Arti Penting Epistemologi


Ada sederet pertanyaan yang senantiasa menghadang manusia sebagai makhluk berkesadaran. Orang yang lalai menjawab sederet pertanyaan itu akan menubruk garis batas antara kemanusiaan dan kebinatangan. Keraguan, kegamangan, dan kegagalan memuaskan hasrat terhadap kebenaran ini akan menyulitkan orang untuk menghapuskan berbagai keresahannya dalam memikul seluruh tanggung jawab kehidupan. Orang semacam ini akan terbuang sia-sia atau—seperti juga lazim terjadi—berubah menjadi makhluk berbahaya.

Pemecahan keliru dan menyimpang sebagaimana yang ditawarkan materialisme dan nihilisme justru terbukti tidak memberikan kenyamanan psikologis dan kesejahteraan sosial. Oleh sebab itu, orang perlu mencari sebab utama terjadinya kerusakan individual dan sosial umat manusia dalam berbagai pandangan dan pemikiran yang melenceng. Dan tidak ada cara lain kecuali bertekad kuat menjawab semua pertanyaan itu. tidaklah patut kita berpangku tangan sebelum selesai membangun landasan bagi kehidupan manusiawi kita dan membantu orang-orang lain di jalan yang sama, sekaligus mencegah pengaruh jahat pemikiran dan ajaran yang melenceng pada masyarakat.

Setelah keniscayaan upaya intelektual dan filosofis menjadi jelas dan tak meninggalkan ruang bagi timbulnya keraguan atau kegamangan, tinggal kita mengambil langkah pertama dalam perjalanan tak terhindarkan dan tak terelakkan ini dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut: Apakah akal (intellect) manusia mampu menjawab berbagai pertanyaan tersebut? Inilah pertanyaan utama yang membentuk inti semua masalah epistemologi. Dan sebelum masalah-masalah epistemologi itu tertuntaskan, kita tidak akan pernah bisa memecahkan seluruh masalah ontologi atau cabang-cabang filsafat lainnya. Dengan kata lain, sebelum kita memastikan nilai (dan manfaat) akal manusia, segenap praduga yang diajukan sebagai pemecahan aktual atas pelbagai masalah di atas akan menjadi tanmakna dan tak nisa diterima, lantaran akan selalu timbul pertanyaan menyangkut kemampuan akal manusia menyediakan solusi tepat atas pelbagai masalah tersebut.

Persis pada titik inilah para tokoh terkenal dari kalangan filosof Barat, seperti David Hume (1711-1776 M), Immanuel Kant (1724-1804 M), Auguste Compte (1789-1857 M), dan para penganut positivisme lainnya terkena blunder. Dengan pandangan-pandangan mereka yang rancu itulah dasar-dasar kebudayaan masyarakat Barat dibangun. Para ilmuwan, terutama kalangan behavioris dalam disiplin psikologi, juga terjerat dengan pandangan-pandangan rancu tersebut. Sialnya pula, gelombang bertubi-tubi dan merusak dari ajaran-ajaran ini meruyak ke berbagai penjuru dunia. Kecuali bangunan filsafat ketuhanan yang menjulang tinggi dengan stabil dan kukuh, hampir semua aliran pemikiran terkena imbas positivisme. Oleh sebab itu, kita mesti segera mengambil langkah tegas untuk menegakkan landasan bagi “rumah” ide-ide filosofis kita secara kukuh. Setelah itu, barulah kita bisa melanjutkan perjalanan ke tahapan-tahapan berikutnya dan pada gilirannya mencapai tujuan yang kita kehendaki.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: