Bantuan Ilmu-ilmu Lain kepada Filsafat


Ada dua bantuan terpenting ilmu-ilmu lain kepada filsafat.

A. Pengisbatan premis beberapa bukti ilmu kefilsafatan. Pada awal-awal pelajaran ini, saya telah menyinggung bahwa terkadang premis-premis empiris bisa dipakai untuk memecahkan sejumlah masalah ilmu-ilmu kefilsafatan. Misalnya, ketiadaan persepsi dalam hal terpenuhinya semua persyaratan material menyimpulkan bahwa persepsi adalah gejala non-material. Demikian pula, untuk mengisbatkan (establish) keberadaan ruh, kita bisa memanfaatkan fakta dalam ilmu biologi berikut: sel-sel tubuh manusia dan binatang terus berganti dalam jangka beberapa tahun (kecuali sel-sel otak), lalu struktur sel-sel otak pelan-pelan berubah oleh (perubahan) kandungan dan (gizi) yang masuk ke dalamnya. Karenanya, kelangsungan satu ruh dalam individu—yang merupakan hal intuitif tak terbantah—berbeda dengan sifat kelangsungan tubuh yang berubah-ubah. Kesimpulannya: ruh bukanlah tubuh karena ruh setiap individu bersifat abadi dan tak berubah-ubah. Dalam sebagian bukti keberadaan Tuhan Mahasuci, seperti bukti gerak dan keteraturan sistem) penciptaan, premis-premis empiris pun bisa kita manfaatkan.

Sekarang setelah kita mengetahui kaitan antara ilmu-ilmu alam dan kefilsafatan, kita dapat mengukuhkan kaitan antara keduanya dan metafisika. Bahwa suatu masalah metafisika—seperti wujud tidaklah setara dengan materi atau kematerialan bukanlah ciri ataupun aksiden semua maujud karena wujud terbagi menjadi material dan nonmaterial—dapat mengambil premis-premis dalam prikologi filosofis yang pada gilirannya bisa dibuktikan dengan bantuan (data) dari ilmu-ilmu empiris. Juga, untuk membuktikan bahwa kebergantungan (dependence) bukanlah implikasi tak terpisahkan wujud dan bahwa ada Maujud Mandiri (Wujud Niscaya), bukti-bukti gerak alam dan ciptaan yang berasal dari premis-premis empiris bila dipergunakan.

Hubungan antara filsafat dan ilmu-ilmu alam tidak bertentangan dengan apa yang telah saya jelaskan tentang ketidakbutuhan filsafat terhadap ilmu-ilmu lain. Soalnya, pengisbatan semua fakta (atau premis empiris) tersebut tidak terbatas pada metode empiris. Mereka juga bisa diisbatkan melalui dalil-dalil filsafat murni yang terdiri atas premis-premis swabukti primer dan yang berdasarkan pada kesadaran (baca: pengetahuan presentasional). Hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada kesempatan lain. Sebenarnya, premis-premis empiris diajukan sekadar demi memanjakan pikiran orang yang tidak cukup terlatih untuk seutuhnya menilik dalil-dalil filsafat murni yang semata-mata terdiri atas premis-premis rasional. Benak orang yang akrab dengan hal-ihwal indriawi jelas tidak memadai untuk langsung bergumul dengan jenis dalil-dalil serupa.

B. Memperluas medan analisis filsafat. Semua ilmu bermula dari sejumlah masalah dasar dan universal. Lalu ia berkembang untuk mengupas dan menjabarkan perkara-perkara tertentu yang mengemuka dalam medan-medan baru.

Perkara-perkara ini adakalanya muncul dengan bantuan ilmu-ilmu lain. Filsafat juga tidak terkecualikan dari aturan ini. Masalah-masalahnya mula-mula amat terbatas. Kemudian ia berkembang seiring dengan terbukanya cakrawala-cakrawala yang lebih luas. Cakrawala-cakrawala baru itu adakalanya ditemukan oleh penjelajahan mental dan pertukaran gagasan, adakalanya berasal dari bimbingan wahyu atau penyingkapan gnostis, dan adakalanya dari ilmu-ilmu lain. Lalu, terjadilah upaya perbandingan mereka dengan prinsip-prinsip filsafat dan analisis-analisis rasional yang lebih jauh. Umpamanya, masalah kebenaran wahyu dan mukjizat agama dan masalah alam citra dan bentuk yang diajukan kalangan arif (‘urafa). Kedua masalah tersebut tak pelak memicu penyelidikan-penyelidikan filosofis baru. Begitu pula halnya dengan kemajuan psikologi empiris telah memuntahkan masalah-masalah baru bagi ilmu filsafat jiwa.

Oleh karena itu, salah satu bantuan ilmu-ilmu lain kepada filsafat ialah perluasan cakrawala-pandangnya dan pelebaran lingkup masalah-masalahnya. Ilmu-ilmu lain menyediakan subjek-subjek baru yang perlu diurai dan diperbandingkan dengan prinsip-prinsip umum filsafat.

Misalnya, pada abad ketika teori transformasi materi menjadi energi dan komposisi partikel tidak lain dari energi dikemukakan, filosof dihadapkan pada soal apakah mungkin sesuatu terjadi di alam material tanpa mempunyai ciri-ciri dasar materi, ia tidak bervolume misalnya? Mungkinkah sesuatu yang bervolume ditransformasi menjadi sesuatu tak bervolume? Kalau jawabannya negatif, energi tidaklah mungkin hampa volume meskipun kita tak bisa mengalaminya secara indriawi.

Demikian pula ketika energi diperkenalkan oleh para fisikawan sebagai maujud yang setara dengan gerak, timbul pertanyaan apakah mungkin materi—yang diasumsikan mewujud dari energi—menjadi homogen dengan gerak? Mungkinkah materi kehilangan watak esensialnya dengan bertransformasi menjadi energi atau—melalui transformasi sejumlah partikel atom—menjadi “medan-medan” (menurut hipotesis fisika modern)? Intinya, apakah materi fisik sama dengan benda (jism) yang dibahas dalam filsafat? Dan hubungan-hubungan apa yang terdapat antara materi dan konsep-konsep lain, seperti gaya (force), energi dan medan, dan konsep benda dalam filsafat?

Jelas bahwa layanan yang diberikan ilmu alam kepada ilmu-ilmu kefilsafatan ini, terutama metafisika, tidak berarti filsafat membutuhkan mereka, bahkan jika semua jangkauan kegiatan filsafat diperluas dan bahan-bahan baru diajukan kepadanya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: