Definisi Epistemologi


Sebelum kita mendefinisikan epistemologi (syinakhy syinasi), sudah semestinya kita terlebih dahulu mengulas kata pengetahuan (syinakht).[1] Ma’rifah dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi lazimnya ia berarti pengetahuan (knowledge), kesadaran (awareness), dan informasi. Adakalanya ia digunakan dalam arti pencerapan khusus (idrak juz’i atau particular perception), dan adakalanya digunakan dalam arti tindak pengingatan-ulang (tadzakkur atau recognition). Kadang-kadang ia juga dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan. Terdapat perdebatan filologis dan etimologis tentang padanan kata ini dalam bahasa asing yang tidak perlu kita sebutkan di sini.

Pengetahuan yang menjadi pokok bahasan epistemologi boleh jadi mempunyai salah satu arti di atas atau arti-arti lainnya. Bagaimanapun, mengingat tujuan pembahasan soal-soal epistemologis tidak terbatas pada satu jenis pengetahuan, lebih baik kita memakai kata itu dalam pengertian umumnya saja.

Konsep pengetahuan merupakan salah satu konsep paling jelas dan swanyata (badihi/ self-evident). Bukan saja tidak membutuhkan definisi, pengetahuan tidak mungkin didefinisikan, lantaran tidak ada kata atau istilah lain yang lebih jelas untuk kita pakai mendefinisikannya. Frase atau tuturan yang lazim dipakai dalam buku-buku filsafat dan logika sebagai definisi pengetahuan atau ilmu bukanlah definisi dalam arti sesungguhnya. Tujuan semua itu tidak lebih dari memberikan contoh-contoh (mishdaq atau instance) pengetahuan yang ada dalam ilmu atau bidang kajian tertentu. Sebagai misal, para pakar logika mendefinisikan pengetahuan sebagai “penangkapan bentuk (shurah atau form) sesuatu dalam pikiran”. Tujuan definisi tersebut tak lain ialah untuk memberikan contoh “pengetahuan tangkapan (al-‘ilm al-hushuli)”. Atau definisi yang merujuk pada pandangan seputar sejumlah soal dalam ontologi yang diajukan beberapa filosof yang mendefinisikan pengetahuan sebagai “hadirnya maujud nonmaterial dalam maujud nonmaterial lainnya” atau “hadirnya sesuatu pada maujud nonmaterial”. Tujuan kedua definisi tersebut tak lain untuk menyatakan pandangan mereka tentang kemujaradan pengetahuan dan subjek yang mengetahui.

Kalau kita mesti menjelaskan (bukan mendefinisikan!) pengetahuan, sebaiknya kita mengatakan bahwa ia adalah “hadirnya sesuatu atau bentuk partikularnya atau konsep umumnya pada maujud mujarad”. Ditambah lagi, kita mesti mengatakan bahwa pengetahuan tidak meniscayakan subjek pengetahuan berbeda dengan objek yang diketahui. Bisa saja subjek dan objek pengetahuan merupakan maujud yang sama, seperti dalam contoh kesadaran manusia akan dirinya sendiri. Malahan, dalam contoh di atas, kesatuan tersebut telah menjadi contoh paling sempurna dari kehadiran. Dengan ulasan itu, kita dapat mendefinisikan epistemologi sebagai “bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya”.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Kata Persia untuk epistemologi dalam teks ini adalah syinakht synasi yang keduanya berakar dari kata kerja syinakhtan yang bermakna “mengetahui” dalam artian mengenali (being acquainted with), seperti kata kennen dalam bahasa Jerman yang dilawankan dengan kata wissen. Akhir-akhir ini, istilah ma’rifat syinasi terbebar luas di Iran—penerj. Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: