Bantuan Filsafat kepada Ilmu-ilmu Lain


Bantuan mendasar filsafat (metafisika) kepada ilmu-ilmu lain, baik yang bersifat kefilsafatan ataupun bukan, ialah menjelaskan prinsip-prinsip asertif mereka atau mengisbatkan (eksistensi) subjek-subjek non-swabukti dan prinsip-prinsip positif mereka yang paling umum.

A. Penetapan (eksistensi) subjek ilmu. Segenap ilmu berporos pada suatu subjek yang meliputi sekian pokok masalah ilmu tersebut. apabila subjek ilmu tidak swabukti, ia mesti terlebih dahulu diisbatkan. Isbat subjek ilmu tidak termasuk dalam lingkup masalah-masalah ilmu itu sendiri. Pasalnya, masalah-masalah ilmu terbatas pada proposisi-proposisi yang memaparkan pelbagai keadaan dan aksiden subjeknya, dan bukan eksistensi subjeknya. Bahkan, pada sebagian besar kasus, penetapan (eksistensi) suatu subjek melalui metode penelitian yang dimiliki ilmu itu tidaklah mungkin adanya. Misalnya, metode ilmu-ilmu alam bersifat empiris, sementara eksistensi sejati subjek ilmu-ilmu tersebut mau tidak mau mesti dibuktikan secara rasional. Pada kasus seperti itu, hanya filsafat pertama yang bisa membantu ilmu-ilmu itu dan mengisbatkan subjek-subjek mereka dengan bukti rasional.

Sebagian pakar berpendapat bahwa hubungan umum filsafat dan ilmu-ilmu lain ialah seperti terungkap di atas. Jadi, semua ilmu, tanpa terkecuali, membutuhkan filsafat untuk mengisbatkan subjek-subjek mereka. Sebagian lain melangkah lebih jauh untuk meyakinkan bahwa pengisbatan segala sesuatu merupakan beban metafisika. Bahkan, seluruh proposisi al-haliyyah al-basithah (proposisi eksistensial sederhana), yaitu proposisi yang berpredikat “ada atau maujud”, seperti “manusia adalah maujud”, merupakan proposisi metafisika. Pendapat ini memang tampak berlebih-lebihan, tetapi tak bisa diragukan lagi bahwa seluruh subjek ilmu yang tidak swabukti mesti dibuktikan melalui premis-premis universal dan metafisis.

B. Pengisbatan prinsip-prinsip positif. Filsafat pertama mengisbatkan prinsip-prinsip paling umum yang dibutuhkan semua ilmu hakiki. Paling penting di antara mereka adalah prinsip sebab akibat dan hukum-hukum ikutannya. Masalah ini akan saya jabarkan sebagai berikut: semua upaya ilmiah berkisar pada penemuan hubungan-hubungan kausal antar berbagai hal dan gejala. Ilmuwan yang menghabiskan tahun-tahun hidupnya mengurai dan mencampur za-zat kimia dalam laboratorium untuk menemukan unsur-unsur apa yang memunculkan suatu materi, sifat-sifat, dan aksiden-aksiden apa yang tampak padanya serta faktor-faktor apa saja yang menguraikan persenyawaannya, sebenarnya hendak menguak penyebab (cause) kemunculan semua gejala itu. begitu pula halnya dengan ilmuwan yang bereksperimen untuk menemukan kuman yang menyebarkan penyakit tertentu dan obatnya, sebenarnya ingin mencari penyebab penyakit itu dan cara penyembuhannya. Oleh karena itu, sebelum segala jerih-payah ini, para ilmuwan meyakini bahwa setiap gejala mempunyai sebab. Bahkan, Isaac Newton, yang menemukan hukum gravitasi dengan mengamati kejatuhan buah apel, juga meyakini hal yang sama. Kalau saja dia membayangkan bahwa kemunculan gejala bersifat tiba-tiba dan tanpa sebab, tidak akan dia bersusah-susah mencari penyebab kejatuhan apel itu dan menemukan suatu hukum dari gejala tersebut.

Pertanyaannya kemudian: dalam ilmu apa prinsip sebab akibat yang diperlukan oleh fisika, kimia, kedokteran, dan semua ilmu lain ini dipelajari dan ditelaah? Jawabnya: penyelidikan hukum rasional ini mustahil dilangsungkan kecuali dalam filsafat. Hukum-hukum ikutan kausalitas, seperti hukum “semua akibat mempunyai sebab tertentu yang sesuai dengannya”, juga dibahas dalam filsafat. Dengan demikian, raungan harimau di belantara Afrika tidak menyebabkan orang terjangkit kanker dan nyanyian burung bul-bul di Eropa tidak menyembuhkan kanker, mengingat adanya “hukum akibat mempunyai sebab tertentu yang sesuai dengannya”. Dua hukum ikutan kausalitas lainnya, yaitu hukum “begitu sebab sempurna mewujud, akibatnya pun niscaya mewujud” dan hukum “sampai sebab sempurna mewujud, akibatnya tidak akan pernah mewujud”, juga hanya layak dibicarakan dalam filsafat.

Para ilmuwan tetap membutuhkan prinsip kausalitas setelah eksperimen mereka, lantara hasil-hasil langsung eksperimen mereka sebatas menunjukkan bahwa dalam contoh-contoh yang telah diuji, sejumlah gejala tertentu terjadi secara serentak atau secara berurutan. Untuk membangun suatu hukum atau klaim universal bahwa sebab A senantiasa memunculkan akibat B atau sejumlah akibat lainnya, para ilmuwan memerlukan prinsip lain yang tidak akan mungkin diperoleh melalui percobaan. Dan prinsip lain itu adalah prinsip kausalitas. Dengan kata lain, ilmuwan bisa dengan yakin mengajukan hukum universal hanya bila ia berhasil menemukan keberadaan faktor umum atau penyebab gejala dalam semua kasus yang telah diujinya. Selepas penemuan penyebab itu, si ilmuwan bisa meminjam hukum ikutan kausalitas yang menyatakan bahwa “kapan pun dan di mana pun sebab mewujud, gejala yang diakibatkannya pun akan mewujud”. Hukum ini bisa berlaku universal, tanpa kekecualian, jika dan hanya jika kita meyakini hukum keniscayaan penyebaban (causation). Jika tidak, mungkin saja orang menyangka keberadaan sebab sempurna tidak selalu meniscayakan kemunculan akibat, ataupun sebaliknya: peristiwa kemunculan akibat mungkin saja tanpa keberadaan sebab sempurna. Dan implikasi selanjutnya ialah gugurnya kuniversalan, keniscayaan, dan kepastian hukum di atas.

Ihwal bisakan pengalaman menyingkap sebab sempurna dan eksklusif suatu gejala adalah masalah lain. Walhasil, yang jelas, keniscayaan dan kepastian suatu hukum universal (taruhlah hukum-hukum semacam itu bisa disingkapkan oleh ilmu-ilmu alam melalui metode-metode empiris) bergantung sepenuhnya pada penerimaan prinsip penyebaban dan cabang-cabangnya. Dan pembuktian semua hukum tersebut merupakan bagian dari bantuan filsafat kepada ilmu-ilmu lain.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: