Selayang Pandang Sejarah Epistemologi


Meskipun epistemologi tidak mempunyai sejarah penting sebagai disiplin ilmu tersendiri, bisa dikatakan bahwa masalah nilai pengetahuan yang menjadi pokok masalahnya telah ada sejak periode paling awal dalam sejarah filsafat. Boleh jadi, faktor yang memicu para pemikir untuk menyelidiki pokok masalah ini ialah tersingkapnya berbagai kekurangan dan kesalahan pancaindra dalam mengungkap hakikat kejadian-kejadian eksternal. Faktor itu pula yang mendorong aliran Eleatik untuk meragukan pencerapan indriawi (sensory perception) dan lebih memercayai pengetahuan rasional. Di sisi lain, perbedaan di antara para pemikir menyangkut masalah-masalah rasional dan adanya pertentangan bukti-bukti untuk mendukung dan meneguhkan suatu gagasan dan pandangan telah memberikan kesempatan pada para sofis untuk sama sekali menolak nilai segenap cerapan rasional. Lebih dari itu, para sofis juga pada dasarnya meragukan dan bahkan menyangkal (keberadaan) kenyataan-kenyataan eksternal. Sejak itu, masalah ini diperbincangkan secara lebih serius. Jasa Aristoteles mengumpulkan prinsip-prinsip logika sebagai standar berpikir benar dan menilai kesahihan suatu bukti rasional sangatlah besar. Setelah sekian abad, prinsip-prinsip ini masih tetap berguna. Kalangan Marxis yang semula habis-habisan menentangnya pun pada akhirnya menyatakan adanya kebutuhan pada bagian tertentu dari logika ini.

Setelah abad-abad pertumbuhan filsafat Yunani, timbul kekisruhan dalam menakar nilai pengetahuan indriawi dan rasional manusia. Sedikitnya dua kali Eropa dilanda krisis skeptisisme. Baru setelah masa Renaisans (Renaissance) dan perkembangan sains-sains empiris, secara bertahap empirisisme dapat diterima oleh kalangan yang lebih luas. Sampai dewasa ini, empirisisme tetapi menjadi aliran yang paling dominan, meski dari waktu ke waktu ada saja pemikir rasional kawakan yang muncul ke permukaan. Penyelidikan sistematis yang pertama dalam epistemologi dilakukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716 M) di Benua Eropa dan oleh John Locke (1632-1704 M) di Inggris. Dengan cara itulah epistemologi lantas menjadi satu cabang filsafat yang mandiri. Hasil-hasil penyelidikan Locke lalu dimanfaatkan oleh para penerusnya, yakni George Berkeley (1685-1753 M) dan David Hume. Empirisisme kedua filosof ini mendapatkan kemasyhuran yang luar biasa dan berangsur-angsur memperlemah posisi kalangan rasionalis sedemikian sehingga Kant yang rasionalis pun kemudian menjadi sangat terpengaruh oleh ide-ide Hume.

Kant berpendapat bahwa tugas filsafat yang paling penting ialah mengukur nilai pengetahuan manusia dan bahwa akal mampu memikul tugas tersebut. Akan tetapi, ia mengakui nilai kesimpulan-kesimpulan akal teoretis hanya ada pada lingkaran sains empiris, matematika, dan bidang-bidang yang berada di bawah keduanya. Dengan demikian, satu pukulan berat dari kalangan rasionalis ditujukan kepada metafisika. Hume, sebagai seorang tokoh empiris terpandang, jauh sebelum itu juga telah melakukan pukulan berbahaya kepada metafisika yang kemudian dilanjutkan dengan rangka yang lebih serius oleh kalangan positivis. Dengan demikian, jelas sudah besarnya pengaruh epistemologi pada segenap ilmu pengetahuan, sekaligus sebab terjadinya pembusukan filsafat Barat.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: