Pengetahuan dalam Filsafat Islam


Filsafat Barat, terutama dalam epistemologi, terus mengalami guncangan dan krisis. Bahkan setelah 25 abad masa hidupnya, ia tidak saja gagal membangun landasan yang kukuh, landasan yang ada pun kian hari kian menunjukkan kelemahannya. Sebaliknya, filsafat Islam secara berkelanjutan terus menemukan kekuatan dan kekukuhannya serta tidak pernah mengalami guncangan, gonjang-ganjing, dan krisis.

Walaupun ada beragam kecenderungan kontras yang melahirkan tantangan bagi para filosof Muslim, mereka selalu mempertahankan ajaran pokok mereka bahwa akal adalah dasar pemecahan semua masalah metafisika. Konfrontasi dengan berbagai pandangan yang berlawanan dan para kritikus, alih-alih melemahkan para filosof Muslim, malahan berperan memperkuat dan mematangkan kemampuan mereka. Oleh karena itu, setiap hari pohon filsafat Islam terus tumbuh dan berbuah, sekaligus tahan dan kebal terhadap serangan-serangan musuh. Kini, pohon itu telah betul-betul mampu mempertahankan pendapat-pendapatnya yang benar dan mengalahkan seluruh pengganggunya.

Beberapa aliran yang kurang lebih menentang filsafat dalam Dunia Islam mempunyai dua sumber. Salah satunya ialah kelompok yang beranggapan bahwa pandangan-pandangan kefilsafatan bertentangan dengan tafsiran-tafsiran hariah Al-Quran dan Sunnah. Kelompok ini khawatir kalau-kalau penyebaran filsafat akan merapuhkan keyakinan agama di kalangan umat. Para sisi lain, ‘urafa’ (ahli-ahli ‘irfan atau makrifat) yang menekankan pentingnya perjalanan ruhani, mencemaskan kecenderungan filosofis akan berakibat pada kelalain manusia akan metode makrifat dan jalan hati. Karenanya, mereka mengabaikan akal dan mengklaim para rasionalis berjalan dengan kaki kayu (yang getas).[1]

Orang mesti sepenuhnya sadar bahwa agama lurus seperti agama Islam yang terang ini tidak akan pernah terancam oleh pemikiran-pemikiran filosof. Dengan semua kekurangan dan kesesatannya, setelah mencapai perkembangan dan kematangan, filsafat justru akan menampakkan kebenaran-kebenaran Islam. Filsafat terbukti telah menjadi pelayan yang berguna dan tak tergantikan bagi Islam denan cara menjelaskan ajaran-ajarannya yang agung pada satu sisi, dan dengan cara mempertahankannya dari sergapan mazhab-mazhab pemikiran yang memusuhinya pada sisi lain. Begitulah yang telah dan akan terus dilakukan filsafat terhadap Islam, semoga saja dengan cara lebih sempurna.

Perilaku ruhani dan gnostik sama sekali tidak berseberangan dengan filsafat ketuhanan, malah yang pertama banyak dibantu oleh, dan mengambil manfaat dari, yang belakangan. Harus diakui bahwa secara keseluruhan pertentangan semacam ini banyak berguna untuk mencegah kejumudan dan ekstremisme, serta memperjelas garis batas yang memisahkan kedua bidang tersebut.

Lantaran demikian mapan, teguh, dan kukuhnya posisi akal dalam filsafat Islam, tidak pernah muncul kebutuhan untuk menelaah masalah-masalah pengetahuan secara metodis dan sistematis sebagai cabang filsafat yang mandiri. Hanya beberapa isu seputar pengetahuan yang terserak di sejumlah bab dalam logika dan filsafat. Umpamanya, dalam bab tertentu, saat berbicara mengenai sofisme, para filosof menunjukkan kekeliruan mereka (berkenaan dengan eksistensi objektif-subjektif). Dalam bab lainnya, mereka juga menyinggung bagian-bagian dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Persoalan eksistensi mentala yang menjadi cikap-bakal segenap persoalan pengetahuan pun tidak pernah dipaparkan sebagai suatu topik tersendiri hingga masa Ibn Sina. Setelah masa itu pun segi-segi dan sudut-sudut topik pengetahuan belum sepenuhnya dikaji dan diteliti.

Akan tetapi, saat ini, ketika pemikiran Barat telah menjangkiti lumbung-lumbung budaya kita sehingga sejumlah aksioma filsafat ketuhanan kembali diragukan, soal-soal kefilsafatan tidak bisa lagi dibatasi dalam kerangka yang lama. Pembahasan filosofis juga tidak bisa lagi dilakukan dengan cara lama, karena ia bukan cuma telah menghambat perkembangan filsafat yang terjadi lewat dialog antar berbagai aliran, melainkan juga telah membuat para intelektual kita yang akrab dengan pemikiran Barat menjadi pesimistik terhadap filsafat Islam dan menggiring mereka pada ilusi bahwa filsafat Islam telah kehilangan keefektifan dan kemampuan untuk menghadapi aliran-aliran filsafat lainnya. Oleh karena itu, hari demi hari, kegandrungan mereka pada kebudayaan asing terus meningkat dan menimbulkan akibat-akibat yang berbahaya. Keadaan tersebut dapat kita lihat semasa rezim terdahulu (Pra-Revolusi Islam 1979) di seluruh universitas Iran.

Sebagai rasa syukur kita pada Revlusi Islam dan darah yang tertumpah, untuknya serta untuk memenuhi tanggung jawab keagamaan kita, kita perlu terus meningkatkan daya dan upaya untuk menjelaskan serta menyebarkan asas-asas filsafat sedemikian sehingga berbagai keraguan yang ditiupkan oleh aliran-aliran pemikiran sesat dan ateistik dapat tertepiskan. Kita juga harus menjawab kebutuhan umum terhadap keimanan dan menjajakannya kepada para pencari kebenaran dan penelaah muda, sehingga pendidikan filsafat Islam dapat menyebar dan kebudayaan Islam dapat terjaga dari penggagahan ide-ide asing.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Menurut para sufi, seperti Jalal al-Din Rumi (1207-1273 M), metode rasionalis bersifat semu laksana orang yang berjalan dengan tongkat dan orang buta yang berjalan dengan penopang. Lihat Matsnawi, buku pertama, h. 2128—penerj. Inggris.

a Mental adalah kata sifat dari mind. Dalam bahasa Arab, mind disebut dengan dzihn. Secara umum, kata ini merujuk pada kemampuan manusia untuk berpikir, memahami, mengenali, menghendaki, dan memilih atau memutuskan. Dalam terjemahan ini, mind atau dzihn terkadang saya padankan dengan benak atau pikiran atau grahita, dan terkadang dengan kecerdasan atau kemampuan mengerti, mengikuti konteks yang tertera—M.K.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: