran sebelumnya. Bagaimanapun, jika seorang berkhayal bahwa tidak ada yang benar-benar jelas dan pasti sehingga keberadaan peragu itu sendiri mesti diturunkan dari keraguan, khayalan itu sama sekali tidak valid. Soalnya, bahkan keberadaan ego yang sadar dan berpikir itu paling tidak sama-sama tidak dapat disangkalnya dengan keberadaan keraguan yang merupakan salah satu dari sekian keadaan sego itu sendiri.

Begitu juga, “kejelasan dan kekhasan” tidak bisa dipertimbangkan sebagai kriteria asasi untuk mengenali pemikiran yang keliru dan benar. Di samping karena kriteria itu sendiri tidak cukup “jelas dan khas” dan tidak bebas dari keambiguan, ia juga tidak bisa dipakai untuk menguak rahasia di balik keterjagaan jenis-jenis persepsi tertentu dari kekeliruan. Yang pasti, ada banyak hal yang bisa diperdebatkan dari pendapat-pendapat Descartes lainnya, hanya saja hal itu di luar lingkup kajian kita saat ini.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: