Hubungan Filsafat dan ‘Irfan (Gnosis)


Pada akhir pembahasan ini, baik kiranya kita menyinggung hubungan antara filsafat dan ‘irfan. Dan untuk itu, suka tak suka kita harus menjelaskan sedikit tentang ‘irfan. Secara harfiah, ‘irfan berarti mengetahui, dan secara teknis ia diterapkan pada persepsi-persepsi khas yang ditangkap melalui pemusatan perhatian relung terdalam jiwa (tidak melalui pengalaman indriawi dan analisis rasional). Dalam proses pelancongan ruhani (sair wa suluk) itu, sejumlah penyingkapan yang mirip dengan “visi-visi (dalam mimpi)” biasanya tercerap. Adakalanya ia berupa penggambaran tajam mengenai apa yang terjadi di masa lalu, masa kini ataupun masa depan, adakalanya ia membutuhkan penafsiran, dan adakalanya ia tampak seperti keadaan orang kesurupan (possessed by devil). Beragam wacana kaum ‘urafa sebagai penafsiran, penyingkapan, dan penangkapan mereka disebut sebagai “gnosis ilmiah”. Dan berangsur-angsur semua itu membentuk bahasan-bahasan filsafat. Saling hubungan antara filsafat dan gnosis akan kita telusuri dalam beberapa butir berikut.

Bantuan Filsafat kepada Gnosis

  1. Gnosis sejati diperoleh semata-mata melalui keterikatan Allah dan ketaatan kepada segenap perintah-Nya. Keterikatan tanpa pengetahuan mustahil adanya, dan pengetahuan ini mesti bersandar pada sejumlah prinsip filsafat.
  2. Pengenalan atau penyingkapan gnostis yang benar dicapai melalui perbandingannya dengan patokan-patokan akal dan syariat, dan dengan satu dua perantara, semua ini kembali lagi pada prinsip-prinsip filsafat.
  3. Mengingat visi-visi gnostis merupakan sejenis persepsi batin dan sepenuhnya personal, tafsiran-tafsiran mentalnya didapatkan dari konsep-konsep yang kemudian dikemukakan menjadi istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan. Tetapi, karena kebenaran gnostis melampaui derajat pemahaman awam, konsep-konsep dan istilah-istilah yang tepat sangat diperlukan.

Bantuan Gnosis kepada Filsafat

  1. Seperti telah diisaratkan, penyingkapan dan visi gnostis memunculkan masalah-masalah baru untuk diuraikan dan dikupas oleh filosof, dan memperluas cakrawala-cakrawala filsafat.
  2. Dalam pemecahan berbagai masalah dalam ilmu-ilmu kefilsafatan, visi-visi gnostis bisa dianggap sebagai pendamping. Banyak hal yang terbukti secara rasional dalam filsafat, terungkap pula melalui penglihatan kalbu.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: