Tanggapan Atas Beberapa Keberatan


Penjelasan-penjelasan di atas boleh jadi membersitkan beberapa keberatan. Paling penting di antaranya adalah sebagai berikut.

Keberatan 1. Semua penjelasan di atas bisa membuktikan keniscayaan filsafat bilamana pandangan-dunia dianggap terbatas pada yang filosofis dan jika pemecahan masalah-masalah pokoknya terbatas pada filsafat. Kenyataannya, terdapat berbagai jenis pandangan-dunia lain, entah yang bersifat ilmiah, keagamaan ataupun mistis.

Tanggapan 1. Seperti berkali-kali telah saya jabarkan, pemecahan soal-soal semacam itu jelas di luar jangkauan ilmu-ilmu empiris, karenanya tidak ada yang bisa benar-benar disebut dengan “pandangan-dunia ilmiah” (dalam pengertian yang sesungguhnya). Akan halnya pandangan-dunia keagamaan, ia hanya berguna setelah kita mengenali agama yang benar. Jadi, pandangan-dunia ini mestilah bersandarkan pada pengetahuan tentang sang utusan dan Pengutusnya. Bersandar pada wahyu Al-Quran untuk membuktikan Pewahyu dan yang diwahyukan tidaklah bisa diterima akal sehat. Misalnya, orang tidak bisa berkata bahwa lantaran Al-Quran berkata Tuhan itu ada, maka keberadaan-Nya telah terbukti! Adapun menyangkut pandangan-dunia mistis, seperti telah disinggung dalam pasal “Hubungan antara Filsafat dan Gnosis”, sepenuhnya bergantung pada pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan yang benar tentang suluk spiritual, yang mesti dinisbatkan melalui prinsip-prinsip filsafat. Oleh karena itu, semua jalan sebenarnya selalu berujung pada filsafat.

Keberatan 2. Agar upaya seseorang memecahkan persoalan ini sedikit berguna, ia mesti optimis bisa mencapai hasil dari seluruh upayanya. Namun, mengingat kedalaman (depth) dan keluasan persoalan yang dihadapinya, sulit rasanya ada orang yang akan berhasil. Untuk itu, ketimbang membuang-buang umur demi sesuatu yang akhirnya tidak jelas, lebih baik kita menyelidiki soal-soal yang lebih mungkin dipecahkan.

Tanggapan 2. Pertama, harapan untuk memecahkan soal-soal ini tidak lebih kecil dibandingkan harapan untuk mencapai hasil dalam upaya-upaya ilmiah mendedah rahasia-rahasia ilmiah dan mengelola kekuatan-kekuatan alam. Kedua, dalam menakar suatu usaha, tidak selayaknya kita membatasi diri pada faktor risiko, tetapi kita mesti pula melihat faktor keuntungan hasilnya. Dengan melihat pada dua faktor inilah kita baru bisa secara saksama menakar suatu usaha. Dan mengingat hasil upaya di atas adalah kesejahteraan manusia selama-lamanya, betatapun kecil peluang kita, nilai usaha ini pastilah jauh melebihi risiko kegagalannya.

Keberatan 3. Bagaimana kita bisa meyakini nilai filsafat, sementara banyak ahli agama menentangnya dan mengajukan berbagai hadis yang mencelanya?

Tanggapan 3. Tentangan atas filsafat berasal dari beragam orang dengan beragam motivasi. Akan tetapi, ulama Muslim yang sadar dan imparsial sebetulnya hanya menentang sejumlah gagasan filsafat yang menyebar pada masa mereka. Sebagian gagasan ini—setidaknya di mata para penentang—dipandang tidak selaras dengan ajaran Islam. Dan kalau memang terdapat hadis sahih yang mencela filsafat, ia cuma berlaku dalam konteks di atas. Yang kita maksud dengan berfilsafat ialah menggunakan akal untuk menyelesaikan persoalan yang hanya bisa dipecahkan melalui metode rasional. Dan keniscayaan upaya ini telah digarisbawahi oleh ayat-ayat muhkam (tidak ambigu) dan hadis Nabi. Sekian banyak contoh upaya serupa teramati dalam banyak hadis dan bahkan ayat Al-Quran, seperti penalaran seputar masalah tauhid dan Hari Kebangkitan dalam Al-Quran dan Sunnah.

Keberatan 4. Kalau memang persoalan pandangan-dunia telah ditelaah secara rasional dan filosofis dalam Al-Quran dan Sunnah, lalu apa kebutuhan kita pada seabrek buku dan pembahasan filsafat yang kerap mencatut ide orang-orang Yunani?

Tanggapan 4. Pertama, pemaparan bahasan-bahasan filosofis dalam Al-Quran dan Sunnah tidak mengubah watak filosofis mereka. Kedua, sudah semestinya tidak ada masalah seandainya serangkaian persoalan itu dikemas dan ditata dalam bentuk suatu ilmu, sebagaimana halnya dengan persoalan fiqih dan ushul al-fiqh dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Fakta bahwa bahasan-bahasan ini berasal dari orang-orang Yunani tidak menghilangkan nilai mereka, sebagaimana halnya dengan aritmetika, kedokteran, dan astronomi. Ketiga, sebagian besar yang diungkapkan dalam Al-Quran dan Sunnah merupakan keraguan-keraguan yang menyebar di masa itu. dan berpaku pada mereka tidak akan memadai untuk menjawab pelbagai keberatan baru yang diketengahkan oleh paham-paham atesitik setiap harinya. Sebaliknya, seperti tercantum dalam Al-Quran dan kata-kata para pemimpin agama, kita harus terus berupaya mengembangkan kegiatan rasional untuk mempertahankan ajaran-ajaran benar dan mengetepikan semua keberatan dan keraguan yang diajukan musuh-musuh kebenaran.

Keberatan 5. Dalil paling tepat untuk menunjukkan ketakadekuatan (inadequacy) filsafat ialah perselisihan yang terjadi di antara para filosof. Amatan menyeluruh atas pelbagai perselisihan ini mempuskan harapan kita pada ketepatan metode mereka.

Tanggapan 5. Perselisihan menyangkut persoalan teoretis adalah hal tak terelakkan dalam semua ilmu. Para pakar fiqih, umpamanya, berselisih pendapat ihwal beragam masalah, tapi perselisihan ini bukan dalil bagi ketaksabsahan ilmu fiqih ataupun metode khasnya. Demikian pula, perselisihan dua pakar matematika tentang suatu perkara bukan dalil ketakabsahan matematika. Perhatian atas pelbagai perselisihan ini justru melecut para pemikir sejati agar makin meningkatkan upaya, kesungguhan, dan keteguhan mereka dalam menemukan natijah-natijah (conclusions) yang lebih meyakinkan dari sebelum-sebelumnya.

Keberatan 6. Banyak orang yang telah menghasilkan kajian-kajian berbobot dalam ilmu-ilmu kefilsafatan, tapi dalam soal tingkah laku pribadi dan moralnya serta dalam kehidupan sosial dan politiknya ia memperlihatkan banyak kelemahan. Memperhatikan kelemahan di atas, bagaimana filsafat bisa dibilang kunci menuju kesejahteraan individu dan masyarakat?

Tanggapan 6. Titik-berat pada arti penting dan kemestian berfilsafat tidak berarti bahwa ia merupakan sebab sempurna dan syarat cukup untuk memiliki ideologi dan perilaku benar yang sesuai dengannya, tetapi ia hanyalah merupakan syarat perlu untuk memperoleh ideologi yang diinginkan. Dengan kata lain, mengikuti jalan benar dimulai dengan mengetahuinya, dan mengetahuinya didahului dengan mempunyai pandangan-dunia yang benar dan memecahkan semua persoalan filosofisnya. Jika seseorang telah mengambil langkah awal yang semestinya, lalu terhenti atau tergelincir pada langkah keduanya, itu tidak berarti bahwa ia telah salah langkah sejak semula. Dalam kasus seperti ini, kita justru mesti penyebab keterhentian dan ketergelincirannya pada langkah kedua dan seterusnya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: